
Kereta kuda berwarna putih dan biru, berbentuk persegi berukuran besar, dan di tarik oleh 2 kuda putih gagah. Melaju dengan sangat ringan.
Setelah hampir 20 menit Lucy membantu membenahi Aletha, kini semua telah siap dan segera bergegas pergi menuju ke Lucifer Kingdom.
Sebenarnya sudah berkali-kali Pelayan di Castle Violence memberi tahu Lucy. Bahwa, Welliam melarang keras kepada Aletha untuk tidak membiarkannya melangkah keluar dari Castle nya, meski itu panggilan dari dalam Kerajaan.
Jika saja Lucy tidak memaksa dan menekan bahwa ini perintah dari sang Ratu Besar. Mungkin Aletha masih bersantai di taman.
Yah, biarlah Aletha juga sedikit penasaran dengan Kerajaan inti dunia Darkness World. Terutama sosok Ratu yang banyak dibicarakan karena rupanya yang sangat menawan.
Dengan sedikit kesal Lucy menyandarkan tubuhnya, sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sedangkan Aletha melirik keluar jendela yang hanya tertutup oleh tirai biru tanpa lapisan kaca.
Ia singkirkan tirai itu dan meresapi hembusan angin lembut dari luar. Tadinya Lucy ingin membawa Aletha lewat teleportasi, tapi dibatalkan karena menurut Lucy naik kereta kuda Kerajaan, bisa membantu Aletha memahami kondisi di luar Castle.
"Ternyata Castle Violence itu berbeda dengan Lucifer Kingdom, ya?" tanya Aletha kepada Lucy.
"Dulu saat Kakak berusia 20 tahun, dia membangun kediaman Castle nya sendiri dan memilih memisahkan tempat tinggalnya dengan Kerajaan. Padahal dulu nama Castle Kakak bukan Violence tapi Viyola, yang berarti Keagungan.."
"Lalu kenapa dirubah?"
"...itu karena berita palsu yang tersebar ke seluruh wilayah. Kakak memang orang yang sadis tapi dia bersikap begitu karena untuk melindungi kaum ras lain yang di sebut dengan rakyat. Hanya saja pelayan dan penjaga yang keluar dari sana sering melebih-lebihkan, itu sebabnya pelayan di Castle Kakak tidak terlalu banyak. Sejak isu itu beredar Kakak lebih sering menghukum para pemberontak di Castle nya secara terang-terangan, yah walau sebenarnya Lucy sendiri belum pernah melihat aksi Kakak."
Jadi, itu sebabnya kenapa ada Danau menyeramkan seperti itu di taman indah Welliam.
"Kak Aletha apa kau tahu? Castle Kakak selalu di lindungi sihir kuat, yang membuat orang luar susah masuk ke dalam Castle nya tanpa se izinnya. Bahkan kami yang keluarganya saja hanya bisa berkunjung ke sana 1 atau 2 kali dalam 1 abad ini. Cih menyebalkan!" Ujar Lucy dengan tampang kesal jika mengingat wujud Kakak nya itu.
"Terus, bagaimana caranya kau bisa masuk ke sana?"
"Ini rahasia ya. Sebenarnya, Lucy minta bantuan Loise untuk bisa masuk kesana, tapi Lucy hanya bisa ke Castle Kakak kalau dia sedang tidak ada saja😁"
"Kalau begitu, apa kau bisa membantuku kembali pulang?"
"Jika Lady Aletha, mau melihat aku di gantung oleh Kakak. Akan kubantu."
"Baguslah, aku mau melihatnya.."
"Kak Aletha! Apa kau sungguh tega membiarkan kepalaku di copot oleh Kakak."
"Kau sendiri yang memberi persyaratannya, dan juga jangan menggunakan bahasa aneh seperti copot."
"Seterah lah. Kalian benar-benar mirip!"
Aletha tersenyum mendengar ocehan Lucy, apalagi saat melihat dia merajuk.
"Oiya, kalau tidak salah 1 minggu yang lalu ada penyusup yang berhasil masuk kedalam Castle Kakak. Menurutku mereka semua pasti sudah mati, mengingat Kakak yang sangat sensitif seperti itu. Intinya jangan coba-coba mengusiknya."
Aletha melirik keluar jendela dengan sedikit canggung, kalau diingat-ingat sikap dia kepada Welliam harusnya sudah masuk kedalam daftar kematian selanjutnya. Sepertinya dia harus sedikit bersyukur karena masih bisa melihat dunia.
"..... tapi sebenarnya Kakak bersikap dingin dan menyendiri seperti itu agar bisa lebih memudahkannya menangkap para hama di Darkness World. Karena Kakak kandidat Lord selanjutnya, maka akan banyak yang mengincarnya. Jika dia terus berada di Kerajaan bukan kah akan banyak menimbulkan kekacauan di Lucifer Kingdom?"
"Jadi maksudmu, Yang Mulia Welliam pindah karena ingin mengalihkan para musuh dan ingin menyingkirkan mereka dengan diam-diam."
"Sepertinya Kak Aletha paham maksudku. Semenjak Ibunda menjadi Ratu Kerajaan Lucifer Kingdom yang terlukis kejam dan menyeramkan, semua berubah menjadi lebih hidup dan indah. Hal itu membuat para bangsawan ramai datang meski itu hanya sekedar pesta kecil sperti Party Tea. Kadang juga ada event festifal dimana kaum kalangan rendah bisa di izinkan memasuki Kerajaan. Kakak ingin melindungi mereka dan membiarkan taman damai yang Ibunda buat tetap tentram seperti ini. Tapi......"
Lucy sedikit menatap benci pada sesuatu yang sedang dibayangkannya.
"Tapi mereka salah paham, mengenai Yang Mulia."
"Ya. Dulu Kakak sering dipandang rendah oleh seluruh kalangan, mereka berfikir sosok Kakak seperti ini karena bantuan dari Ayah. Sehingga, dia sering disebut sebagai Pangeran yang berlindung dalam kekuasaan bayangan sang Lord. Ini lucu, mereka semua takut jika berhadapan dengan Kakak tapi malah mencibirnya di belakang..."
Aletha sedikit tertegun, ternyata sosok Welliam pun memiliki cerita kelam di balik layar sadisnya. Apa waktu itu Fivian juga ingin menjelaskan hal ini kepadanya.
"Tapi sekarang sudah tidak ada yang berani membicarakan Kakak di belakang, karena semua yang membantah perintahnya akan mendapatkan ganjaran kematian, kecuali orang-orang bodoh yang tidak tahu aturan. Dan yang terjadi sampai saat ini, hanya kekejaman Kakak yang terus dikenang."
Waw, ternyata Welliam benar-benar makhluk yang sangat keji. Lagian meski di pandang begitu, ada juga yang tidak masalah dengan Welliam mengingat dulu betapa kajamnya Lord Fedrick menghukum para pemberontak.
Garis besarnya, keturunan Lorddarks pasti akan memiliki sisi buruk, yang banyak di takuti oleh seluruh kaum.
"Tapi Kak Aletha jangan khawatir, meski Kakak terlihat menyeramkan Kak Welliam adalah pria sejati yang sangat perhatian. Sisi kejamnya itu karena kami keturunan bangsa Demon. Hal yang seperti itu akan terus melekat seperti darah dan tulang."
"Oya? Tapi Lucy tidak terlihat seperti itu.."
"Mungkin.., karena Kakak lebih mewarisi darah keturunan Lorddarks milik Ayah, sedangkan Lucy lebih mirip dengan sosok Ibunda yang lembut."
Jeglek!
Kereta kuda berhenti berjalan. Sepertinya mereka sudah sampai ke tempat tujuan mereka, yaitu Kerajaan Lucifer Kingdom.
"Yang Mulia Putri dan Lady Aletha, kita telah sampai."
Ajudan kereta kuda memberitahu lalu membukakan pintu kereta kuda. Lucy turun terlebih dahulu, Aletha sedikit merasa gugup. Belum pernah dia merasa segugup ini, padahal dia orang yang selalu bersikap tenang.
"Jangan khawatir, Ibunda tidak akan memberikan ujian sleksi kok. Malah justru kalian akan sangat akrab, mengingat Ibunda juga berasal dari tempat yang sama seperti Kak Aletha."
Aletha sedikit bingung dengan ucapan Lucy. Dari tempat yang sama?
Aletha turun dari kereta kuda dengan sangat anggun. Kehadirannya berhasil menarik perhatian seluruh penghuni Kerajaan, banyak pelayan dan penjaga yang berada di luar Kerajaan terpesona dengan wajah jelita Aletha yang benar-benar sangat cantik.
Sepertinya bertambah satu perempuan cantik lagi di Kerajaan Lucifer Kingdom.
Gaun putih berhias pita merah membalut indah di tubuh Aletha, pundak porselin yang terekspost menambah karisma sosok Aletha. Tidak lupa Pita mereh berlonceng silver milik Aletha yang selalu menjadi mahkota di rambut Aletha, menjadi pelengkap kecantikannya yang sangat sempurna.
Bahkan meski ada Lucy di sebelah Aletha, masih belum bisa membuat mereka mengalihkan pandangannya dari keanggunan Aletha.
Sepertinya usaha Lucy tidak sia-sia dalam mendadani Kakak Iparnya. Paling tinggal berurusan dengan Kakak nya, mengenai pandangan lebih dari para penjaga disini.
Halamab di luar Kerajaan begitu luas, banyak taman indah yang memiliki seribu jenis bunga. Suasana disini lebih cerah dibandingkan dengan Castle Welliam.
Tidak jarang para Fairy terbang gembira merawat taman disini, bahkan sampai ada yang ingin bermain dengan Aletha.
Untungnya Lucy dengan cepat menanganani mereka semua.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Putri Lucy dan Lady Aletha."
Saat pintu utama terbuka, deretan pelayan mendunduk memberi hormat, sebagai penyambutan mereka. Benar yang di ucapkan Lucy pelayan di sini lebih banyak ketimbang di sana.
Bahkan ukuran bangunan Kerajaannya saja terbilang unik dan sangat-sangat besar. Castle Violence saja sudah sangat besar dan tinggi, yang ini malah jauh lebih besar lagi.
Silahkan pembaca bayangkan sendiri bagaimana besarnya Kerajaan ini😌
Tapi harus Aletha akui meski disini lebih menakjubkan, tidak membuat Aletha terlalu menyukainya karena disini lebih ramai. Aletha suka Castle Welliam yang sunyi dan tenang.
"Salam Yang Mulia Ratu. Putri Lucy dan Lady Aletha telah tiba."
Karena keasikan menatap takjub dengan arsitektur bangunan ini, membuat Aletha tidak sadar bahwa mereka telah sampai di kediaman sang Ratu.
Krieet....
Pintu putih besar itu terbuka perlahan-lahan. Menampilakan sebuah ruang klasik yang menarik, bahkan sangat nyaman untuk dipandang terus-menerus.
"Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu juga, Lady Aletha.."
Aletha membulatkan matanya dengan kagum, melihat wanita cantik dengan pesona yang sangat berwibawa. Kalau dilihat dalam perkiraan usia manusia, sang Ratu terlihat usia 23 tahun.
Matanya yang berwarna biru Savier begitu teduh untuk terus dipandangi. Mungkin Welliam dan Lucy juga memiliki mata yang sama karena keturunan gen dari sang ibu, fikir Aletha.
Tapi satu yang membuat Aletha tak bisa berpaling, adalah wajahnya yang sangat jelita mengingatkan dia dengan sosok rupawan seorang..
"Dewi.." Lirih Aletha tanpa ia sadari.
"Kau bilang sesuatu?"
"Maksud saya, em.. Yang Mulia Ratu Alicia sangat cantik seperti seorang Dewi."
"Ahaha.., ku ucapkan terimakasih atas sanjungannya."
Kini Aletha paham, mengapa dia menjadi Ratu panutan yang disanjungkan. Sosoknya benar-benar sangat lembut dan baik, terlebih ada sesuatu yang membuat Aletha penasaran dengan karisma sang Ratu yang mirip dengan seseorang (?)
Lucy yang melihat isyarat dari Ibunya, memohon untuk undur diri. Mencoba membiarkan mereka berduaan, agar bisa lebih santai dalam berbicara.
"Duduklah.., jangan terlalu sungkan. Aku lebih senang jika kita bisa lebih santai, boleh kupanggil Aletha?"
"Dengan segala hormat. Anda boleh memanggil nama saya, Yang Mulia." Ucap Aletha setelah duduk di kursi yang berada di depan sang Ratu (Lezzy).
"Ku-kurasa..., Yang Mulia Ratu Alicia su-sudah cukup."
Pantas saja familiar, ternyata antusiasnya Lucy menurun dari Ibunya.
"He..., padahal aku sudah sangat senang, saat mendengar Putra bodohku itu akhirnya membawa mempelai -,-" Lezzy terlihat kurang bersemangat.
Pu-putra bodoh?
"Jadi Aletha, bagaimana menurutmu dunia ini?"
"Em, sangat indah Yang Mulia."
"Apakah di Castle Violence kau baik-baik saja?"
"Ya, Yang Mulia. Para Pelayan memperlakukan saya dengan sangat baik, Putri Lucy juga sangat baik kepada saya."
"Syukurlah, meski Lucy telah masuk batas dewasa. Tapi terkadang dia masih seperti anak kecil, coba lah untuk menganggapnya sebagai Adikmu sendiri."
"Baik Yang Mulia."
"Aletha, bagaimana menurutmu dengan Welliam?"
"..............."
Aletha diam, dia menundukan kepalanya. Bingung harus jawab apa, Aletha pun tahu alur pembicaraan ini pasti mengenai hubungannya dengan Welliam yang masih bertolak belakang.
"Hem.., kau masih sulit untuk menjawabnya?"
"Eh, Yang Mu---"
"Tidak Apa, Lucy sudah memberi tahu semuanya. Aletha, kau bukannya menolak hanya saja kau masih bingung dengan perasaanmu saat ini, aku memang tidak tahu seperti apa kedekatan kalian. Tapi keraguanmu bisa saja membunuhmu suatu saat nanti, mereka yang sudah di takdirkan tidak akan pernah bisa dibantah."
"Yang Mulia, kami tidak ditakdirkan bersama. Ini semua pasti hanya salah paham, Perasaan sewaktu-waktu bisa saja berubah. Mungkin saja Welliam masih belum memahami tentang pasangan Mate."
"Kau benar Aletha, perasaan bisa saja berubah. Tapi bukan untuk Welliam, melainkan dirimu sendiri."
"Aku? Yang Mulia, anda tidak mengerti maksudku. Aku adalah manusia--"
"Memangnya kenapa jika kau seorang Manusia?"
Kenapa? Dia tanya kenapa. Bukan kah sudah sangat jelas bahwa itu melanggar aturan alam, Aletha bingung bagaimana menjelaskannya lagi.
"Ikutlah, ada yang ingin kutunjukan kepadamu."
Lezzy bangun, lalau berjalan kearah luar balkon. Aletha yang terlihat sedikit bingung mengikuti langkah Lezzy.
Wushh....
Hal pertama yang Aletha rasakan, adalah hembusan angin kencang. Matanya yang sedikit menyipit akibat ulah desiran angin, perlahan mulai membuka.
Aletha kagum dengan pemandangan dihadapannya, semua yang ia lihat bagaikan lukisan yang benar-benar sangat nyata.
Semua wilayah daratan hingga perairan di Darkness World, tergambar jelas di mata biru langitnya.
Ia baru sadar, posisi wilayah Lucifer Kingdom berada dipaling tinggi. Itu sebabnya ia bisa melihat seluruh wilayah dari atas tempat ini.
"Bukan kah tempat ini sangat indah?"
"..........." Aletha masih diam terpaku melihat pemandangan dihadapannya.
"Dunia ini lah yang ingin Welliam lindungi. Kau bisa melihat pandangan cantik ini, semua berkat kerja keras Welliam dalam mempertahankannya. tapi Welliam tidak bisa berdiri sendiri sebagai penguasa, dia membutuhkanmu sebagai sosok Ratu dalam memimpin Dunia ini agar tetap damai, Aletha."
"Tapi hubungan kami adalah hal yang paling dilarang, kami dari dunia yang berbeda."
"Aletha, sebenarnya aku pun berasal dari Bumi. Aku juga dulunya adalah Manusia, dulu aku berfikiran sama denganmu.. Bahwa makhluk seperti kita di tentang untuk bisa hidup berdampingan. Tapi kalian tidak menentang, kalian dipilih oleh takdir sendiri begitu juga denganku."
"Terpilih? Kurasa bukan terpilih tapi lebih tepatnya hukuman untukku. Jika Yang Mulia dulunya manusia, tidak kah anda takut dengan hukuman para Dewa?"
"Apakah Dewa berhak menghukum seseorang tanpa alasan jelas? Apakah Dewa berhak mengatur hidup seseorang dengan bebas? Aletha, kau masih belum memahaminya."
"Apa yang tidak kupahami, Yang Mulia?"
"Kau sendiri, jati dirimu yang sebenarnya. Kau melupakan hal mendasar dari hidupmu selama ini."
TCRING!
Angin memeluk mereka berdua dalam balutan hembusan anila. Lonceng kecil pada pinta merah Aletha kembali bercahaya, lalu tiba-tiba saja jatuh ke lantai.
"Kenapa pita itu bersinar lagi?"
"Biar aku yang mengambilnya."
Lezzy berjalan, jemari lentiknya meraih pita merah yang masih senantiasa bercahaya.
Zrett....
Cahaya dari lonceng itu meredup. Lezzy diam, barusan apa yang dia rasakan. Saat ia menyentuhnya, rasanya tubuh Lezzy seperti tersengat kecil.
"Yang Mulia, baik-baik saja?"
"A-aku baik-baik saja."
Aletha mengambil pitanya dari tangan Lezzy dengan lembut.
"Apa itu milikmu?"
"Benar, pita ini milikku yang berharga."
Lezzy tersenyum, sepertinya dia tidak perlu mengkhawatirkan hubungan mereka.
"Aletha, aku tidak tahu apa yang terjadi pada masa lalumu. Jika tidak ada tempat untukmu kembali, ingatlah disini adalah tempatmu untuk pulang.."
Alwtha terlihat bingung, apa Ratu Alicia juga mengetahui masa lalu kelam Aletha? Atau ada arti lain dalam ucapannya.
"Apa kau yang menulis nama Welliam di pita merahmu, Aletha?"
"Anda bisa melihat tulisan ini, Yang Mulia?"
"Melihat? Sepertinya tidak semua orang bisa membacanya ya. Ya, aku bisa melihat nama Welliam yang di tulis dalam aksara latin Arclanta."
Bagaimana bisa terbaca dengan sangat jelas. Nama Welliam memang tidak hilang dipitanya, tapi tidak ada yang bisa melihatnya. bahkan Fivian, Lucy, dan Welliam sendiri tidak sadar ada tulisan itu.
Siapa sebenarnya Yang Mulia Ratu Alicia, ini?
"Hari semakin sore, lebih baik kau menginap saja. Anginnya juga sangat kencang, rambut indahmu bisa saja berantakan dan kusut. Ariel tolong antarkan Aletha.."
"Baik Yang Mulia, mari Lady.." Ucap Ariel, yang baru saja tiba.
Aletha melihat Lezzy sekali lagi, mencoba membaca yang ada di pikiran sang Ratu. Tapi Lezzy hanya tersenyum.
Pintu tertutup rapat, Alwtha telah pergi bersama Ariel. Sedangkan Lezzy kembali melihat pemandangan Darkness World.
"Apa kau juga merasakannya, Luna?"
"Saya merasakannya juga, Alice."
"Sepertinya, kau sudah mengetahui jati diri Aletha ya?"
"Sejak awal, saya memang sudah mengetahuinya. Tapi maaf Alice, kali ini saya tidak bisa memberi tahumu mengenai siapa dia sebenarnya. Meski begitu Alice sudah tahu kan asalnya?"
"Kenapa tidak bisa memberi tahuku?"
"Karena itu akan membuatnya semakin dalam bahaya. Dia tidak seperti Recyla atau dirimu Alice, takdirnya akan jauh lebih berat dibandingkan dengan kisahmu dulu. Karena dia yang memulai kekacauan ini maka dia sendiri lah yang harus mengakhirinya, tapi kau jangan khawatir Aletha adalah perempuan yang baik."
"Meski aku tidak tahu yang kau maksud. Tapi aku berharap mereka bisa menemukan jawabannya bersama, terlebih untuk perasaan mereka."
--.o🍁o.--