The Queen of Different World

The Queen of Different World
The Future, Which Sacrifices Lives!



  ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ ꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷.🍁.꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷   ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟


Di hukum alam yang tidak stabil ini. Aku hanya ingin menggenggam jemarimu. Menahanmu lebih lama, hingga aku yakin bahwa kau tidak akan pernah pergi meninggalkan diriku lagi.


──────────── · · · · · ✦


.


"Tunggu, siapa yang sedang hamil?!"


Styvn, Lucy, dan juga Olyfia. Mereka bertanya secara bersamaan, mencoba meyakinkan kembali pada apa yang mereka dengar barusan.


"Em ..., itu kami han..hanya ber---"


"Katakan kepadaku!" Lucy menjadi serius seraya menunjukan tatapan dinginnya.


Ariel dan Auriel saling berpandangan. Tidak ada pilihan lain, mereka siap menanggung resiko hukumannya nanti. Daripada, harus terjadi sesuatu terhadap Ratu Darkness World!


"Sa..saat ini, Yang Mulia Queen Althenia sedang hamil, Putri!"


"Apa?!"


Mereka sangat terkejut mendengar pernyataan Ariel barusan. Jadi, maksudnya Aletha pergi berperang dalam kondisi tengah mengandung?


"Sejak kapan?"


Sesaat Ariel diam, "kami ..., kami baru mengetahuinya empat hari yang lalu, Putri."


"Apa Kakak tahu mengenai kehamilannya?"


"Paduka Lord masih belum tahu Putri."


"Kau tahu sejak empat hari yang lalu, tapi tidak memberitahukannya? Ariel dan Auriel, bagaimana bisa kalian menyembunyikan hal ini?! Tindakan kalian sama saja dengan pengkhianantan terhadap Lord."


"Tetua Styvn benar! Tindakan kalian sudah tidak bisa ditoleransi lagi, bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap calon penerus Lorddaks?! Putri, anda harus menghukum mereka."


Mendengar ucapan Olyfia dan juga Tetua Setyvn, membuat Ariel dan Auriel berlut dengan begitu sigap dibawah Lucy.


"Kami sadar bahwa tindakan kami begitu salah, maka kami siap untuk menerima hukuman mati!" Ucap mereka bersamaan.


"Siapa saja yang mengetahui kehamilannya?"


"Hanya kami dan ..., Yang Mulia Queen Alicia." Jawab Auriel.


"Alice juga mengetahuinya? Tapi, kenapa dia juga merahasiakannya?"


"Itu karena, Queen Althenia ingin kehamilannya dirahasiakan hingga perang berakhir. Sejak awal, beliau merasa ada yang mengganjal dengan perang ini. Kami sendiri pun tidak tahu, tapi beliau terlihat sangat resah."


Kakak sendiri yang ingin dirahasiakan?


"Kami akan siap menerima hukuman kami, Putri."


Lucy menarik nafas dalam, "bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Sekarang, kita harus mencari keberadaan Kakak, lalu bawa dia ketempat yang aman."


"Baik Putri."


"Dan juga..., rahasiakan hal ini dari Kak Welliam."


"Apa? Putri anda juga ingin merahasiakannya?"


"Tetua Styvn, akan lebih baik jika Kak Aletha sendiri yang menjelaskannya kepada Kak Welliam. Bila kita ikut campur, itu hanya akan menimbulkan kesalah pahaman. Meski aku sendiri khawatir, tapi aku yakin Kakak punya rencananya sendiri ini juga pasti yang difikirkan Ibu ..."


Awalnya Olyfia dan juga Styvn merasa keberatan dengan keputusan ini, tapi mereka harus bisa memahaminya. "Baiklah, Putri."


"Ariel bagaimana dengan situasi saat ini?"


"Jawab Putri, keadaan di camp mulai stabil. Karena formasi sihir pelindung mampu menahan batasan mereka agar tidak terlalu banyak memasuki area camp. Tapi, kami tidak tahu dengan area diluar camp. Mungkin masih sangat berbahaya."


"Baiklah aku mengerti, kita akan berpencar mencari Kak Aletha."


"Putri anda masih ingin berada disini?"


"Jangan khawatir, Tetua Styvn. Lucy sudah besar dan juga aku bagian dari Lorddark's. Akan sangat memalukan jika aku terus-terusan di lindungi, aku sudah cukup kuat sekarang ..."


Karena aku juga harus kuat bila nantinya dugaan itu menjadi kenyataan. Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya?


Harlie ...


--.••o ☘ o••.--


Aletha terbang merendah membiarkan dia kembali menginjakan kakinya diatas tanah Agra, yang sejak dulu menjadi tempat aksinya membunuh kaum tamak dengan peperangan.


Teriakan penuh semangat terdengar dengan sangat ricuh, beberapa pasukan musuh dan sekutu bertarung digaris depan. Membuat tanah Agra kembali diselimuti darah penuh dendam.


Aletha berusaha mencari keberadaan seseorang yang paling berarti bagi hidupnya. Mencoba mencegah hal yang paling dia takuti terjadi.


Namun dilihat dari segi perang, sepertinya fraksin mereka masih kalah jumlah pasukan. Bahkan, Troll dan Goblin yang harusnya lemah kini memiliki kulit sekuat baja. Hingga pedang dan sihir menengah, sulit mengoyak tubuh mereka.


Sembari mencari Welliam, Aletha juga tidak akan membiarkan musuh seenaknya melewatinya begitu saja. Beberapa kali pedangnya mengayun hingga menumbangkan lebih dari seratus pasukan musuh.


Para Carlitos yang sempat berhadapan dengannya, tidak akan melewatkan kesempatan ini. Bersekitar 50 prajurit dari Carlitos, bersiap menyerang Aletha secara bersamaan menggunakan sihir tingkat tinggi.


Tapi Aletha tidak akan membiarkan mereka melukainya. Karena dia masih harus melindungi satu nyawa kecil yang begitu berharga. Aletha berdiri diam sembari memejamkan kedua matanya.


Para Carlitos mengepung dirinya dengan pola sihir yang siap diarahkan kearahnya. Sebagian prajurit Lucifer Kingdom yang melihat itu langsung melindungi Aletha, bagaimana bisa Ratu mereka hanya diam disaat situasi bahaya seperti ini.


"Lindungi Queen Althenia."


"SERANG!!"


"Κατάστρεψέ το."


(Hancurkan)


PRANG!!


Satu detik disetelahnya, puluhan lingkaran sihir yang menawannya hancur menjadi kepingan cahaya. Bahkan pasukan Lucifer Kingdom yang berusaha melindunginya, belum sempat mengedipkan mata. Tapi, mereka sudah melihat sihir tingkat Master itu hancur dalam satu kata?!


Kedua mata Aletha terbuka menunjukan iris mata biru yang berkilat serta bercahaya pekat. Aura besar yang membawa tekanan batin, dapat dirasakan oleh mereka semua.


Mereka yang menatap sorot mata dingin itu kian ketakutan sendiri. Seolah, mata itu telah banyak melihat kematian. Seakan, mata itu juga telah banyak mengadili nyawa!


Sebenarnya siapa musuh yang sedang mereka lawan ini?


Apa benar dia seorang Manusia? Para Carlitos hanya tahu, dia Ratu yang dibawa dari dunia Manusia. Jangan-jangan dia sekuat Queen Alicia? Hoi, kenapa tidak ada yang memberitahu mereka kalau Ratu baru Darkness World ini, begitu menyeramkan!!


"Γονατίζω!!"


(Berlutut!)


BRUKH!


ke-50 pasukan Carlitos, langsung jatuh berlutut tepat disaat Aletha memerintah. Tubuh mereka tidak dapat digerakan, bahkan hanya untuk sekedar bersuara saja tidak bisa.


"Queen, terlalu berbahaya jika anda kesana."


Aletha tetap berjalan melewati pasukan Lucifer dan mendekati salah satu musuh, sembari mengabaikan ucapan prajuritnya.


Pedang putihnya yang saat ini sudah ditangan kanannya, begitu terlihat mengerikan bagi para musuh.


Aletha berdiri tepat di hadapan Carlitos dari kaum Vampire. Terlihat Vampire itu gemetaran saat menatap mata Aletha.


Ini gawat!


"Meski, aku tidak terlahir sebagai Dewa kematian. Tapi, dimanapun perang terjadi, maka akulah malaikat kematiannya! Sang Polemou tidak akan membiarkan kalian yang berhati dosa hidup terlalu lama!"


Bunga Wisteria kembali bermunculan menyelimuti mereka semua. Para Carlitos yang akan bernasib tragis itu hanya dapat menatap Aletha dengan penuh ketakutan. Ternyata, dia jauh lebih kuat daripada Great Lady, bahkan auranya begitu menyeramkan!


"ΟΛΟΚΛΗΡΏΝΩ!"


(HABISI MEREKA!)


"Ti-tidak! Tida---arggghh!!!"


CRASH!!


Kelima puluh Carlitos itu dalam sekejap mati dalam satu serangan. Mereka di habisi dengan begitu cepat, bahkan darah mereka sudah menjadi hujan daras yang jatuh begitu saja, hingga menodai para pasukan Lucifer.


Namun, tidak dengan Aletha yang dilindungi bunga Wisteria. Ini begitu mengerikan. Jadi, berita mengenai bahwa Queen adalah seorang Dewi Perang bukan sebuah omong kosong.


Tidak hanya untuk Carlitos saja, bahkan para pasukan Lucifer yang tadi melindungi Aletha, sempat menahan nafas sangking takutnya.


"Jadi ini kekuatan Queen yang sebenarnya? Bukan, pasti ini hanya 10% dari kekuatannya sebagai Dewi Perang. Sebenarnya, sudah berapa lama beliau melewati dunia peperangan?"


Banyak asumsi pendapat mengenai Aletha yang terus difikirkan para pasukan Lucifer. Rasanya mereka kagum! Namun, ada rasa takut juga disaat mereka melihatnya membunuh para musuh, kekuatannya begitu sama persis dengan Lord mereka!


Sungguh penguasa yang menyeramkan!


Aletha berbalik membuat pasukan Lucifer itu langsung kaget dan bergidik ngeri. Sepertinya Aletha sudah kelewat serius dalam menghabisi musuhnya, bahkan prajuritnya saja sampai ketakutan seperti itu.


"Ada yang ingin kutanyakan. Apakah kalian tahu dimana posisi Paduka Lord saat ini?"


"Ja-jawab Queen, sejak perang dimulai kami sudah berpencar. Jadi, kami pun telah terpisah. Kemungkinan Paduka ada di garis depan dan sekarang sedang melawan pemimpin musuh."


"Begitu ya ..., aku harus cepat bergabung dengan Welliam."


"Maaf menyela Queen, bukankah anda harusnya berada di camp?"


"Camp juga saat ini sedang tidak aman. lagipula, aku tidak ingin menjadi Ratu yang hanya bisa diam melihat rakyatku tengah berjuang. Aku huga ingin menjadi Ratu yang berguna untuk kalian, dan ..., terimakasih kalian sudah sangat berani mau melindungiku."


Para pasukan Lucifer begitu sangat tersentuh atas ucapan kemurah hati dari Ratu mereka. Bahkan saat ini beliau sedang tersenyum. Dia terlihat begitu ..., begitu ..., sangat cantik dan menawan. ☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Entah mengapa kejadian saat Aletha membunuh musuh dengan bengis, terbantahkan oleh satu senyuman tulus darinya. Tidak heran jika, Lord tiran itu mampu dibuat luluh olehnya.


"Yang Mulia jangan khawatir, kami akan mempertaruhkan nyawa kami demi kemenangan Darkness World."


"Terimakasih."


Sebenarnya sejak dulu, aku tidak pandai berbicara dihadapan seluruh bawahanku. Lagipula kalimat itu juga, kuambil dari beberapa kata yang kubaca dalam baris Novel fiksi.


Tapi, sepertinya cukup menambah wawasanku sebagai Ratu. Walau tidak sebanding dengan pasukan Wisteria dulu. Tapi, mereka sangat tangguh dan berani. Apa sebaiknya, setiap tahun kubuat wajib militer saja ya?


"Queen bisa mempercayakan kami dibagian sini, kepada kami!"


"Kami akan menyampaikannya, Queen."


Aletha tersenyum lalau dia pergi dengan begitu cepat. Dia masih harus mencari beradaan Welliam, namun dipertengahan saat Aletha mencari Welliam.


Aletha malah bertemu dengan musuh yang membuatnya harus terseret dalam drama yang dia buat.


Aletha mempercepat larinya. Meski dia banyak gerak, hal itu tidak akan membahayakan kandungannya, karena dia bukanlah Manusia atapun mahluk lemah.


Sehingga Aletha mampu mengatur Manna dan tenanganya agar tetap seimbang. Dia juga membagi setengah dari Manna-nya untuk melindungi buah hatinya.


Meski begitu, dia juga masih harus berhati-hati terhadap serangan kuat yang bisa saja mengancam nyawa kecil itu. Dia harus segera mengakhirinya, tersangka utamanya! Tahlia Wisteria.


"Tahlia!!"


Trang!


Brukh!


Aletha menyerang Tahlia tiba-tiba, mereka sempat bertahan dalam mengadukan pedang serta sabit kematian dari senjata Dewa mereka.


Aletha berpijak pada tumpuan batu disekitarnya, lalu menendang Tahkia hingga dia terhempas cukup jauh.


Karena Aletha menyerangnya secara tiba-tiba, hal itu membuat Tahlia tidak fokus dalam pertahanan. Sehingga dia kehilangan keseimbangan dan menerima begitu saja serangan Aletha.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga." Tahlia merapikan pakaiannya yang sempat berantakan akibat ulah Aletha.


"Sepertinya aku terlalu membuatmu menunggu."


Dia selalu saja sombong!


Aletha kian menggenggam erat pedang ditangannya. Mereka saling menatap dalam kebencian, lalu tanpa isyarat ataupun pembicaraan. Mereka, kembali saling menyerang satu sama lain, berusaha menjatuhkan pertahanan musuh.


Meski selama perang dulu, Aletha lebih sering menggunakan pedang hitamnya tapi Tahlia tidak menyangka, pedang putihnya jauh lebih kuat juga.


Bahkan nyaris sabit dari senjatanya tidak mengenai kulit Aletha walau segorespun. Pergerakan mereka menjadi liar dan terus menyerang di iringi dengan sihir-sihir mematikan yang mereka punya, untuk saling membunuh.


Langit mulai menggelap, awan hitam terus bergerak untuk menutupi matahari yang menjadi saksi bisu ditengah perang membawa sejuta korban jiwa.


Daratan yang tadinya masih tergelar permadani rumput hijau, kini telah hancur menyisihkan lubang besar yang menampung genangan darah serta tumpukan mayat, dari pasukan yang telah gugur.


Berkali-kali Tahlia menyerang Aletha dengan sihir kuat, tapi berkali-kali juga Aletha mampu membelah bola sihir mematikan itu. Begitu juga sebaliknya bagi Tahlia, yang mampu menepis serangan Aletha.


Tidak disangka, Adiknya ini memiliki peningkatan dalam bertarung dengan sangat baik. Sepertinya dia sudah mempersiapkan diri bila harus melawan Aletha diakhir permainananya.


Crash!


Crash!


BOOM!


Aletha maupun Tahlia harus mundur dalam jarak yang cukup jauh. Bahkan setelah lama mereka berusaha bertahan, akhirnya mereka mampu melukai musuh mereka meski hanya segores luka.


Tahlia menyentuh pipinya yang tadi terbesit pedang Aletha. Sedangkan Aletha memiliki luka ringan pada lengan kirinya. Kabut asap menyelimuti di kedua Dewi yang berstatus saudara itu.


Sepertinya mereka harus bertarung hingga ketitik darah terakhir, hanya untuk membunuh salah satu diantara mereka.


"Beraninya kau melukai wajahku!"


"Bukankah aku hanya melukai wajah palsumu itu, Thea tis Timorias? Sedangkan, kau punya seribu wajah. Kenapa sekarang kau takut jika luka itu bisa merusak wajah jelitamu?"


"Ha! Aku benar-benar muak denganmu Aletha! Sikap angkuhmu ini selalu membuatku kesal, kenapa? Apa kau fikir kau bisa memenangkan perang ini? Dengar, jangan kira kau seorang Dewi Perang berarti kau bisa mengendalikan alur perangnya! Alwtha, sejak awa, akulah yang menciptakan teater drama kecil ini. Itu berarti, hidup kalian berada dibawah kendaliku."


"Meski kau seorang Dewi Hakim. Kau juga tidak berhak menghakimi hidup seseorang sesukamu! Tahlia, hakim pun bisa melakukan kesalahan, tidak selamanya kau akan menjadi yang maha benar. Ada masanya kau akan menjadi tersangka di dalam sidangmu sendiri. Baiklah, bagaimana jika aku menajdi jaksanya? Bukankah aku menyandang gelar Keadilan? Aku yang lebih berhak mengadili di dalam aturan hukum alam ini. Bukan Hakim sepertimu ataupun Octopus!"


"Aku benar-benar akan menghancurkan hidupmu, Aletha!!!"


Tahlia kehilangan kesabaran, dia menyerang Aletha dengan sangat brutal. Pergerakannya tidak terkontrol, bahkan ini bisa menguntungkan bagi Aletha untuk dapat mematahkan serangan Tahkia. Karena, semakin kau kacau maka semakin dekat pula kau berdiri diujung jurang kekalahan!


Aku sudah sering melihat orang-orang dengan ambisi sepertimu Tahlia, ditanah ini sudah banyak kaum yang kuhukum lebih dari hukumanmu sebagai seorang Dewi Hakim.


Pergerakan Tahlia tak seimbang. sedikit lagi, tinggal sedikit lagi. Maka Aletha akan bisa mengalahkan Tahlia dengan sempurna. Pedang Alwtha menahan sabit kematian milik Tahlia.


Disaat Tahlia dalam puncak emosinya. Tangan kiri Aletha membuat rangkaian sihir mematikan untuk bisa membekuka tubuh Tahlia.


"Matilah Aletha!"


Bukan aku, tapi kau Tahlia


Duaarrr!!


Ditengah pertarungan mereka, kebulan asap kembali menyelimuti mereka berdua. Bukan! Lebih teoatnya Aletha saja! Karena saat ini Tahlia telah mundur beberapa meter dari Kakanya berdiri.


Aletha melirik sinis kearah musuhnya saat ini. "Kau sungguh serangga yang tangguh, Hugo."


Tepat disat Aaletha ingin membekukan Tahlia, Hugo datang dan menepis serangan Aletha. Sehingga kesempatan emas itu hilang begitu saja.


"Tenangkan dirimu! Jika kau ceroboh, semua akan sia-sia."


"Cih, aku lengah."


"Saat ini Aletha dalam kondisi primanya. Mungkin, dia juga bisa memenangkan perang ini dengan mudah."


"Jadi maksudmu aku akan kalah?!"


"Tenanglah, dari pada kau membuang tenagamu. Bagaimana jika kau buat pikirannya menjadi kacau, saat ini Octopus dan para Tetua lainnya telah membuka segel dari senjata Dewa itu."


"Senjata? Ah, jadi sudah saatnya ya, kita harus membunuhnya! Hahaha..., aku tidak sabar melihat wajah terpuruk Aletha!"


Perlahan kebulan asap hitam dari desiran debu menghilang, membuat Aletha dapat kembali melihat dengan jelas Tahlia yang masih berdiri 5 meter darinya.


Aletha mengerutkan keningnya, sepertinya Hugo berhasil menenangkan Tahlia. Tapi, entah mengapa perasaan Aletha menjadi tidak enak.


Apalagi tatapan mata Tahlia, yang saat ini sedang menatap sinis kearahnya, terlihat begitu familiar.


"Sudah waktunya, Aletha ..."


Sudah waktunya?


"Kau akan melihat Mate yang paling kau cintai mati, Aletha."


DEGH!!


Seakan jantung Aletha berhenti berdetak, Aletha diam dengan raut wajah penuh ketakutan. Tunggu, kenapa ucapannya begitu persis dengan mimpinya? Ini tidak mungkin, apa dia masih bermimpi?


BOOM!!


Aletha melihat kearah disebelahnya saat sebuah ledakan terjadi akibat benturan sihir. Bibirnya mengkatub dengan sedikit bergetar kecil, saat melihat Welliam sedang bertarung sengit dengan Katastrofi, tidak jauh dari mereka.


"Kau masih terlalu bocah!"


"Jangan kira kau bisa membunuhku, Katastrofi!"


Tidak mungkin?! Ini sesuai dengan alur dimimpinya. Kalau begitu, Tahlia akan ...


"Titan Olimopus Magratccha!" Sabit kematian Tahlia berubah menjadi busur panah berwarna hitam keunguan.


Itu adalah senjata Dewa?!


"Tahlia!"


Saat Aletha hendak menghentikan aksi Tahlia, dia sudah dihadang kupu-kupu yang mampu menawannya. Tidak, keadaan semakin gawat! Pikiran Aletha menjadi kacau, mimpinya ..., mimpi buruknya akan terwujud!


Bagaimana jika Welliam tidak bisa mengelaknya?! Aku tidak bisa membiarkannya!


Tahlia membidik dengan sempurna lalu melepaskan sihir panah kematian. Membiarkan anak panah itu, mendeteksi sendiri keberadaan Welliam.


"Tidak! Jangan!"


Aletha sudah terlihat frustasi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia gunakan pedang Wisteria untuk menghancurkan paksa kurungan dari Hugo!


"Welliam!!"


Welliam menoleh, saat mendengar namanya dipanggil. Awalnya dia bingung, kenapa Aletha ada digaris depan? Namun, sesaat, dia menyadari serangan anak panah dari Tahlia.


Tunggu, apa yang ingin dilakukan Aletha dengan berlari menghampirinya?


Welliam melihat panah kematian itu kian semakin bergerak cepat. Sadar akan situasi, Welliam menendang Katastrofi untuk melepaskan cengkramannya.


"Aletha, jangan kemari!"


Tidak! Aku tidak mau kehilanganmu, Welliam.


"Tugasku, telah selesai Aletha.."


JREB!!!!!


CRASHH!!!


"UHUK!"


Olyfia terbang semakin cepat saat merasakan Manna Aletha, dia berusaha mencari keberadaan sang Dewi sebelum sesuatu hal terjadi kepadanya.


"Ketemu! Akhirnya aku menemuka---"


"ALETHA!!!"


Olyfia diam menegang dengan tubuh hampir mati rasa. Seakan sayap perinya tak sanggup mengepak, dia mulai terbang merendah dengan sangat lemas, melihat apa yang saat ini terjadi kepada mereka.


' AKAN ADA YANG BERKORBAN MATI DEMI KEDAMAIAN DAN KESEMPURNAAN DUNIA INI, ALETHA. '


"Ini bohong, ini bohong, ini bohong! An-anda tidak boleh mati, DEWI!!!"


--.••> 🍁 <••.--



Uwuw, kita sudah mendekati puncak klimaks konflik dan Ending nih, readrs.


ditunggu kelanjutannya ya😚


dan jangan lupa tinggalkan jejak, biar Author makin semangat❣❤❤ love u