The Queen of Different World

The Queen of Different World
Invitation To Eat Together



Sejak bangun tidur, Aletha terus terusan tersenyum. Entah karena hari ini bisa bertemu dengan Fivian lagi, atau karena kejadian semalam. Bahkan Fivian yang melihatnya sampai terheran-heran.


"Maaf atas kelancangan saya, tapi apa Lady baik-baik saja?"


Aletha kembali tersadar saat mendengar ucapan Fivian. Dia mengembalikan sikapnya, lalu melihat Fivian lewat cermin dihadapannya.


"Aku baik-baik, saja."


"Apakah ada yang membuat anda senang, Lady?"


"Itu karena, aku senang bisa bertemu denganmu lagi, Fivian."


"Kesenangan Lady, adalah kehormatan terbesar bagi saya."


Fivian, kembali merias rambut Aletha. Ia juga merapikan gaun biru yang di kenakan Aletha. Tidak lupa dengan riasan wajah yang sangat ringan, membuat Aletha terlihat seperti wajah baru.


"Lady, anda cocok sekali dengan warna rambut ini. Begitu kontras dengan mata indah anda, Yang Mulia pasti sangat terkesima."


"Setelah tidak bertemu, kau semakin berani berkata sembarangan ya."


Fivian tersenyum "Hamba mohon maaf, tapi yang saya katakan adalah kebenarannya."


Kali ini Aletha tidak bisa menyangkalnya. Semalam, Welliam secara sepihak memutuskan untuk tidur bersama Aletha, dan langsung tertidur pulas.


Mungkin karena dia sudah kelelahan, Aletha hanya bisa memakluminya dan saat tadi pagi dia bangun. Welliam sudah tidak ada, tapi meninggalkan pesan imut yang membuat Aletha senyum-senyum sendiri, sejak tadi.


Tok..tok..


"Apa kau seudah selesai?"


Aletha melihat kearah pintu, memperlihatkan Welliam tengah menyandarkan dirinya pada bingkai pintu. Fivian menunduk memberi hormat, seraya berjalan mundur dan berdiri disebelah Loise.


Welliam menghampiri wanitanya, lalu berdiri dibelakang Aletha, melihat pantulan mereka berdua pada cermin rias.


Welliam memakaikan sesuatu pada rambut Aletha. Sebuah riasan kecil berbentuk bunga Wisteria, berwarna ungi muda dan terbuat dari permata asri.


"Sudah kuduga, ini akan terlihat cantik jika kau yang memakainya."


"Aku sudah pernah bilang, jangan menambahkan benda semacam itu."


"Hanya satu saja, lagian bentuknya juga bunga Wisteria."


"Darimana kau mendapatkan riasan seperti itu?"


"Aku meminta pengerajin permata membuatnya, pagi tadi."


"Aku jadi kasian dengan pengerajin itu, karena dia sudah harus bekerja keras sejak pagi-pagi sekali. Hanya untuk sebuah riasan ini. Apalagi, kau pasti mengawasinya terus-terusan. Jadi, apa pengerajin itu baik-baik saja? Dia pasti kaget sekali"


Welliam hanya memberikan senyuman, kepada Aletha.


Sudah kuduga, pasti terjadi sesuatu pada pengerajin itu.


"Jangan khawatir, dia tidak akan mati hanya karena serangan jantung."


"Sebenarnya apa yang kau lakukan kepada pengerajin itu, ha?"


"Aku tidak melakukan apa pun, disana aku hanya diam sembari melihatnya bekerja."


Kau pasti melihatnya dengan aura membunuh-_-


"Luapakn masalah ini. Ayo, aku sudah menyuruh pelayan, untuk menyiapkan sarapan pagi di taman."


Aletha menghela nafas, lalu menyambut uluran tangan Welliam. Mereka berjalan bersama menuju taman, sedangkan Loise dan Fivian sejak tadi hanya bisa diam dengan sangat heran.


Biasanya mereka saling memandang dengan wajah dingin, bahkan sampai berdebat. Tapi pagi ini, rasanya mereka terlihat lebih dekat dan sangat serasi.


"Apa terjadi sesuatu, pada mereka?"


"Entah lah, semalam Lord Welliam meninggalkan Kerajaan dan kembali dengan cepat, ke Castle Violence."


.


.


Welliam banyak tersenyum, saat melihat Aletha bercerita tentang kesehariannya selama seminggu ini. Tentang tingkah Adiknya yang rusuh, dan pertemuannya dengan Ibunda (Ratu Alicia). Semua dia katakan secara sepontan, seolah Aletha benar-benar telah menerima kehadiran Welliam.


Belum lagi, hari ini dia semakin terlihat cantik dengan warna baru pada rambutnya. Jika Welliam bisa membuat suasana seperti ini, setiap hari. Pasti, Aletha tidak akan merajuk untuk minta kembali pulang.


"Oya, mengenai buku yang kau berikan kepadaku. Ada sesuatu yang an---"


"Kakak Ipar. Adik manismu kembali berkun--wah!!!!"


Lucy datang dengan suara yang begitu lantang, memberitahukan kehadirannya kepada Aletha. Tapi seketika dia diam membatu, saat menyadari sosok jahat berdiri di sebelah Aletha.


Sial! Kenapa ada Kakak juga disana.


"Sepertinya, sekarang kau mulai berani datang ke Castle ku tanpa seizinku, ya?"


"Em.., Lucy hanya merindukan Kakak Ipar saja kok."


"Bagaimana caranya kau memasuki Castle ini?"


"Kakak lupa, Adikmu ini kan pintar. Tentu saja, aku membuka gerbangnya sendiri."


Lucy tersenyum riang, menunjukan deretan gigi putihnya. Mencoba bersikap manis, dia tidak tahu kalau Welliam telah kembali. Dan sialnya malah bertemu secara langsung.


Ah, aku pasti akan di ceramahi, habis-habisan oleh Kakak. >///<


"Loise, seret Serigala bernama Molie itu kehadapanku."


"Aa!! Jangan sentuh Molieku! Dan juga dia itu Rubah bukan Serigala. Mau sampai kapan Kakak akan paham sih!"


"Aku tidak perduli."


"Dasar kejam!"


"Merepotkan!"


"Monster gila!"


"Iblis gendut!"


"Aa!! Kakak menyebalkan sekali!"


"Adik yang cerewet!"


Mereka siapa?


Dan ini dimana?


Ingin rasanya aku mengatakan itu kepada mereka. Tapi, sepertinya terlambat, karena aku sudah terlanjur masuk kedalam lingkungan mereka. lagian kenapa juga mereka saling mengejek, dasar Iblis aneh -_-


Loise dan Fivian yang sejak awal sudah mengikuti langkah mereka, hanya bisa melirik pasrah.


Karena memang ini hasilnya jika kedua saudara itu disatukan. Bahkan sejak kecil pun mereka memang tidak bisa akur, meski begitu bukan berarti mereka saling benci. Tapi seperti inilah caranya mereka untuk saling dekat, dari dulu Welliam memang sering menjahili Lucy.


Jadi perdebatan mereka bukan hal baru bagi para pelayan dan pengawal di Lucifer Kingdom.


"Pulanglah, disini bukan taman yang bisa kau kunjungi."


"Tidak mau! Aku juga tidak suka dengan Castle Kakak."


"Kalau begi--"


"Bisakah kalian berhenti, berdebat!"


ucap Aletha dengan nada yang begitu dingin.


Lucy dan Welliam melihat kearah Aletha. Gawat, melihat dari raut wajahnya. Mereka paham kalau saat ini, Aletha dalam mode kesalnya.


"Ops, aku tidak ikut-ikutan deh, kalau Kakak Ipar sudah marah-_-"


"Kau yang mulai duluan, jangan kabur!"


"( ͡°з ͡°)"


Aletha menghela nafas "Sudah tenang?"


"Lucy minta maaf, memangnya salah jika Lucy datang berkunjung?"


"Sangat salah." Welliam masih terus menyindir, membuat Lucy menggeram kesal.


"Aku tidak bertanya kepadamu, Kak."


"Tapi aku yang berkuasa disini."


"Ck, Welliam."


Aletha menyikut Welliam untuk berhenti.


"Cih, cepat katakan, kenapa kau datang?"


Lucy membuang muka di hadapan Welliam, lalu berjalan kearah Aletha.


"Kakak Ipar, sebenarnya kedatangan ku untuk menyampaikan pesan dari Ayah. Be--"


"Ayah? Apa yang dia inginkan?"


"Tidak bisakah Kakak diam?"


"Kau--"


"Ekhem!"


Lucy tertawa kecil, ini menyenangkan. Sekarang dia percaya Kakaknya ini sungguh sudah sangat terbuai oleh Aletha, bahkan dia tidak membantah saat ditatap oleh seorang perempuan, seperti itu.


"Ayah ingin mengundang Kakak Ipar, untuk makan bersama di Kerjaan Lucifer Kingdom. Ibunda juga ada disana, bukan kah ini sangat hebat? Ayah tidak pernah mengajak orang luar selain Anggota keluarga Kerajaan, untuk makan bersama kita. Pasti karena Ayah merestui hubungan kalian." Lucy berkata seraya berseri-seri.


"Kau yakin, Ayah berkata seperti itu?"


"Oh, ayolah Kak. Sejak kapan Adikmu ini berbohong, terlebih aku tidak akan berani membohonhimu karena kau adalah penguasa tertinggi, di Darkness World."


"Kau tahu itu, tapi masih bersikap tidak sopan kepadaku."


"Aku kan Adikmu, memangnya Kakak tega menghukum ku-_-"


"Cih!"


Aletha diam tidak mendengarkan perdebatan ringan dari Lucy dan Welliam. Tapi dia sangat terkejut, hal yang paling membuatnya gelisah adalah ucapan Lucy.


Kenapa Yang Mulia Fedrick ingin mengundangku makan bersama? Apa dia sudah tahu? Tidak mungkin, jika benar dia tahu bahwa aku yang menyelinap ke Lorddark's Zone.


Harusnya dia sudah menangkapku jauh-jauh hari, lalu kenapa sekarang dia malah ingin bertemu. Padahal aku sudah mencoba menghindarinya. apa benar ini hanya sekedar, salam pertemuan?


Sial! Aku melupakan tentang ini. Argh! Aku menyesal menyelinap masuk ke Lorddark's Zone. Tahu begini lebih baik aku tahan rasa penasaranku, sekarang harus bagaimana?


"Aletha, kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, Welliam."


"Jika kau tidak mau, lebih baik tidak usah pergi saja."


"Tidak kok, lagi pula tidak baik menolaknya, terlebih ini undangan dari Yang Mulia Lord Fedrick."


"Jangan khawatir, aku bisa mengurusnya."


"Jadi Kakak Ipar. Bagaimana, kau akan pergi atau tidak?"


"Tentu saja, ki..ki..."


"Ki..?"


Lucy masih menunggu kelanjutan ucapan Aletha.


"Ki-kita pergi, aku juga ingin tahu seperti apa Yang Mulia Lord Fedrick."


Argh!! Sial, aku tidak bisa menolaknya. Itu akan membuat beliau curiga, sepertinya aku menggali kuburanku sendiri. Terakhir kali bertarung dengannya, dia benar-benar sangat kuat. Ah, sepertinya kita memang tidak ditakdirkan bersama Welliam.


Karena jika aku tertangkap basah, aku sudah gagal jadi menantunya -_-


--.o🍁o.--



Hai, apa kabar readrs ku. maaf atas keterlambatannya, Author harap kalian puas dengan karyaku. bila kalian ada masukan, author akan senang membacanya.


Terimakasih untuk semua dukungan kalian, jangan lupa Like dan Comment nya ya💕