The Queen of Different World

The Queen of Different World
The Ruler ; Father (?)



"Welliam ..., Kekuatan Katastrofi telah kembali. Yang kutahu, dulu, kekuatannya di segel oleh Selini Thea. Tapi sekarang, dia telah kembali menjadi Dewa Bencana secara utuh, untuk bisa mengalahkannya kita harus bekerjasama, karena Tahlia dan Katastrofi saling terhubung kontrak. Maka dari itu ..."


"Baiklah, mari kita akhiri mereka bersama-sama. Kau bisa mempercayakannya kepadaku dan aku mempercayakan Tahlia kepadamu, kita pasti menang karena aku memiliki Dewinya sebagai Ratuku!"


Aletha tersenyum. Dia kembali menatap Katastrofi dan Tahlia dengan tatapan menusuk yang begitu tajam. Aletha mengangkat pedang Wisteria-nya ke atas, seketika aura kuat kembali dirasakan oleh seluruh mahluk.


"Kesabaranku telah habis!"


Mata Aletha memicing tajam dan tepat disaat itu, dia membangunkan sosoknya sebagai seorang Dewi Perang yang sesungguhnya.


"Ditanah Agra ini, aku memutuskan sebagai Thea tou Polemou. Untuk menghukum mati Dewi Thea tis Tinorias serta Dewa O Theo tis Katastrofi, sebagai pengkhianat bangsa Imorrtal dan mengancam kedamaian dunia! Maka hadirlah, wahai kaisar langitku Callister Apramotta Dorragone!!" Aletha memerintah.


Dan, tepat disaat itu langit cerah kembali menggelap, petir-petir menjalar layaknya tirai kematian. Angin bergemuruh kencang, bunga Nemophila Menziesii telah berganti menjadi padang bunga kematian (Laycoris).


GRUUUOOOOO!!!


BLEDAR!


Semua orang dikejutkan dengan suara menyeramkan yang begitu besar di iringi dengan guntur dilangit gelap. Tahlia dan Katastrofi dibuat merinding dengan sesosok bayangan aneh, yang telihat sekilas dari balik awan.


Sebuah mahluk aneh bertubuh besar, namun tak kunjung menunjukan wujudnya. Mahluk apa itu?


Fraksin musuh terus menatap waspada pada langit yang seolah ingin runtuh itu. Berkali-kali raungan dari hewan misterius terus terengar hingga membuat para Troll merasakan ngeri yang tak terkendali.


Hingga satu petir datang menghantam daratan tinggi, hingga membelah bebatuan menjadi beberapa bagian. Kebulan asap menutupi area itu, namun dapat dirasakan hewan spirit best itu pasti akan segera menunjukan wujudnya.


Draph!


GRUUOOOOOO !!!!


Seekor naga putih berlapis kilatan emas berukuran puluhan kalilipat dari para Troll begitu membuat para musuh menengang.


Bahkan Tahlia dibuat terkejut! Ini gila, ini gila, ini gila, Aletha benar-benar sudah gila! Bagaimana bisa dia menurunkan hewan spirit yang selalu menjadi algojonya dalam berperang.


Ini pertama kalinya Tahlia melihat Callister, karena selama perang Aletha jarang memanggil hewan spirit yang menjadi kaisar langit bagi para hewan spirit dunia Imorrtal, bahkan kekuatan Callister jauh lebih kuat daripada Alexa maupun Luna.


Itu sebabnya, Luna tidak akan melindunginya karena dia memiliki Callister yang jauh lebih kuat daripada Luna sendiri. Sehingga To fos tou Fengariou hanya mengakuinya sebagai Ratu terpilih untuk Darkness World.


"Menyebalkan!"


Tahlia mengumpat kesal. tidak semua Dewa memiliki hewan spirit sebagai pelindung yang setia. Karena hanya Dewa atau Dewi yang kuat saja yang dapat memilikinya, sebab hewan spirit lahir dari kekuatan Manna yang begitu besar.


Menyebalkannya lagi, ternyata kaum Demon dapat melakukannya, seperti Lord Welliam yang menolak Alexa sebagai hewan spiritnya karena dia telah memiliki Zymba.


Callister membuka rahangnya membuat semacam bola sihir berselimut aliran listrik, sayapnya terbuka, kuku runcing dari ke'empat kakinya mencengram tanah bahkan dua kaki lainnya juga membuat sihir mematika.



" Hugo! "


DUAR !!!


Serangan Callister hampir memghancurkan seperempat dari tanah Agra. Perisai yang dibuat Tahlia dari sejuta kupu-kupunya saja tidak sanggup menahannya, bahakan serangan itu berhasil membunuh setengah dari mereka.


Sedangkan di fraksin Lucifer mereka dalam keadaan aman, karena Zymba membuat perisai kuat untuk melindungi seluruh prajurit, belum lagi Carina membagi dirinya sesuai dengan jumlah agar dapat membantu pasukan menahan serangan Callister bila mahluk mengerikan itu berulah lagi.


Aletha diam sembari menundukan kepalanya, mencoba meyakinkan hatinya sebelum membicarakan hal serius kepada Welliam. Perlahan, dia melirik sang Mate menatap dalam kedua mata Demon-nya.


Timbul perasaan bersalah pada sebuah rahasia besar yang saat ini masih dia simpan. Padahal kehadirannya begitu dinantikan Welliam.


Meski begitu, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Situasi juga sudah sangat dalam zona merah, dimana dia tidak bisa meninggalkan garis depan. Dia akan bersumpah demi menjaga keselamatan buah hati mereka hingga waktunya dia lahir.


"Welliam, mulai sekarang kita akan berpisah demi mengalahkan mereka. Tadinya aku nekad datang kesini karena aku takut kau akan mati dengan senjata itu, tapi sekarang Tahlia tidak akam bisa menggunakannya lagi. Jadi, aku ingin ...., kau---"


"Aku tidak akan mati, Aletha. Mereka tidak akan semudah itu membunuhku, karena aku tidak mau melihatmu menagis karena kepergianku. Kita juga sudah berjanji untuk tetap hidup bersama, maka kau juga tidak boleh sampai mati di medan perang ini. Ini perintah dari Lord mu, Ratu ku ..."


Aletha mendekatkan dirinya. Meraih lembut tangan Welliam lalu dia rasakan kehangatan tangan kekar itu pada pipinya. "Aku berjanji, aku pasti akan kembali dengan selamat. Karena aku juga ingin kau melihatnya ..."


Saat buah hati kita terlahir kedunia ini, mewujudkan impian kita mengenai keluarga kecil yang sederhana ...


"Melihatnya?"


Aletha tersenyum. "Setelah perang ini usai, ada yang ingin kuberitahu kepadamu."


"Apa itu?"


Aletha tidak menjawab, namun dia hanya memberi senyuman dengan jari tekunjuk berada di bibir ranum mungilnya.


BOOM !


GRUUOOOO !!!


Katastrofi yang tadi berusaha menyerang Callister terhempas jauh hingga jatuh tak jauh dari belakang Aletha dan Welliam, sedangkan Tahlia masih setia berdiri diposisinya dihadapan mereka.


Aletha dan Welliam saling bertatapan sebelum akhirnya tertawa kecil, mereka berdiri saling membelakangi dengan tangan yang masih saling menggenggam.


"Aletha ..."


"Welliam ..."


"Ingatlah janji kita, untuk tetap hidup bersama walau takdir melawan !" Ucap mereka secara bersama.


Aletha dan Welliam mulai berjalan berlawanan arah sembari melepas genggaman jemari mereka, untuk berhadapan dengan musuh secara seimbang!


"Zymba!" Welliam berteriak seolah memberi sebuah perintah khusus kepada hewan spiritnya.


Zymba yang tadi dalam wujud serigala hitam, seketika berubah menjadi burung elang berukuran tak kalah besarnya dengan Callister. Seluruh bulu dan tubuhnya diselimuti api merah yang membara panas.



Dia terbang kelangit tertinggi dengan sangat cepat, membuat pola sihir besar yang terlukis diangkasa. Mencoba membuat sebuah bendera besar yang ditengahnya terdapat lambang Lucifer Kingdom.


Alberd yang melihat lambang bendera kerajaan sebagai isyarat tanda dari Lord, seperti yang dikatakan Queen lewat pesan lisan.


Kini, mulai bersiap-siap membentuk formasi baru dengan anggota prajurit cadangan yang masih belum menunjukan dirinya.


Welliam bersikap angkuh dihadapan musuh keluarganya. Sebenarnya dia sangat senang bila disuruh menghabisi Katastrofi, karena dia juga masih menyimpan dendam tersendiri terhadapnya.


"Harusnya kau tersanjung karena bisa berhadapan denganku. Karena aku masih harus mmebalaskan dendam kedua orangtuaku, terlebih kaulah yang paling dijunjung bagi Carlitos. Duniaku harus bebas dari hama sepertimu !"


"Hahaha, kau pikir kau bisa mengalahkanku? Lihatlah."


50 ekor gagak pemangsa, berukuran sedang mengelikingi Katastrofi. Burung yang telah banyak memakan korban jiwa itu terus menatap Welliam seakan ingin menerkamnya.


Bukannya takut Welliam justru malah tersenyum bahkan ingin tertawa, melihat kumpulan burung gagak yang begitu mirip dengan serangga mainan.


"Seprtinya, kau punya santapan baru lagi ...."


DRAPH !


KYUUAANGGG!!


"... Zymba."


Zymba yang sejak tadi berada dilangit langsung turun dengan kecepatan kilat, ia jatuh mendarat tepat dibelakang Welliam. Burung raksasa yang seakan melindungi Tuan nya dari musuh, begitu terasa sama mengerikannya dengan hewan spirit bangsa Imorrtal.


Katastrofi yang melihat mata elangnya, mulai menatap merinding. Ini berbeda, hawa manna yang dirasakan dari Welliam begitu berbeda dengan Fedrick dulu.


Tunggu, jika Lezzy adalah Vasilissa dan Fedrick adalah Vasilias. Lalu bagaimana dengan anak-anak mereka yang pasti mendapatkan kuturunan manna dari kedua orangtuanya?


Tidakkah dia justru jauh lebih kuat dan menyeramkan dari orangtuanya?


"Cih, keturunan Selini memang menyebalkan!"


.


.


Tahlia terus menahan serangan Aletha. semakin lama gerakan Aletha dalam menyerang semakin teratur bahkan begitu sangat kuat. Menyebalkannya lagi, disaat dia tengah menahan Aletha, Callister malah menyerangnya dari langit.


Hugo bahkan sampai dibuat kewalahan karena aksi hewan buas itu! Jika terus dibiarkan Tahlia bisa terus tersudutkan. Tidak, dia tidak akan kehilangan kesempatan emas ini untuk mengakhiri mereka.


Tahlia manangkis pedang Aletha lalu melompat mundur mengambil jarak aman dari Aletha. "Aku selalu penasaran, selama 98 abad ini dimana kau sembunyikan Callister."


"Kuberitahu pun, kau tidak akan bisa menemukannya."


"Katakan, Aletha."


"Skylitch Kingdom."


"Sayangnya sejak dulu Skylitch Kingdom, telah kami ketahui."


"Apa yang sedang kalian rencanakan sebenarnya?"


"Kami akan mengembalikam sistem alam yang semestinya, dimana Kerajaan Skylitch adalah Castle utama bagi para Maharani dan Maharaja memimpin Imorrtal. Kau pikir, kami bodoh membiarkan Octopus bertindak sesukanya di Imorrtal? Cepat atau lambat, dia juga akan kami hancurkan!"


"Muslihat yang begitu indah, Aletha. Aku selalu kepikiran dengan sosok Maharaja yang tidak pernah menunjukan dirinya tapi dia mengetahui segalanya dalam satu informasi yang bahkan para Tetua pun tidak tahu. Mungkinkah, Yang Mulia Kendric akan segera menunjukan dirinya?"


"Menurutmu?"


Tahlia benci teka-teki ini. Padahal mereka memasang perangkap untuk menjebak, tapi rencana itu malah berbalik mengarah mereka.


"Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu terlalu lama menderita. Dan juga, beraninya kau membunuh Dewi Maharani!"


"Kenapa? Kau ingin marah?"


"Ya, sangking marahnya aku menginginkan kekalahanmu. Waktunya kematianmu, Tahlia tis Timorias!"


"ALETHA !!!"


BOOM!!


--.• ☘ •.--


*Darkness World.


Lezzy jatuh terduduk sembari merintih sedih pada kepergian seorang malaikat yang Tuhan kirimkan kepadanya. Perasaan bersalah kian bertambah semakin dia mengingat wajah sang Ibu.


Fedrick masih terlalu kaget untuk mempercayainya, pasalnya dia seorang Dewi yang begitu kuat. Bahkan Selini Thea adalah Ratu bagi para Dewa, siapa yang telah membunuhnya?


"Lezzy ..."


"Selama ini, aku tidak pernah punya waktu untuk bersamanya. Selama ini, kami tidak pernah saling berbicara, bahkan hanya untuk sekedar bersandar pada pangkuannya saja aku ..., aku tidak bisa Fedrick, hiks. Aku sungguh putri yang bodoh, aku juga ingin lebih mengenalnya. Aku juga ingin terus memanggilnya ibu, tapi disisa waktunya aku tetap tidak bisa memanggilnya ibu untuk terakhir kalinya. Hiks ..., kumohon biarkan aku bertemu dengan Ibuku, kumohon ..."


"Alice ..."


Seakan tidak kuat melihatnya bersedih, Fedrick mencoba memberikan ketenangan dengan memeluk hangat mate yang selalu menjadi rembulan bagi kehidupan kelamnya.


Walau dia pernah kehilangan sosok seorang Ibu, tapi kedekatannya dengan Ibunya juga tidak terlalu baik. Sehingga dia sedikit buta dengan arti kasih sayang yang sesungguhnya, bahkan Fedrick baru merasakan penyesalan, saat Ibunya pergi untuk selamanya


Mungkin ini juga yang dirasakan Istrinya. Bahwa ada banyak kata yang ingin dia sampaikan kepada malaikat cantik itu, namun inilah pilihan hidup.


Sejarah ingin ia berhenti pada masa yang bukan miliknya, mengharuskannya meninggalkan jutaan perasaan bersalah serta kesedihan atas kepergiannya.


Lezzy kian mencengkram kemeja Welliam, saat hati yang tersayat terus mengatakan kebenaran bahwa sang Selini Thea telah pergi untuk selamanya. Berulang kali, dia berucap maaf pada ibunya. Berharap, kalimat itu dapat terdengar oleh ibunya.


"Berhentilah menangis, Putriku ..."


Tring!


Lezzy berhenti menangis, lalu perlaham dia menoleh. Menatap seekor rusa putih, terselimuti cahaya biru layaknya kunang-kunang.


Rusa itu berdiri tepat diantara Luna serta Alexa. Tak lama, rusa itu mulai merubah wujudnya menjadi seorang pria paru baya berusia 38 tahun.


Lezzy mencoba bangun dan berdiri. Dia menatap tertegun pada sosok yang belum pernah ia temui, sedangkan Fedrick mencoba menganalisis siapa pria misterius ini.


"Wajah jelitamu sungguh mirip dengan Ibumu ..."


Seakan hatinya tersentuh dengan perasaan hangat, Lezzy melangkah maju mencoba mendekatkan dirinya dengan pria itu.


Ini aneh, aku belum pernah melihatnya tapi kenapa wajahnya begitu sangat kurindukan? Tadi, dia bilang wajahku mirip ibu, mungkinkah ....


"Lagi-lagi kami harus meningga---"


"Ayah."


Terlihat pria itu sangat terkejut saat panggilan sayang itu terucap untuknya. Ya, dia adalah Carzie Manhive, ayah kandung Lezzy. Kehadirannya, hanya separuh jiwa yang tergabung dalam Soul Of Life milik Selini Thea, agar mereka masih tetap berama walau tak se'sempurna dulu.


"Kau memanggilku apa, Lezzy?"


Kini Lezzy percaya pada asumsinya, dia berlari lalu memeluk hangat sosok itu dengan sayang. Seakan Tuhan tahu cara menghiburnya.


"Ayah ..., Lezzy merindukanmu. Tadinya, kukira aku tidak akan bisa melihatmu." Lezzy melepaskan pelukannya.


Carzie mencoba menahan air mata kebahagiaannya, menatap lekat putrinya yang ia tinggal sebelum dia terlahir kedunia. "Ayah minta maaf, karena tidak bisa melindungimu selama ini, Lezzy."


"Ayah sudah melindungiku, kau klmengorbankan dirimu demi keselamatanku dan Ibu. Lezzy sudah bahagia, tapi Ayah, apakah Ibu---"


"Ini memang sudah seharusnya terjadi Lezzy. Kita tidak dapat merubahnya, demi menyelamatkan matahari bagi dunia ini. Dia harus melakukannya, ini sudah menjadi pilihannya dan Ibumu bilang, sudah cukup baginya melihat kebahagiaan dari anak dan cucunya. Kau harus menggantikan posisinya untuk menunjukan jalan bagi generasi baru Lezzy. Inilah tugas barumu sebagai Vasilissa ..."


"Tapi, Lezzy ingin bertemu dengan Ibu. Aku juga ingin meminta maaf untuk semuanya, apakah tidak boleh?"


"Lezzy, dia bertekad untuk tidak melihatmu dihari terakhirnya. Bukan karena membencimu, tapi karena dia takut tidak bisa menahan dirinya karena harus meninggalkanmu kembali. Air matamu juga dapat membuatnya sedih, jadi berhentilah menangis. Jika kau ingin meminta maaf gantilah dengan meneruskam tekadnya dalam mewujudkan dunia yang damai. Jadilah Vasilissa seperti dirinya ..."


"Daripada dirimu, kami justru jauh lebih merasa bersalah. Kami hanya ingin menjadi orangtua yang dapat membahagiakan buah hatinya, Lezzy. Meski kami tidak dapat bersamamu, tapi jika kami bisa melihatmu tersenyum bahagia, melihat dari jauh pun itu sudah cukup sayang."


"Aku pernah bilang, bahwa aku bangga memiliki orangtua hebat seperti kalian." Seulas senyum terlukis manis di wajah Lezzy.


"Kau pasti bisa menjadi Vasilissa seperti Ibumu."


Benar, berhentilah menagis. Dia harus membuktikan bahwa dia mampu berdiri menjadi apa yang orangtuanya inginkan, hingga dia mampu dibanggakan oleh mereka.


Lezzy juga, tidak mungkin teus berlarut dalam kesedihan, karena dia tidak ingin kekasih hidupnya khawatir. Apalagi dia telah dikaruniai dua anak cantik dan tampan, maka dia harus bersikap dewasa layaknya seorang ibu yang bijaksana.


"Bolehkah aku titip pesan kepada ibu, Ayah? Katakan kepadanya, Lezzy akan menjadi Putri yang membanggakan untuknya."


"Dia pasti akan sangat bangga sayang."


Carzie menatap Fedrick, seakan ia paham. Fedrick berdiri disebelah Lezzy, membalas tatapan dari Carzie sebagi tanda bahwa cukup dia seorang yang mamapu menggantikannya dalam menajga Lezzy.


"Kutitipkan Putriku padamu."


"Jangan khawatir, aku tidak berniat melukainya tau bahkan meninggalkannya."


Carzie yang mendengar itu tersenyum, lalu perlaham dia mulai kembali menjadi rusa putih dan pergi meninggalkan siluet cahaya biru.


"Kami akan selalu mengawasimu Lezzy ..."


"Queen Alicia!!" Tidak lama setelah kepergian Carzie. Olyfia terbang menghampiri mereka dengan sangat terburu-buru.


"Alice..., Dewi ..., Dewi--"


"Aku sudah tahu, Olyfia. Bahwa Ibuku telah tiada."


"Alice ..., sebelum Dewi pergi dia menitipkan kalung ini kepadaku untuk diberikan kepadamu."


Lezzy mengambil kalung crystal putih bening, ditengahnya terdapat satu lambang bulan sabit dengan bintang. fedrick dan Lezzy sedikit keheranan.


"Beliau bilang, Bintang Fajar akan segera bertemu sang Matahari, agar membantunya menjadi Rembulan sempurna."


"Bintang Fajar?" Lezzy tersadar akan sesuatu, dia menoleh kanan dan kiri mencoba mencari seseorang.


"Fedrick, dimana Lucy?"


Fedrick juga baru sadar kalalu sejak pagi tadi dia tidak melihat putrinya itu. Olyfia memiringkan kepalanya, sembari menyebut nama Lucy.


"Putri Lucy? Ah, Putri Lu---AAAA!!!!!"


Tiba-tiba saja Olyfia berteriak histeris. Tunggu, dia baru saja ingat mengenai Putrinya ini. Wah! Bagaimana dia bisa melupakan Putri Lucy padahal dia yang membantubya keluar istina.


Sial, aku lupa kalau Lord Fedrick begitu sangat over terhadap Putri tunggalnya ini. Bisa - bisa aku menulis surat wasiat!


Olyfia melirik Fedrick yang sedang menatap tajam kearahnya. Sudah ia duga, Fedrick memanag sudah membaca pikirannya!


"Kau kirim kemana Putriku, Olyfia?!"


"Em, itu.., Putri sedang ber--bertamasya Yang Mulia."


"KATAKAN!"


"Mohon ampuni diriku, Lord. Saat ini, Putri Lucy ada di medan perang, yang Mulia."


"Apa?!!"


---.•° 🍁 °•.---