
*Camp Pelatihan.
~Kesatria Lucifer Kingdom.
Aletha menghirup segar udara disini, rasanya sudah sangat lama sekali dia tidak merasakan sensasi ini. Di sebelah sisi Castle timur, ada terdapat halaman luas dengan tersedianya area untuk latihan.
Banyak Prajurit dan Kesatria campuran. Mulai dari Werwolf, Vampire, Elf, Witch, Merrmeid, dan Mirach. Tidak untuk Fairy, mereka lebih suka dengan bertanam atau lebih suka menjadi pelayan.
Suara dentingan senjata begitu ramai, dan sorak gemilang terdengar sangat bersemangat. Para prajurit melatih diri bertarung menunjukan siapa diantara mereka yang terkuat dari ras satu dengan ras yang lain.
Tapi yang membuat Aletha tak henti-hentinya tersenyum, adalah saat dia melihat beberapa Kesatria tumbang akibat serangan dari Lucy. Hem, mungkin karena saat ini suasana hatinya sedang buruk.
Aletha berdiri di tempat paling tinggi, sedangkan arena pelatihan berada di bawah, dengan terdapat tempat duduk berbentuk susunan anak tangga memutari arena.
Sebenarnya ia sedikit risih karena sejak tadi, sudah banyak sepasang mata melihatnya terpesona dengan sosok Aletha.
"Kau terlalu berlebihan Lucy."
Lucy meraih handuk kecil dari tangan Aletha lalu mengelap pelan wajahnya, rasanya lelah tapi terasa menyenangkan juga.
"Biarkan saja, mereka'kan kesatria terbaik. Masa kalah denganku."
"Apa kau memang seganas ini?"
"Tidak, aku berlatih hanya beberapa kali saja. Ayah tidak suka jika melihat aku terluka, dia pasti akan langsung menggantung kesatria yang membuatku terluka. Padahalkan wajar jika terluka."
"Itu karena Beliau tidak mau kau kenapa-kenapa. Pasti Lord sangat menyayangimu, Lucy."
"Iya sih, tapi terlalu berlebihan. Terutama Kakak. Em, Kak Aletha juga berlatih lah aku sangat penasaran..."
"Salam Putri."
Mereka mengalihkan perhatiannya kearah pria tampan bertubuh tinggi, lengkap dengan seragam komandannya. Sepertinya dia pemimpin pasukan, pikir Aletha.
"Oh, Michael. Salam juga untukmu, oya ku perkenalkan dia calon Kakak Iparku, Lady Aletha."
Michael melirik wanita disebelah Lucy, lalu memberi hormat "Salam Lady Aletha, namaku Michael Jarcob's. Komandan Pasukan Lucifer, asal bangsa Werwolf."
"Aletha Wisteria, senang berkenalan denganmu Tuan."
"Michael saja, Lady."
"Michael, bukankah kau ditugaskan Kakak untuk Berjaga di wilayah Elf?"
"Benar Putri, hari ini saya kembali untuk melapor kepada Paduka, tapi sepertinya Paduka sedang bersama Lord Besar."
"Hem, Kakak memang serba sibuk ya, Tapi selalu punya waktu untuk Mate nya." Goda Lucy membuat Aletha salting.
"Apa yang kau lakukan disana, Michael?"
Briant hadir dan menghampiri mereka. Mata Vampire Briant yang begitu merah menjerat mata langit Aletha, ada apa dengan tatapannya? Dia terlihat seperti tengah menilai Aletha.
"Paman Briant."
"Oh, maafkan saya yang tidak melihat anda, Putri."
"Tidak masalah."
"Siapa dia, Lucy?"
"Maaf membuat anda terkejut, Lady. Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Briant Stone War. Dari bangsa Vampire..."
"Paman Briant juga adalah Tetua Agung di Darkness World." Lanjut Lucy memberitahukan Aletha.
"Salam Tuan, saya Aletha Wisteria."
Aletha Wisteria? Apa dia yang dimaksud Lord Besar?
Dari atas tadi Briant tidak bisa melihat dengan jelas wajah Aletha karena mereka berjalan dengan memunggungi penglihatan Briant.
"Apa yang dilakukan Putri dan Lady disini?"
"Kami sedang berlatih saja, dan kebetulan Kak Aletha juga suka berpedang jadi aku mengajaknya untuk berlatih bersamaku."
"Lady suka bermain pedang?"
"Em, hanya selingan diwaktu bosan saja."
Briant jadi ingat pembicaraan pribadinya dengan Fedrick. Beliau menyuruhnya untuk mengujinya, semua telah diceritakan oleh Fedrick mengenai penyusup yang berhasil memasuki wilayah Lorddarks Zone.
Mungkin ini adalah cara paling tepat untuk membuktikannya. Briant melirik salah satu lantai yang ada di Kerajaan Lucifer, menatap seseorang dari balik jendela yang sepertinya memberinya perintah lewat telepati.
"Apakah Lady tidak keberatan untuk berlatih bersama saya?"
"Apa? Paman, Kak Aletha berasal dari Bumi dia seorang Manusia. Jika Paman bertarung dengan Kak Aletha, bagaimana jika dia nanti terluka? Aku tidak akan sanggup menahan amarah Kak Welliam."
"Kalau begitu saya minta maaf. Saya hanya berfikir Lady Aletha suka dengan tantangan bertanding dengan lawan yang kuat, itu bisa dijadikan sebagai tambahan pelajaran berpedang. Tapi karena Lady adalah Manusia, tidak ada pilihan lain selain mencarikan lawan yang seimbang dengan kondisi anda." Ucap Briant dengan sangat sopan.
Hah? Apa kondisi yang dia maksud, adalah kata 'Lemah'? Meski dikatakan dengan sangat sopan entah mengapa rasanya kuping Aletha terasa panas. Jadi hanya karena dia beridentitas Manusia maka dia bisa dipandang sangat Lemah disini?
Hah! Kau salah dalam memilih lawan Briant. Sayangnya wanita ini adalah Aletha, Aletha Wisteria! Rasanya begitu kesal dan harga dirinya telah jatuh.
Sepertinya Aletha perlu memberi pelajaran kepada Tetua ini, lagi pula Aletha tidak bisa hanya diam saja jika dipandang remeh, apalagi dalam urusan berpedang yang menjadi keahliannya.
Sudah cukup! Aletha terpancing dengan sindiran halus Briant "Ahaha..., terimakasih untuk perhatiannya, Tuan. Hanya saja Saya tidak masalah jika lawan latihannya adalah anda, mungkin saja saya bisa mengalahkan anda dan membalikan ucapan anda yang begitu sangat..sangat perhatian!"
Good, serangan balik dari Aletha yang sudah sangat kesal, senyuman manis yang terukir pada bibir ranumnya sangat terlihat terpaksa dimata Briant.
Briant membalas senyuman Aletha, sepertinya dia juga kepancing emosi karena ucapan Aletha.
"Benarkah? Saya sangat tersanjung Lady."
Briant berjalan menuju area, membuat Aletha melepas senyum manisnya dan menatap jengkel kearah Briant. Lucy dan Michael swetdrop mendengar ucapan Aletha yang terdengar seperti menantang sang Tetua Darkness World.
"Oh Kakak apa yang sudah kau katakan! Aku sudah mencoba menolongmu. Kenapa Kak Aletha malah balik menantangnya, apa Kakak tidak dengar? Lucy bilang dia itu seorang Tetua.., Te..tu..aa!!"
"Memang maslahnya dimana?"
"Aduh.., bagaiman jika Kakak kalah dengan memaluka--"
"Bu-bukan begitu, hanya saja Paman Briant adalah orang yang sangat kuat. Dan yang paling terpenting adalah, dia seorang Leluhur bangsa Vampire, darah keturunan Noblesz ada pada dirinya."
"Aku tidak perduli, semakin kuat lawannya maka semakin pula aku tertarik untuk mengalahkannya."
"Ah, kenapa Kakak percaya diri sekali. Dengar Kak, aku masih belum mau mati di usia mudaku ini."
"Usiamu 519 tahun apanya yang muda? Memangnya siapa yang ingin membunuhmu?"
"Usia segitu termasuk muda tahu! Apa Kakak lupa? Tadi pagi saja pelayan yang tidak sengaja menabrak Kakak, Kak Welliam biarsiap menebas kepalanya. Lalu bagaimana dengan aku yang membantumu untuk mendapatkan luka fatal, bahkan luka kecil pun akan menjadi perhitungannya untuk menggantungku, oh tamat sudah hidupku."
Aletha melirik bosan, mulai deh sifat was-was dan skill cerewetnya. "Kau terlalu berlebihan, Welliam tidak akan membunuhmu. Lucy saat ini harga diriku sebagai seorang Aletha tengah dipertaruhkan. Bukannya kau sendiri yang bilang yang namanya berlatih pasti akan mendapatkan luka, jadi berhentilah mengkhawatirkan ku."
Aletha berjalan ketengah arena pertarungan. Mungkin Aletha belum cerita kepada Lucy, bahwasanya dia memang bukan Manusia.
Aletha juga bisa berbagai jenis sihir tapi jika dia gunakan kekuatannya, itu akan menambah kecurigaan terhadapnya. Sedangkan berpedang itu masih dipandang umum. Jadi tidak masalahkan jika dia menunjukan keahliannya?
"Bagaimana ini.., Michael kau bantu hentikan mereka. Aku mengajak Kak Aletha karena kupikir dia hanya bertarung denganku saja.."
"Ekhem, saya ada urusan terlebih dahulu. Permisi Putri.."
"Hei! Mau kemana kau? Setidaknya bantu aku menjelaskannya kepada Kak Welliam bila terjadi sesuatu, dasar teman pengkhianat!"
Aletha terlihat memilih jenis pedang yang ingin ia gunakan, dan pada baris ke tiga Aletha mendapatkan pedang yang sesuai dengan seleranya.
Melihat itu semua prajurit yang ada di area camp pelatihan, mengalihkan perhatiannya menuju arah pertandingan antara Tetua dengan Lady Aletha.
Sorak-sorai begitu terdengar ramai, beberapa prajurit yang berubah menjadi shift Wolf ikut mengaung, seolah merasakan sensasi yang begitu sangat mengasikkan.
Briant memasang kuda-kuda pertahanannya begitu juga dengan Aletha. Terlihat Aletha memiliki tekhnik pertahanan yang tidak biasa atau belum pernah Briant lihat, apa memang seperti ini cara bertahan kaum Manusia?
Aletha menutup matanya sembari menarik nafas dalam lalu mengangkat pedangnya sejajar dengan mata birunya yang telah terbuka, menatap dingin kearah Briant.
Melihat ekspresi serius dari Aletha membuat Briant tidak sabar untuk mengetahui siapa sosok Lady nya ini.
Selama lima detik tidak ada pihak yang bergerak membuat semua yang menonton semakin penasaran, lalu...
TRANG!!
Aletha dan Briant bergerak secara bersamaan, gerakan mereka begitu cepat dalam penyerangan. Beberapa kali Briant menyerang, beberapa kali juga Aletha mengelak.
Aduan dari pedang yang berbunyi nyaring menambah sorak semangat bagi mereka yang menonton. Perlawanan terus berlanjut, gerakan Briant yang begitu cepat mampu meksa Aletha untuk terus bergerak tanpa diberi kesempatan untuk menyerang.
Semua orang menatap kagum melihat pertahan Aletha, yang mampu mengimbangi serangan Briant dengan sangat sempurna. Dia bergerak dengan sangat lincah seolah dia tengah menari dengan anggun, Aletha menahan pedang Briant dengan pedangnya.
Masih belum ada yang menang dan kalah, masih belum ada yang menyerah diantara mereka berdua. Karena mereka sama-sama unggul dalam hal menyerang maupun bertahan.
Aletha mengelak kearah kanan lalu saat pedang Briant berhasil melesat kebawah, dengan cepat Aletha menginjak pedang itu berusaha menahannya dan bergerak memutar mencoba menyerang Briant dengan kaki kanannya.
Gerakan Aletha begitu sempurna dan cepat membuat wajah Briant nyaris terkena serangan dari tendangan Aletha.
Briant bergerak mundur, keadaan semakin ricuh. Suara teriakan penyemagat tak menghalang Aletha untuk terus menyerang Briant.
"Michael cepat hentikan mereka! Kau tidak tahu, sudah berapa banyak usiaku yang terpotong akibat serangan mereka yang membuatku jantungan!"
"Putri kita tidak bisa ikut campur, ini adalah arena pertarungan. Semua yang menginjakkan kaki ke arena itu, maka bersedia menerima konsekuensinya. Terlebih ini bisa menjadi bukti untuk para kaum yang melihatnya."
"Maksudmu?"
"Putri, Paduka Welliam adalah Lord yang memimpin dunia ini, ada begitu banyak nyawa dari berbagai ras ditangannya. Jika Lady Aletha adalah Mate Paduka, sudah psti dia akan menyandang gelar Queen selanjutnua. Tapi jika Ratu kita adalah orang yang lemah, bukan kah akan menimbulkan konflik dimata para rakyat. Apa lagi kita makhluk kuat dari kaum Manusia, anda jangan khawatir saya melihat Lady Aletha adalah wanita yang kuat. Sejauh ini belum ada yang bisa mengimbangi Tetua Briant dalam latih tanding selain Paduka dan Tetua yang lain."
Benar, jika Aletha kuat maka rakyat bisa tenang dan mendukungnya untuk naik tahta. Tapi tetap saja Lucy cemas dengan Aletha, memang benar Aletha terlihat kuat tapi dia tetap seorang Manusia dimata Lucy.
Sudah pasti stamina yang dimiliki untuk bertahan dan menyerang tidak akan bertahan lama.
Aletha meraih pedang Briant yang dibiarkan jatuh dibawah pijakan kaki kiri Aletha, karena Briant buru-buru mengelak diri dari serangan Aletha, jadi tidak sempat menarik pedangnya yang tadi ditahan Aletha.
Briant tidak menyangka ada seseorang yang memiliki tekhnik bertarung yang begitu sempurna, apalagi dia adalah seorang wanita. Setiap serangan Aletha mampu membuat seorang Briant kesusahan.
Aletha kembali menyerang Briant dengan dua pedang ditanganya. Semakin lama gerakan Aletha semakin cepat, apalagi tekhnik dua pedangnya begitu sangat baik. Kini giliran Briant yang sedikit terpojok.
"Wuhu!!!"
"AWUUUU......."
Pertarungan menjadi sangat sengit, Aletha terus menyudutkan Briant. Ini hal yang sangat luar biasa, belum ada seseorang yang bisa meguasai tekhnik dua pedang.
Bagi para kaum petarung, itu adalah hal yang susah karena biasanya tangan kanan digunakan untuk mengayungkan pedang dan tangan kiri digunakan untuk membuat sihir perlindungan diri.
Jika dilakukan secara bersamaan itu akan sangat susah. Tapi mungkin karena Aletha seorang Manusia jadi dia tidak membutuhkan sihir, begitu menurut para Prajurit dan Kesatria yang lain.
Briant yang terus merasa tersudutkan, mulai tertekan dan mulai hilang kendali. Gerakannya menjadi tak tersusun membuat Aletha kian merasa menang karena berhasil membuat gerakan lawan kacau.
Dengan cepat Aletha meraih sebuah tiang berpegangan kuat lalu mutarkan tubuhnya, memukul Briant hingga dia terjatuh. Lalu Aletha menebas pedang Briant membuat pedang itu terhempas jauh, kemudian mengarahkan pedangnya tepat di leher Briant.
Semua diam ini sungguh sangat luar biasa, seorang Manusia berhasil mengalahkan Tetua Briant. Sungguh? Atau ini hanya sebuah keberuntungan saja?
"Anda baik-baik saja Tuan?" Aletha membantu Briant berdiri.
"Ya."
"Saya permisi."
Briant menatap datar kearah Aletha, apa benar dia seorang Manusia? Briant kembali melihat bangunan Kerajaan, melirik seseorang yang berdiri di balik jendela.
Sosok itu memberi isyarat membuat Briant menatap tajam, mengaktifkan mata Vampire nya lalu meraih pedang yang ada disebelahnya.
Dengan gerakan cepat Briant berlari kearah Aletha, dengan memfokuskan titik sihir pada pedang ditangan kenannya.
Boom!!
"Kak Aletha!!"
--.o🍁o.--