The Queen of Different World

The Queen of Different World
Hints ; Unlock the Secrets of All Problems



"Apa yang kau lakukan di kamar Mateku, Olyfia?!!"


Olyfia terbang bersembunyi dibalik Aletha, sama seperti Fedrick hubungannya dengan Putranya pun kurang baik. Setiap ada masalah mengenai wilayah, Olyfia selalu menghindari rapat hal itu selalu membuat Welliam geram.


Terkadang juga mereka berbeda pendapat, mungkin karena dia kaum Fairy yang sejak dulu selalu suka dengan kebebasan. Meski begitu mereka tidak saling membenci, karena Olyfia tetap menghormati Lord dunia kegelapan ini.


Aletha harus mencairkan suasana sebelum Welliam salah paham dan mengobrak habis ruangan ini.


"Dia teman baruku,"


"Sejak kapan kau berteman dengannya? Aku tidak pernah memperkenalkanmu kepada pemimpin kaum Fairy?"


"Haa.., Welliam meski kau tidak menunjukanku secara langsung, tapi isu tentang keberadaanku telah menyebar keseluruh penjuru wilayah. Dan mungkin saja karena hal itu Queen Olyfia datang karena penasaran dengan sosokku?"


"Tapi bukan berarti kau punya hak untuk menyelinap masuk, Olyfia."


"Sa-saya minta maaf, Paduka."


"Jangan menatapnya seperti itu, aku senang dengan kedatangannya, setidaknya aku tidak akan bosan."


Welliam menatap tidak suka sedangkan Olyfia tersenyum seolah memohon belas kasih.


"Lupakan masalah ini, tadi kau bilang ada sesuatu yang ketinggalan, bukan?"


Welliam tampak mencari sesuatu, lalu tak lama ia menemukan apa yang dia cari. Aletha terus melihat Welliam yang berjalan kearah meja disebelah kasur tidurnya, meraih patung kecil tadi yang sempat membuat Olyfia heboh.


"Hanya benda tidak penting."


"Tidak penting, tapi kau mencarinya."


"Karena aku bosan mendengar ocehan pria tua itu,"


"Siapa?"


Welliam tidak menjawab, dia hanya melirik sinis kearah Olyfia yang basih terbang di sebelah Aletha. "Kau tidak pergi, Olyfia?!"


"Aa! Se-semoga kejayaan Darkness World selalu bersama anda, Paduka Welliam. Hamba mohon undur diri."


Olyfia terbang keluar lewat pintu balkon, membuat Welliam kembali menatap penuh menyelidik kearah Matenya. Semakin lama dia semakin tidak sabar dengan semua rahasia yang masih disimpan baik oleh Aletha.


Walau tidak terlalu memperdulikannya, hanya saja, dia merasa seperti orang asing yang belum mengetahui apa pun tentang Aletha.


Sepertinya kedekatannya dengan Olyfia cukup lama, melihat Aletha tidak terlalu bersikap dingin kepada Olyfia, padahal selama ada pelayan yang melayaninya Aletha selalu bersikap acuh dengan orang-orang disekitarnya.


Welliam melihat buku yang dipeluk Aletha. Dalam sekali langkah, Welliam sudah dihadapan Alrtha kemudia mengambil buku itu dengan pelan dari Aletha.


"Kau sudah membacanya?"


"Iya,"


"Bagaimana tanggapan mu?"


"Kisahnya menarik, tapi ada beberapa yang sedikit aneh dari buku ini."


"Aneh?"


Aletha mengambil kembali buku itu, dia membuka halaman pada Bab pertengahan dari kisah itu. "Lihat ini, sebelumnya aku sudah membaca semua tiap perbabnya. Tapi, saat aku membacanya kembali, ada dua bab yang hilang."


"Maksudmu?"


"Ini, bab •Hwo Is Rechard Melwar• dan bab •Book Darkness World•. Ada judul babnya, tapi tidak ada apa pun selain halaman kosong. Aku mencoba mengingat isi part ini, tapi tetap tidak ingat apa pun."


"Sudah kuduga kau juga merasakannya. Sejak dulu aku merasa ada yang aneh dengan buku ini, terkadang tiap barisan kalimat membentuk tulisan yang berubah-ubah seolah ingin memberitahukan petunjuk. Dan..."


"Dan sebagian kisah pada buku ini tidaklah sempurna, benar?"


Welliam mengangguk.


"Aku heran, ada bagian Putri Prycilia menemukan buku Darkness World yang memberitahukan semua kebenaran dimasa lalu, tapi tidak diceritakan dengan jelas. Apa menurutmu, sebagian kisah itu ada di buku Darkness World, Welliam?"


"Aku mencoba mencari tahu mengenai buku itu. Tapi tidak bisa kutemukan, aku masih bimbang apakah buku itu ada? Apakah kisah ini sungguh nyata? Tapi yang jelas buku ini ingin menyampaikan sebuah pesan."


"Kenapa tidak kau tanya Yang Mulia Ratu? Bukankah dia yang membuat buku ini?"


"Aku sudah pernah bertanya. Tapi, Ibu malah mengalihkan perhatian."


"Aku tidak mengerti, apa tujuanmu? Kenapa kau ingin aku membacanya, Welliam?"


Welliam menghela nafas panjang kemudia ia mendudukan dirinya diatas kasur. "Aletha, aku masih mencari tahu kebenaran mengenai dunia ini. Maksudku, aku ingin tahu masalah apa yang membuat Darkness World masih belum bisa damai secara sempurna. Para Carlitos dari abad ke abad mereka selalu menentang kekaisaran, apa yang mereka inginkan? Jika benar kedudukan Lord, bukankah akan lebih mudah menyerangnya secara langsung? Tapi mereka masih saja memainkan tarik ulur permasalahan, sehingga masih ada satu hal yang belum bisa kita lakukan untuk menyingkirkan mereka. Dan, aku rasa, buku itu ada kaitannya."


Aletha duduk dan bersandar dipundak Welliam, "kau pasti akan memberikan kedamaian untuk dunia ini, hanya saja kita memerlukan sebuah petunjuk."


Seketika halaman kosong pada buku yang di pegang Aletha bersinar, menampilkan beberapap tulisan.


"Ingin tahu mengenai buku Darkness World? Coba temukan aku!"


Welliam dan Aletha saling berpandangan, lalu buku itu membalikan halaman yang terdapat dua baris tulisan.


"Zona yang dianggap sangat berbahaya, justru adalah tempat yang paling aman. Temukan aku, lalu akan kuberitahu kebenarannya."


Saat mereka selesai membacanya tiba-tiba saja buku itu menutup sendiri hingga menimbulkan suara cukup besar. Welliam bangun dia terlihat sedang berfikir, ini adalah kesempatannya untuk mengetahui semuanya secara menyeluruh.


Zona paling berbahaya, tapi menjadi tempat yang aman. Memangnya ada tempat seperti itu?


Aletha melirik Welliam yang terlihat masih serius memikirkan jawaban dari teka-teki itu. Tak lama Welliam berjalan cepat keluar balkon, dia seperti tengah menatap sesuatu, Aletha mengikuti arah pandang Welliam tapi tidak mengerti apa yang sedang dia lihat.


"Lorddark's Zone."


"Ha?"


"Buku itu ada disana. Dengar, dikerajaan ini ada sebuah tempat yang tidak boleh dimasuki sesuka hati, Lord Besar juga telah memberi sanksi berat bagi mereka yang melanggarnya. Mungkin kau belum pernah tahu atau kesana, tapi aku yakin Lorddark's Zone lah yang dimaksud.


Benar, kalau dipikir lagi, Lorddark's Zone adalah tempat yang paling berbahaya bagi seluruh kaum, karena jika mereka memasuki zona itu sudah pasti mereka tidak akan keluar dengan selamat. Bahkan pelayan yang waktu itu saja hanya dengan mendengar namanya, dia langsung ketakutan.


Aletha juga yakin kalau sebenarnya tempat itu adalah tempat yang paling aman di Darkness World. Mengingat pedang itu tersimpan dengan baik disana, sudah Aletha duga tempat itu menyimpan sesuatu dari rasa ingin tahunya. Tapi seingatnya, disana hanya ada hutan gelap.


Welliam juga masih kepikiran dengan para penyusup yang memasuki wilayah itu, dan juga ucapan Great Lady mengenai pedang yang tersimpan di kerajaan ini. Mungkin semua ada sangkut pautnya.


"Ayo, kita harus kesana."


"Kemana?"


"Tentu saja, Lorddarks Zone."


"Lagi?!"


Welliam mengerutkan keningnya saat Aletha berkata lagi. Rasanya itu terdengar seperti dia pernah kesana. Sedangkan Aletha merutuki kata-katanya, dia lupa kalau Welliam belum tahu kalau dia pernah menyup kesana. Lihatlah tatapan curiganya itu, rasanya Aletha sedikit ketakutan.


"Maksudku, kau bilang tidak bisa memasuki wilayah itu sesuka hati. Bagaimana jika Lord marah?"


Welliam tersenyum sinis, "Lord tidak akan pernah marah kepadaku."


"Percaya diri sekali kau."


"Kenapa harus takut dengan Lord?"


Apa dia tipe yang menentang Lord? Sepertinya bukan.


Welliam berjalan lebih dulu diikuti Aletha. Saat mereka menyelusuri lorong kerajaan, dari arah tak jauh ada sedeorang yang tengah berlari dengan sangat tergesah-gesah kearah mereka.


"Yang Mulia!!!"


Briant lari sembari berteriak kearah mereka membuat Welliam melirik bosan. "Sudah kuduga anda ada disini, Yang Mulia anda tidak boleh pergi saat berkas yang harus dikerjakan selesai semua. Bukannya Paduka bilang hanya sebentar? Kenapa lama dan juga anda mau kemana?" Oceh Briant yang sudah kelewat emosi.


sepertinya Aletha paham, siapa yang dimaksud Welliam pria tua itu. Pasti Tetua Briant.


"Salam Paduka, Salam Lady." Ucap Styvn memberi hormat.


"Kebetulan kau datang mencariku, Briant. Gantikan aku memgerjakan semua berkas yang harus diselesaikan malam ini."


"Apa?!"


"Kau juga memerlukan ini, aku tidak terlalu membutuhkannya" Welliam melempar patung kecil tadi kepada Briant.


Briant membelalakan matanya kaget dengan apa benda yang sedang dia pegang.


"Wa!! Paduka sudah kubilang berapa kali, anda harus menyimpannya dengan benar. Stampel Kerajaan bukan hanya patung biasa saja, benda ini sama berharganya dengan harta Darkness World!!"


"Lalu?"


"Yang Mulia,"


"Diamlah, ada atau tidaknya benda itu. Dunia ini pun tahu siapa Lord nya! Kerjakan saja berkasnya. Saat aku kembali nanti, semua harus sudah selesai. Jika tidak, hukumanmu kutambahkan Briant!" Tegas welliam.


"Ba-baik, Paduka."


Welliam menarik Aletha berjalan melewati mereka. Styvn merasa iba dengan temannya yang satu ini. Karena, sejak Lord Fedrick hingga Lord Welliam yang menjadi kaisar. Hanya dia yang selalu kena imbasnya.


.


.


"Jadi benda itu adalah Stampel Kerajaan?"


"Jika kau suka dengan benda itu, aku bisa memberikannya kepadamu."


Serius tuh? Jika aku yang menerimanya, bukankah aku akan menjadi penguasa disini-,-


"Tidak ah, aku tidak suka dengan benda yang menyimpan cerita berdarah hanya untuk kedudukan."


"Cerita berdarah? Menarik juga pikiranmu."


Ini aneh, bukankah Welliam hanya Pangeran? Tapi, kenapa sikapnya saat memerintah seperti seorang Lord yang berkuasa? Apa karena dia seorang Putra Mahkota?


"Kau penasaran, sayang?"


Seperti mengerti pikiran Aletha, Welliam bertannya langsung ke intinya kepada Aletha.


"Welliam, apa benar kedudukanmu hanya seorang Pangeran?"


Welliam mendekatkan diri kearah Aletha. "Aletha sebenarnya...., aku, aku akan memberitahukannya jika kau memberitahukan rahasiamu."


"Dasar licik!" Aletha kesal lalu berjalan lebih cepat, sedangkan Welliam tertawa kecil.


--.o☘o.--


Meraka tiba di depan gerbang Lorddark's Zone. Welliam meraih belati pisau peraknya, ia menggores telapak tangannya membuat aliran darah pekatnya mengalir dari luka gores tersebut.


Ia menempelkan tangannya kegerbang. Beberapa mantra sihir kuno bangsa Demon ia ucapkan, lalu daranhnya membentuk pola sihir yang begitu menajubkan bagi Aletha.


Jadi begitu cara membukanya?


Sejak awal Welliam memang mengetahui cara membuka gerbang ini, hanya saja dulu dia memilih mendobrak masuk ke wilayah ini karena sihir penyegelnya telah rusak.


Hal itu juga membuatnya bingung kenapa penyusup diwaktu itu bisa mengetahui rangakaian posion sihir itu.


Gerbang pun terbuka. Tanpa membuang waktu lagi, segera mereka memasuki Lorddark's Zone. Sama seperti pertama kali saat mereka berdua memasuki tanah ini, tidak ada yang spesial selain hutan belukar.


Waktu itu Aletha berlari mengejar Rusa jadi tidak terlalu melihat lingkungan sekitar, begitu juga dengan Welliam yang hanya berfokus dalam menangkap target musuhnya, jadi kurang memahami situasi tempat ini.


"Sepertinya, tidak ada apa pun disini."


"Ada."


Aletha mengikuti arah pandang Welliam, ia melihat dua pohon pesar dengan daun yang melebat hingga kedasar tanah. Saat mendekati pohon itu, secara perlahan daun yang menutupi batangnya, bergerak sendiri membukakan jalan untuk mereka.


Ada sebuah goa diantara kedua pohon itu, mereka saling berpandangan dan dengan nekad memasukinya. Welliam menggunakan sihir penerang untuk mengetahui kondisi di dalam goa


Berjarak 1 km, terdapat secercah cahaya diujung goa. Dan saat mereka berdua berhasil keluar, Aletha maupun Welliam sangat terpesona dengan sisi lain dari hutan ini.


Mereka seperti berada di dimensi lain, seluruh tanaman tumbuh dengan sangat subur dan yang paling menakjubkannya semua yang ada disini bersinar. Tidak hanya untuk tumbuhan, bebatuan dan hewan pun turut bersinar.


"Tempat ini berbeda dengan terakhir kali aku memasukinya."


Ops, Aletha keceplosan, ia melirik pelan kearah Welliam. Bagaimana ini?


"Aku sudah curiga, jangan-jangan kau yang menyusup kesini saat aku sedang pergi selama ssminggu. Itu sebabnya Ayah menjadi curiga terhadapmu."


"Aku, aku tidak melakukannya kok. Kau salah paham."


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Aletha." Welliam terus mendesak Aletha.


"Baiklah-baiklah, memang aku yang memasukinya, tapi sungguh aku tidak ada niat jahat hanya rasa penasaran saja. Lagipula yang menuntunku kesini adalah buku itu."


"Lalu apa yang kau temukan?"


Aletha melirik gelisah, "ti-tidak ada, malah yang terjadi aku bertemu dan dikira musuh oleh Lord Fedrick."


"Lalu bagaimana caranya kau bisa lolos darinya, hidup-hidup?"


Aku hampir mati ditikam oleh Ayahmu, untunglah waktu itu Dewi Selini Thea menolongku-,-"


"Em, kau tidak tahu seberapa hebatnya aku."


"Tapi bis--"


"Diamlah! Jangan membahas itu, kita datang untuk menemukan petunjuk atau mau mengintrogasiku?!"


Lebih baik Welluam diam, kalau mengintrogasi sekarang yang ada Aletha akan marah. Bisa gawat kalau Matenya ini mogok bicara kepadanya.


"Akhirnya, kalian menemukan juga tempat ini."


Mendengar itu, secara sepontan Welliam menarik Aletha kebelakang tubuhnya, mencoba melinduginya dari serangan musuh.


--.o🍁o.--