The Queen of Different World

The Queen of Different World
A Long Revenge



"Sebentar lagi, kalian akan mengetahuinya.."


Welliam maupun Fedrick mendelik bingung. Tak lama disebelah Aletha, muncul siluet cahaya biru, yang kelamaan membentuk seekor burung Canaria yang begitu indah dan berkilau.


Cuit..cuit..cuit..



Mereka sedikit terpana dengan keindahan warna dan jenis burung, yang begitu berbeda dengan burung Canaria yang ada di Darkness World.


"Kuperkenalkan, burung ini adalah Soul Of Life milikku, Carina."


Carian terbang memutari Welliam dan Fedrick lalu hinggap di pundak Aletha sembari memberi hormat layaknya bangsawan yang memiliki martabat tinggi.


"Salam berkat untuk penguasa kegelapan."


"Dia bisa bicara?"


"Semua Soul Of Life, pasti bisa bicara."


"Jadi, kau Mate Lady Arthena? Hem, meski kaum Demon tapi aku merasakan kekuatan besar darimu Yang Mulia. Baiklah, aku mengakuimu sebagai Tuan ku juga."


Ucap Carina saat melihat Welliam, sedangkan Welliam melirik tidak perduli. Karena meski Carina burung cantik, tapi cara bicaranya tetap sedikit sombong.


Apa semua yang berasal dari Imorrtal memag begitu?


"Katakan, apa yang kau temukan Carina."


"Seperti dugaanmu, Aku melihat Hugo berhasil menemukan Lorddark's Zone."


"Lihatlah, dugaanmu telah menjadi kenyataan. Apa yang masih kau ragukan, Aletha?"


"Tidak kah kalian lihat bagaiman sikap manjanya hari ini? Aku yakin kalian pun tidak menyangka bahwa dia adalah penjahat paling berbahaya, harus kuakui aku berhasil dibodohi olehnya karena sikapnya yang begitu sempurna untuk mengklabuiku. Tapi, aku masih ingin melihatnya sendiri dengan kedua mataku.., dia Adikku yang begitu kusayangi. Aku ingin mendengar sendiri penjelasannya, mengenai ini semua.."


"Jadi Rencanamu?"


"Seperti yang kalian dengar, bahwa dia mencari tahu keberadaan pedangnya. Karena Lucy dan Queen Alicia ingin dia menginap. Itu berarti, kemungkinan dia akan bergerak malam ini juga!"


"Aku ingin kalian yang menanganinya lebih dahulu, saat aku merasa dugaanku benar bahwa Great Lady adalah Tahlia maka aku akan menunjukan diri." lanjut Aletha.


"Baiklah, kita lakukan seperti yang kau katakan." Dalam sekejap Fedrick menghilang.


Welliam menangkup wajah sang Istri yang begitu terpukul dengan kenyataan yang mengharuskannya sadar, meski dia mencoba menyangkalnya.


Tak kuasa melihat Mate tercintanya larut dalap kesedihan, Welliam kian mendekatkan diri. Menyatukan keningnya dengan kening Istrinya, mencoba membantu menjernihkan pikiran kacau Aletha.


"Meski seluruh dunia ini mengkhianatimu, kau masih memilikiku, aku selalu berada disisimu, Aletha."


Aletha menggenggam tangan sang kekasih yang masih berada diwajahnya, sembari tersenyum lembut.


Aletha bersyukur pada takdir prihatinnya, setidaknya dia masih diberi Mate yang selalu bersamanya.


"Oya, Aletha. Mengenai teman lamamu yang mingirim surat, apa mungkin dia..dia Dewa sok nomor satu itu?"


Aletha sedikit bingung, tak lama dia tertawa menyadai maksud ucapan Welliam.


"Maksudmu Kendric? Ya, Kendric adalah temanku dan juga dia bukan sok nomor satu, tapi dia memang Dewa nomor satu di Imorrtal. Hahahah...."


"Aku tidak perduli dia siapa, jangan terlalu dekat dengannya dan juga jangan biarkan dia mengirimimu surat lagi.."


"Kau cemburu?"


"Kekanakan sekali, aku hanya khawatir pihak Imorrtal mengetahuimu."


"Dasar keras kepala, lagipula aku memang sidah diketahui oleh pihak musuh."


"Kau berani membantah Suamimu ini?"


"Jangan khawatir Yang Mulia, kau akan tetap menjadi pria yang kucintai. My Lord!" Aletha tertawa.


Meski Welliam tiran berhati keji, tapi terkadang dia juga bisa bersikap kekanakan. Apa karena dia berusia lebih muda darinya, walau di lihat dari wajah memang Welliam yang tua. Karena secara umun, usia Aletha 20 dan Welliam 24 tahun.


.


.


Aletha merubah lingkungan di wilayah Lorddark's Zone seperti sebelumnya, karena saat ini wilayah suram ini telah berubah menjadi taman bunga Wisteria.


"Aku lebih suka yang tadi dari pada hutan pengap ini."


"Tenanglah Welliam ini hanya dimensi, aku juga sudah mengambil pedangku dan menggantinya dengan yang palsu."


"Kau benar-benar sangat kuat ya, bahkan dimensi ini saja hampir tidak terasa bahwa ini hanya sihir ilusi. lumayan, pantas saja dulu kau bisa memukulku denganangat lincah.."


Aletha tertawa kaku, karena mengingat pertarungannya dengan Fedrick.


"Cuit..cuit.., ada seorng perempuan berjubah hitam. sosok itu mencoba memasuki wilayah ini, Aletha." Carina memberi pesan.


"Sepertinya itu adalah dia, baik lakukan sesuai rencana."


Aletha melompat lalu bersinggah diatas pohon yang sangat tinggi. Melihat semea pergerakan mereka yang sudah mulai menegangkan.


Aletha menatap rembulan, degup jantungnya kian berdetak resah. Seolah, dia masih belum siap mengakui bahwa Tahlia sungguh musuhnya.


Aletha memejamkan matanya meresapi sapaan halus dari hembusan angin. Sampai saat ini, pelukan hangat Adiknya masih terasa hingga kehati terindunya.


"Aku merindukanmu. Ini bukan mimpi, kan? Ini sungguh dirimu Kakak hiks.."


BOOM!!


Aletha membuka kembali mata birunya, saat sebuah ledakan berhasil tercipta. Ia melihat Welliam dan Fedrick keluar dari kebulan asap disusul oleh Great lady.


Terlihat mereka tengah berbincang dengan begitu akrab. Hingga..


Kretak!!


Dahan pohon yang begitu kokoh, harus retak saat aura dingin Aletha membucah dari dirinya. Ia terlihat begitu marah, saat telah menyadari bahwa dugaannya benar tentang Greay Lady.


Sebelum kupu-kupu pembunuh itu menyentuh Mate dan juga Vasilias. Aletha mengembalikan lagi lingkungan disekitatnya, membuat sekumpulan bungan wisteria bertaburan dan menghentikan aksi bodoh Adiknya.


Aletha yang sudah tak bisa membendung rasa amarahnya, akhirnya menunjukan dirinya. Dia berdiri diantara Fedrick dan Welliam.


"Tadinya aku ingin menganggap ini sebuah lelucon, tadinya aku berharap bahwa ini hanya kebohongan, dan juga! Aku tetap ingin menyangkalnya, bahwa kau pelaku dari ini semua!" Aletha mengepal kesal mengetahui fakta ini.


Great Lady, Bukan! Tapi Tahlia dengan bangga membuka tudung kepalanya dan memperlihatkan wajah aslinya, sembari tersenyum sakarstik dihadapan musuhnya.


"Harusnya aku sadar, kau pasti akan mengetahui semuanya saat sihir mimpi buruk itu, berhasil dihilangkan."


"Tidak kusangka, kau memainkan peranmu dengan sangat sempurna, Adikku."


"Yah, tidak perlu menyesal, lagi pula aku sudah siap dengan ini semua. jadi, bagaimana menurutmu pertunjukan konspirasi yang telah kuciptakan ini, Kakak ku tersayang?"


--.o☘o.--


Aletha dan Tahlia saling berpandangan dengan aura dingin yang begitu menyesakan lingkungan sekitarnya.


"Apa tujuanmu melakukan ini semua Tahlia!!"


"Tujuan? Kau ingin tahu? Baiklah, Tujuanku adalah melakukan sistem Revolisi terhadap Imorrtal dan Darkness World. Mencoba mengendalikan dunia bawah untuk menyerang Imorrtal, membantai semua para Dewa lalu mendirikam kembali peraturan yang baru dimana para bangsawan kelas atas tidak merendahkan kami yang dibawah. Lalu, aku yang akan memimpin kembali seluruh dunia ini..." Tahlia melirik kearah Welliam.


"Jangan khawatir, aku tidak akan melupakan Darkness World. Karena kalian akan menjadi budak ku, Katastrofi lah yang akan menjadi Lord baru untuk kalian."


Sekumpulan burung gagak terbang sembari bersuara yang begitu menggema, menghadirkan seorang pria yang telah lama menjadi musuh mereka.


Katastrofi berdiri sembari membungkuk memberi salam pertemuan setelah sekian lama. Jika Katastrofi bisa masuk, itu berarti Tahlia telah menghancurkan sihir pelindung yang Welliam buat.


Dimana, Harlie?


Tahlia mencoba membaca situasi saat ini.


"Menyebalkan, dia datang sesuai dengan ucapannya. Tapi, ini terlalu mengejutkan." Cibir Fedrick.


"Kukira Katastrofi akan berpenampilan keren, tapi ternyata hanya tua bangka. Aku benar-benar kecewa.."


"Kali ini aku benar-benar akan membunuhmu dan juga putramu, Vasilias!"


"Kuharap itu bukan wasiat terakhirmu, karena aku akan sedikit menyiksamu sebelum kukirim kau ke neraka."


"Kurasa Dewa Hades pun tidak mau menerima jiwanya, Ayah. Dia terlalu jelek untuk disana. Bagaimana jika hancurkan saja jiwanya, agar dia tidak pernah muncul atau pun berengkarnasi lagi!"


"Kita sependapat!"


"Sangat disayangkan, kalian para kaum Demon berpihak kepada mereka. Tadinya, setelah menyingkirkan Aletha musuhku tinggal Dewi Selini Thea, tapi kalian para kaum pembangkang malah terikat hubungan asmara dengan keturunannya. Mau tidak mau, kalian juga harus kubunuh."


"Lihat Ayah, dia mencoba membuat lelucon untuk kita."


"Dulu saat Lezzy pernah mengajak ku kesebuah Opera manusia, dia bilang candaan tak seru itu namanya, hm.., oh iya kalau tak salah, lelucon yang garing?"


"Ahahaha..."


-_-


Entah mengapa, saat melihat pembicaraan antara ayah dan anak Demon itu, membuat Aletha justru gi dan mual, pasalnya mereka benar-benar berwajah tebal. Dan masih sempat tertawa dihadapan musuh, baguslah jika Suaminya ini tidak takut.


Karena, menantu Wisteria harus yang terkuat. Sekerika dia ingat ucapan Ayahnya dulu. Bahwa disebuah dunia ada satu ras yang tidak pernah takut pada apa pun, mereka sering bersikap semena dan hidup bebas.


Mungkinkah, itu adalah kaum Demon?


"Menyebalkan!"


"Sudah cukup Tahlia! Aku tidak mengerti kenapa kau harus melakukan ini semua, tapi kau adalah Dewi Theá Tis Timorías. Seorang Dewi Hakim, tidak boleh bertindak sesukamu. Jika kau melakukannya, sikapmu ini tidak jauh beda dengan para bangsawan yang kau benci itu, tidak sadarkah kau bahwa ini tidak adil untuk dunia lain?"


"Lucu sekali, sayangnya aku tidak memiliki gelar keadilan seperti dirimu kakak ku. Yang aku tahu, aku melakukannya atas dasar prinsipku. Aku berhak menghakimi siapa pun sesuka hatiku! Kau dan Selini Thea, sama sama lemah. Apanya yang Dewi terkuat?! Dengan seorang manusia saja kalian langsung terluluh, kalian bukanlah Dewi kasih sayang! Kenapa harus menjadi lemah lembut seperti sampah, ha?!"


"Tahlia, kenapa kau menjadi seperti ini? Sadarlah!"


"Menyebalkan! Kau tanya kenapa aku jadi seperti ini? Semua karena kau! Karena kau terlahir ke dunia, karena kau dibiarkan hidup! Karena kau menjadi bagian Wiateria! Dan juga karena kau begitu mirip dengan Ayahmu, Tuan Leryan Bettheric Wisteria, wajahmu itu begiru mirip dengannya sehingga aku muak melihatnya!"


"Ayahku? Apa maksudmu, Tahlia."


"Kau itu benar tidak tahu atau bodoh? Semua yang dilakukan Ayahmu adalah penyebab aku menjadi seperti ini."


"Apa?"


"Melihat wajahmu ini, mengingatkanku dengan wajah seseorang. Hm.., ah aku ingat, wajah terkejut itu benar-benar sama persis dengan Sofia, saat aku menyamar menjadimu untuk membunuh dia dan kota tempat tinggalnya.."


Deg!


"Bahkan, diakhir hayatnya dia masih saja bilang, bahwa dia menyayangimu. Ahahha... Lucu sekali, kau fikir aku mau memakamkan jasadnya begitu saja? Aku beri tahu, kugunakan darah Sofia untuk membangkitkan sihir gelap yang akan menyiksamu di dalam mimpi burukmu, ka--"


BRAK!!


Aletha yang kehilangan kesabaran,menyerang Tahlia. Membuatnya menghantam pohon Wiateria, darah segar keluar dari mulut Tahlia saat dia terbatuk.


Serangan Aletha begitu cepat sepertinya dia telah kembali menajdi Dewi perang berdarah dingin. Mata tajam berwarna biru itu selalu membuat Tahlia merinding, tapi itu dulu.


Sekarang Tahlia tidak lah lemah, banyak yang dia pelajari dan memanfaatkan dari temuan reset milik Carzie, Mate Selini Thea.


Bila dia disebut physico maka dia tidak akan menyangkalnya itu jauh lebih baik!


Teruslah frustasi, sampai kau ingin gila dengan semua permainan yang kuciptakan terhadap takdir hidupmu itu, Aletha!


"Beraninya kau membunuh, Sofia!!"


.


"Ini gawat, Istrimu itu sudah hilang kendali. Aku tidak masalah jika dia mau mengamuk, tapi kita masih dalam kawasan Kerajaan. Ada begitu banyak nyawa serta Ibu dan Adikmu masih belum tahu mengenai penyerangan ini."


"Bebar, Kita hanya bisa memperkecil radius dampaknya, lagipula musuh juga sudah menggila."


Welliam dan Fedrick berbagi fikiran, mengerti dengan kondisi saat ini. Dengan cepat mereka bertindak.


"Alexa buat penghalang di wilayah Lorddark's Zone. Batasi tekanan kekacauan ini, agar tidak mengenai Kerajaan."


"Zymba redam suara ini, jangan biarkan mereka yang berada diluar wilayah ini mengetahui pertarungannya!"


Alexa dan Zymba mengikuti perintah tuannya, mereka membuat sihir penghalang dengan sangat besar berwarna emas yang mengurung daerah Lorddarks Zone.


"Kuharap kalian tidak melupakan bahwa masih ada aku disini."


Katastrofi berdiri dengan sangat menantang dihadapan Welliam dan Fedrick. Mereka melirik, kearah Aletha dan Tahlia yang masih saling bertarung liar hingga menumbangkan pohon Wisteria.


Sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang cukup memakan waktu lama. Karena, mereka juga harus berhati-hati dalam bergerak.


Agar serangan mereka tidak membuat dampak buruk bagi Lucifer Kingdom. Welliam juga harus menenengkan sang Istri, agar tidak terlalu terprofokasi.


"Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk mati kembali, Katastrofi?" Sindir Fedrick.


"Aku tidak akan mati begitu saja, sebelum kuhabisi kalian dan juga menikmati Istrimu Vasilissa itu."


"Beraninya kau!"


BOOM!!


Ledakan kedua terdengar dan begitu besar, mereka bertiga mengalihkan pandangannya kearah suara itu.


Tak jauh dari mereka, Aletha terlihat sedang memegang lengan kirinya yang terluka. Dengan sedikit terduduk, Aletha mencoba fokus kepada Tahlia yang sudah mengalungkan sabit kematiannya di leher Aletha


Sedikit saja Tahlia bergerak, sabit itu akan membunuhnya. Welliam ingat, Aletha pernah bilang bahwa dia mengunci kekuatannya didalam kalungnya.


Itu berarti dia bertarung hanya menggunakan sedikit dari kekuatannya, ini bahaya. Melihat dari situasi, sepertinya Tahlia akan benar-benar membunuh Aletha.


Tapi bukan berarti Tahlia dalam kondisi baik-baik saja, dia juga terkena serangan Aletha dan cukup parah.


Aletha berhasil melukai pinggang Tahlia dengan Pedangnya, tapi kekuatan penyembuhnya akan bekerja cepat. sehingga luka itu bukan hal besar bagi Tahlia.


"Aku ingat, kau juga perlu di hukum karena melanggar peraturan Imorrtal. Bangsa Imorrtal tidak boleh berhubungan dengan kaum dunia bawah, baik Bumi atau pun Darkness World."


"Aletha!!"


Welliam berniat menolong Aletha namun Katastrofi menghalanginya, terjadilah pertarungan perlawanan diantara mereka.


Sedangkan Fedrick juga dihalangi oleh beberapa sihir pembunuh. Dia melirik tajam pada lingkungannya, masih ada satu orang musuh lagi, yang sedang bersembunyi!


"Aku Theá Tis Timorías, sebagai Dewi Hakim akan menghakimi Thea tou Polemou. Sang Dewi Perang keadilan, untuk di eksekusi MATI!!"


' Thea tou Polemou. '


' Dewi Perang Keadilan. '


Lirih Welliam dan Fedrick dalam benak pikiran mereka.


Sabit kematian Tahlia mulai bergerak, Aletha mencoba melawan tapi tubuhnya sudah pada batasnya. Dengan manna yang kecil, itu tidak akan sanggup menahan sabit Tahlia.


Belum lagi darahnya yang terus terkikis, membuat tubuh Aletha dalam kondisi kurang prima. Tahlia mengalirkan sihir listrik pembunuh ke sabitnya, seolah dia benar-benar akan merobek habis jiwa dan raga Aletha.


"Selamat tinggal, Kakaku Aletha!"


"Aletha!!"


"Welliam, berhenti!"


CRASSHHH!!!


Beberapa buliran darah jatuh kewajah Aletha lalu mengalir turun hingga menetes kedasar tanah. Aletah diam terkejut, perlahan dia melihat kearah Welliam yang talah mendekap erat raganya.


Tidak! Tidak! Darah ini bukan miliknya, melainkan milik......


"Tidak, Welliam!!"


--.o🍁o.--