
*Kerajaan Lucifer Kingdom.
~Kediaman, Lord & Queen.
Welliam duduk santai di sofa panjang berwarna hitam dan biru, menghadap dua insan yang menjadi orang pertama yang ia lihat saat terlahir ke dunia ini, sekaligus menjadi penguasa tinggi di Darkness World.
Mereka adalah kedua orangtua Welliam, Lord Besar Fedrick dan Queen Alicia (Lezzy).
Semenjak kejadian kekacauan di Castle Violence dan aksi nekad sang Pangeran Demon, untuk memaksa masuk kedaerah yang dilarang.
Membuat Ibunya ingin menanyakan aksinya dan ia harap alasan Putranya memang masuk akal.
“Kau sudah tahu peraturanya untuk Lorddark’s Zone, Welliam.” ucap sang Ratu.
“Hn.”
Seperti biasa jika Welliam sudah diintrogasi oleh Ibunya, masalah akan sedikit diperpanjang.
Sebenarnya dia tahu Ayahnya tidak akan keberatan dengan apa dia lakukan, tapi tidak untuk sang Ibu yang memang seorang yang perhatian dan lembut.
Jika sudah begini Welliam hanya menikmati secangkir teh hangat sembari mendengarkan nasehat dan omelan sang Ibu.
“Jadi kali ini, apa lagi alasanmu?”
Tak..
Welliam meletakan tehnya dengan pelan dan menatap sang Ibu dengan datar.
“Aku tidak suka jika membiarkan para keparat seperti mereka, hidup dengan mudah.”
..........
....
.
“Sudah kuduga jawabannya...”
Lezzy melirik bosan. Putranya memiliki sifat yang begitu persis dengan Suaminya, mereka dilahirkan dengan wujud Demon yang memiliki kepribadian darah dingin jika sudah menyangkut dengan para pemberontak.
“Yang Mulia Lord, tidak bisakah kau beri nasehat kepadanya?”
Lezzy melirik sang Suami yang masih senantiasa membaca beberapa dokumen Kerajaan.
Lord besar dunia Darkness World yang memiliki karisma kebangsawanan yang sangat hebat, bahkan meski dia sudah terlamapau tua dan memiliki dua orang anak.
Tidak membuatnya terlihat seperti pria tua, justru malah terlihat seperti pria muda berusia 27 tahun.
“Hm, jadi bagaimana cara kau menghukum mereka?”
“Merobek habis tubuh mereka.” Ucap Welliam dengan santai, apa lagi dikatakan dengan wajah datar.
“Hanya kau robek saja?”
“Hn.”
“Itu belum cukup, lain kali coba kau hancurkan mereka tanpa ada satu tubuh pun yang untuh.”
Semua yang mendengar percakapan Ayah dan anak hanya diam dengan terkejut.
Bahkan Loise, Alberd, dan Briant yang sejak awal sudah ada disana berdiri disisi lain. Hanya bisa menghela nafas.
Gen memang tidak pernah bisa berbohong!
“Fedrick!! Itu bukan nasehat tapi kau malah mendukungnya!” ucap Lezzy yang sudah hampir frustasi dengan sifat mereka ini.
“Lezzy, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bahkan aku pun tidak akan suka membiarkan para penyusup seperti mereka hidup, akan lebih baik jika bermain di ruang bawah tanah.”
“Akh! Kepalaku sudah pusing, lakukan lah sesuka kalian!”
Lezzy bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan dengan wajah kesal, ia sudah hampir lelah mengurusi dua Iblis yang tidak pernah sependapat dengannya.
Setelah melihat kepergian sang Istri, Fedrick kembali memasang wajah serius kepada putranya, menannyakan alasan sebenarnya dari peristiwa itu.
“Jadi apa yang ingin kau katakan?”
“Sepertinya mereka memasuki area itu bukan karena sebuah kebetulan, tapi ingin mencari tahu sesuatu yang hilang dan tersimpan di Lucifer Kingdom. Aku bisa tahu saat menghancurkan gerbang masuk, mereka mengetahui setiap pola segel yang ada pada gerbang di Lorddark Zone. Bukan kah sangat aneh, jika sihir itu berhasil dipatahkan oleh mereka? Sepertinya musuh lama Ayah masih belum sepenuhnya hilang.”
Fedrick yang sedang meminum teh hangatnya diam saat mendengar perkataan akhir dari Putranya.
Ia menyeringai puas dengan analisis Welliam yang memang sangat jenius dalam masalah yang aneh di Lucifer Kingdom.
“Kau sepertinya mencari tahu masa lalu Darkness World.”
“Sejak awal aku selalu merasa ada yang aneh dengan kisah buku yang Ibu buat, itu bukanlah sebuah karangan biasa hanya untuk sekedar penghantar tidur. Meski pada akhirnya peran utama hidup bahagia, bukan berarti peran antagonisnya akan kalah dengan begitu saja. Mereka adalah peran paling licik yang memiliki seribu rencana tak terduga..”
Fedrick terkejut dengan ucapan Welliam yang sudah kelewat serius. Dengan bangga dia menyeringai senang, bahwa gen bangsa Demon memang tidak bisa dipandang remeh.
“Jadi apa yang akan kau lakukan? Saat ini kau lah Raja nya eramu akan lebih sulit dibandingkan masaku. Musuh akan semakin kuat, trik dan rencana mereka akan semakin sulit untuk kau pecahkan.”
“Cih, jika Ayah berfikir untuk menghancurkan mereka tanpa ada organ tubuh yang utuh. Maka aku tidak akan membiarkan sedikit pun yang tersisa dari mereka, bahkan jika itu tulang yang tertinggal sekali pun!!” ucap Welliam dengan begitu dingin sembari menunjuka mata Iblisnya yang sinis.
“Aku suka kata-katamu. Tapi sebelum itu, mau sampai kapan kau menyembunyikan hal itu dari rakyat?”
“Mengenai itu, aku punya rencanaku sendiri, jadi sebelum waktunya tiba tetaplah pada peran Ayah saat ini.”
“Lakukan semua yang kau suka jika itu jalan keluarnya, aku hanya akan menjadi pendukung bayangan dan melihat hasil darimu, aku tahu kau tidak akan mengecewakanku Welliam.” Ujar Fedrick yang begitu dingin dan menekan Welliam.
Sedangkan Welliam tersenyum menyeringai, seperti menerima tantangan dari sang Ayah.
“Saya mohon undur diri, Yang Mulia Lord.”
Welliam berjalan menuju pintu keluar bersama Loise, setelah memberi salam kepada Ayahnya.
“Kalau tidak salah kau menemukan hal menarik, dari peristiwa itu.”
Langkah Welliam terhenti, ia mengerti maksud perkataan sang Ayah bahwa itu mengenai Aletha.
Dengan perasaan tidak suka Welliam melirik mengancam kepada sang Lord Besar untuk tidak mencoba ikut campur dalam urusan pribadinya.
Melihat ancaman Putranya membuat Fedrick sadar bahwa zonanya sebagai Ayah, hanya sebatas membesarkan dan mengawasi, tapi tidak dengan urusan Matenya.
“Jika kau mau, aku punya banyak tips meluluhkan hati perempuan. Termasuk saat Ayah bisa menakhlukan Ibumu.”
“Tidak butuh!”
BRAK!!
Welliam menutup pintu dengan sangat kasar. Ditolak dengan seperti itu Membuat Fedrick sedikit kesal, memangnya salah jika dia membatu Putranya dalam hal cinta?
“Yang Mulia, mengenai para pemberonta---“
“Percayakan semua kepada Welliam, sekarang ini adalah waktunya dia berdiri sebagai penguasa yang sebenarnya. Aku percaya dia bisa melampauiku jauh dari yang diperkirakan. Jadi mungkin akan merepotkan kalian yang telah lama melayaniku, mohon untuk bantuannya dalam generasi Lord selanjutnya.”
Alberd, Briant, dan Styvn yang sudah berkumpul lengkap bertekuk lutut di sisi sebelah kiri Fedrick.
“Kami telah berjanji akan mempertaruhkan nyawa, untuk melayani anggota kerajaan Lorddark’s, pada setiap generasinya.”
“Setidaknya, dia mengetahui betapa kejinya hukum alam ini, bahkan Dewa pun jauh lebih buruk takdirnya dibandingkan makhluk seperti kita.”
--o0o--
Welliam berjalan dengan sangat gagah membuat para pelayan dan penjaga berhenti beraktifitas dan membungkuk memberi hormat, meski mereka tahu sang Pangeran akan mengabaikannya. Dalam perjalanannya menuju Castlenya, banyak pelayan yang berbisik menyindir mengenai Putra Mahkota Lucifer Kingdom.
“Sepertinya ada berita yang sedang ramai dibicarakan.”
“Mereka membicarakan kembalinya anda dengan membawa Lady Aletha, Yang Mulia.” Ucap Loise.
“Ho.., sepertinya ada banyak serangga yang sudah bosan hidup rupanya.”
Mendengar sindiran sang Pangeran membuat pelayan dan penjaga bergidik ngeri.
“Loise!”
“Ya, Yang Mulia.”
“Potong semua lidah mereka yang berani bergosip, lalu aku ingin kepala mereka menjadi makanan buat Zymbah!!”
“Baik Yang Mulia, laksanakan perintah Yang Mulia!”
Para pasukan Assasin milik Welliam berdiri dibelakang para pelayan yang menggunjing mengenai Aletha. Para pelayan mencoba meronta dari genggaman para Assasin.
“Ti-tidak, Yang Mulia..mo-mohon ampun!”
“Ya-Yang Mulia, ka-kami tidak menjelekan anda, ka-kami hanya penasaran de-dengan sosok Lady Aletha, kumohon ampuni kami Yang Mulia.”
“Lalu apa urusannya dengan kalian?”
“He?"
“Bawa pergi mereka!” perintah Loise dan dengan cepat mereka dibawa pergi untuk hukuman bagi para pelayan yang suka membicarakan orang lain.
Sedang para penjaga dan pelayan hanya diam tanpa bersuara.
Mendengar perintah dan menatap Welliam saja itu sudah cukup membuat mereka ketakutan setengah mati.
Mereka yang menjadi pelayan dan penjaga harus menuruti semua peraturan di Castle Violence atau jika tidak nyawa adalah bayaran yang harus diberikan sebagai gantinya.
Harusnya mereka tahu bahwa Pangeran dunia ini adalah sosok yang tak kenal ampun, bahkan nama Castle Violence memiliki arti Istana Kekejaman.
Yang berarti kapan pun mereka bisa saja menjadi mayat di detik selanjutnya, jika mereka membuat kesalahan walau sekecil pun.
“Lain kali jika ingin menambah staf pelayan, cobalah untuk mengajarkan etika kepada mereka!”
“Saya mohon maaf Yang Mulia, lain kali akan saya perhatikan lagi.”
“Kembali ke tugas kalian, atau akan kubuat kalian menjadi mayat selanjutnya!”
“Kami mohon undur diri, Yang Mulia Welliam.”
Seluruh pelayan dan penjaga segera pergi dari sana, sebelum amarah sangan Pangeran kembali memakan korban. Welliam menaiki anak tangga menuju lantai tempat kamar Aletha.
“Bagaimana dengan hasil para penyusup? Harusnya selama 2 minggu kepergianku, kau pasti memiliki informasi tentang mereka?”
“Dua minggu? Tapi anda baru saja pergi 10 jam yang lalu, Yang Mulia.”
Tap!
Welliam menghentikan jalannya, ia mencoba memikirkan perkataan Loise.
“Aku hanya pergi selama 10 jam?”
“Benar Yang Mulia, apa ada yang aneh?”
Welliam berfikir tidak mengerti, setahunya 1 hari di bumi berarti 1 minggu di Darkness World, dan dia sudah hampir 2 hari disana harusnya saat ini sudah dua pekan berlalu.
Tapi dia baru 10 jam pergi? Apa ini mengenai suara lonceng dan tanaman bunga itu, atau ada sebuah hal yang tidak ia ketahui dari sosok Matenya?
------🍁
"Aku heran, Nona selalu dipanggil Megumi oleh temannya. Tapi tidak suka jika orang dikediamannya memanggilnya begitu, memangnya apa yang ter----"
"Shutt! Nona bisa mendengarnya. Berhentilah bertannya, lebih baik jangan tanya apa pun tentang masa lalu Nona. Kau mengerti."
------🍁
Welliam sudah sedikit curiga dengan perkataan pelayan itu, saat dia mengawasi Aletha dikamarnya.
“Loise, aku ingin kau pergi ke dunia Manusia, cari tahu semua informasi mengenai Aletha. Kau punya waktu 1 hari disana!”
“Baik Yang Mulia.”
Wush...
Loise menghilang dengan sangat cepat, sedangkan Welliam kembali berjalan menelusuri lorong Castel kebanggaannya menuju tempat Aletha. Kira-kira apa yang sedang dilakukan gadisnya saat ini.
Krieet...
“Apa yang kau lakukan disitu?!”
Ucap Welliam saat membuka pintu kamar dan melihat Aletha berdiri diatas pagar balkon, sepertinya dia sedikit terkejut dengan kadatangan Welliam yang kurang tepat dengan aksinya.
Aletha menggenggam kuat gaun merahnya sembari sesekali melirik kebawah sana, lalu menatap Welliam yang sudah menatap marah.
“Me-menurutmu?”
“Jangan coba-coba kau berani melakukannya!”
Welliam yang mengetahu niat Aletha sudah benar-benar murka dan menatap tajam kepada Aletha. Aletha meyakinkan lagi niatnya sembari melirik kebawah.
Posisi kamarnya bisa dibilang sangat tinggi karena besarnya Castle ini.
“Aku bukan milikmu, Welliam.”
“ALETHA!!”
--.o🍁o.--
*Info Novel.
Sekedar mengingatkan, untuk para pembaca baru yang masih bingung dengan alur. Akan Author bantu memahami.
Alberd, Briant, dan Styvn. Dulu tangan kanan Lord Besar Fedrick, tapi sekarang mereka menjadi Tetua Di Lucifer Kingdom. Yang masih setia dan dipercaya oleh Lord Fedrick.
Siapa yang dimaksud Musuh Ayahnya Welliam dan Buku dongeng milik sang Ibu. Kalian bisa paham saat membaca Seson I dari cerita ini. karena Buku 1 dan ke-2 akan saling berkaitan.
Sambil nunggu Up, yuk mampir ke Season 1.
berjudul "The Queen Of Rulers From Another World."
Sekian dari Author❤