
Art. Cover Novel { 3 }
~>.o0o.<~
Sudah lewat 10 menit, namun tidak terjadi apapun terhadap Aletha setelah Welliam melakukan penandaan Mate. Hanya sebuah Lambang dileher bekas ia menggigit Aletha, namun Aletha tidak juga sadar.
Welliam geram, dia menatap tajam kearah wanita yang memberikan petunjuk kepadanya.
"Dia tidak juga sadar. Apa kau berniat membohongiku?!" Ucap Welliam dengan sangat lantang.
Wanita itu tidak menggubsir emosi Welliam, dia justru duduk disebuah ayunan yang ada di pohon Wisteria.
"Hem.., ini gawat." Ucapnya dengan sangat santai, membuat urat kemarahan Welliam terukir dikeningnya.
Welliam juga tahu bahwa kondisi ini sangat gawat, tapi kenapa harus diucapkan dengan sangat santai seolah itu bukan masalah besar.
"Sepertinya Mimpi itu selalu menghipnotisnya setiap dia tidur, sehingga semakin lama sihirnya merusak pikirannya."
"Maksudmu?"
"Sihir gelap itu semakin menelannya."
"Kalau begitu, tidak adakah cara lain untuk menolongnya?!"
"Dengan kau melakukan penandaan Mate, itu sudah cukup. Selanjutnya tergantung Aletha sendiri. Dia harus melawannya, jika tidak, sampai kapan pun mimpi itu akan menjadi ketakutan terbesarnya."
"Cih!"
Welliam sudah benar-benar khawatir, bagimana jadinya bila dia tidak lagi melihat senyum hangatnya? Mungkin, Welliam tidak akan sanggup melihat langit secerah matanya, atau bahkan dia pun akan enggan milahat rembulan yang bersinar lembut seperti surai rambutnya.
Hal itu bisa menajdi kerinduan yang begitu tersiksa, bila dia tidak lagi melihat Matenya.
Dia menyentuhkan keningnya dengan kening Aletha. Baru kali ini dia merasa kacau, jadi ini yang dinamakan rasa takut kehilangan?
"Aletha, kumohon kembalilah. Aku masih disini untukmu.." Lirih Welliam dalam batin kerinduannya.
Wanita cantik bagaikan seorang Dewi itu tersenyum bahagia. Aku pernah bilang Aletha, belahan jiwamu akan hadir ditengah hampanya hidupmu..
Liontin biru milik kalung Aletha yang masih dileher Welliam bersinar. Begitu juga dengan bungan Wisteria yang turut bersinar, dengan cahayanya yang menyerupai kilauan permata.
"Sepertinya, sudah waktunya...."
--.o☘o.--
Beralih pada posisi Aletha yang masih terjebak dalam lingkar keraguan hatinya. Semakin lama genangan darah itu melahap tubuhnya, dengan beberapa bayangan tangan yang masih setia mengunci pergerakannya.
Semua telah berakhir, mungkin bila dia mengikuti alurnya semua akan jauh lebih baik. Aletha pasrah dengan takdir yang tak pernah memihaknya, apa kesalahannya? Sehingga ia harus mengalami hal menyeramkan yang hampir membuatnya gila!
Aletha menutup kedua matanya mencoba berhenti melawan dan membiarkan mimpi ini menenggelamkannya.
"Selamat tinggal, Aletha Wisteria.."
Wanita itu tersenyum puas, mimpi buruk ini adalah bentuk bagian dari rasa takut Aletha. Semakin dia takut maka semakin pula sihir kegelapan itu menjeratnya.
"Aletha, kumohon kembalilah.."
Tring!
Aletha membuka matanya, suara lirih penuh penderitaan terdengar sangat pilu bagi Aletha. Entah mengapa ia merindukan pemilik suara batitone ini.
"Aku masih disini untukmu.."
Setitik cahaya di jenjang leher pada pundak sebelah kanan Aletha, perlahan mulai terukir sebuah lambang berbentuk bunga Lycoris merah dengan dilingkari bunga Wisteria hitam.
Wanita sinis yang menjadi cerminan Aletha menatap bingung, dia memberanikan diri untuk menyentuh Aletha.
"Argh!"
Namun ternyata, lambang itu melindungi Aletha, saat wanita itu hendak menyentuhnya ia seperti tersengat aliran listri.
Ia menggeram kesal! Bahkan lambang itu kian bercahaya terang hingga membantu Aletha terlepas dari jeratan sihir hitam.
Tangan-tangan mengerikan yang tadi menahan Aletha hancur berkeping-keping, begitu juga dengan genangan darah yang ikut terhempas dari dirinya.
Aletha berhasil keluar dari jeratan mimpi itu. panggilan hangat yang menyeruak kehati kecilnya, Menyadarkannya dari siren kebohongan.
Bagaimana bisa ia melupakannya? Bagaimana bisa dia berfikir bahwa tak ada lagi yang memperdulikannya, padahal dia masih memiliki seseorang yang selalu ada untuknya.
Kau yang berdiri digaris paling depan, sebagai pelindung fajar...
Perlahan kedua mata Aletha kembali bergemilang cahaya. Beberapa kelopak bunga Wisteria terbang menyelimutinya, membuatnya kembali tersadar.
Tapi kau juga menjadi sabit kematian, dikala senja menutup usia..
Aletha sadar bahwa selama ini dia terlalu bermain emosional, sehingga ia melupakan titik kebenaran dari sebuah susunan hidup di semesta ini.
Menentukan keadilan dari Matahari dan Rembulan..
Harusnya dia sudah tahu. Meski bukan dia atapun jika memang dia yang membunuh mereka, hal itu tidak bisa dihindari, karena tragedi itu telah menjadi catatan hidup Manusia.
Memimpin kaum malam dan siang..
Bahwa takdir kematian tidak akan pernah bisa dirubah, meski dia adalah seorang Dewi sekalipun.
Aku memanggilmu untuk kembali memimpin dunia, Dewiku Aletha..
Aletha menatap dingin kearah wanita yang berpura-pura menajdi dirinya. Tatapannya menusuk dengan begitu mematikan.
Wanita itu sedikit ketakutan melihat wajah serius dan ucapan sinis Aletha. Apa yang terjadi kepadanya, kenapa tiba-tiba dia memiliki aura keberanian yang sangat kuat? Lagi pula lambang apa yang ada ditubuhnya tadi?
Apa sihirnya telah hilang? Tidak mungkin, sihir itu tidak bisa dihancirkan begitu saja! Tapi dari ucapannya sepertinya, Aletha benar-benar telah terbebas dari shir gelap.
Wanita itu kembali meremehkan Aletha, dia tidak perlu takut. Saat ini Aletha masih berada di dimensi yang dibuatnya, jadi tidak mungkin dia bisa keluar dari sini.
"Ha! Percaya diri sekali kau, bagaimana caranya kau mengalahkanku?! Kau tidak akan pernah bisa keluar dari kurungan kebencian ini?"
"Mungkin aku telah dilupakan di Imorrtal tapi sayangnya, hingga detik ini masih belum ada yang pantas menyandang gelar Dewiku."
Tangan kanan Aletha bergerak, membuat sekumpulan kelopak bunga Wisteria menyusun dan membentuk sebuah pedang putih berkilau bagaikan permata.
Dengan beberapa hiasan bunga Wisteria dan pita putih sepanjang 30 centimeter, yang memggantung di pedangnya.
Sebuah pedang yang menjadi salah satu senjata artefak Dewinya, yang telah melegenda dan selalu menjadi bahan irian kaum Imorrtal.
Berdiri memandang ketakutan serta tegang, sosok palsu Aletha telah kehabisan kata-kata. Wanita palsu itu lupa seperti apa sosok Aletha ketika ia menjadi serius.
Apa yang membuatnya begitu di hormati sebagai Dewi tertinggi dengan Gelar Agungnya berposisi nomor III di Imorrtal.
Aletha mengangkat pedangnya, membuat pedang itu menutupi sebelah matanya. Seolah mereka adalah satu jiwa, baik tatapan Aletha dan juga pedang itu kini berkilat tajam dengan aura membunuh yang begitu dingin.
"Kalau begitu kita lihat bagaimana ka--"
Crash!!
Dalam sekejap Aletha menyerang bayang itu dengan sangat cepat. Mata pedangnya menebas dengan sangat sadis kepada wanita itu, seolah dia telah menemukan titik sihir gelap yang membuat mimpi buruk ini selama bertahun-tahun.
Dengan tubuh yang bergetar, sosok palsu itu melirik Aletha yang sudah ada dibelakangnya.
"Aku, ....................."
DEG!
Sosok itu menegang penuh ketakutan saat Aletha menyebutkan gelar Dewi-nya. Mata biru yang berkilat sadis, aura membunuh yang tak pernah lelah untuk terus mengangkat pedangnya. Membuat bayangan itu sadar akan sesuatu.
Aletha Wisteria, adalah sosok Dewi yang selalu dihormati dan ditakuti. Karena bila dia turun tangan langsung, semua kaum Imorrtal pun tahu. Bahwa ia akan menciptakan hujan darah untuk tanah pertiwi. Merubah samudra menjadi lautan darah, bagaikan padang bunga Lycoris.
"Ingatlah itu baik-baik!"
Seakan mengerti sosok itu perlahan mulai menghilang, kemudian tepat saat jiwa itu hilang seluruh genangan darah mulai berubah menjadi kepingan kupu-kuou emas yang mulai menghancurkan dimensi kegelapan.
Aletha menatap lirih. Saat ia mendengar pernyataan Rechyla mengenai kupu-kupu hijau yang menuntunnya kedunia Darkness World, dan melihat sendiri saat dimensi mimpi buruknya berubah menjadi kupu-kupu emas.
Ia sadar bahwa sebenarnya musuh mereka sama, dimana tujuan dendam tertuju pada satu orang. Aletha tahu siapa pelakunya, hanya saja dia masih butuh bukti untuk bisa mempercayainya.
"Aku ingin mendengar sendiri, alasanmu melakukan ini semua..."
Aletha menggerakkan tangannya, menciptakan sihir api berwarna biru yang membakar habis seluruh kupu-kupu emas yang ada pada dimensi mimpi buruknya.
Semua menjadi gelap dan juga hening.
Hanya ada dia dikegelapan ini, Aletha masih merenung mengenai potongan pazzle yang mulai tersusun kebenarannya. seperrinya dia hidup dalam ke khianatan dari orang-orang terpercayanya. Sungguh bodoh karena dia tidak menyadarinya selama ini.
"Lewat sini Kak Aletha.."
Sebuah tangan mungil meraih tangan Aletha, seorang gadis kecil mencoba menarik Aletha untuk segera mengikutinya.
Tepat dihadapannya, setitik cahaya terang dengan beberapa kelopak bunga Wisteria menjadi penunjuk jalan, untuk membantunya keluar dari tempat ini.
Gadis kecil itu berhenti berlari, dia melepaskan genggamannya dari tangan Aletha, lalu menghadap Aletha dengan senyum cerianya.
Aletha menurunkan tubuhnya mencoba mensejajarkan dirinya dengan gadis kecil itu, ada begitu banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan anak manis ini. Beberapa air mata penyesalan menuruni pipi mulusnya, sebagai tanda rindu yang telah lama ia pendam.
"So-sofia.., aku minta maaf. Hari itu aku tidak datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu hiks.., aku sungguh minta maaf.."
Sofia menggelengkan kepalanya dengan pelan, "bukan Kak Aletha yang harus meminta maaf. Hari itu bukan kesalahan Kakak, Sofia tahu Kakak sudah banyak mengalami penderitaan karena kami,"
"Tidak, ak--"
"Sekarang bukan waktunya kita membahas ini Kak. Sofia sudah tahu kami semua, seluruh orang di Kota Margencia telah mengetahuinya. Jadi berhentilah menyalahkan diri Kakak sendiri, sekarang Kak Aletha harus pergi. Ada Kakak yang begitu tampan sedang menunggu Kak Aletha saat ini. Kak Aletha tidak boleh membuatnya menunggu lama, dan juga....."
Sofia meraih boneka kelinci putih yang ada ditangan kanan Aletha, sepertinya pedang tadi telah berganti menjadi boneka itu yang entah sejak kapan telah berubah.
"Terimakasih untuk hadiahnya, Sofia menyukai boneka ini, sangat menyukainya." Ucap gadis manis itu dengan senyum lebarnya.
"Sekarang pergilah, Kak Aletha. kita akan bertemu lagi dilain waktu.."
Aletha memeluk Sofia lalu kembali melepaskannya, kemudian berjalan kearah yang ditunjuk Sofia tadi.
Ia sempat menoleh kebelakang, melihat Sofia tengah melambaikan tangan kearahnya sembari memeluk erat boneka pemberiannya.
Aletha menghela nafas lega. Benar, sekarang bukan waktunya bagi dia untuk terus-terusan terjebak dalam ketakutan. Jika Aletha tidak berani untuk melangkah duluan, maka semua akan tetap sama saja.
Sudah Aletha putuskan, mari kita bongkar habis susunan labirin ini. Dan menyusun kembali menjadi kehidupan baru, baik Imorrtal atau pun Darkness World.
Terlebih, ia juga perlu membersihkan kembali nama Dewi-nya yang telah tercitra buruk. Aletha berlari menuju tempat yang penuh dengan cahaya terang.
Senyumnya semakin merkah, saat ia melihat seorang pria tengah berdiri sembari mengulurkan tangan hangatnya, yang selalu berani menarik Aletha untuk keluar dari persembunyian malamnya.
"Welliam.."
--.o🍁o.--