
⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ꕤ꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷.🍁.꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷ ͝͝ ꒷ ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ꕤ
Cinta adalah serangkaian dari egoisme yang memberikan ujian secara alami.
[ George Meredith ]
──────────── · · · · · ✦
.
"Benar, darah biru bangsawan tidak boleh mati sia-sia. Bahkan saya yakin, jika ada Dewa perang. Dewa itu tidak akan merestui pera----"
"Sayangnya, Dewa itu telah merestui perang ini!"
Semua orang yang ada diruang rapat itu, menoleh kebelakang. Menatap Aletha yang saat ini berdiri dilantai dua dari pintu masuk, dengan Fivian berdiri dibelakangnya.
"Jika kalian takut mati, kalian boleh mundur dari sekarang."
Aletha berjalan menuruni anak tangga dengan sangat anggun, apalagi tatapannya memancarkan khas seorang pemimpin tinggi.
Hari ini juga dia terlihat berbeda. Karismanya sebagai seorang wanita pemimpin kedua, ditanah Darkness World ini begitu sangat terlihat. Mungkin karena dia telah membuka kembali kekuatan manna yang sempat ia belenggu dikalungnya.
Jadinya, sosoknya sebagai polemou terlihat lebih jelas. Untungnya hari ini dia tidak menggunakan gaun dress yang merepotkan. Hanya setelan jass formal biru dongker panjang selutut, berukir rajutan indah dari sutra perak. Serta celana panjang press body berwarna hitam.
Aletha sungguh terlihat berwibawa, ia seperti letnan pasukan inti kesatria militer kerajaan. Begitu sebaliknya untuk Fivian, dia juga memakai seragam bertugasnya.
Melihat kehadiran Ratu Agung, seluruh bangsawan berdiri lalu membungkuk hormat.
"Salam kejayaan untuk anda, Yang Mulia Queen Althenia. Semoga Rembulanmu selalu memberikan keadilan, untuk dunia ini."
"Apa yang membuatmu datang kemari, Ratuku?"
"Aku penasaran dengan suara berisik yang mengganggu waktu istirahatku, Paduka Lord."
"Aku minta maaf, jika mulut mereka sangat berisik."
Aletha mengambil andil kursi dimeja Dewan. Mengisi kursi kosong disebalah Welliam, setelah Styvn berpindah tempat keposisi disebelahnya. Sedangkan Fivian berdiri disebelah Loise.
"Kukira masalah ini sudah memasuki pembahasan strategi, tapi ternyata masih saling berdebat?" Aletha melihat Welliam.
"Aku juga lelah mendengar ocehan mereka. Atau, kau mau mengatasi mereka? Jika aku kehilangan kesabaran bisa-bisa aku membunuh mereka lebih dulu sebelum turun kemedan perang."
"Kalau begitu, biar aku yang menganani ini."
Aletha membuka lembaran dokumen yang telah tersedia dihadapannya. Ia membaca, merangkum kata yang menurutnya menjadi poin penting dari hasil laporan.
"Baiklah, aku hanya ingin mendengar satu dari perwakilan bangsawan yang ada disini. Katakan keluhanmu mengenai perang ini?"
Semua terlihat berbisik, mencoba memilih siapa yang bisa menjadi wakil bicara mereka, agar pihak kerajaan mau menunda perang ini.
Hingga salah satu dari mereka berdiri memberi hormat, "Salam untuk anda, Queen Althenia. Saya Marquess Robertto, dari wilayah Mirach. Saya mengajukan keberatan atas keputusan anda, untuk berperang dengan Carlitos."
"Alasannya?"
"Yang Mulia, perang ini akan sangat berdampak buruk untuk kita. Terlebih pemasukan pangan balai tentara akan sedikit, persiapan tempur dan strategi akan kurang efesien. Apa anda yakin ingin melanjutkan perang."
"Ya! Dan harus dilakukan."
"Tapi Yang Mulia, apa anda tidak memikirkan dampak ruginya?"
"Marquess Robertto, adakah perang yang tidak membawa kerugian? Pihak lawan atau sekutu, mereka pasti akan mendapatkan kerugian besar dari sebuah perang. Menang atau kalah, itu sudah menajadi cacatan sejarah dunia peperangan. Harusnya yang kau tanyakan adalah apakah perang ini bisa membahagiakan rakyat yang terus teraniaya oleh Carlitos? Apakah perang ini adil untuk kita? Apakah perang ini dapat menjadi penentu kebebasan dunia Darkness World?"
"Kalau begitu, kami ingin mendengar jawaban dari pertanyaanmu, Queen?!"
Aletha bersandar pada kursinya, sembari melipat kedua tangannya. "Perang ini akan menjadi jalan terakhir untuk menuju kemenangan kita. Mau tidak mau, kita harus tetap melawan mereka hingga ketitik darah penghabisan! Karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Kenapa kalian setakut ini? Prang ini adalah jawaban untuk kalian yang selalu membual mengenai Carlitos!"
"Tapi Yang Mulia, apa anda pernah merasakan yang namanya berperang? Kami memang pernah mendengar anda handal berpedang. Tapi medan perang bukan tempat latih tanding biasa saja, hamba yakin anda masih belum paham dengan situasi perang yang sebenarnya." Sambung King Derlice, dari bangsa Witch.
Mendengar ucapan King Derlice, Aletha tertawa ditengah keseriusan pada rapat Dewan ini. Fedrick yang sejak tadi menjadi penonton, menikmati kerusuhan rapat yang dibangun oleh menantunya. Ini hebat, Fedrick suka saat melihat bangsawan manja itu terus terpijok.
Sudah dua hari mereka membuka rapat, tapi hasilnya selalu dengan penolakan keras dari mereka. Welliam dan Fedrick bisa saja menangani, tapi mereka takut tidak bisa mengendalikan diri dan malah mengjabisi mereka.
Karena bangsawan itu masih berguna dalam memanagement urusan Negara di wilayah mereka, sehingga mereka harus menahan diri agar tidak menghabisi darah bangsawan lainnya.
"Maaf, aku hanya merasa pertannyaanmu itu lucu. King Derlice, kau orang pertama yang mengajukan pertannyaan seperti itu, bahkan Dewa Alam pun tidak ada yang berani menannyakan hal yang sudah pasti seperti itu, kepadaku."
"Ma-maksud anda, Yang Mulia?"
Aletha berdiri, " Jangan khawatir, Ratumu ini tidak akan berdiam diri saja. Aku, sebagai Queen Althenia akan turun langsung kemedan perang ini! Bila kalian takut, kalian boleh tetap dirumah!"
Semua Dewan mulai kembaki heboh mendengar pernyataan Aletha. Perlahan mereka sedikit menjinak, seprtinya dia bukan Ratu penuh kelembutan. Dia sosok yang begitu tegas.
Aletha melirik Welliam untuk menyelesaikan sisanya. Ia meraih tumpukan laporan pengajuan keluhan yang tadi sempat ia baca, lalu melemparnya sedikit ketengah meja denganangat keras.
Membuat para Dewan bangsawan, diam kalut melihat Welliam dalam kondisi siaga bahaya.
"Berhenti bermanjanya, aku menolak semua keluhan kalian. Pertama, kita tidak akan mengambil pajak dari uang pertanian dan perdagangan. Tapi aku ingin para bangsawan yang harus membayar pajak setengah dari harta kalian. Kedua, perang ini tetap diberlangsungkan. Ketiga, masing-masing Kerajaan ras dan bangsa mengirimkan sedikitnya 50.000 pasukan kalian. Jangan khawatir, itu masih jumlah yang sedikit bila dibandingkan dengan pasukan kesatria militer Licifer Kingdom."
"Paduka, kenapa kami harus menyuplai pajak lima kakilipat dari rakyat memengah?"
"Bahkan rakyat tidak dipungut biaya? Lalu bila kita kerahkan pasukan kemedan perang. Bagaimana jika Darkness World diserang diam-diam?"
Lagi-lagi mereka membual, Aletha benar-benar sudah pada puncak kesabarannya. Ternyata, kaum kegelapan ini jauh lebih banyak menentang. Padahal bisa saja nyawa mereka hilang didetik berikutnya.
Apa mereka tidak bisa membaca situasi saat ini. Apa mereka lupa seberapa kuatnya penguasa di Darkness World ini?
"Berisik!"
Tiba tiba saja suasana menjadi hening, teoat saat Alwtha menyiarkan oendapatnya mengenai mereka dengan angat dingin.
Yah, inilah mode dark Aletha sebagai seorang Polemou, yang tidak suka penolakan di dalam strategi peperangannya. Aletha mengambil alih bicara, Welliam pun segera duduk saat mendapat isyarat dari istrinya.
"Tadinya aku tidak ingin bilang ini, tapi sepertinya kalian juga perlu tahu ngenai keberadaan mereka, dan seberapa kuatnya musuh. Musuh kita adalah bangsa Dewa yang mencoba menundukan Darkness World, tanah Agra dulu jauh sebelum kekaisaran ini berdiri. Leluhur kalian, selalu berperang ditanah suci itu. Sebagai tempat keadilan dalam berperang."
Aletha melempar sebuah persegi rubik berwarna coklat moca, ketengah meja bundar ini. Lalu perlahan, rubik itu mulai bergerak menjadi potongan lego yang menampilkan sihir hologram 3D diatas meja.
"Tadi aku dengar, kalian belum melihat bentuk tanah Agra seperti apa. Iniliha Agra yang akan menjadi medan perang kita. Aku tahu, selama ini kalian pernah mendengar kisa legenda mengenai dunia para Dewa dan beberapa tempat legenda sebagi tanah peperangan. Aku ingin myakinkan kalian, bahwa sebenarnya semua cerita dizaman dahulu adalah kebenaran. Maksudnya, sudah waktunya bagi kita mengembalikan kondisi yang semestinya untuk kedua dunia ini."
Ini sungguh diluar dugaan, ternyata Carlitos memiliki orang dalam yang sangat kuat. Terlebih, mereka bilang para Dewa akan terlibat. bukan kah ini bakan menjadi perang besar yang tercatat di dalam sejarah kekaisaran?
"Kita sudah tidak punya banyak waktu bila ingin menunda kondisi ini, apa kalian ingin Carlitos terus merajalela? Apa kalian ingin diperbudak oleh mereka yang menyalah gunakan posisi Dewanya? Jika kalian khawatir dengan Darkness World. Aku berani menajamin tanah ini tidaka akan bisa mereka sentuh ataupun mengalami kerusakan, bila separuh dari tentara harus berada dimedan perang. Jika kalian masih ragu, atas nama Wisteria, aku akan bertaruh kepalaku sendiri untuk keamanan dunia ini."
"Aku juga akan mempertaruhkan nyawa dan status Lordku. Bila kita kalah dimedan perang ini, disaat itu semua akan berakhir untuk kita. Aku tahu kekhawatiran kalian, tapi kita juga prlu menunjukan siapa kita dimata para Dewa. Terlebih, Katastrofi masih hidup. Identitasnya adalah Otheo tis Katastrofi, dia adalah Dewa pembawa bencana. Dan untuk Great Lady adalah Dewi Timorias dia, Dewi paling berbahaya! Dia pemimpim dari gerakan pemberontak ini."
"Semua yang terjadi kepada mendiang Lord Ardsekar hingga kematian para Ratu terdahulu, semua adalah rencana Katstrofi dan Great Lady. Intinya, sejak dulu musuh kita memang berkaitan dengan Imorrtal, dunia para Dewa. Tapi kalian harus tahu, tidak semua para Dewa adalah musuh. Tapi Katastrofi dan Great Lady lah, faktor masalahnya. Mereka yang paling ingin memperbudak kita lalu mereka ingin menggunakan kita untuk menghancurkan Imorrtal, sehingga kita akan dipandang pembaikot dimata para Dewa." Ucap Fedrick ikut menambahkan kejelasan dari sebuah rahasia yang ia tutupi mengenai Carlitos.
Welliam, berdiri disebelah Aletha. Dia menatap sang kekasih untuk menanyakan keputusan yang sudah mereka bahas selama di kediamannya. Aletha mengangguk, tidak perlu ditututpi. Dunia harus tahu kebenaran yang sebenarnya.
"Dan aku ingin mengatakan kepada kalian. Identitas yang sebebarnya dari Istriku, Queen Althenia Of Justice, bukan seorang Manusia. Tapi dia berasal dari Imorrtal, dunia para Dewa."
"Apa?!"
Semua yang mendengar ucapan Welliam benar-benar terkejut. Bahkan Fivian saja baru tahu, kalau Lady yang dia layani sejak dia datang adalah seorang Dewi. Memang hal ini, baru anggota keluarga kerajaan saja yang tahu.
"Ka-kalau begitu, apa anda juga seoirang Dewi, Yang Mulia?"
"Benar. Aku Aletha tis Polenou Wisteria, seorang Thea tou Polemou."
"Thea tou polemou?" Tiba-tiba saja Alberd dan Alpha bangsa Warewolf, Jecobs. Berdiri mendengar gekar Dewi Aletha.
"Anda sungguh seorang Dewi Thea tou Polemou, yang menyelamatkan leluhur bangsa kami. Bersama Dewi Selini Thea Crownsiamoer?" Tanya Alberd.
"Jadi, kisah kami masih diceritakan secara turun temurun. Ya, itu adalah aku. Bukankah kalian memberi nama Moon Light Pack, karena rasa terimakasih kepada Dewi Selini?"
"Aku tidak menyangka, itu bukan sebuah cerita fiksi saja. Jadi, selama ini kita memang telah berdampingan dan selalu menerima bantuan dari para Dewa?" Ucap Aloha Jecobs.
"Kenapa? Siapa Thea tou Plemou ini?"
"Mungkin wilayah kalian tidak pernah tahu cerita legenda ini. Tapi, Queen Althenia sebagai Thea tou Plemou adalah gelar Dewi tertinggi di Imorrtal. Ratuku adalah seorang Dewi Perang yang adil, kemenangan sudah berada di hadapan kita. Karena Dewi Perang itu sendiri berpihak kepada kita." Welliam menegaskan sosok Alwtha.
"Kita harus mengembalikan kondisi seperti sedia kala, diamana Imorrtal dan Darkness World harus hidup berdampingan kembali. Queen Alicia juga memiliki keturunan Dewi bahkan beliau adalah putri dari Ratu para Dewa, Dewi Selini Thea. Namun, Great Lady dan beberapa Tetau memecah belah semua itu sehingga kita malah menjadi musuh. Anugrah dari To fos tou fengariou dan to iliako fos adalah bentuk perlindungan dari Dewi Selini Thea, itu sebabnya perang ini akan menentukan kehidupan dan kedamaian antar dua dunia ini."
Para bangsawan saling berdiskusi. Tidak lama, mereka memahami kondisi, dan mulai tenang. "Jika cerita legenda dizaman dulu itu benar. Kita harus mengembalikan situasi kekacauan agar bisa berdamai, mereka berusaha mengendalikan kita bahkan memprofokasi bangsa Darkness Wod untuk memberontak!"
"Beraninya mereka! Ada banyak nyawa yang melayang akibat tindakan kriminal mereka. Yang Mulia kita harus segera mengakhiri ini, Darkness World tidak lemah. Kita punya otoritas kita sendiri untuk tetap hidul dan bertahan, saya mendukung perang ini.
"Maaf atas ucapan bodoh kami, Yang Mulia. Kami akan berusaha sekeras mungkin untuk kedamaian dunia ini."
Satu demi satu akhirnya para bangsawan setuju dan mulai mendukung. Mereka juga tidak bisa membiarkan oara musuh memandang rendah diri mereka!
Terutama 524 tahun yang lalu, Katastrofi membuat kekacauan besar sehingga selumbung dendam menguatkan tekad untuk segera mengakhiri masa kejayaan para musuh.
Aletha dan Welliam tersenyum lega, mereka saling berpandangan memberi isyarat. Rapat kembali diambil alih oleh Welliam.
"Baiklah, waktunya kita mulai membangun strateginya!"
Semua bersemangat menunggu hasil rapat menegangkan ini.
"Kali ini, musuh akan menggunakan Troll dan Goblin sebagai tentara bantuan digaris depan, tapi mahluk ini akan berbeda dari yang kalian lihat 524 tahun yang lalu. Ratuku menyadari para Troll itu akan sangat kuat karena mereka menanamkan semacam sihir gelap yang begitu berbahaya. Carlitos juga akan ada disana dan juga, sebagian para Dewa yang menjadi bawahannya pun.."
Hologram peta Agra menunjukan ilustrasi menggunakan sihir yang ada diatas meja. Sehingga mereka mampu melihat dengan jelas letak strategis tempat perang ini.
"Aku dan Ratu, telah merancang strategi sesempurna mungkin, yang akan mampu membuat lawan sedikit kewalahan. Bangsa Mirach dan Warewolf akan berada di garis depan sebagai Figther. Digaris tengah akan ada bangsa Elf, yang akanmenjadi kekuatan Archer. Team Mage berada di garis belakang, itu akan diambil posisi Witch untuk menyerang menggunakan sihir dari jarak jauh. Vampire tidak akan diberada dilapangan, karena Agra ini dikelilingi hutan. Aku ingin kalian menjadi Asassin dan mengamati sementara waktu dari hutan, kemungkinan musuh juga akan ada yang bersembunyi dihutan."
"Lalu bagaimana dengan bangsa Merrmaid, Paduka?" Tanya Styvn.
"Mereka akan menjadi suport di bidang Alkemis, kaum mereka dapat memanipulasi air menjadi penyembuh." Lanjut Welliam.
"Aku akan membagi komandan ditiap pasukan. Tetua Alberd dan Alpha Jacobs, akan menjadi komandan 1 dibangsa Wareworlf. Bangsa Vampire, akan dipimpin oleh Tetua Briant dan King Wilson. Elf dipimpin langsung Tetua Styvn. Loise akan mengambil alih pasukan Witch, Ariel dan Auriel akan memandu dibagian Merrmeid sebagai Alkemis. Dan yang terakhir, Fivian akan memimpin pasukan Mirach. Sisanya akan tetap berada di Darkness World, untuk melindungi Kerajaan utama bersama Queen Alicia dan Lord Fedrick. Meski aku menjamin keamanan dunia ini, tapi kalian para bangsawan perlu menenangkan rakyat dan selalu siaga, jangan lupa untuk mengatur keperluan medan perang dibelakng layar. Ada yang keberatan?" Aletha menjelaskan lebih rinci komandan pasukan.
"Kami akan mengikuti kehendak anda, Paduka Lord dan Yang Mulia Queen."
"Tapi, kita juga memerlukan rencana cadangan. Ini masih dalam keterdugaanku, tapi biarkan ini menjadi strategi ke dua."
"Maaf Yang Mulia, maksud anda?" Briant menyuarakan suara penasarannya.
Aletha mengamati lagi, formasi yang telah disusun, lalu kembaki melihat para dewan.
"Jika dimedan perang, kita tidak melihat pasukan dari bangsa Imorrtal ada digaris depan, aku ingin ........................."
Alberd dan Briant saling bertatapan, "Apa menurut Queen ini berhasil?"
"Justru karena aku percaya pada kalian, makanya strategi ini akan berjalan mulus." Ucap Aletha membari memberikan beberapa lembar kertas yang waktu itu sempat dia robek dari buku Carzie.
"Kami akan bekerja keras, untuk kemenangan Darkness World." Ucap Alberd dan Briant berasaan.
"Baiklah, rencana telah tersusun. Kita hanya punya waktu 4 hari, tunjukan kehebatan kita dihadapan musuh. Bahwa kita jauh lebih pintar dan kuat dari mereka, rapat selesai!!"
--"••>.🍁.<••"--