The Queen of Different World

The Queen of Different World
Eating Together



*Lucifer Kingdom.


Aletha turun dari kereta kuda, ia menyambut uluran tangan dari Welliam. Membantunya untuk melangkah turun, agar tidak terjatuh.


Para pelayan dan penjaga yang ada di pintu masuk Kerajaan, begitu sangat ramai. Mereka berbisik ria, membicarakan betapa serasinya pasangan muda mudi ini. Tidak heran jika yang mulia Welliam selalu menutupi Matenya di Castle nya. Karena harus mereka akui bahwa Lady Aletha tidak kalah cantiknya dengan Putri dan sang Ratu.


Meski mereka pernah melihat Lady Aletha sebelumnya, tapi kali ini aura yang terlihat darinya begitu sangat berkarisma, bahkan sampai menunjukan senyum menawannya.


Karena saat Aletha datang ke Kerajaan, untuk menghadiri undangan Ratu. Yang terlihat darinya hanya tatapan wajah dingin penuh wibawa, membuat para pelayan sedikit enggan menatapnya.


"Apa ada yang aneh denganku?"


"Hm?"


"Em, hanya saja aku merasa mereka terus memandangiku, atau karena warna rambutku ini aneh?"


Welliam melirik barisan hingga kumpulan para pelayan adam dan hawa, disetiap sudut lorong Kerajaan.


"Tidak, warnanya sangat indah. Jika kau mau, aku bisa membutakan mata mereka?"


"Apa! Kau terlalu berlebihan. Kau cukup membubarkan mereka saja."


Welliam melirik tajam kearah kumpulan pelayan "Apa yang kalian lihat? Kembali bekerja!"


"Ba-baik, Yang Mulia."


Seluruh pelayan yang ada disana mulai kembali melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda. Welliam meraih tangan Aletha, lalu kembali berjalan sembari menggenggam tangan mungil Matenya.


"Lepaskan, aku tidak mau jadi pusat perhatian lagi."


"Kenapa kau masih saja malu, bukankah ini normal?"


"Ha? Apa kau bodoh, berpegangan tangan seperti ini jauh dari kata normal. Cepat lepaskan."


"Tidak mau."


"Wel--"


"Ayayaya!!"


Lucy melepaskan pegangan tangan Welliam dari Aletha, saat ini dia berdiri tepat ditengah-tengah mereka. Sedangkan Welliam berdecak kesal, dia lupa kalau sejak tadi adiknya ini sudah mengekori mereka.


Bukan mengekori, lebih tepatnya mereka memang pergi bersama, karena satu tujuan. Tetapi Welliam tidak perduli dengan kehadiran sang Adik, karena dia lebih memperhatikan Aletha.


"Kali ini apa yang kau lakukan, Lucy?"


"Tentu saja melepaskan tangan Kakak dari Kak Aletha."


"Aku juga tahu, tapi kenapa kau melakukan itu, hah?"


"Dilarang!"


"Apanya yang dilarang?"


"Aku melarang kalian bermesraan di tempat terbuka, terutama dihadapan ku!"


Welliam tersenyum smrik "Memangnya kau berhak membuat peraturan seperti itu?"


"Tentu saja berhak, lagi pula jika mau menunjukan kemesraan kalian carilah tempat pribadi sendiri yang sangat sepi."


"Disini sudah sepi kok."


"Ha? Kakak lupa disini masih ada aku!"


"Lupa, malah aku berharap kau memang tidak ada disini, mengganggu saja."


"Kakak!!"


"Cih, berisik sekali kau ini. Jika memang tidak suka melihatnya, kenapa kau saja yang tidak mengalah pergi!"


"Tidak mau, aku khawatir dengan Kak Aletha."


"Apa yang kau khawatirkan, dia bersamaku."


"Justru karena bersama Kakak, aku jadi khawatir."


"Memangnya kenapa denganku?!"


"Karena Kakak seorang Iblis."


"Kau juga seorang Iblis, apa sekarang kau sudah mulai bodoh, Lucy?!"


"Setidaknya aku bukan Iblis licik seperti Kakak, huh!"


"Lalu kau itu Iblis apa?"


"Aku jenis Iblis murah hati dan yang paling terpenting, cantik." Lucy tersenyum sarkastik sembari mengibaskan rambutnya.


"Menjijikan!"


"Aa! Pokoknya menjauh lah dari Kakak Ipar tersayangku!"


"Yang menjadi Matenya, kau apa aku!"


"Tentu saja Kakak."


"Kau sudah tahu, kenapa kau tidak memahami situasi."


"Akan sangat parah jika kalian dibiarkan berduaan saja." Dengan percaya diri, Lucy menatap Welliam seolah tengah menantang.


Ingin rasanya Welliam menutup mulut cerewet adiknya itu, kenapa sejak kecil dia selalu menyebalkan sih! Lirih Welliam.


Sebenarnya Lucy hanya ingin menggoda kakaknya ini sedikit, tapi malah jadi berdebat. Ia tidak menyangka Aletha langsung berubah sifat dihadapan kakaknya, bukankah dia selalu bilang tidak menyukai kakaknya. Sepertinya, ada sesuatu hal yang terjadi diantara mereka.


Ah, kepalaku pusing ..


Aletha benar-benar sudah sangat kesal, sejak tadi dia sudah pusing bagaimana menghadapi Lord Fedrick, tapi mereka malah menambah beban pikiran saja.


Apa mereka memang selalu seperti ini, sungguh kekanak-kanakan-_-


"Tidak bisakah kalian diam?"


Welliam menghela nafas dengan kasar lalu membenarkan Jass bangsawannya. Sedangkan Lucy diam menatap ragu kearah Aletha, sepertinya Aletha benar-benar kesal.


"Maaf.."


"Kau memang harus meminta maaf."


Lucy melirik tajam kearah Welliam, Aletha menghela nafas lalu kembali berjalan, di ikuti Welliam dan Lucy.


.


.


Pintu ruang makan utama, Kerajaan Lucifer tebuka dengan lebar. Beberapa pelayan berbaris rapih disisi kanan dan kiri, membungkuk memberi hormat kepada Welliam, Lucy, dan Aletha.


Tak jauh dihadapan mereka, berdiri Lezzy dan Fedrick yang ikut hadir menyambut kedatangan mereka. Welliam dan Lucy memberi hormat kepada kedua orangtua mereka. Fedrick menatap Aletha yang berdiri dibelakang kedua anaknya.


Merasa dipandangi, Aletha berjalan maju lalu mengangkat sedikit gaunnya dan membungkuk.


"Saya memberi hormat kepada, Yang Mulia Ratu Alicia dan Yang Mulia Lord."


"Terimakasih telah datang, berdiri lah." Ucap Fedrick.


Aletha kembali berdiri namun ia menundukan kepalanya, karena ia masih belum berani menatap sang Lord.


Lezzy tersenyum, hari ini Aletha terlihat sangat berbeda. Sepertinya ia mulai memahami apa yang kurang di dalam dirinya, Lezzy juga tidak terlalu terkejut dengan warna rambut itu mengingat ia telah tahu semunya, meski ia masih bertanya-tanya siapa sosok sebenarnya dari calon menantunya dan kenapa selama ini dia bersembunyi.


Fedrick mengajak mereka untuk memulai makan bersama. Posisi makan telah diatur, Fedrick duduk paling depan. Lezzy dan Lucy duduk di sebelah kanan Fedrick dan Welliam, Aletha duduk di sebelah kiri Fedrick.


Meja makan berukuran sangat panjang dengan dikelilingi 40 kursi. Namun, mereka hanya menggunakan sedikit dari bagian meja itu. Aletha juga bingung, kenapa juga dibuat sebanyak ini jika yang makan tak lebih dari lima orang.


Suasana makan bersama begitu sangat canggung untuk Aletha, terlebih rasanya menyesakkan saat dirasa sang Lord masih terus-terusan memandanginya.


Apa aku sudah ketawan?


Aletha menghentikan makannya "Maaf Yang Mulia, apakah ada yang ingin anda katakan kepada saya?"


"Aku hanya ingin tahu kehidupanmu di Bumi?"


"Jawab Yang Mulia, Nama saya Aletha Wisteria. Tidak ada yang spesial dari kehidupan saya. Saya hanya gadis yatim piatu, berusia 20 tahun."


"Bagaimana kehidupanmu selama ini?"


"Saya mengelola beberapa usaha, sebagai kebutuhan hidup dan pekerjaan."


"Kau membuka usaha?" Lezzy mulai angkat bicara.


"Benar Ratu, sebenarnya itu adalah usaha turun temurun."


"Boleh kutahu apa namanya?"


"Itu hanya perusahaan kecil, Yang Mulia. Nama perusahaan kami Wisteria Group."


"Ibunda, memangnya kenapa dengan Wisteria Group? Dan juga apa itu perusahaan?"


"Lucy, perusahaan semacam sistem usaha bersekala besar. Dan Wisteria Group adalah Perusahaan terbesar nomor 2 di manca Negara, yang ada di Bumi."


"Jadi Kak Aletha adalah orang yang sangat terpandang, di dunia Manusia?"


"Semacam itulah. Mungkin jika disini kedudukannya hampir sama dengan bangsawan Duke, atau bahkan bisa setara dengan Raja."


"Apakah itu benar?" Tanya Lucy dengan berseri-seri.


"Benar, tapi tidak sampai bersekala seorang Raja,Yang Mulia. Rasanya terlalu berlebihan. Tapi memang keluarga kami sangat dihormati, karena sistem saham yang kami tanam dan kerja sama dengan berbagai pihak Negara."


"Jadi itu yang kau sebut dengan tidak spesial?" Sindir Fedrick, sedangkan Aletha hanya tersenyum canggung.


Kenapa pembahasannya berubah menjadi kehidupanku sih. Tapi, ini lebih baik dari pada membahas aksi menyelinapku ke Lorddark's Zone


"Kalau tidak salah, Yang Mulia Ratu pernah bilang berasal dari Bumi juga. Maaf, apakah saya boleh tahu anda berasal dari Negara mana?"


Lezzy tersenyum "Dulu aku tinggal di Australia, aku bukan berasal dari keluarga terpandang sepertimu. Kalau tidak salah kau juga mendirikan beberapa cabang perusahaanmu, di Australia?"


"Benar Yang Mulia, saya membuka bebebrapa Cafe, Restaurant dan Rumah Sakit."


"Apa kau ingat dengan Cafe Coffee Late, Aletha?"


Aletha meraih minuman disebelah piring makannya "Cafe Coffee Late? Sepertinya itu salah satu cabang dari perusahaan Wisteria."


"Kau benar, dulu aku pernah berkerja disana.."


"Uhuk..uhuk..uhuk!"


Aletha tersedak minumannya sendiri, ia benar-benar sangat terkejut dengan perkataan Ratu besar Darkness World.


"Ya-yang Mulia, pernah bekerja di Cafe itu?"


Lezzy tersenyum sebagai jawaban. Oh tidak, bagaimana ini bisa kebetulan terjadi. Lagi pula Aletha benar-benar tidak tahu mengenai itu, dia hanya seorang diri untuk mengurusi perusahaannya yang begitu besar.


Jadi Aletha tidak bisa melihat secara langsung semua cabang Wisteria, yang tersebar diseluruh Negara.


"Kau jadikan Ibuku sebagai pelayanmu, Aletha?"


"Tidak, itu..aku tidak tahu apa pun, sungguh." Aletha mencoba meyakinkan Welliam.


"Tenang lah, itu sudah sangat lama. Aku bekerja disana saat masih bersekolah dan berkuliah, kau juga pasti tidak tahu mengenai ini. Karena Boss yang mengelola Cafe itu mungkin sekarang telah bergenarasi ke orang lain."


"Benar, saya sungguh tidak tahu apa pun mengenai itu, Yang Mulia Ratu."


"Iya tidak masalah."


Mendengar itu, Aletha kembali melanjutkan memakan makanannya.


"Ah, tapi setelah aku lulus Kuliah. Aku menjadi seorang Dokter, dan bekerja juga di Rumah Sakit yang di dirikan oleh Wisteria Group di Australia, Sydney."


Trang!


Aletha menjatuhkan garpu ditangannya, sembari menatap Lezzy seperti pencuri yang tertangkap basah. Bibirnya bergetar, dan rasanya untuk bersuara saja itu terasa berat untuk Aletha.


"Pertama kau jadikan Ratu besar sebagai pelayan lalu kau ubah pangkatnya menjadi Dokter."


"Tidak kau salah paham, Welliam.."


"Secara tidak langsung, Kak Aletha telah melakukan kesalahan besar, dengan memperkerjakan Ibunda."


"Lucy itu, ak--"


"Sungguh menantu yang tidak terduga."


Sial!!


Bagai disambar petir dipagi hari, Aletha mendapatkan serangan secara bertubi-tubi dari keluarga Demon ini.


Rasanya malu dan bahkan ingin menangis, Aletha sungguh tidak tahu apa pun mengenai itu. Lagiankan kejadiannya sudah sangat lama, masa masih dipikirkan sih! Kalau tahu bakal jadi begini, harusnya dia tidak mendirikan beberapa cabang di Australia.


"Ahahahaha...., maaf membuatmu terkejut seperti itu. Kau tidak perlu merasa bersalah, sepertinya candaanku membuatmu gugup ya? Meski semuanya benar tapi kau memang tidak mengetahui ini. Itu terjadi 524 tahun yang lalu, aku juga sudah tidak terlalu ingat. Jadi jangan dipikirkan, Aletha."


Bagaimana aku bisa melupakannya, kalau hal itu menyangkut masalahmu yang akan menjadi mertuaku. Oh! Rasanya aku benar-benar ingin mati saja (╥ω╥`).


"Jangan dipikirkan, aku hanya ikut menggodamu saja." Welliam menepuk pelan bahu Aletha, sembari tersenyum.


"Diamlah, aku sedang tidak ingin mendengar hiburanmu-_-"


Lezzy benar-benar sangat menyukai situasi ini, meski ini juga diluar dugaannya. Tapi rasanya dia sangat bahagia dengan kehadiran Aletha yang akan memasuki anggota keluarganya juga.


Fedrick yang melihat keluarga kecilnya bisa saling bercanda ria seperti ini, begitu menenangkan. Semenjak Welliam memutuskan untuk memisahkan diri, mereka jarang punya waktu bersama seperti ini.


Dikarenakan beberapa situasi yang kurang menjamin waktu untuk berkumpul, dan juga saat ini Welliam sudah menggantikan posisinya sebagai Lord. Tentu dia yang paling sibuk.


Awalnya ia memanggil Aletha karena rasa penasarannya, dan juga ia ingin melihat sendiri seperti apa pasangan Mate dari Putranya ini. Tanpa di duga dia memiliki sifat yang tidak jauh beda dengan Istrinya.


"Ini tidak adil -,-"


Lucy terlihat cemberut sembari memainkan makanannya. Mereka yang melihat Lucy begitu terlihat bingung, tidak biasanya Putri kebanggaan bangsa Demon ini terlihat murung.


"Ada apa sayang?" Tanya Lezzy kepada Putrinya.


"Lucy merasa ini tidak adil. Kalian semua tahu bagaimana dunia Manusia, Ayah sudah biasa pergi kesana, Kak Welliam beberapa kali juga sudah pernah ke Bumi, sedangkan Ibunda dan Kak Aletha memang berasal dari sana. Hanya Lucy yang belum pernah sekali pun pergi ke dunia Manusia, sepertinya itu tempat yang menyenangkan. Lucy juga tidak bisa mengikuti pembicaraan karena buta dengan dunia Manusia." Lirih Lucy seraya merajuk.


Kalau diingat-ingat, Lucy memang lebih sering menghabiskan waktunya di Kerajaan saja.


Untuk sekedar keluar Kerajaan itu juga bukan hal yang mudah, karena Fedrick dan Welliam terlalu protectif terhadap Lucy. Lezzy juga tidak bisa angkat bicara, karena ia takut kejadian saat dia masih kecil terulang.


Lucy pernah di beri waktu bebas, dan yang terjadi dia terlalu ceroboh untuk memanjat pohon sendirian dan hampir terjatuh, jika saja Welliam tidak datang dengan cepat mungkin akan terjadi sesuatu hal yang sangat fatal. Itu sebabnya Lezzy juga sedikit melarang Lucy pergi sendirian, tanpa seizinnya.


"Ibunda, apa Lucy juga boleh pergi ke Bumi?"


"TIDAK BOLEH!" Ucap Fedrick dan Welliam secara bersamaan.


"Dunia Manusia itu sangat berbahaya, Ayah tidak akan mengizinkanmu pergi ketempat makhkuk tamak seperti mereka!"


"Kau juga masih terlalu kecil untuk bisa melindungi dirimu sendiri, bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu? Atau bah--"


"Aa!! Kenapa kalian begitu mengekangku sih? Lucy bukan anak kecil yang harus di jaga terus-terusan, terlebih aku juga bisa menjaga diri. Memang apa yang membuat Bumi itu berbahaya?!"


"Kau tidak tahu, mereka itu makhluk paling berbahaya dan penuh dengan keserakahan."


"Bukan hanya itu saja Ayah, yang paling terpenting adalah..."


"Adalah?" Lucy mulai penasaran dengan ucapan Kakak dan Ayahnya.


"Semua laki-laki di dunia manusia itu breng**k. Mereka suka sekali mempermainkan perempuan!"


"Ayah benar, kami tidak bisa membiarkanmu bersama mereka."


"Hah?"


Lezzy melirik bosan, sudah berapa kali harus dikatakan. Memang ada laki-laki yang perti itu, tapi tidak semua laki-laki di Bumi itu jahat. Pasti itu hanya alasan mereka agar tidak mau membiarkan Lucy dekat-dekat dengan Manusia saja.


"Bahkan wanita di Bumi juga begitu sangat licik."


"Mereka juga terlalu rendah untuk bisa dihormati."


Lezzy dan Aletha merasa sedikit tersinggung, mengingat mereka juga berkaitan dengan Bumi.


"Fedrick, apa Istrimu ini juga termasuk wanita licik?"


"Apa aku terlihat seperti wanita rendahan, Welliam?"


Glup!


Sial, mereka lupa kalau Mate yang ditakdirkan untuk mereka berasal dari dunia Manusia. Apa ini yang dinamakan ucapan bisa berbalik menusuk.


"Kau salah paham Lezzy.., aku--"


"Menjauhlah dariku!"


"Aletha, aku tidak bermaksud me--"


"Diamlah!"


Lucy tertawa kecil, sepertinya ia akan mendapatkan pertunjukan yang menarik setiap harinya. Lucy menghela nafas, seandainya dia juga bisa mendapatkan Mate dari dunia Manusia, apakah dia juga bisa merasakan kebahagiaan ini? Mengingat sikap Matenya terhadapnya begitu bertolak belakang.


"Aku sudah selesai, terimakasih untuk hidangannya. Apa nanti malam akan ada makan bersama juga?" Ujar Lucy seraya berdiri.


Namun, saat Lucy hendak berdiri dia tidak sengaja menyenggol tangkul buah, membuat bebrapa buah apel dan pear jatuh menggelinding kebawah lantai.


Aletha yang melihat buah apel jatuh tak jauh darinya, berdiri mencoba meraih dan berniat meletakan kembali ke wadahnya.


"Aletha!"


--.o🍁o.--