The Queen of Different World

The Queen of Different World
Victory Party ; To Meet You (?)



Saat harapanku tak lagi sama dengan keinginanmu, bolehkah aku pergi? Menarik perlahan jemariku yang berusaha menahan mu untuk tetap di sisiku.


Lalu menghilang seperti buih lautan yang membawa atma kekosongan ....


__________•_☆*•• . 🍁 . ••*☆_•__________


.


*Darkness World


~Lucifer Kingdom, Castle Utama.


........


{ 6 Bulan Selepas Perang }


Pesta meriah diselenggarakan dengan sangat meriah dan megah, pada Kerajaan utama Darkness World, sebagai Kekaisaran yang dijunjung tinggi di seluruh wilayah.


Setelah para Carlitos gugur dan perang besar berakhir, akhirnya Darkness World dapat bernafas lega. Tidak akan ada lagi bangsawan atau ras yang memberontak atau membuat kerusuhan, hingga menewaskan cukup banyak korban jiwa.


Meski begitu, pihak kekaisaran serta bangsawan pemimpin ras, masih harus bekerja keras untuk mengembalikan kondisi di seluruh wilayah, agar tetap makmur dan stabil.


Pasalnya, Welliam telah merubah kepemimpinan bangsawan di berbagai ras, karena bangsawan yang lama telah menjadi kaki tangannya Carlitos.


Apalagi, perang besar waktu itu ternyata cukup mempengaruhi kondisi perekonomian ditanah Darkness World, sehingga ia perlu menyusun beberapa rencana mengnai kebutuhan rakyatnya.


Dan itu cukup memakan waktu lama, sekitar 6 bulan baru kondisi diberbagai wilayah kembali normal. Sehingga perayaan kemenangan baru bisa terselenggarakan.


Meski begitu, perayaan kali ini menjadi hal yang sangat berkesan bagi seluruh rakyat Lorddark's. Kenapa bisa begitu?


Itu karena, perayaan ini bertepatan dengan memperingati kehamilan Ratu Besar Althenia yang hampir memasuki kelahiran bagi calon penerus Lucifer Kingdom.


Tiga hari sebelum menuju puncak perayaan, pihak kekaisaran memutuskan untuk membuka Festival atau perayaan Sunlitch di kota utama Zainthor.


Tentu hal ini sangat membagiakan bagi seluruh rakyat, mereka memenuhi kota utama Zainthor dengan berbagai macam pertunjukan atau perdagangan yang begitu menarik.


Berbeda halnya dengan di dalam Istana Lucifer Kingdom, yang membiarkan para tamu bangsawan dapat memasuki wilayah Lorddark's Zone.


Tempat yang hanya boleh dimasuki anggota kerajaan saja, Lezzy berpikir tidak masalah sekali-kali membuka tempat itu untuk umum.


Toh hutan disana sudah berbeda dengan yang dulu, itu karena bunga Wisteria menjadi dominan taman disana.


Lagipula tidak ada sesuatu yang perlu mereka sembunyikan, sehingga tempat itu sangat bagus bila dijadikan taman Wisteria.


Di Castle Utama sendiri, banyak tamu bangsawan tinggi yang berbaur ria seraya menikmati pesta perayaan, sebagian dari mereka juga menunjukan rasa bahagia mereka dengan menari di Hall Dansa.


Sehingga acara benar-benar meriah. Lezzy dan Fedrick turut bergabung, menyapa hangt para tamu terhormat dari berbagai ras bangsa dan wilayah. Begitu juga dengan Aletha dan Welliam, yang menjadi maskot emas pada acara kali ini.


Aletha banyak mendapat pujian pada keberanian dan sikap tangguhnya dalam melindungi Darkness World dari para Carlitos. Meski begitu, mereka sempat terkejut dengan kondisinya yang sedang hamil waktu itu.


Tapi jangan khawatir, hal itu tidak sempat menimbulkan rumor buruk, justru ia tercatat di sejarah para Ratu penguasa, dengan gelarnya sebagai Queen Althenia Of Justice.


Disaat semua sedang menikmati pesta, bercanda dan tawa dengan di iringi melodi musik yang membangun hasrat kebahagiaan. Hal itu justru tidak berpengaruh terhadap seseorang.


Sejak pesta ini dibuka, gadis cantik yang sedari tadi hanya mengamati keramaian pesta dari lantai dua seorang diri, hanya mampu melihat tanpa merasakan kesenangan.


Seakan bebannya masih belum hilang meski perang telah berakhir, membuatnya kian tersenyum sedih. Dia adalah satu-satunya Putri bangsa Demon yang sangat dibanggakan.


Lucy Daiana Lorddak's. Nama yang menyimpan sejuta harapan kebahagiaan serta kedamaian. Sepertinya masih belum mampi membuat sang pemilik nama tertawa ceria seperti yang diharapkan.


Lucy menatap lara senyum polos dari para tamu, sesekali ia mencuri perhatian kearah pintu masuk Hall Dansa. Berharap akan hadir seorang pria yang telah ia nantikan kehadirannya sejak hari itu.


Tapi, lagi-lagi ia harus menghela nafas lelah. Pupus sudah harapannya, hancur sudah hatinya, bahkan ia ingin sekali menjerit memanggil nama pria itu. Berharap, dia benar-benar hadir.


Lucy memang senang bila semua masalah di dunia ini telah berakhir, tapi entah mengapa justru hal itu malah menambah beban pada batinnya.


Merasa sesak dengan keramaian pesta, Lucy memilih untuk menyendiri dan pergi ke taman Istana yang ada di belakang Kerajaan.


---,• 🍁 •,---


Dibawah rimbunnya bintang menghiasi langit gulita, dengan sambutan meriah dari angin malam yang menusuk sukma Lucy. Ia pergi ketaman dengan gaunnya yang cukup terbuka, hingga menampilkan bagian pundak mulusnya.


Harusnya tadi ia mengambil selendangnya sehingga ia tidak perlu sampai kedinginan. Lucy tersenyum sinis, entah pada siapa ia tertawa sakit di taman sunyi ini.


Mungkin ia tengah menertawakan nasib buruk mengenai pasangan mate-nya, yang tak seharmonis seperti orang yang lain.


Waktu berlalu dengan sangat cepat, dimana 6 bulan berlalu begitu saja. Selama itu juga, Lucy tidak pernah mendapatkan kabar dari King bangsa Merrmaid itu.


Yang ia tahu, Harlie saat ini sibuk memimpin wilayahnya. Tapi setiap ada rapat, dia hanya mengutus Beta Geordan sebagai tangan kanan barunya. Tentu saja orang baru, itu karena Karlos telah dibunuh oleh Harlie sendiri.


Bahkan, Lucy juga masi takut membicarakan soal Harlie kapada Ayah dan Kakaknya. Mengenai kejahatan Harlie yang membunuh komandan inti pasukan Lucifer, serta Harlie telah menjadi pengkhianat Kerajaan karena bergabung bersama Carlitos.


Lucy hanya bingung pada dirinya sendiri, seharusnya ia mengatakan kejahatannya sebagai Putri Kekaisaran. Tapi, sebagai wanita yang mencintainya, apakah ia sanggup melihat Mate-nya sendiri mati saat pengeksekusian?


Argh!! Ini memusingkan dan juga begitu menyakitkan baginya. Sangking asiknya ia berdebat dengan pikirannya, tanpa sadar Lucy berjalan ke taman milik Ibunya.


Lihatlah taman bunga ini. Begitu terawat dengan sangat baik, hanya demi menjadi bukti cinta mereka. Ayahnya membuat taman ini selama beratus tahun, bahkan sebelum bertemu dengan ibunya.


Seakan cinta mereka tidak pernah padam, meski berkali-kali bunganya menjatuhkan tiap kelopaknya ke tanah. Ia ingat bagaimana senyum bahagia ibunya setiap merawat bunga Gracelia setiap datang kesini.


Tidak hanya taman ini saja, bahkan sekarang tumbuh ribuan pohon Wisteria sebagai lambang cinta kasih dari kedua Kakak nya.


Ha~ia sungguh iri dengan kemesraan mereka, ia sungguh iri dengan kebahagiaan mereka. Lucy terlahir sebagai wanita cantik yang selalu dipenuhi kasih sayang, tapi, kenapa ia tidak memiliki kisah bahagia bersama Mate-nya?


"Sungguh, betapa menyedihkannya kisahku ini ..." Lirih Lucy saat ia kembali berjalan menelusuri taman bunga Gracelia.


Molie yang sejak tadi mengikuti Lucy dari belakang, mencoba berdampingan dengan Tuan Putri yang begitu berarti banginya. Berharap, ia dapat mengobati rasa sedihnya.


Lucy menghela nafas cukup panjang, lalu berjalan kembali ke istana. Mungkin akan lebih baik jika dia tidur lebih awal, siapa tahu kegelisaan ini dapat teratasi.


"Ayo Molie, kita kem----"


Tring ...


Tring ...


Perhatian Lucy beralih pada bunyi lonceng yang terdengar merdu. Ia kembali menoleh, saat ini tak jauh dari hadapannya berdiri seekor rusa putih yang bercahaya ditengah gelapnya taman.


Sesaat Licy terpana akan keindahan Rusa itu, namun geraman Molie membuat Lucy tersadar kembali. Rusa itu melompat kecil lalu berlari pergi begitu saja.


GEERR !!


"Tunggu, Molie!!"


Molie berlari mengejar Rusa itu seperti melihat mangsa buruannya, memasuki sebuah hutan tak jauh dari taman.


Lucy yang khawatir akhirnya ikut mengejar Molie. Untunglah gaun ini hanya selutut sehingga ia bisa berlari sedikit leluasa.


"Tu..tunggu,"


Lucy hampir kehabisan tenaga mengejar Molie, sesekali dia bersandar dipohon sembari mengatur nafasnya lalu berlari kembali.


"Molie kembali, MOLIE !!"


Ini tidak seperti Molie, biasanya dia tidak akan bergerak sendiri tanpa perintah darinya. Padahal Licy selalu mengajarinya untuk tidak memburu hewan lemah seperti itu. Tapi lihatlah, Rubah ini malah berlari sangat kencang seakan tengah mengejar musuh.


Kabut putih perlahan mulai menyelimuti daerah hutan, membuat penglihatan Lucy jadi terganggu akibat tebalnya kabut ini.


"Apa aku harus memanggil pengawal? Tapi sekarang, aku sudah sangat jauh dari Istana. Molie berhenti! Molie, aku bilang berhen----"


BYUUURRRR !!!


Disaat Lucy tengah berlari mengejar Molie, tiba-tiba saja pijakannya pada tanah menghilang dan dirinya malah jatuh tercebur kedalam air. Apa mungkin karena kabut tebal ini? Sehingga ia tidak dapat melihat ada sungai, danau, atau malah justru lautan.


Tapi sepertinya ia benar-benar sedang jatuh kedalam lautan luas, apa dia berlari sampai kewilayah Neptuna? Tidak itu justru aneh, jarak dari Kerajaan ke Neptuna sangat jauh, sedangkan dia berlari baru sekitar 10 menitan.


Jadi tidak mungkin kalau saat ini dia berada di lautan Neptuna, lalu dimana dia?


Tunggu, saat Lucy mencoba mengimbangi dirinya dengan tekanan air bawah laut. Lucy diam sejenak, melihat ada sesuatu yang aneh dengan dasar lautan ini.


Habisnya, ia melihat terdapat sebuah tempat tinggal dengan ratusan lampu yang menyerupai bintang, terlihat dengan sangat jelas.



.


Karena sudah tidak sanggup menahan napasnya. Buru-buru Lucy berenang kepermukaan.


"Huwa--Uhuk! Uhuk!"


Lucy berhasil naik kepermukaan, dia membaringkan dirinya sembari mengatur nafas yang sudah sangat sesak. Pakaiannya basah kuyup dan udaranya juga kian semakin dingin.


Perlahan Lucy membuka matanya, mencoba memperjelas pandangannya yang sempat memburam akibat air yang masuk ke matanya.


Namun, saat penglihatannya menjadi jelas. Hal pertama yang Lucy lihat adalah seekor Paus berukuran besar lewat begitu saja di atas langit.


Ha? Paus?


Sungguh, apa Lucy tidak salah lihat?


Lucy yang mulai merasa aneh, buru-buru bangun lalu mengamati lagi lingkungan disekitarnya.


Tunggu-tunggu! Ini bukan hutan di Lucifer Kingdom apalagi di daerah lautan Neptuna, tapi dia sungguh berada di dimensi lain.


Lucy diam seribu kata pada keindahan tempat ini, bahkan dia belum pernah melihat dimensi seperti ini. Habisnya Lucy benar-benar melihat dengan jelas, bagaimana ikan yang seharusnya berada di air, kini melayang bebas di langit malam penuh dengan bintang.


Para ikan itu terlihat seperti rasi bintang, dan lebih hebatnya lagi dia sedang berdiri tepat di atas permukaan laut tanpa batas.


Dibawah air yang begitu jernih, terlihat sebuah kota tempat tinggal yang memiliki gedung tinggi dan penuh dengan lampu yang berkelap-kelip.


Tunggu? Ini dimana? Seingatnya di Darkness World tidak pernah ada bangunan rumah seperti itu. Bahkan, sangking jernihnya air ini. Kota dibawah sana ikut terpantul keberbagai awan yang ada di permukaan.



( Ilustrasi )


.


Ini sungguh luar biasa, belum pernah sekalipun ia lihat tempat seindah ini. Lucy berjalan menelusuri dimensi, sesekali ia mencoba cara untuk kembali ke Darkness World tapi tiba-tiba saja sihirnya tidak dapat digunakan.


Oky, sekarang bagaimana caranya dia pulang, tidak mungkin, kan. Kalau dia terus berada disini. Lucy merangkul tubuhnya, mencoba menghangatkan dirinya dari dimensi yang memiliki suhu begitu dingin.


Tring ...


Suara itu!


Lucy mendengar lonceng merdu itu kembali. Dia melihat kanan dan kirinya, bahkan ke segala arah mencari asal dari suara itu. Dan benar saja, Lucy melihat Rusa putih yang tadi sempat dikejar Molie.


Tunggu, dia baru ingat kalau saat ini Molie sudah tidak ada. Jejaknya saja menghilang, Lucy juga sudah berusaha meneriaki namanya tapi tak ada sautan dari Rubah miliknya.


Tring ...


Rusa itu kembali menarik perhatian Lucy. Dia melompat-lompat seakan memberi isyarat kepda Lucy untuk segera mengikutinya. Dengan rasa penasaran, akhirnya Lucy mengikuti Rusa itu.


Rusa itu berlari memasuki awan lebat yang terlihat seperti kabut putih. Mau tidak mau, Lucy harus melewati kabut itu.


Dibalik kabut putih itu, terlihat samar-samar seseorang tengah mengelus se'ekor hewan berbulu putih yang terlihat begitu menikmati perlakuan manja dari sosok itu.


Oh, bukankah itu Molie? Lucy kian berjalan mendekat memastikan penglihatannya tidak salah.


"Molie!"


Sosok dan hewan itu melihat Lucy yang berdiri tidak jauh dari mereka. Lucy tersenyum lega, saat mengetahui ternyata hewan itu adalah Molie.


Rubah putih itu beralih posisi ketempat Lucy, saat melihat Tuan nya datang untuknya. Lucy memeluk Molie, sembari mengusap gemas kepala Rubah itu.


"Lain kali jangan pergi seperti tadi, aku khawatir ..."


Sosok yang tadi bersama Molie, diam sembari mengamati setiap kegiatan Lucy yang sangat khawatir dengan peliharaannya. Lucy kembali fokus terhadap sosok dihadapannya, dia sedikit memiringkan kepalanya sembari menajamkan penglihatan.


"Kau ..., siapa?"


"...................."


Tanpa menjawab, sosok itu berjalan mendekati Lucy, mengikis jarak yang selalu menjadi pemisah bagi keduanya.


Lucy masih belum bisa melihat wajahnya, karena minimnya cahaya disini ditambah lagi dia mengenakan topeng yang membingkai matanya.


Namun, disaat segerombolan ikan pari yang bercahaya lewat disekitaran mereka, menghadirkan penglihatan jelas terhadap seseorang yang berada dihadapan mereka, membuat Lucy membulatkan kedua mata birunya yang terlihat seperti mengenali sosok pria dihadapannya.


Pemuda tampan, berambut kuning ke'emasan cerah, dengan pakaian bangsawan khas bangsa yunani kuno.


Pakaian itu terlihat begitu sexy, saat memperlihatkan dada bidang berototnya yang terdapat tato semacam simbol matahari.


Tapi satu hal yang masih membuat Lucy terpana dari sosok misteriusnya, yaitu matanya. Benar, hanya mata itu yang tak bisa ia lupakan dari pemuda ini. Mata merah yang menyerupai permata delima.


Lucy baru sadar, bahwa ia selalu bertemu dengannya. Padahal situasinya tidak terencana kan, semua terjadi secara tiba-tiba. Lalu apa pertemuan ketiga mereka bisa disebut kebetulan?


Pria itu melepas selendang panjang berwarna merah, yang terbalut di pundak kanannya, lalu memakaikannya ke pundak Lucy. Mencoba membuat kehangatan bagi Putri Demon ini, apalagi gaunnya sangat basah.


Sesekali Lucy curi-curi pandang kearahnya, posisi yang begitu dekat membuat Lucy jadi tidak tenang. Terutama untuk detak jantungnya yang terasa sangat aneh, lagi-lagi perasaan ini kembali hadir dan kian terasa jelas.


Ada apa denganku? Kenapa aku yang jadi malu bagini.


"Apa yang kau lakukan disini? Tempat ini, bukan duniamu."


"A..aku, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja aku ada disini, padahal sebelumnya aku mengejar Molie yang tiba-tiba saja lari karena melihat Rusa."


"Rusa?"


"Hm, Rusa berwarna putih silver. Tunggu, aku juga ingin tahu dirimu. Maksudku, siapa kau sebenarnya dan tempat apa ini?"


"Kau ingin tahu?"


"Tentu saja, kau selalu saja tiba-tiba hadir tanpa ku ketahui identitas mu. Sewaktu di pesta pernikahan begitu juga saat di perang waktu itu, aku selalu penasaran.


"Aku ingin sekali memberitahumu, tapi ini bukanlah waktu yang tepat."


"Lagi-lagi kau berbicara selayaknya kita memang sudah terhubung. Apa---"


"Aku tidak bisa mengatakannya. Kau hanya perlu memahami itu, hingga waktunya tiba."


Ini sangat aneh, Lucy tidak paham dengan ucapannya. Tapi meski dipaksa pun Pria ini tidak akan mudah menyerah, hem ..., baikalah kita lupakan saja. Lucy juga tidak begitu tertarik.


"Kalau begitu, ini dimana?"


"Tempat ini adalah akar dari seluruh dimensi."


"Akar dimensi?"


"Dimensi sihir dan juga gerbang portal dunia, terhubung kedalam dimensi ini. Baik Bumi, Darkness World, dan juga Imorrtal. Dimensi ini adalah akar yang menjadi kunci penghubung ke seluruh dunia yang ada di semesta ini, dimensi ini disebut sebagai Apologish Dreamcather."


"Apologis Dreamcather? Aku baru dengar. Kalau begitu, kota yang ada dibawah air ini apakah, milik dunia Manusia?"


"Kau benar, lautan yang kau pijaki adalah batasan dimana Dunia manusia tidak akan terikut campur kedalam dunia fana seperti kita."


"Lalu siapa yang membuat dimensi ini?"


Pria itu terdiam sesaat, "......aku, dimensi ini milik ku."


"Kau? kenapa kau bisa membuat tempat seindah ini?"


Pria itu diam tak mau mengungkit masalah itu. ".....kurasa sudah waktunya, untuk kembali."


"Tunggu, masih ada yang ingin ku----"


"Lucy Daiana Lorddarks! Dengarkan ini baik-baik, Saat harapanmu tak lagi sama dengan keinginannya, kau boleh pergi. Menarik perlahan jemarimu yang berusaha menahannya untuk tetap di sisimu. Lalu menghilang lah dari kehidupannya seperti buih lautan yang membawa kekosongan pada jiwamu, kau tidak perlu menyalahkan takdir. Karena aku berjanji untuk mengabulkan semua harapanmu itu, mengisi kembali kekosongan di hatimu dengan harapan baru kepadamu ...."


Lucy diam, mata merahnya yang terlihat begitu yakin menghipnotis Lucy. Pria itu meraih surai rambut hitam miliknya, lalu mengecup lama kening Lucy.


" SUDAH WAKTUNYA KISAH KITA DIMULAI, MAHARANI KU. "


---.o°0°o.---