The Queen of Different World

The Queen of Different World
Who is behind this?



Great Lady duduk bersantai ditemani beberapa kupu-kupu tersayangnya. Disebuah ruangan yang menjadi tempat kepemimpinannya di markas Carlitos.


Dia terus mendengarkan semua penjelasan Katastrofi mengenai tindakannya 524 tahun yang lalu, dengan sangat bosan. Semua bualan omong kosong itu terus membuatnya ingin sekali menghajarnya, karena aksi bodohnya itu.


Berbeda dengan Harlie yang sejak tadi menatap tidak suka kepada Great Lady, ia melihat Great Lady sangat tidak sopan kepada Tuannya. Bahkan sejak 3 hari setelah kembalinya Katastrofi, dia terus memandang rendah Tuannya.


Meski dia tidak tahu apa yang membuat Tuannya begitu mengagungkannya, tapi tetap saja Wanita itu baru saja muncul setelah sekian lama. Lalu hadir, untuk mengambil alih kekuasan pada Carlitos.


"Semua yang saya lakukan dulu untuk mempermudah segala rencana, Lady."


Wanita itu membuka kedua matanya, memperlihatkan mata permata yang begitu hijau. Tapi, tatapan yang dipancarkan olehnya tak selembut permata alam itu. Tersirat ketidak sukaannya pada ucapan Katastrofi.


"Mempermudah segalanya? Apa aku tidak salah dengar, Katastrofi? KAU FIKIR INI SEBUAH LELUCON!!"


Great Lady berdiri, lalu berjalan kearahnya. Melihat Great Lady dalam keadaan marah, membuat Katastrofi sedikit bergerak mundur.


Meski kedudukan Great Lady berada sangat jauh di bawah Aletha, tapi kekuatannya tak bisa dipandang remeh. Katastrofi pun tahu dia tidak akan bisa menang dari wanita ini.


Berbeda dengan gelarnya sebagai seorang Dewi tersohor, ternyata dia memiliki kepribadian ganda yang sangat sulit untuk dikonfirmasi, seperti apa sosok sebenarnya dari wanita licik dan kejam ini.


Tubuh Katastrofi bergetar ketakutan, saat bebebrpaa kupu-kupu miliknya berubah menjadi pisau tajam yang mampu membunuhnya.


"Setelah membunuh Ardsekar dan Rechyla, kau harusnya tidur dengan tenang. Kubiarkan para pengikutmu memberikan tiap darah dari periode Queen yang berkuasa di Darkness World. Saat kau terbangun, kau malah terobsesi dengan kelahiran Putri dari Selini Thea. Bertindak dengan gegabah, menghancurkan semua rencana yang telah disusun dengan sangat rapih. Tak kusangka kau begitu bodoh!"


Great Lady, berjalan memutari Katastrofi dengan sangat murka. Membuat keringat dingin mengalir dari dahi Katastrofi.


"Aku tidak mengawasimu, karena aku fikir, kau cukup pintar untuk menjalankan rencananya. Tapi kau malah menjadi gila, hanya karena darah keturunan Vasilissa itu dan menyebalkannya lagi. Kau, berharap dia bisa menjadi milikmu? Sungguh cerita yang menarik! Tidak kah kau sadar, Bahwa posisimu hanya peran pembantu di dalam kisah romansa mereka? Kau tidak akan bisa menang dari mereka, bila tidak ada strategi yang akurat. Bahkan, mereka berdua adalah pasangan Mate yang menjadi Vasilias dan Vasilissa. Dengan sikap angkuhmu, mereka jadi tahu semua tabiat tersembunyi di dalam rencana kita. Kau sudah membuatku marah, inikah yang kau sebut membantu Katastrofi?!"


"Tapi mereka tidak mengetahui rencana sebenarnya, me--"


"Apa? Kau bilang mereka tidak tahu semua rencananya? Tidak ingatkah kau, bahwa, di Imorrtal masih ada Selini Thea. Kau fikir dia akan diam saja saat melihat Putrinya dalam bahaya? Karena kebodohanmu, kisah mereka tidak sesuai dengan naskah yang telah kuatur selama ini!! Sudah sangat susah aku membangun panggung prtunjukan, untuk mengatur jalannya kehidupan penderitaan mereka! Tapi kau malah mengacaukannya. Apa kau sudah bosan hidup?"


"Argh!" Katastrofi menggerang kesakitan saat pisau itu berhasil menusuknya, beberapa sihir racun dari serbuk kupu-kupu menyiksa secara perlahan dari dalam tubuh Katastrofi.


"Tuan! Apa yang kau lakukan kepadanya?"


Great Lady melirik Harlie, "hanya menjinakan, peliharaan yang pernah menggigit tuannya."


"Lepaskan pisau itu!!"


"Beri argh! Aku...kesempatan lagi."


Pisau itu terbang dan kembali ketangan Great Lady, membuat Katastrofi bernafas lega meski masih merasakan sakit yang begitu prih.


Dia yang terlihat berlutut di bawah kaki Great Lady, sangat begitu terpuruk. Harlie mencoba mengobati luka Tuannya, namun sayangnya, luka itu tak dapat disembuhkan. Sebenarnya seberapa kuatnya wanita ini?


"Kesempatan yang seperti apa? Kau ingin menyerang mereka secara brutal seperti rencanamu dulu? Itu sudah tidak akan mempan kepada mereka, terlebih Alice itu memiliki Putra yang sama menyebalkannya dengan Ayahnya!"


"Mereka telah memiliki keturunan?"


"Ya.., Katastrofi. Bahkan tiga hari lalu, aku sempat hadir di acara pernikahan mereka. Kau sungguh memberikanku pertunjukan yang menarik! Apa kau ingin tahu siapa pengantin wanitanya?"


"Siapa?"


"Kurasa sebaiknya kau tidak tahu."


"Katakan kepadaku!"


Great Lady menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Katastrofi, ia menggunakan belati pisau itu untuk menyentuh dagu pion terbaiknya.


"Aletha Wisteria."


"Apa! Bagaimana bisa Dewi berkedudukan tinggi sepertinya, menjadi Mate dari Putra mereka?!"


"Lalu bagaimana dengan Putri Selini Thea, yang menjadi Mate dari Lord Demon itu?!"


"Kepar*t!! Bagaimana semua menjadi kacau seperti ini!"


"Itu semua karena ketidak becusanmu dalam menghadapi mereka! Jika saja kau mengikuti rencanaku, semua pasti tidak akan menjadi serumit ini. Bahkan, dia juga akan ikut adil dalam masalah ini. Sudah susah payah aku menyingkirkannya, tapi dia malah kembali lagi!"


"Sial, Harlie!"


"Ya Tuan."


"Dimana pedangku, dengan pedang it---"


"Ahahaha...., kau fikir dengan pedang itu semua masalah akan terselesaikan?"


"Apa maksudmu, pedang itu satu-satunya bilah untuk menuju ke pencapaianku, aku akan menjadi Lord lalu akan kuhancurkan Imorrtal seperti debu tanpa tersisa."


Asumsi yang bodoh!


"Sepertinya aku memilih kelinci yang bodoh, nabsumu itu bisa menghancurkanmu. Dengar, saat ini pedang itu ada di Lucifer Kingdom. Hari dimana kekalahanmu, Demon itu berhasil mengamankan pedangnya."


"Beraninya dia, ayo Harlie!!"


Katastrofi dan Harlie berjalan menuju pintu keluar dari ruangan itu, namun.


BRAK!!


Pintu itu tertutup dengan sangat rapat, mengetahui siapa dalangnya. Katastrofi beserta Harlie kembali melihat Great Lady, yang saat ini sudah duduk dengan angkuh di kursi kepemimpinannya.


"Mau kemana, Katastrofi?"


"Tentu saja merebut kembali pedangnya, pedang itu milikku dan pasti akan kembali kepadaku!!"


"Aku sudah begitu repot untuk membangkitkanmu lagi! Apa kau fikir, aku mau membiarkanmu kembali mati, ditangan mereka setelah kutolong? Sudah cukup! Kau tidak jauh bedanya dengan boneka ku. Berhenti bertindak gegabah, kali ini semua rencana ada dibawah kendaliku."


"Tapi tetap saja pedang itu milikku, mereka tidak akan bisa membunuhku!"


"Lucu sekali! Tidak bisa membunuh, tapi kau mati dengan sangat memalukan dipertarunganmu dengan Fedrick! Biar kuberitahu, pedang itu sejak awal bukan milikmu!"


"Bagaimana bisa bukan milikku, padahal kau sendiri yang bilang pedang itu terlahir karena asumsi kekuatanku sendiri!"


"Pantas saja kau mudah di kucilkan di Imorrtal, mungkin karena pola fikirmu yang tidak bisa membaca situasi. Dengar, aku menggunakan trik untuk membuatmu mempercayai semua yang aku katakan. Jangan coba-coba kau berfikir untuk bisa memanfaatkan ku, Katstrofi."


"Jadi sejak awal rencana ini, untuk membuatku menjadi tersangka utama lalu kau menikmati hasilnya di akhir."


"Tentu saja, tapi karena kau juga, aku harus turun tangan langsung. Ingatlah, persyaratanmu saat aku membantumu berhasil lepas dari hukuman mati. Kau bersedia melakukan apa pun yang kukatakan asal kau bisa hidup. Harusnya kau bersyukur karena hanya diasingkan saja."


Katastrofi tak dapat melawan, karena memang itu yang sebenarnya. Sial! Dia hanya dijadikan kelinci percobaannya. Wanita ini sungguh licik, entah rencana apa lagi yang dia lakukan sehingga mampu menyingkirkan sosok terkuat nomor III di Imorrtal.


"Kalau begitu, pedang itu milik siapa?"


"Tentu saja, pedang itu milik Dewi tertinggi di Imorrtal. Sang Thea tou Polemou!"


Katastrofi menengang ketakutan. Berbeda dengan Harlie yang tidak dapat mengikuti pembicaraan, karena sepertinya ada seorang Dewi satu lagi, yang belum ia ketahui sosoknya.


Siapa itu Thea tou Polemou? Dan juga sejak kapan Imorrtal jadi ikut campur dalam rencana mereka?


"Melihat ekpresimu, sepertinya kau sudah paham."


"Ini tidak mungkin! Bila pedang itu kembali ketangannya, ini bisa gawat."


"Kau benar, jadi rencana awal kita adalah mengambil kembali pedang itu lalu bertindaklah sesuai rencanaku!"


"Tapi bagaimana caranya mengambil pedang itu?"


"Biar kupikirkan! Sekarang pergilah, jika aku terus melihat wajahmu, bisa-bisa aku menghabisimu!"


Katastrofi pergi dengan sedikit menahan rasa sakit pada luka ditubuhnya. Sedangkan Harlie, terus menatap benci wanita yang terus sok berkuasa di Carlitos.


"Apa yang kau lihat?"


"Sebaiknya kau menjaga sikapmu, terhadap Tuanku!" Lalu berjalan meninggalkan Great Lady sendirian di ruang kepimpinanya.


Great Lady sedikit merasa pusing karena sebagian rencananya harus hancur karena Katastrofi. Tapi bukan berarti dia akan menyerah, masih banyak daftar rencana lain yang mampu mengkelabui musuh.


"Kukira kau akan membunuhnya."


"Dia masih berguna, aku tidak akan kehilangan momentum ini untuk menjatuhkan mereka semua(?). Jadi Hugo, apa semuanya sudah beres?"


"Ya, aku melakukan sesuai rencanamu. Kini kabar mengenai Dewi Aletha, telah tersebar dan mungkin saja sudah terdengar ketelinga Dewi Selini Thea."


"Bagus, sekarang tinggal memikirkan bagaimana merebut kembali pedangnya?!"


"Aku ada rencana.."


Great Lady yang mendengar semua rencana licik dari kupu-kupu tersayangnya, tak lama ukiran senyum penuh kepuasan terlihat jelas diwajah jelitanya. Sepertinya akan ada pertunjukan menarik lagi!


"Alam mengetahui segalanya, tapi tidak menyembunyikan kebenarannya. Cepat atau lambat, kaupun harus mati, Aletha.."


--.o☘o.--


*Lucifer Kingdom.


~Castle Roseria.


(Kediaman Queen dan Lord.)


Aletha berjalan keluar dari kamar mandi. Setelah Fivian menyampaikan pesan Welliam kepadanya.


Bahwa, Welliam ingin Aletha sendiri yang menyiapkan air hangat untuk Welliam membersihkan diri, setelah ia kembali bekerja. Dan semua telah ia lakukan meski agak kesusahan.


Aletha tidak habis fikir, kenapa harus dia jika di Kerajaan ini ada ratusaan pelayan.


"Salam, Queen Althenia. Anda ingin saya letakan dimana hadiah-hadiah ini?"


"Em, mungkin diletakan di ruang penyimpanan saja."


Sekumpulan pelayan itu meninggalkan kediaman Aletha dengan membawa tumpukan bingkisan hadiah, yang entah sampai kapan akan berhenti.


Sejak hari pernikahannya dengan Welliam, serta penobatannya selama tiga hari lalu. Seluruh bangsawan tak henti-hentinya mengiriminya bingkisan hadiah dalam jumlah besar.


"Kalau ingin memperbaiki citra mereka, sebaiknya bekerjalah dengan baik untuk Darkness World. Bukannya mengirimi barang mewah seperti ini, memangnya rakyat yang hidup di pinggir kota tidak kesusahan apa?"


Aletha terus-terusan mengumpat kesal dengan kebiasan buruk para bangsawan disini.


Bahkan Aletha banyak menolak undangan perjamuan wanita bangsawan, karena ia tahu akan ada banyak maksud tersirat disetiap acaranya.


Tok..tok..tok..


"Saya Fivian, Yang Mulia."


"Masuklah."


Fivian memasuki ruangan. "Em, Queen. An--"


"Kau tidak perlu khawatir, semua sudah kusiapkan. Tinggal kau bilang kepada Welliam saja."


"Bu-bukan itu, Yang Mulia."


"Ah..., ka-kalau begitu, ada perlu apa?"


"Anda mendapatkan surat, Yang Mulia."


"Aku sudah bilang, jika itu surat undangan lebih baik langsung ditolak saja."


"Ini bukan surat undangan, Queen."


"Siapa pengirimnya?"


"Em, tidak tertulis jelas pengirimnya."


Aletha kian menatap heran, lalu dia berjalan mengambil surat itu. Menyadari siapa pengirim surat ini, membuat Aletha kembali serius, saat dia melihat lambang yang tertera disurat itu.


"Aku kenal dengan pengirim surat ini, kau boleh pergi."


"Saya permisi, Yang Mulia Queen Althenia."


Saat keadaan sudah aman, Aletha kembali melihat lambang di surat itu. dengan cepat Aletha membuka amplopnya dan menarik surat yang ada di dalamnya.


Namun, hanya ada sebuah kertas putih polos tanpa ada tulisan. Aletha mencoba berfikir, tak lama dia menemukan jawabannya. Jika pengirimnya sungguh dia, mungkin matahari adalah kunci untuk menunjukan isi surat


Aletha membuka gorden sebelebar-lebarnya. Meski hari telah memasuki waktu senja, tapi matahari masih tersisa di tepian nestapa.


Dengan posisi yang tepat, Aletha mengangkat kertas polos itu membiarkan matahari menyinarinya.


Tak lama secara perlahan, sebuah tulisan terlihat dengan semakin jelas.


--•°•oO.🌸.Oo•°•--


"" Προσέξτε, κινδυνεύετε από την Αλέτα.


( berhati-hatilah, kau sedang dalam bahaya Aletha.)


Σταματήστε να σκέφτεστε το παρελθόν, ο κόσμος, δεν είναι τόσο δίκαιος όσο πριν Να είστε σταθεροί ότι είστε εκεί για να τους κρίνετε! ""


( berhenti memikirkan masa lalu, dunia tidak seadil dulu. tegaslah, bahwa kau ada untuk mengadili mereka! )


ο παλιός σου φίλος.


Teman lama.


--•°•oO.🌸.Oo•°•--


"Apa yang sedang kau lihat?"


"Aa!!" Aletha teriak kaget, saat Welliam mengambil surat itu dari tangannya.


"Welliam kau mengagetkan ku!"


Welliam kembali melihat kertas ditangannya lalu ia melirik Aletha. Apa Welliam bisa membacanya? Aletha terus panik saat Welliam menatapnya seolah tengah menyelidiki sesuatu.


"Kenapa kau menatap lama, kertas kosong ini?"


"Aku bisa menjelaskannya, mengenai surat ko..kosong?!" Aletha merebut surat itu dari tangan Welliam.


Huft! Baguslah, sepertinya surat ini hanya bereaksi pada matahari saja.


"Aku, se..dang, memikirkanmu."


"Lalu apa hubungannya dengan kertas ini?"


"Karena kau.., seperti kertas. Bukan, maksudku kau polos, ah tidak kau tidak polos. Em, kau terlihat bersih putih seperti kertas ini. Ya! Kau---"


"Apa kau sekacau itu, kutinggal dua hari Aletha?"


Meski malu mengakuinya, tapi ini bisa dijadikan alasan dari pengalihan surat itu.


"Iya..."


"Kemarilah.." Welliam memeluk rindu sang kekasih.


Seolah menyimpan dendam, Fedrick tidak membiarkan Welliam beristirahat mengurusi berkas kerajaan walau hanya sebentar.


Bahkan terakhir kali Welliam menghabiskan waktunya bersama Aletha, saat malam selepas acara pernikahan. Udah, mentok sampe situ doang! Sehingga Welliam terus-terusan mengumpat kesal kepada Ayahnya.


Itu semua karena Fedrick ingin membuat Welliam merasakan apa yang dia rasakan, karena pusing memikirkan berkas wilayah yang tidak ada habisnya.


Jadinya setelah tempur 2 hari menyelesaikan semua berkas, akhirnya Welliam dapat berjumpa dengan Istri terkasihnya.


"Apa semua sudah kau selesaikan?"


"Tentu saja, aku tidak selambat Ayah."


"Ahaha.., jika Lord Fedrick mendengar ini, pasti dia akan menambah pekerjaanmu."


"Apa kau akan memberitahukannya?"


"Tentu saja tidak, bisa-bisa aku mati bosan jika tidak ada dirimu."


"Lihat, mulut manismu itu."


Aletha tertawa kecil, "hari sudah semakin gelap. Sebaiknya kau membersihkan dirimu lalu beristirahatlah, aku sudah menyiapkan air mandimu."


"Bagaimana jika kau membantuku?"


"Jika kau mau tidur diruang kerjamu, akan kubantu."


"Cih! Padahal aku terus-terusan tersiksa di ruangan itu."


"Kau bilang sesuatu?"


"Aku bilang, kau sangat cantik hari ini, Ratuku." Ujar Welliam sembari berjalan menuju kamar mandi dengan kesal.


Sedangkan Aletha menghampiri meja riasnya, ia melepas pita merah sebagai permata rias dirambutnya. Namun, seakan teringat seasuatu. Aletha kembali menoleh kearah pintu kamar mandi yang tertutup.


"Welliam, sepertinya aku terlalu banyak menggunakan sihir. Jadi airnya--"


"ARGH!"


"..panas."


"Terima kasih, atas perhatianmu, Istriku." Sindir Welliam.


"Kuanggap itu pujian."


Memang bukan sepenuhnya salah Aletha. Lagipula, air mandinya saja disiapkan oleh pelayan. Jadi, Aletha mana tahu urusan yang begituan.


"Sepertinya, malam ini aku tidur dengan Lucy saja. Jika tidak, dia pasti akan balas dendam."


--.o🍁o.--



Hai hai!!!


maaf atas keterlambatan Up. beberapa hari lalu tangan kanan Author cidera, jadi sedikit menghambat pengetikan.


Tapi jangan khawatir, Author tetap semangat lanjutin ceritanya, kok.


--.🍁.--


Oya, buat pemenang kuis minggu kemarin, diraih oleh akun bernama @RinChan *"^_^"*



Karena pembaca pertama yang menjawab benar. Hadiah bisa diambil, di dalam Group ya kak😚😚


tunggu kuis selanjutnya ya💕


salam manis


Author😚