
Brak!
Welliam yang sudah kelewat panik menendang pintu kamarnya, kemudian membaringkan Aletha diatas kasur. Ia memandang cemas sembari memegang tangan Aletha yang kian semakin dingin.
Lucy datang setelah mendengar kabar mengenai Aletha, ia duduk disebelahnya dengan tatapan khawatir.
Sudah lebih dari 10 penyihir Alkemis didatangkan untuk menyembuhkan Aletha, tapi tidak ada yang bisa menolongnya.
Hingga pemimpin Penyihir Alkemis dari bangsa Witch hadir, dia dikenal sebagai seorang ahli Filsavat dan pengobatan terbaik di Darkness World.
Sihir berwarna hijau menyelimuti Aletha, mencoba menyembuhkannya tapi yang terjadi sihir itu malah menjadi agresif. Tubuh Aletha menolak untuk menerima sihir penyembuh itu.
"Kakak bagaimana ini, sepertinya kondisi Kak Aletha semakin parah."
Welliam menggeram kesal, ia melihat wajah Aletha yang terlihat sedang menahan sakit. Beberapa bulir keringat dan deru nafas yang terdengar lemah, serta tubuhnya menggigil akibat suhu tubuh yang semakin dingin.
Hanya dengan melihatnya saja, itu sudah cukup membuat Welliam tersiksa.
"Dasar tidak berguna! Apa yang sebebarnya kalian lakukan? Kenapa kondisinya malah semakin buruk?" Welliam menatap tajam kebarisan para Alkemis Kerajaan.
Dia benar-benar sudah murka, Welliam menunjukan sosoknya sebagai seorang Iblis. Mata merahnya berkilat sinis, membuat para Alkemis menundukan wajah dengan rasa takut.
Welliam melirik pemimpin Penyihir Alkemis. "Haikal, bukankah kau dikenal sebagai yabg terhebat dalam pengobatan? Tapi apa yang terjadi?!"
"Ya-yang Mulia, kami semua telah berusaha sebisa mungkin untuk mebolong Lady, bahkan saya berani menjamin sihir pengobatan saya telah bekerja dengan baik. Jadi tidak mungkin bila sihir saya gagal."
"Lalu?"
"Me-menurut saya, pasti karena Lady seorang Manusia, m-makanya sihir tidak berpengaruh untuk tubuhnya yang lem--"
"Bukan karena dia seorang Manusia, tapi kaulah yang tidak berguna!!"
"Tidak Yang Mulia, mo-mohon dengar penjelasan hamba. Sepertinya dalam kondisi Lady yang sekarang, tubuh lemahnya tidak bisa mengimbangi sihir berfrekuensi tinggi. Sehingga tidak ada yang tahu bagaimana terjadinya penolakan grafik sihir pada predaran ditubu--"
"Aku menyuruhmu untuk mengobatinya, tapi kau malah banyak bicara. Padahal nyatanya kau Alkemis yang tidak becus!!"
"Mo-mohon ampun, Yang Mulia. Semua pun tahu siapa yang paling mengenal kondisi seperti ini, bahkan anda telah memanggil Alkemis untuk berkumpul. Tapi nyatanya tidak ada yang bisa membantu Lady Alet--"
"Kau ingin mati?"
Deg!
Welliam benci ucapanya yang sombong itu. Sudah cukup! Harusnya dia lebih memperhatikan dalam memilih Alkemis di Kerajaannya.
Welliam kian menjadi-jadi, aura kegelapan menelimuti sekuruh ruangan membuat siapa pun yang merasakannya terasa tersiksa.
Para Alkemis sudah gemetaran penuh dengan ketakutan, bagaimana jika Pangeran dingin ini kembali memulai aksi gilanya hanya untuk menghukum mereka, dengan cara pembataian masal para Alkemis.
Harusnya pemimimpin mereka tidak berbicara seperti itu dengan sangat sombong.
Dasar bodoh, harusnya kau tidak menyeret kami juga! Lirih para Alkemis di dalam benak mereka.
Welliam melihat dengan tatapan sadis, kukunya meruncing dengan sangat tajam. Beraninya, mereka berfikir bahwa Matenya tidak layak untuk ditolong, hanya karena statusnya seorang Manusia lemah.
Jika saja mereka tahu bahwa Aletha bukan Manusia, sudah pasti tidak akan ada yang berani berbicara seperti itu.
Welliam berjalan mendekat, setiap langkahnya adalah hitungan detik menuju kematian mereka. Sial, bagaimana caranya menghentikan kemurkaan sang Pangeran Demon.
"Yang Mulia!"
"Berbelit sekali ucapanmu, hanya untuk minta dibunuh!"
"Ti-tidak, mohon ampuni saya yang bo-bodoh ini."
Pemimpin Alkemis itu jatuh berlutut di bawah kaki Welliam. Sayang, Welliam tidak pernah memandang belas kasih untuk rakyat yang menentangnya.
Welliam mencengkram kuat leher pemimpin Alkemis itu lalu mengangkatnya, membuat Haikal meronta kesakitan yang teramat pedih.
Ini mengerikan. Untuk pertama kalinya Lucy melihat kakaknya semurka ini, selama ini Lucy tidak pernah melihat aksi Welliam dalam menghukum para pemberontak. Bukan tidak pernah, tapi Welliam memang tidak pernah mau memperlihatkannya.
Tapi sekarang, Lucy bisa melihat betapa kejinya Welliam saat ia kehilangan akal sehatnya. Bahkan aura kegelapan dari Welliam, sejak tadi sudah membuat Lucy ketakutan. Dia memegang tangan Aletha dengan sedikit gemeteran.
Seperti inikah sosok kakaknya yang sering dibicarakan, sebagai tiran perdarah dingin. Meski begitu, Lucy tahu penyebab kakaknya terlihat segila ini, itu karena Matenya, Aletha.
Kumohon, sadarlah Kak Aletha.
Api hitam mulai membakar sedikit demi sedikit dari tubuh Haikal. Ia meronta kesakitan, tapi Welliam sudah tidak perduli. Justru Welliam tersenyum senang melihatnya tersiksa.
"Hentikan Welliam."
Lezzy datang menghentikan aksi gila Putranya. Welliam tidak menggubsirnya, dia masih menatap benci kearah pemimpin Alkemis.
Lezzy menghela nafas panjang. "Kau ingin membunuhnya disini, Welliam?"
"Ya! Akan kuhabisi dia. Bagaimana jika kupotong lidahnya terlebih dahulu, agar tidak berbicara asalan." Tegas Welliam.
"Yang Mulia!! Mohon ampuni hamba!"
"Kau sungguh ingin membunuhnya dihadapan, Adikmu?"
Welliam tersentak mendengar ucapan Ibunya. Dia lupa kalau Lucy masih ada disini. Perlahan Welliam melirik Lucy yang terlihat sedang menahan rasa takut.
"Cih!"
Welliam menjatuhkan Haikal begitu saja ke lantai, membuat Haikal segera merangkak mundur dari hadapan Welliam.
Aura kegelapan yang menyelimuti kamar seketika hilang, dan Welliam pun kembali berpenampilan normalnya, sembari menahan amarahnya yang kian menggebu-gebu.
"Cobalah untuk memutar otak bodohmu itu jika kau masih ingin hidup, Haikal. Dan untuk kalian, jika kudengar kalian masih berfikiran dengan ucapan omong kosongnya. Bersiaplah untuk mati ditanganku!!"
"Ba-baik, Yang Mulia Welliam!" Ucap para Alkemis secara serentak.
"Jika kalian sudah mengerti, pergilah." Lanjut Fedrick.
Dengan cepat para Alkemis pergi tergesah-geash meninggalkan kamar. Sebelum ruangan itu berubah menjadi tempat kematian mereka.
Fedrick mendatangi Putrinya yang terlihat shock dengan aksi Putranya tadi. Tapi sekarang bukan waktunya Lucy memikirkan kakaknya, dia khawatir dengan kondisi Aletha yang tak kunjung membaik.
"Ayah, tidak bisakah kita lakukan sesuatu?"
Fedrick melihat kondisi calon menantunya yang terlihat parah. Ia sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa, karena dia sendiri sama halnya dengan Putranya.
Lebih cocok menjadi penghancur ketimbang mengobati. Ia mengusap kepala Putri tersayangnya, berharap Lucy sedikit lebih tenang.
"Dia akan baik-baik saja, Lucy."
Kembali pada posisi Lezzy dan Welliam yang masih diam dalam ketegangan.
"Welli---"
"Ibu, tidak adakah yang bisa kita lakukan untuk menolong Aletha?"
"Lalu aku harus membawa Dokter dari Bumi, begitu? Itu tidak akan berpengaruh untuknya, karena Aletha bukan seorang Manusia."
"Ibu tahu kalau dia memang bukan seorang Manusia. Tapi coba tenangkan dirimu, pasti ada cara lain un--"
"Cara yang seperti apa, Ibu?"
Lezzy diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Putranya. Karena memang tidak ada, salah satu diantara mereka yang bisa menolong Aletha.
Terjadi keheningan diruangan itu, membuat mereka semua menjadi canggung. Terutama Lucy yang tidak tahu alur pembicaraannya. Apalagi saat Ibu dan kakaknya membahas, bahwa Aletha bukan Manusia. Sungguh?
Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya mengenai itu. Aletha merintih pelan, membuat mereka menatap khawatir. Welliam menghampiri Matenya, ia terlihat sangat cemas.
"Aletha.."
Welliam begitu tersiksa melihat kondisi Matenya yang tengah tersiksa, ingin rasanya dia berbagai rasa sakit yang di derita Aletha. Sebenarnya apa yang terjadi kepadanya?
"Mungkin, saya bisa membantu."
Ditengah keputusasaan. Olyfia datang, membuat mereka semua melihatnya.
"Olyfia, kau tahu cara menolong Aletha?" Tanya Lezzy.
"Meski saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi kemungkinan Lady seperti itu, karena ia tengah terjebak di dalam alam sadarnya."
"Maksudmu?" Welliam menghadap Olyfia.
"Saat ini jiwanya tengah melawan kenyataan dari mimpi buruknya, ada sebuah sihir tak bermantra yang mengikatnya dengan sebuah peristiwa kelamnya. Membuat hal itu sebagai mimpi buruk yang bisa merusak dirinya, dan bila hal itu terus berlanjut.., mungkin ia akan tertidur untuk selamanya."
"Lalu bagaimana cara menolong Kak Aletha, Queen Olyfia?" Lirih Lucy.
"Ada satu cara, yaitu dengan sihir alam. Tapi saya tak tahu apa ini akan berhasil. Mengingat tanaman itu tak pernah ada di Darkness World."
"Katakan saja. Ada atau tidaknya, sulit atau mudahnya, pasti akan kucari!"
"Bunga Wisteria. Berbeda dengan Hutan Pinus, Wisteria adalah bunga yang bisa menyimpan sihir alam terbaik. Ada begitu banyak sihir yang menjadi spiritnya. Perlindungan, kekuatan, keabadian, dan juga kenangan. Bunga itu tidak sekedar tumbuh menjadi sebuah tanaman biasa, dan juga bisa dikatakan bunga itu bagian dari spirit roh Aletha sendiri."
"Kalau begitu kita harus mencarinya, dimana bunga itu tumbuh?" Lucy bangun lalu berdiri disebelah Welliam.
"Putri Lucy, seperti yang saya bilang bunga itu tidak ada di Darkness World. Bahkan, kurasa bunga itu tidak bisa tumbuh. Kecuali..." Olyfia melirik Lezzy.
Lezzy paham, hanya ada satu tempat pasti itu adalah Imorrtal. Tapi mereka tidak mungkin pergi kesana, lagipula makhkuk Darkness World tidak pernah menginjakan kaki kesana.
Bila pun di Bumi ada, pasti sihir alam juga sangat berbeda dengan ada yang di Imorrtal.
"Kecuali?" Lucy masih penasaran.
"Ke-kecuali, bunga itu tum--"
"Hanya bunga Wisteria saja? Atau masih ada yang lain?"
"Hanya bunganya saja, Paduka."
"Baiklah."
Welliam membawa Aletha bersamanya, ia berjalan menuju balkon kamar. Mereka yang melihat itu menatap bingung, bukankah bunga itu tidak ada di Darkness World, lalu Welliam mau kemana?
"Tunggu, Welliam. Kau paham yang dikatakan Olyfia?"
"Aku paham ibu."
"Lalu anda mau kemana, Paduka?"
"Kau bilang hanya bunga Wisteria yang bisa menolongnya, bukan?"
"Iya saya memang berbicara seperti itu. Tapi, bunga itu tidak ada disini."
"Ada."
Lezzy dan Olyfia saling berpandangan.
"Dimana?" Tanya Lezzy.
Welliam melihat wajah Aletha, lalu terlihat ia tengah tersenyum samar. "Disebuah tempat yang menyimpan kenangan kami."
Kemudia Welliam melompat dari balkon kamarnya. Menuju tempat yang hanya ditumbuhi satu pohon Wisteria.
"Tung--"
"Sudahlah, Lezzy. Jika dia bilang ada maka semua akan baik-baik saja."
"Kau tidak khawatir, Fedrick?"
"Aku khawatir, tapi aku percaya Welliam bisa mengatasinya."
Melihat kepergian Putranya, Fedrick berjalan keluar kamar. Saat melihat Aletha ikut terkejut dengan ucapan Rechyla mengenai Kupu-kupu, Fedrick sadar mungkin Aletha ada kaitannya dengan para Carlitos.
Dia tersenyum smirk, "Sepertinya pemilik pedang hitam itu akan segera menunjukan dirinya. Mari kita lihat, apakah dia orang yang harus kutunggu hanya demi menjaga pedang itu."
--.o☘o.--
Welliam terbang merendah, lalu mendarat tepat diatas daratan kecil di tengah danau. Sebuah danau yang tak jauh dari Villanya yang ada di belakang Castle Violence.
Ia mentap pohon Wisteria yang masih berbunga lebat, dengan di hujani tiap kelopak bunga yang saling berguguran menutupi permukaan danau biru, bermandikan cahaya rembulan.
Lalu sekarang apa yang harus ia lakukan? Seharusnya tadi dia membawa Olyfia juga. Apa sebaiknya dia kembali lagi?
Tring...
Tring...
Welliam diam terpukau dengan suara bell yang mirip seperti pita merah Aletha. Kabut putih menutupi sebagian danau, tak lama hadir dua ekor Rusa putih yang dulu pernah Welliam temui di hutan wilayah Carlitos.
Kenapa Rusa itu sering muncul, apa dia ada kaitannya dengan Aletha? Rusa itu melompat sembari mendekati Welliam. Perlahan Welliam bisa merasakan tanah yang ia pijaki sedikit bergetar.
Air pada danau mulai bergerak, membentuk pilar yang membeku mengitari area pohon Wisteria. Dengan pola sihir pelindung berwarna ungu muda.
Ia bingung, bagaimana bisa lingkungan disekitarnya berubah? Bahkan dia tidak bisa merasakan adanya seseorang yang menggunakan sihir.
Welliam melihat dua ekor Rusa putih itu. Ia menatap curiga, bahwa sebenarnya hewan ini bukan Rusa biasa. Bahkan setahunya di Darkness World tidak ada jenis hewan seperti itu.
Welliam kembali melibat Aletha saat terdengar rintihan darinya. Ia tidak boleh membiarkannya seperti ini terus, tapi dia juga tidak tahu bagaimana caranya?
"Kau ingin membawa Aletha keluar dari alam sadarnya? Akan kubantu.."
--.o🍁o.--