
Gelap, semua yang dilihat Aletha hanya kegelapan.
Ia melihat kanan melihat kiri, tidak ada siapa pun disini. Lagipula kenapa dia bisa disini? Aletha mencoba berjalan sembari memanggil nama Fivian, tapi tidak ada satu pun balasan dari Fivian.
Tes...
Aletha berhenti berjalan saat menyadari, dibawah kakinya berubah menjadi genangan darah dengan beberapa tangan yang muncul dipermukaannya.
"Jangan bunuh kami."
"Kami tidak bersalah!!"
Ada apa ini, pemandangan ini persis seperti peristiwa itu. Mayat-mayat itu terus berteriak dengan suara yang melirih seram.
Aletha menutup telinganya "Tidak.., bukan.., bukan aku...."
"Kumohon jangan!"
"Tolong! Tolong! Tolong kami!"
"Bukan aku yang mem-membunuh kalian, pergi..pergi...."
Aletha berjalan mundur dengan sangat ketakutan. Ia melihat sekelilinya, banyak tumpukan mayat yang tergeletak tak bernyawa.
Suara bisik yang begitu mengganggu, menuntutnya untuk mempertanggung jawabkan sebuah tindakan yang ia lakukan.
Mayat-mayat itu mulai bergerak kearah Aletha dengan kondisi seperti mayat hidup. Tidak! Hentikan, semua bukan salahnya bukan.., bukan! Aletha terus menutup telinga sembari bergumam dengan sangat ketakutan.
Saat ini dia berada pada kejadian yang paling tidak ingin dia ingat, sebuah dosa yang ia lakukan dimasa lalu. Sebuah tragedi pembunuhan yang begitu menyiksa hidupnya(?)
Bukh..
Aletha menabrak sesuatu dibelakangnya, perlahan dia berbalik melihat sosok yang masih berdiam dibalik kegelapan. Dengan perasaan yang berkecamuk, Aletha mencoba menebak sosok kecil dibalik bayang itu.
TAP!
Sosok itu mulai berjalan mendekat, tiap langkahnya bagaikan suara dentuman yang mampu membuat seorang Aletha ketakutan.
"Kak Aletha....."
Deg!
Aletha mencengkram kuat gaun tidur putihnya, tubuhnya menegang hebat. Suara lembut anak kecil yang begitu nyaring seperti bisikan seram, membuat jiwa batinnya kian ketakutan.
"Hihihihihi...., Kak Aletha...."
DEG
DEG
DEG
DEG
DEG
"Kak Aletha!!!!"
DEG
DEG
DEG
DEG
"KAU SEORANG PEMBUNUH!!"
"Bukan!"
Aletha berteriak histeris, matanya terbuka dengan sangat sempurna.
Detak jantungnya mengalun dengan sangat buru-buru, nafasnya terasa tersengal yang menyesakkan.
Mimpi menyeramkan itu hadir lagi dan begitu sangat jelas setelah sekian lama. Sebuah mimpi yang menggambarkan tragedi pembantaian yang hampir menghancurkan satu wilayah, mimpi buruk itu bagaikan kutukan buat Aletha.
Dan karena tragedi itu juga, Aletha harus bersembunyi sebagai Megumi.
"Lady, anda baik-baik saja?" Tanya Fivian dengan sangat khawatir.
Aletha menatap Fivian, lalu menyadarkan dirinya dengan melihat lingkungan sekelilingnya, sepertinya dia masih berada di kamar saat Welliam membawanya ke Villa ini.
"Lady syukurlah, hari ini anda sudah sadar."
"Sadar? Maksudmu?"
"Lady, sejak saat anda dan Yang Mulia bertengkar, anda sudah tertidur selama seminggu. Mungkin karena anda sangat shock dengan kejadian waktu itu."
Aletha diam dengan wajah bingung, padahal dia seperti tidur sebentar walau dengan mimpi buruk. Tapi bukan kah aneh jika dia tertidur semala seminggu, hei apa tidak berlebihan?
"Apa itu sungguh? Kau tidak sedang mengarang cerita?"
"Saya tidak berani berbohong, Lady."
Sebenarnya apa pertanda dari semua masalah yang ia hadapi? Mimpi buruk itu saja sudah sangat menyusahkannya, apalagi dengan masalah baru yang datang.
Apa hukumannya masih belum cukup?
"Lady, anda baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja."
"Karena Lady sekarang sudah sadar, mari saya bantu Lady bersiap. Yang Mulia pasti akan sangat senang mendengar kabar anda,"
"Welliam? Kenapa, apa dia tidak sabar melihat aku mati dalam siksaannya?"
"Lady, anda sudah salah paham. Sebenarnya Yang Mulia sangat menyayangi anda, bahkan untuk pertama kalinya beliau terlihat sangat kacau saat melihat anda tak kunjung sadar. Beliau takut semua karena salahnya, beberapa kali Yang Mulia memanggil Alkemis Istana terbaik untuk memeriksa keadaan anda."
'Welliam mengkhawatirkan ku? Mungkin, hanya kebetulan saja. '
Aletha menghela nafas, dia menyibak selimut tebal yang menutupi setengah dari tubuhnya. Perlahan ia turunkan kedua kakinya, beberapa helain rambutnya pun ikut bergerak turun dari pundaknya.
Aletha terkejut melihat rambutnya yang berbeda, biasanya rambutnya hanya sebatas punggung.
Tapi kini rambutnya sudah memanjang sampai pinggang malah hampir ke pinggul, yang lebih anehnya ujung rambut hitam Aletha berwarna putih silver.
"Em, saya baru tahu rambut Lady punya perpaduan warna yang sangat indah. Apa karena saya tidak memperhatikannya ya?"
Aletha meraba leher dan dadanya, memastikan sesuatu hal yang selalu ia kenakan ada atau tidak.
"Dimana kalungku?"
"Kalung? Maksud Lady kalung perak berliontin Crystal biru?"
"Benar, dimana kalung itu?"
"Yang Mulia Welliam, mengambil dan menyimpannya Lady."
"Apa, Welliam mengambilnya? Dimana dia, aku harus bertemu dengannya."
Aletha bersiap pergi keluar kamar namun dengan cepat Fivian menahannya.
"Lady, apa anda akan pergi dengan keadaan seperti itu?"
Aletha melihat dirinya di cermin, menampilkan wujudnya yang sangat berantakan.
"Jangan khawatir, setelah membenahi anda. Yang Mulia akan menemui Lady di taman untuk sarapan, saya sudah memberi pesan kepada Yang Mulia."
"Pesan? Kapan?"
"Kami yang menjadi tangan kanan beliau, mampu berkomunikasi dengannya tanpa harus bertemu, Lady."
"Hem, malah jadi mudah tanpa teknologi canggih seperti smartphone."
"He? Lady bilang sesuatu?"
"Tidak! Eh .., jadi maksudmu aku harus sarapan pagi bersama Iblis itu?"
Fivian mengangguk senang. Aletha melirik bosan, kali ini apa yang akan direncanakan Welliam kepadanya.
'Hiks..., aku ingin pulang! '
--.o☘o.--
Welliam berjalan dengan sangat gagah, sebagai seorang bangsawan terhormat. Pakaian kerajaan hitam dengan beberapa hiasan mendali emas yang menggantung, menambah karismanya sebagai seorang yang berwibawa tinggi.
Meski dipandang sadis dan kejam, seluruh pelayan bahkan perempuan di Darkness World mengakui wajah rupawannya yang tak tertandingi.
Seolah Welliam seperti pahatan maha karya yang sangat sempurna. Beberapa pelayan dan penjaga melihat kehadiran sang Pangeran, menunduk memberi hormat.
"Salam Yang Mulia."
Loise muncul secara tiba-tiba tanpa membuat Welliam merasa terkejut, Welliam masih terus berjalan menuju ketampat yang ingin dia datangi, sembari menunggu laporan dari Loise.
"Ada laporan dari para Assasin, Mereka menemukan ada yang aneh di daerah pesisir barat daya hingga ke utara. Ada sebuah penghalang sihir yang tampak sangat aneh. Beberapa hutan belukar menjadi pagar seolah daerah itu melindungi sesuatu, saat di selidiki para pasukan Assasin malah dipindahkan secara paksa oleh sihir portal."
"Bukankah daerah itu ada sebuah desa?"
"Menurut peta wilayah, terdapat Desa Genrium. Mereka di huni para kaum yang terangsingkan dari kaum mereka."
"Jika sihir itu di buat untuk melindungi wilayah mereka, bukan kah terlalu berlebihan jika hanya sekedar berlindung dari para tentara pemantau yang ada di seluruh Kerajaan? Lagipula, Lucifer Kingdom telah memerintah untuk melindungi daerah yang tidak terlindungi oleh Kerajaan ras lain."
"Mungkin saja itu ada kaitannya dengan para penyusup, dari hasil introgasi pada penyusup yang berhasil di tangkap. Mereka memiliki tato lingkaran sihir yang sangat aneh, saat saya ingin bertanya mereka semua mati seolah organisasi mereka sangat terahasiakan. Lalu saat saya meembaca laporan, di sebagian daerah sana, terdapat lambang yang sama persis dengan tato dari para penyusup."
"Kalau begitu kita paksa memasuki wilayah itu, dan hanya ada satu orang yang bisa menyusup memasuki kawasan dengan sihir seperti itu, kau sudah paham orangnya. sampaikan misi ini kepadanya, kemungkinan besar mereka saling berkaitan."
"Baik Yang Mulia.."
"Kalau begitu kau boleh pergi."
"Yang Mulia, ada satu laporan lagi yang ingin saya bicarakan. Ini mengenai hasil penyelidikan Lady Aletha."
"Aletha? apa yang kau dapat dari kediamannya?"
"Saya tak berhasil mendapatkan informasi mengenai Lady.."
Tap.
Welliam berhenti berjalan lalu menghadap Loise dengan alis yang berkerut.
"Kau pergi selama 1 minggu, dan tidak mendapatkan apa pun?"
Loise mengangguk.
Welliam menyeringai, lalu dengan cepat menarik pedang milik Loise bersiap memotong kepala Loise. mengerti ancaman Tuan nya dengan cepat ia memasang sihir pelindung.
"Sepertinya kau suka bermain-main denganku, cih."
"Bu-bukan begitu maksud saya--ekhem! Sepertinya sosok Lady Aletha sangat terahasiakan, bahkan sampai para pengurus kediaman Lady pun tak bisa mengenalinya."
"Maksudmu?"
----🍁 ----
*Bumi
~Kediaman Wisteria.
"Maaf menggangu waktu anda."
Ucap Loise kepada dua pelayan yang sedang bertugas di taman pada kediaman Wisteria.
"Iya, ada yang bisa kami bantu, Tuan."
"Saya ingin tahu mengenal Nona Aletha di kediaman ini ?"
"Nona Aletha? Em.., maaf siapa yang anda maksud ?"
"Kami tidak mempunyai Nona yang bernama Aletha?" lanjut pelayan bernama Yuki.
Loise mengerutkan dahi, ia mencoba mencari tahu lagi. Mungkin saja mereka tidak membahas Aletha dengan orang asing, seperti yang diucapkan Tuan nya.
"Kalau begitu, bagaimana dengan Nona Megumi ?"
"Ah, kalau itu....,em. Me..gumi? Sepertinya kami juga tidak kenal."
Loise semakin mencurigai sesuatu, ada yang aneh dengan kediaman ini.
"Jika nama Aletha dan Megumi tidak ada, boleh saya tanya siapa nama tuan di kediaman Wisteria ini ?"
"Kalau itu sudah pasti, No--"
Zrett.....
"Eh, are...., ke-kenapa aku tidak bisa mengingatnya. Em siapa ya? Yuki kau tahu siapa nama tuan kita?"
"Emm..., aku juga tidak tahu. Ini aneh, kenapa kita tidak bisa mengingat Tuan sendiri. Apa benar ada tuan yang tinggal di kediaman Wisteria ya?"
Loise menatap curiga, sudah ia duga ada hal aneh yang disembunyikan Lady nya.
---🍁 ---
Loise menjelaskan semua hal aneh di kediaman Wisteria, dia sudah bertanya bahkan sampai menyelinap masuk.
Namun, semua yang berhubungan dengan Aletha hilang lenyap tanpa ada satu informasi yang tertinggal. Welliam menajamkan matanya, sejak awal bertemu dia sudah sangat curiga.
Terlebih pertemuannya dengan Aletha pun patut dipertannyakan?!
Ia terus berfikir keras bagaimana dia yang pergi ke dunia Manusia selama 2 hari tapi hanya sesaat di Darkness World.
Welliam juga bingung, bukankah aneh jika untuk ukuran seorang Manusia. Terjun dari tempat Castle nya yang begitu tinggi dan jatuh tenggelam di Danau Demmir tanpa luka yang sangat Fatal.
Danau Demmir itu di buat untuk menghukum bawahannya yang tidak pernah mematuhi perintahnya, semua pasti akan disiksa di danau itu.
Bahkan pelayan atau pun penjaganya saja yang bukan manusia mati dengan sangat mengenaskan, sedangkan Aletha malah berhasil selamat dengan luka yang ringan.
Welliam menyeringai, ia menatap bergairah pada pikirannya saat ini.
"Yang Mulia?"
"Cih, sepertinya kau memiliki sejuta rahasia yang mampu membuatku terkejut dengan sosokmu, Aletha."
Welliam kembali berjalan, Loise memang tidak bisa membaca apa yang ada di benak Tuan nya. Tapi sepertinya yang dipikirkan Tuan nya pasti tentang Lady nya.
'Mari kita lihat, kejutan apa lagi yang akan kau berikan kepadaku, Aletha.'
---.o🍁o.---