
Hari itu akan datang disaat kau menjadi milikku. Tapi aku hanya akan menunggunya saat waktunya tiba. Jika memang aku harus menunggu selamanya, itupun akan aku lakukan. karena aku tidak akan sanggup melihat dunia ini tanpa dirimu .
~°•°🍁°•°~
Dilihat dari pertarungan Fedrick dan Tahlia, sepertinya Fedrick mulai terpukul mundur. Sedangkan Welliam masih dalam kondisi baik, hanya saja..
CEPAT ATAU LAMBAT MEREKA AKAN MEMASUKI BATASANNYA!
Harus Aletha akui bahwa Tahlia saat ini benar-benar dalam posisi berjayanya. Sepertinya dia benar-benar memanfaatkan temuan dari Mate Selini Thea dengan sangat baik.
Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Jika dia mengambil kalungnya dari Welliam, itu akan membahayakannya karena pasti Tahlia memiliki sihir rahasia yang mampu membunuh mereka yang berada diatas rata-rata.
Tapi, saat ini juga dia masih dalam kondisi kurang prima. Ia sadar, ucapan Dewi Selini Thea benar, kita bukan sang pencipta yang mampu mengendalikan segalanya hanya dengan sebuah kata.
Mereka hanya mahluk yang dipenuhi emosional dan nabsu untuk menjalani kehidupan penuh teka-teki. Akhirnya hari itu datang juga kepadanya, dimana ia harus memilih siapa yang harus dia selamatkan.
Apakah dunia yang sedang menderita ini? Tahlia yang sedang tersesat dalam pilihan hidup? Mate-nya yang sedang berada dalam pengawasan para Dewa?
Atau, dirinya sendiri yang masih terjebak dalam labirin hidup, penuh kebohongan dan pengkhianatan?!
Ini memusingkannya, kenapa keadaan malah menjadi menyudutkannya. Aletha benar-benar tertekan dengan ini semua, seolah semua masalah yang terjadi adalah hukuman untuknya.
Akan ada masanya dimana mulut membisu, telinga menjadi tuli, hati menjadi tak berdaya. Secara naluri, rasa sesak yang tak bisa dibicarakan lewat kata-kata akan diwakili oleh mata yang hanya bisa menangis.
Tapi, satu air mata itu akan bermakna sejuta kata. Argh! Aku ingin marah, aku ingin menuntut takdirku yang begitu sempurna, hingga aku mau tertawa karena ini lucu!
Jika memang aku dan dia tidak bisa bersama hanya karena perbedaan kaum bangsa, kenapa kau hadirkan dia yang ditentang menjadi pasanganku?!
Orang-orang yang kusayangi harus menjadi korban dari kehidupan sempurnaku sebagai seorang Dewi tertinggi.
Untuk pertama kalinya dia merasa tidak berguna. Untuk pertama kalinya dia sadar, bahwa dia hanya menjadi beban.
Dia tidak bisa melangkah sedikitpun dari posisinya. Menatap seperti orang bodoh, saat Welliam dan Fedrick sedang dalam kesulitan.
Entah mengapa, semua keberanian serta jati dirinya yang dikenal kuat. Hilang seperti hanya sebuah cerita khayalan, dia terlihat seperti mahluk lemah yang hanya mampu berfikir secara rasional.
Haruskah, aku memilih berpisah untuk menyelamatkan mereka semua?
"Kau memang tidak punya pilihan lain selain melakukannya, Dewi..."
Aletha menoleh, "Hugo.."
"Aku tahu, kau pun tidak pernah ingin dalam situasi seperti ini. Terlahir sebagai seorang Dewi juga bukan kemauanmu, hanya saja sejak lahir kau memang tidak pernah diberi pilihan. Takdirmu memang harus kehilangan mereka yang kau sayangi."
"Jangan dengarkan dia, Aletha. Hugo! Beraninya kau menghasut Dewi ku."
"Carina, yang aku katakan bukanlah sebuah kebohongan. Kita yang menjadi Soul Of Life, akan lebih mengerti perasaan Dewi kita masing-masing. Tapi, aku juga ingin bilang bahwa Dewiku Tahlia pun jauh lebih terpuruk dibandingkan olehmu. Dia juga tidak pernah ingin menjadi seorang yang keji, tapi rasa sakit yang kau berikan menekannya, sehingga memaksa gadis lugu itu harus berbuat licik."
"Jadi maksudmu?"
"Dewi Polemou, semua yang terjadi kepada orang tersayangmu itu adalah kesalahanmu. Semua memang salahmu, mereka harus menjadi target Tahlia karena mereka memiliki hubungan denganmu. Tidak kah anda sadar, bahwa dendam Tahlia di dasari dan dimulai darimu?"
Aletha diam penuh ketegangan, jemarinya yang menggenggam erat pedang pusakanya bergetar, tidak kuat menerima kenyataan.
Dulu Tahlia sama polosnya dengan Sofia dan Lucy. Pasti semua berubah karena sesuatu alasan, tunggu..kalau tidak salah Tahlia membahas mengenai Ayahnya.
Apa dendamnya sungguh karena Ayahnya? Kalau dipikirkan lagi, Tahlia memang saudara sepersusuan tapi Tahlia diangkat sebagai bagian Wisteria saat dia genap berusia 8 tahun.
Itu juga karena Ayahnya tiba-tiba saja membawanya pulang dan menyatakan dia Adiknya. Pasti terjadi sesuatu, pasti ada sesuatu hal yang disembunyikan Ayahnya.
"Dewi, jika kau ingin menyelamatkan mereka yang kau saya sayangi. Mau tidak mau, kau harus menerima hukuman itu, kita selesaikan masalah ini tanpa menarik banyak korban lagi."
"Hugo! jaga bicaramu, Aletha jangan dengar---"
"Cukup Carina."
"Aletha, jika kau melakukannya. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Setidaknya, anda dan Lord Welliam harus beker---"
"Aku bilang cukup, Carina!!"
Aletha menatap dingin kearah Carina sehingga dia harus bungkam.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya."
"Baiklah, tapi kau tidak punya waktu banyak. Karena, jika kau tidak berpihak ke kami. Tahlia akan menggunakan Titan Olimopus Magratccha, untuk membunuh Mate mu. Seharusnya kau tahu benda pusaka apa itu. Jadi buatlah keputusan secepat mungkin, saya permisi Dewi."
Bagima bisa Tahlia mendapatkan benda pusaka itu? Bukankah hanya ke-12 para Tetua yang dapat memilikinya?
Setahunya, itu adalah Artefak Dewa yang berformasi 12 sihir untuk menghukum kaum pembangkang, seperti kaum bawah dan pengkhianat bangsa Imorrtal.
Bahkan jika Tahlia sungguh bisa menggunakannya, bukankah itu gawat.
Tidak hanya bisa membunuh Mate-nya saja, bahkan sihir itu bisa menghancurkan satu dunia dalam sekali serangan.
Cukup! Aku tidak bisa melihat kalian mederita karena diriku. Mulai dari Sofia, Rechyla dan Ardsekar, bahkan aku berharap kejadian pada keturunan Lorddark's tidak terulang di generasi Yang Mulia Fedrick. Aku juga tidak mau Welliam terus berada diposisi bahaya karenaku.
Aletha berani menebak, kisah cinta Lucy yang penuh penderitaan pasti juga karena dia. Jika saja Tahlia tidak mendendam kepadanya, semua pasti tidak akan berakhir seperti ini.
Aletha melihat pedang hitamnya, saat ini mereka sedang diuji untuk dilihat.
Apakah mereka layak bersama?
Apakah mereka layak hidup?
Apakah mereka layak menjadi pemimpin di dunia yang menjadi sebuah titipan?
' Aletha, jawabanku tidak akan berubah untuk Crystalnya, Lakukan! '
Mungkin memang hanya ini caranya. Aletha meraih pita merahnya yang selalu terhias disurai rambut silvernya, lalu dia memberikannya kepada Carina.
"Sampaikan pesanku kepadanya, Carina."
Carina terbang lalu menghilang. Mungkin ini pilihan yang begitu menyulitkannya, karena yang menjadi hal terberat dalam hidup ini, bukan kata perpisahan melainkan saat kau tidak bisa berada disisinya lagi.
Telah Aletha putuskan, dia kan mengambil tindakan beresiko ini. Berhasil atau tidaknya, biarkan itu terjawab dengan sendirinya.
Aletha mulai melangkah menuju kearah pertarungan liar mereka, namun ia dihalangi Rechyla.
Seakan dia mengetahui apa yang akan dilakukannya, Rechyla tidak mau mereka juga harus seperti dia ataupun seperti Lezzy dan Fedrick.
"Kau tidak boleh melakukannya, meski aku kesal karena hubunganku dengan Ardsekar hanyalah batu loncatan Tahlia. Tapi, karena semua itu kami jadi bisa bertemu. Jika saja hal ini tidak terjadi, apa menurutmu Queen Alicia dan Lord Fedrick akan bersama?"
"Aku tidak punya pilihan lain Rechyla. Jika memang harus mati maka aku akan siap, jika memang harus hidup aku pun akan bersyukur. Tapi, hanya ini satu-satunya cara untuk menyelesaikan semuanya. Kita harus mengambil tindakan yang beresiko tinggi."
"Tapi kau hanya punya 1% untuk keberhasilannya, bagaimana jika kalian benar-benar berpisah?"
"Aku yakin ................"
Perlahan Rechyla melepaskan genggamannya pada tangan Aletha. Mendengar ucapan Aletha, itu sudah cukup untuk memeperjelas semuanya.
Bahwa dia harus mempercayai masalah ini, kepada mereka yang menjadi generasi selanjutnya.
Aletha berjalan melewati Rechyla, selangkah demi selangkah, harus ia jadikan keyakinan bahwa semua pilihannya tidak akan salah.
Mencoba menafsirkan dari konflik menyakitkan ini sebahai pelajaran hidup. Terkadang, perpisahan bukanlah hal buruk untuk kehidupanmu bersamanya.
Hanya saja Tuhan ingin menyelamatkan kita dari pilihan yang salah, lalu mempertemukan disaat waktu yang telah direncanakan-Nya, sebagai hadiah takdir hidup yang membahagiakan.
Aletha tahu ini menyakitinya, setiap bunga Wisteria yang jatuh melewatinya, seperti mewakili air mata yang tidak bisa ia tunjukan.
Cinta sama halnya dengan pernyataan perang, baginya. Dimana kita akan berada digaris depan dan mencoba menebak dari arah mana mereka menyakitimu.
Ada yang menusuk dari belakang, ada yang terang terangan dari arah depan, ada juga dari arah yang tidak terduga.
Akan ada banyak masalah dari berbagai macam alasan yang terkadang tidak masuk akal, kau hanya punya sebuah strategi untuk bertahan didalam hubungan yang mulai merapuh.
Aletha berhenti melangkah, angin bergemuruh ditengah malam yang mulai beralih fajar. Seakan bung Wisteria memahaminya, mereka terbang menyatu bersama dengan angin.
Lalu dengan paksa menghancurkan sihir-sihir yang mereka gunakan untuk saling melukai. Sehingga, hal itu membuat mereka yang tengah bertarung terhenti dan menatap heran.
Welliam melihat Aletha yang diam berdiri ditengah pertarungan.
Kenapa Aletha masih disini?
Aletha menatap tajam kearah Tahlia, mengerti dengan tatapan itu. Tahlia kembali menyimpan sabitnya Dewi nya, dia tersenyum penuh kemenangan.
"Sepertinya, kau sudah membuat keputusan. Kalau begitu kemarilah Kakak."
"Keputusan? Kau mengambil keputusan apa, Aletha?!"
"Tentu saja, Kakaku memutuskan untuk pulang kerumah. Dia tidak tahan hidup bersamamu, Lord Welliam."
Tidak ini tidak benar, kata pulang kerumah yang dimaksud Tahlia. Bukanlah kata damai, melainkan.....
"Seperti yang aku bilang, Aletha harus tetap dieksekusi mati, karena kalian telah mengetahui bahwa dia adalah Dewi Thea tou Polemou."
"Sial! Siapa yang telah berani membuat persyaratan itu?!"
"Kau ingin tahu? kalau begitu tanyakanlah kepada Nenekmu, Dewi Selini Thea. Ahahaha.., ini sungguh cerita yang menarik! Jadi, ayo kita kembali Kakak.."
Aletha kembali berjalan menuju kearah Tahlia. Tidak! Aletha tidak boleh pergi darinya, bukankah dia berjanji untuk tetap bersama?!
"Aletha! Aku tidak akan mengizinkanmu pergi dariku, tidak selangkah pun!" Welliam menarik tangan Aletha.
" ........ "
"Kau benar-benar akan pergi? Katakan! Kenapa kau hanya diam saja? Kau itu tidak bisu, Aletha!!"
Aletha menggigit kecil bibir bawahnya. "Aku.., aku harus pergi, Welliam."
"Tidak! Aku tidak mengizinkanmu! Kita berjanji untuk menyelesaikan ini bersama, kenapa kau memutuskannya sendiri?!"
"Welliam, apa kau ingat semua janjimu kepadaku?"
Janji? Ya, Welliam pernah berjanji akan sesuatu hal kepada Aletha. Tali, kenapa dia malah membahas itu, sekarang yang ingin Welliam dengar bukan itu.
"Ya, aku ingat dan aku akan selalu menepati kata-kataku. Tapi, yang ingin kudengar adalah penjelasanmu. Apa kau sungguh ingin meninggalkanku? Aku---"
"Welliam!!"
Aletha mengangkat kepalanya dia menatap wajah sang kekasih dengan penuh lara. Welliam diam tertegun, saat melihat kedua mata Aletha yang memancarkan ketersiksaan.
Ia mencoba menahan, agar tidak membiarkan air mata penyesalan itu turun sebagai tanda, bahwa dia kalah dimedan perang yang harus mengorbankan cintanya.
Aletha menggenggamberat pedang ditangannya. Welliam mencoba menyeka air mata yang hendak turun itu, namun....
JREEBB!!!!!
Didetik yang sama, Aletha menghunuskan pedangnya tepat di jantung Welliam. Membiarkan keheningan menelan mereka yang menatap tidak percaya, dengan apa yang dilakukan Aletha.
Bahkan Tahlia pun, tidak mengerti kenapa Aletha melakukan itu. Sedangkan Fedrick benar-benar terkejut bahkan ingin marah.
Saat hendak menuju kearah Aletha, namun Rechyla mengahdang Fedrick. Seraya memberikan isyarat, untuk tidak melangkah lebih jauh dari tempatnya itu.
Aletha memperdalam pedangnya, sembari berbisik sesuatu kepada Welliam. Lalu dia menarik dengan cepat pedang hitam itu, membuat darah Welliam yang masih tersisa dipedang miliknya, menetes ketumpukan bunga Wisteria yang ada di dasar tanah.
Welliam jatuh terduduk sembari memegang luka didadanya, ia mengangkat kepalanya menatap Aletha, dengan perasaan yang tidak bisa ia wakili lewar kata-kata.
"Aletha.."
"Buktikan semua janjimu itu, sebagai tanda bahwa kau mencintaiku!"
Wisteria kembali berjatuhan. Bunga yang menjadi saksi dipertemuan mereka. Namun kembali menjadi saksi bisu, diperpisahan mereka yang membawa makna tersirat.
Dengan acuh, Aletha membalikan tubuhnya. Lalu kembali berjalan kearah Tahlia, tepat disaat itu juga air matanya harus jatuh, membawa perasaan luka yang begitu menyiksanya.
Meski Tahlia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi ini bisa mengutungkannya. Sepertinya dia tidak perlu melakukan Titan Olimopus Magratccha, untuk membunuh mereka.
Ini sudah cukup memuaskannya, untuk bisa melihat Aletha tersiksa. Dia membuka portal dimensi yang menjadi gerbang ke dunia Imorrtal.
"Tidak! Jangan per--ugh! Uhuk!!"
Welliam menutup mulutnya yang penuh dengan darah. Pandangannya mulai mengkabur, seiring Aletha berjalan pergi memasuki portal dimensi itu.
Jangan pergi, Aletha..
--.o🍁o.--