The Queen of Different World

The Queen of Different World
Attempt To Escape



Aletha diam menatap kagum kepada dirinya sendiri. Melihat setiap perubahan yang cukup mengejutkannya, Fivian merubahnya bagaikan seorang Putri Raja.


Beberapa mutiara dan pita merahnya terpasang dengan begitu cantik terangkai disurai rambut hitamnya.


Gaun merah yang menunjukan kemulusan kulit proselin pundaknya, terbalut dengan anggun diparas menawannya.


Rasanya sedikit aneh, suasana disini benar-benar berbeda dengan nuansa di Negeri Sakura. Tapi mau bagaimana pun dia memang bukan asli orang Jepang, hanya saja dia menetap dan tinggal disana dalam waktu yang lama.


Fivian sudah menjelaskan semua mengenai kondisini. Garis besarnya, Welliam adalah Pangeran dari Bangsa Demon, penerus Lord selanjutnya untuk memimpin 6 ras di dunia yang selalu menjadi lelucon bagi kaum Manusia.


Sedangkan istilah Soulmate/Mate adalah untuk julukan pasangan hidup dan matinya makhluk yang ada disini (belahan jiwa).


Jika manusia tidak bisa menebak atau mengetahui pasangannya maka makhluk seperti mereka kebalikannya, mereka justru akan mengetahuinya meski hanya bertatapan mata sebentar saja.


Dan untuk Fivian, dia adalah salah satu tangan kanan Welliam. Berasal dari kaum Elf dan seorang pemimpin komandan pasukan terbaik, kepintarannya dalam menyusun strategi mampu menjadikannya sebagai orang ke dua yang boleh berdiri di sebelah Pangeran untuk menjadi orang kepercayaannya.


Bagus, lepas dari monster malah dijaga oleh peliharaannya. Sebenarnya apa kesalahanku, hiks >////<


Sudah berkali-kali Fivian mendengar Lady nya selalu menghela nafas bosan, membuatnya sedikit canggung.


Itu karena Aletha juga masih belum bisa menerimanya, untuk bisa tinggal di tempat yang mungkin saja ada seribu marabahaya yang menantinya nanti.


Terutama Welliam dia perlu di garis bawahi dengan sangat...sangat..sangat tebal, karena bagi Aletha dia adalah makhluk yang paling berbahaya!


"Selesai, wah.. Lady anda benar benar sangat cantik. Hem.. Saya baru sadar mata Lady memiliki kemiripan dengan Yang Mulia, jadi ini yang selalu dibilang pasangan adalah cerminan kita sendiri."


"Hentikan leluconmu, aku bukan Mate atau apa pun itu, aku hanya manusia yang diculik dan dikurung di tempat ini." Ucap Aletha dengan ketus.


Fivian tertawa kecil, mereka benar-benar persis, sifat dingin dan ucapan sombongnya juga mirip. Sepertinya Lady nya ini seorang Nona besar di dunianya.


"Kenapa kau tertawa?"


"Ma-maaf Lady, saya tidak bermaksud menjelekan anda, tapi tidak kah ucapan anda sangat keterlaluan, Lady."


"Ucapanku? Kurasa tidak."


"Lady, perasaan hubungan Mate bukanlah sebuah hal yang patut kita pandang remeh. Bisa saja sewaktu-waktu perasaan Lady akan berubah, dengan apa yang Lady katakan saat ini."


"Itu tidak akan terjadi! Fivian apa semua pelayan sama sepertimu?"


"Maksud Lady?"


"Apa semua prilaku pelayan disini sama sepertimu, asal berbicara sebelum Tuan nya menyuruhnya berbicara?!"


Fivian diam lalu tersenyum lembut.


"Saya mohon maaf atas sikap saya yang kurang sopan, lain kali tidak akan saya bahas mengenai ini, Lady."


Melihat senyuman tulus Fivian membuat Aletha sedikit merasa bersalah dengan sikap angkuhnya, biar lah lagian Aletha tipikal tidak suka banyak bicara dengan orang asing.


Aletha bangun dari duduknya, lalu berjalan keluar balkon kamarnya. Melihat suasana diluar Castle, Aletha sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan melihat situasi dibawah.


Dengan cepat ia menegakan kembali kepalanya saat melihat betapa tingginya Castle ini, bahkan ia melihat pelayan di bawah bagaikan semut yg berjalan.


'Uwa! sepertinya Castle ini jauh lebih tinggi dari pada menara Tokyo.'


Aletha menggenggam pagar pembatas balkon dengan sangat kuat, lalu kembali melihat kebawah. Kedua mata birunya yang menyerupai langit membulat dengan sempurna, saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya tepat di bawah sana.


"Lady, hati-hati anda bisa terjatuh.."


Aletha membalikan badannya menatap Fivian yang menatapnya sedikit khawatir.


"Aku bukan anak kecil."


"Oh iya, maaf Lady saya ingin bertanya?"


"Apa?"


"Apakah Lady ingin sarapan diantar ke kamar, atau mau saya sajikan di aula makan?"


Pernyataan yang aneh, mau disajikan dimana saja akan teta--tunggu, bukankah ini bisa jadi kesempatan.


"Lady?"


"Em, aku mau kau sajikan di aula makan saja."


"Baik Lady, kalau begitu anda bisa menunggu sebentar. Saya permisi Lady."


Fivian pergi untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Jangan terlalu buru-buru Fivian, karena aku....."


Aletha kembali melihat kebawah, menatap danau besar tak beriak yang ada di bawah sana.


"....akan melarikan diri dari sini."


Sepertinya danau itu sangat dalam melihat airnya yg tenang, dan jika dia terjun dari atas setidaknya luka yg dia dapat tidak akan fatal.


Sedangkan kalau dia keluar dari pintu pasti akan ada banyak pengawal yg akan berjaga, lagian dia belum tahu seluk-bekuk jalan di Castle.


Bukannya melarikan diri dia malah akan tergankap lagi. Wajah Aletha sedikit lesu jika sudah memikirkan bila nanti dia malah bertemu dengan Welliam.


Aletha naik dan berdiri diatas pagar balkon, membiarkan angin menerpanya membuat gaun merahnya berkibar dengan penuh pesona.


"Pertama aku haru pergi dari sini sebe----"


“Apa yang kau lakukan disitu?!”


Aletha menoleh dengan gusar, suara baritone itu terdengar sangat mengejutkan hati. Ini gawat sosok yang paling ingin dia hindari malah datang diwaktu yang tidak tepat!


'Alihkan dulu perhatiannya, jangan sampai dia mendatangiku duluan.'


“Me-menurutmu?”


“Jangan coba-coba kau berani melakukannya!”


Aletha menggenggam kuat gaun merahnya sembari sesekali melirik kebawah sana, meyakinkan lagi aksi nekad gilanya itu. Lalu kembali menatap Welliam yang sudah terlihat marah.


“Aku bukan milikmu, Welliam.”


“ALETHA!!”


BYUURRRR......


.


.


.


"Jika itu sudah menjadi keputusannmu, tapi semua ini bukan salahmu. Jangan pergi.. Kembali lah, Aletha."


Tcring!!


Aletha membuka matanya, sepertinya dia berhasil selamat melihat dia masih sadar ditengah-tengah gelapnya air danau.


Aletha melihat liontin kalung Crystal nya yang bercahaya biru, mencoba melindungi Aletha dari terjaman arus danau yg mengamuk liar dan beberapa tanaman pembunuh yang hidup dibawah air.


Meski terlihat aman tapi sepertinya danau ini dibuat bukan hanya sekedar untuk menjadi pajangan di taman, tapi digunakan Iblis itu untuk menyiksa seseorang.


Tidak bisa, Aletha harus segera berenang ke permukaan karena saat ini Aletha merasakan sesak nafas yang sangat menekan jiwanya.


Byiarrrr.....


"Huwa..., uhuk! Uhuk!"


Aletha berhasil menggapai tepi danau, ia benar-benar lelah danau ini begitu mengerikan, persis seperti Tuan nya.


Dengan sedikit mengatur nafasnya yang sangat terburu-buru, Aletha melihat keatas menatap Welliam yang melihatnya dengan sangat murka.


Dia tidak boleh berhenti sampai disini saja, memangnya kenapa dengan Welliam? Apa dia bisa bebas mengatur hidupnya!


Dengan berani, Aletha angkat gaun merahnya yang sangat panjang, lalu berlari sedikit tertatih. Mengingat posisi jatuhnya yang sangat ceroboh, membuat telapak tangan dan pergelangan kaki terluka.


Ingin rasanya Aletha merobek bawah gaunnya yang sangat mengganggunya untuk berlari, tapi sudah tidak ada waktu lagi.


Aletha tidak mengerti kenapa harus dia yang menjadi Mate dari Iblis kejam sepertinya, dengan perasaan was-was Aletha sesekali melihat kebelakang lalu menghadap kedepan lagi.


Hup!


"Aletha!!"


"Lepaskan aku Welliam!"


"Sampai aku mati, aku tidak akan pernah melepaskanmu!"


Para pelayan dan seluruh penjaga melihat aksi yang cukup menghebohkan Castle. Mereka tidak percaya Tuan mereka, Pangeran Welliam begitu obsesi kepada perempuan asing yang memang mereka akui sangat cantik.


Beberpara dari mereka mulai berbicara ria dengan kedua pasangan yang tak sependapat itu.


Merasakan sesuatu hal yang paling di benci Welliam terdengar dengan sangat jelas, membuatnya menatap tajam menunjukan mata Demon nya yang begitu berkilat merah.


Membuat seluruh pelayan dan penjaga bergidik ngeri, mengingat Pangeran menyuruh membunuh pelayan yg bergosip beberapa saat yang lalu.


"Apa yang kalian lihat? Pergi!!"


Mereka semua pergi dengan perasaan takut, sepertinya sang Pangeran Demon sedang dalam kondisi buruk. Welliam kembali melihat Aletha dengan tajam, membuat Aletha sedikit menunduk.


Lalu kembali melihat Welliam saat terdengar suara aneh, Aletha melihat sepasang sayap hitam pekat dengan warna emas buram, terbuka dengan sangat merkah di pundak Welliam. Jadi ini wujudnya sebagai Iblis?


Sayap itu terangkat lalu mengepak dengan hentakan kuat membuat desiran angin yang mampu merobohkan beberapa hiasan dan patung yang ada ditaman, apalagi sampai meretakan tanah pada pijakan Welliam tadi.


Aletha yang sudah berada di dekapan Welliam hanya bisa menatap kesal, jika sudah tertangkap. Aletha yakin, akan susah baginya untuk mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.


'Kenapa Welliam terbang melewati Castle nya, dia ingin membawaku kemana?'


--.o🍁o.--