
"Namaku, Lucy Daiana Lorddarks. Seorang Putri di Kerajaan Lucifer Kingdom, sekaligus.. Adik Perempuan Yang Mulia Welliam."
"Adik? Perempuan cantik ini, Adik dari Iblis itu?!"
Aletha menatap tidak percaya, masalahnya yang membuatnya shock adalah sosoknya jauh lebih lembut dibanding sifat dingin Welliam. Bagaimana bisa dia menjadi Adik Welliam yang kejam itu?!
"Senang bisa bertemu dan berkenalan dengan anda Lady😊"
Ucap Perempuan bernama Lucy itu, sembari tersenyum dengan sangat ceria kepada Aletha.
__~o.🍁.o~__
Sejak kejadian yang tidak terduga tadi. Kini Aletha dan Adik Perempuan Welliam, Lucy. Sedang duduk berdua menikmati dessert dan secangkir teh hangat di taman.
Kalau tidak salah kemarin Aletha dan Welliam juga makan pagi di taman yang sama. Tapi entah kenapa bagi Aletha rasanya berbeda dengan suasana di waktu itu. Mungkin karena mereka orang yang berbeda?
Lucy yang sejak tadi mencoba mengajak bicara dengan berbagai banyak topik, tetap tidak bisa membuat Aletha terbuka.
Sejak tadi juga, yang Lucy lihat dari Aletha hanya diam dengan tatapan kosong kearah teh nya. Sesekali Aletha menanggapi ucapan Lucy, tapi hanya dengan ucapan singkat.
'Intinya, sikap mereka itu sama persis..'
Lucy memang sudah lama mendengar kabar mengenai Aletha di Castle Kakak nya, tapi ia baru bisa menemui Aletha karena saat ini Welliam sedang tidak ada di Castle.
"Maaf, sepertinya kedatangan saya sedikit mengganggumu.."
Aletha melihat Lucy yang sedang tersenyum sendu. Sebenarnya tidak masalah bagi Aletha dengan kedatangan Lucy yang tiba-tiba, justru dia merasa bisa lebih tenang karena kehadirannya.
"Tidak Putri, saya justru senang anda bisa datang.. Kebetulan saya juga memerlukan teman bicara seperti ini, rasanya membosankan jika hanya saya saja di Castle ini."
"Benarkah? Lady tidak keberatan jika saya menemuimu seperti ini?"
"Iyaa.., Putri juga bisa bebas menemui saya kapan pun."
"Sungguh?"
Aletha tersenyum kaku saat melihat mata biru Lucy berbinar-binar, seolah dia sangat senang bisa bertemu dan berbicara dengan Aletha.
"Iy-iyaa.., Putri."
"Senangnya, selama ini saya selalu menebak-nebak sosok anda. Tapi setelah bertemu secara langsung, ternyata Lady Aletha jauh lebih cantik dari yang saya bayangkan. Ini juga pasti alasan kenapa Kakak bisa jatuh hati kepadamu.."
Aletha menanggapinya dengan tertawa kaku. Jauh dari tebakan Aletha mengenai Lucy, sifatnya sangat periang dan mudah terbuka kepada siapa pun. Dia juga gadis yang manis dan terlihat sangat baik dari pada Welliam.
Rasanya nyaman, dan untuk pertama kalinya Aletha bisa bersikap akrab layaknya seorang teman kepada orang yang baru pertama kali dia temui.
"Em rasanya canggung, bagaimana jika kita ubah cara bicaranya."
"Maksud anda Putri?"
"Jangan terlalu formal, gunakan panggilan santai saja. Lady boleh memanggilku Lucy, sebenarnya aku tidak terlalu suka di panggil Putri. Itu terlihat bahwa kastaku memang harus di hormati, sehingga membuat kesan segan yang kurang enak untuk berbicara.."
"Saya mengerti, Pu--maksduku Lucy.."
"Karena sekarang kita bisa berbicara santai.., boleh aku memanggilmu dengan bebas juga?'
"Jangan sungkan, panggil lah sesukamu Lucy."
"Baiklah, aku akan memanggilmu Kakak Ipar."
"Hah?"
"Ah, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa juga memiliki Kakak Ipar. Setiap ada pesta di Kerajaan, banyak perempuan yang ingin mencoba mendekati kakak. Tapi hasilnya bukannya terbar pesona malah jadi memalukan, Kakak Ipar beruntung bisa mendapat cinta kasih dari Kakak.."
"Kurasa itu tanggapan yang berlebihan.."
"Ada satu hal yang membuatku selalu penasaran, boleh aku tahu?"
"Mengenai apa?" Ucap Aletha sembari meminum perlahan tehnya.
"Jadi.., sudah sampai mana hubungan kalian? Bagaimana kalian bisa bertemu? Kudengar Kakak Ipar berasal dari Bumi? Kapan kalian akan menikah? Kalau rencana punya anak, mau punya berapa 3..4 atau 5? Jangan khawatirkan mengenai restu orangtua, cukup kalian berikan keturunan yang banyak mereka pasti akan merestuinya. Terutama Ayah, walau terlihat garang tapi dia luluh dengan wajah anak-anak yang imut, apalagi jika mirip Kakak. Bla..bla..bla...."
Lucy terus memojokkan Aletha dengan pertanyaan yang tiada habisnya, bahkan semua pertannyaannya sangat memalukan hingga membuat Aletha tersedak minumannya sendiri.
Bagaimana bisa ucapan seperti itu bisa dikatakan dengan sangat ringan oleh Lucy, ditambah lagi dengan ekspresinya yang terlihat bersemangat.
"Tebakan ku salah, Lucy jauh lebih agresif dibandingkan Welliam. Ha.., Adik dan Kakak sama sama menyebalkan ya, apalagi dikatakan dengan wajah yang polos seperti itu."
Aletha tersenyum kikuk, kupingnya saja sudah sangat pekak dengan suara Lucy yang membara. Jika satu rasa penasaran bisa sebanyak itu pertannyaannya, lalu bagaimana jika lebih dari satu rasa penasaran?
Cukup, Aletha saja sudah tidak bisa lagi membayangkannya, apalagi jika sampai terjadi.
"Maaf, sepertinya aku terlalu bersemangat. Sampai-sampai Kakak Ipar terkejut begitu, atau karena aku menannyakan hal yang sangat privasi untuk hubungan kalian."
"Emm.., Lucy orang yang energik ya. Sampai sampai rasa penasaranmu bisa di tulis hingga satu buku tebal😊"
"Ah, Kakak Ipar bisa saja. Pujian Kakak berlebihan, sejak kecil rasa ingin tahu Lucy memang tinggi, hehehe...."
"Hah? Itu bukan pujian cuy!"
Aletha memijat kepalanya, sepertinya Lucy memang tipikal orang yang tidak bisa di sindir dengan cara halus.
"Jadi, apa Lucy boleh tahu?"
"Tentu saja, karena pertannyaanmu sangat banyak. Aku akan menjawabnya dengan sangat singkat."
"Sungguh?" Lucy tersenyum dengan pandangan yang berharap lebih.
"Jawabannya, aku dan Yang Mulia Welliam. Tidak akan pernah menikah atau bahkan, sampai memiliki seorang anak."
"..............."
Hening!
Perkataan Aletha membawa keheningannya yang merubah suasana menjadi canggung. Senyum Lucy yang merkah memudar dan tatapannya terlihat bingung, Aletha sudah menebak Lucy pasti akan berekspresi sama seperti Fivian pada waktu itu.
"Apa Kak Aletha...., mencoba menolak takdir dari pilihan Soulmate?"
"Ya."
"Boleh, Lucy tahu alasannya?"
"Bukankah sudah jelas.., aku seorang Manusia dan Yang Mulia Welliam adalah bangsa Iblis. Kami makhluk yang berbeda, hal itu pun telah di larang dengan sangat keras oleh hukum alam. Kita tidak boleh bersikap egois hanya untuk lepentingan nabsu."
"Hem.., mungkin saat ini Kak Aletha menolaknya. Mungkin saat ini Kak Aletha menyangkal semua perasaan yang sebenarnya. Tapi, apakah Kak Aletha bisa terus menerus membohongi perasaan yang sebenarnya?"
Membohongi?
Aletha mencengkram kuat gaunnya, saat kata membohongi terucap dari Lucy. Rasanya perih tapi tidak terluka, rasa sakit di dadanya ini juga sama persis dengan perasaan saat Welliam bilang dia akan pergi.
Aletha tidak bisa berkomentar mengenai pertannyaan yang satu ini. Bibirnya terasa kelu, bahkan suaranya seperti hilang.
"Sepertinya aku terlalu banyak ikut campur ya? Maaf jika Kak Aletha tidak suka menyinggungnya, hanya saja aku ingin memberi tahu sesuatu sebelum kalian menyesal."
"Setiap makhluk memiliki pasangannya sendiri. Terkadang mereka yang sudah berpasangan, belum tentu bisa merasakan kebahagiaan. Takdir ini kejam untuk mereka yang belum memahaminya, tapi ada sebuah pelajaran yang bisa kita ambil dalam tiap permasalahannya. Tidak ada yang namanya hukuman hanya karena dasar mencintai, Kak Aletha tidak melakukan kesalahan mungkin ini lah pelajaran yang harus Kakak terima. Bahwa sebenarnya takdir ingin menuntut Kakak untuk merubah kehidupan Kakak yang dulu, tanpa di sadari nama Kakak ku telah terukir khusus di hatimu. Pahami maksudnya jangan biarkan penyesalan merobek jiwa Kakak."
Aletha tidak mengerti, gadis ceria seperti Lucy bisa terlihat begitu sedih. Seolah dialah yang paling terluka, tatapan sendunya mengartikan bahwa dia pernah merasakan pahitnya mencintai. Tapi, senyum lembutnya mengartikan bahwa dia juga merasa bahagia karena cinta.
"Kata-katamu bijak sekali, apa kau sudah pernah merasakan hubungan Mate?"
"Apakah terlihat dengan jelas? Em.., pasangan Mate ku hadir jauh lebih cepat dibandingkan dengan Kak Welliam."
"Benarkah? Sejak kapan?"
"Waktu itu, aku masih sangat muda. Kalau tidak salah usiaku 15 tahun, aku bertemu dengannya di acara pesta yang di selenggarakan oleh Kerajaan Neptuna. Itu pertama kalinya aku bisa keluar dari Lucifer Kingdom."
"Kalau begitu, berapa usiamu sekarang?"
"Hem.., karena belum masuk hitungan awal tahun. Aku masih berusia 519 tahun."
"Waw, tua ya..."
Mendengar itu Lucy tersenyum.
"Jadi selama 519 tahun kau masih berhubungan dengan Mate mu, apa kalian bahagia?"
Lucy menatap bayangan dirinya pada air teh di cangkirnya. "......tentu saja, kami bahagia." Ujar Lucy dengan sangat ceria.
Aletha mengerutkan dahinya. Kata bahagia yang di ucapkan sangat lama, apa benar hubungan mereka baik-baik saja?
"Sudah cukup pembahasan Mate nya. Kita bahas yang lain saja.."
Kini giliran Aletha yang meminum teh nya hingga habis. Lucy tersenyum tipis, sepertinya Kakak Ipar nya orang yang pengertian, meski sedikit curiga tapi Aletha tetap diam dan tidak memilih untuk menannyakannya dengan jelas.
"Ah! Aku lupa, sebentar lagi waktunya masuk teori Filsavat Macdisous. Jika aku tidak kembali tepat waktu, Kak Auriel akan menceramahiku..." Ucap Lucy dengan wajah cemberut dan malas.
"Auriel?"
"Dia Pelayan kepercayaan Ibunda, Yang Mulia Ratu Alicia."
"Alicia? Apa itu diambil dari bahasa Alice yang berarti bijaksana?"
"Wah, Kakak Ipar tahu bahasa itu? Alice di tulis dalam bahasa Arclanta. Bahasa kuno yang susah di pahami, selama ini hanya ada dua orang yang bisa memahaminya Ibunda dan Ayah saja. Kalau Lucy masih belum bisa memahaminya, karena tulisan dan pelafalannya sangat rumit."
"Bagaimana dengan Yang Mulia Welliam?"
"Entah lah, meski Kakak terlahir sangat jenius. Tapi belum pernah kulihat Kak Welliam menunjukan kepintarannya dalam sastra kuno."
Aletha kian semakin penasaran dengan hal yang terjadi di Darkness World. Harusnya bahasa Arclanta itu tidak pernah ada di dunia kegelapan ini, kan?
"Tapi bagaimana Kakak Ipar mengetahuinya?"
"Eh, terkadang aku juga belajar beberapa buku seperti itu bersama Fivian."
"Wah, itu bagus... Kak Aletha bisa jadi calon Ratu yang pintar nantinya. Kalau begitu, Lucy pergi dulu. Molie ayo!"
Lucy dan Molie pergi lewat sihir portal, membuat jarak pepergian mereka menjadi singkat.
--.o☘o.--
Hari berlalu dengan sangat cepat. Sudah lewat 3 sampai 5 hari setelah kepergian Welliam menjalankan misi. Selama 5 hari juga Lucy selalu rajin mengunjungi Aletha.
Mereka menghabiskan waktu seharian hanya untuk bersantai, berkeliling, bercerita tentang sil-silah keluarga Lorddarks, atau bahkan belajar beberapa teori Kerajaan.
Lucy adalah Putri Kerajaan yang sangat menyukai hal mengenai buku pengetahuan dan cerita legenda. Pernah sekali Lucy membawakan Buku teori yang sangat banyak untuk Aletha, sebut saja: Teori Sosiologi, Teori Marc Bredinger, Teori Bill Rowitz, dan Teori Sejarzca.
Tapi bagi Aletha memahami pelajaran teori seperti itu sangat lah mudah, di Bumi pun ia di katakan pengusaha muda karena ke pintarannya dalam memahami pengetahuan. Mungkin karena bahasa dan penulisan teori di sini, tidak jauh beda dengan buku sejarah kuno milik Negara Yunani atau Roma. Sepertinya tidak sia-sia Aletha membaca buku seperti itu saat berkunjung ke sana.
Hanya saja ada satu hal yang tidak Aletha suka, dari buku yang dibawa Lucy.
Brukh!
Lucy meletakan tumpukan buku baru Filsavat, tepat di meja yang ada di pondok taman. Aletha yang masih membaca buku berusaha mengabaikan kehadiran Lucy.
"Kakak Ipar, coba baca buku Filsavat yang berhasil Lucy kumpulkan. Bukunya menarik loh.., ada buku Filsavat Mantra, Filsavat Sihir, Filsavat Arclanta IX, Filsavat Pascal Michaelis, dan yang terakhir Filsavat Macdisous. Sebagai calon permaisuri Kak Welliam, Kak Aletha butuh banyak belajar mengenai teori dan etika di sini.."
Aletha menutup buku yang sedang dia baca sembari menghela nafas panjang. "Yang Mulia Putri Lucy, hamba sudah bilang, bahwa saya tidak tertarik dengan jenis buku Filsavat. Kalau masih dalam Teori hukum alam dan ideologi saya masih bisa memahaminya.."
"Kakak Ipar, justru itu aku datang untuk mbantu memahaminya, dan kenapa panggilannya jafi formal lagi?!"
"Lucy, aku mengerti.. Terimakasih sudah memperhatikan aku, hanya saja hal seperti pendamping hidup Yang Mulia Welliam itu masih mustahil. Jadi, berhentilah memanggilku dengan sebutan Kakak Ipar."
Baru berjalan 5 hari, tapi rasanya kedekatan Aletha dengan Lucy sudah seperti saudara Kakak Beradik. Terlihat Lucy memasang tampang cemberut.
"Cih, sifat Kakak Ipar persis seperti kak Welliam -,"
"Benarkah? Kurasa tidak."
"Apa yang sedang Kakak Ipar baca?"
"Oh, buku ini aku dapat dari Yang Mulia. Dia bilang cerita dongengnya menarik."
Lucy melirik buku di tangan Aletha. Sepertinya dia cukup familliar dengan bentuk dan judul buku itu.
"Ah, buku ini milik Ibunda.. Dulu Ibunda sering membacakan kisah dari buku ini, seperti dongeng sebelum tidur. Ceritanya benar benar menarik.., kalau tidak salah judulnya 'Queen Of rulers From Another World.' "
"Hem.., apa semua makhluk disini tahu tentang buku ini?"
"Tidak, hanya keluarga Lorddarks dan orang yang di beri izin saja, yang boleh membacanya. Kak Aletha beruntung bisa dapat membacanya. Kukira sudah hilang tapi ternyata masih bersama dengan Kak Welliam, hem dasar pembohong dulu dia yang paling tidak suka kisah Vasilissa itu, tapi malah dia yang menyimpannya..."
Vasilissa? Apa ada bab seperti itu di buku ini?
"Lucy, aku ingin tan-----"
"Ah lagi-lagi Lucy lupa, Kak Aletha kau harus bersiap serapih mungkin!"
"Kenapa?"
"Karena aku harus membawamu pergi, ke Kerajaan Lucifer Kingdom. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?"
"Tentu saja Ibunda memanggilmu.."
"Ibunda? Ap-apa itu Yang Mulia Ratu Alicia?"
"Ya tepat sekali, panggilan singkatnya adalah Ibu Mertua. Sepertinya Ibunda ingin melihat sosok calon Menantunya sendiri. Oiya.., mumpung Kak Welliam masih berada di luar Kerajaan. Sepertinya tidak masalah jika aku menculik wanitanya, kan?"
Hah? Aletha diam menatap bingung seperti orang bodoh. Bertemu dengan Ibu Welliam? Oh tidak sepertinya semua malah semakin rumit. Aletha hanya ingin pulang, bagaimana jika dia malah tidak dapat keluar dari dunia seram ini untuk selamanya.
--.o🍁o.--