The Queen of Different World

The Queen of Different World
I Am Sorry ; I Love You



...........................Β°Β°βœ¨πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hal yang paling ku takutkan dalam hidupku, adalah Kehilanganmu ...


---------------------β€’β€’βœ¨πŸπŸπŸπŸπŸ


.


Lucy masih terus menggenggam jemari Aletha, beberapa air mata masih setia menghiasi mata gemilangnya. Sejak Aletha dibawa dan ditangani dia masih belum juga sadar, Haikal bilang kondisinya kian semakin buruk.


Tapi syukurlah, darah yang ia lihat bukan berasal dari kandungannya. Sehingga, Haikal bilang untuk saat ini baik-baik saja ..., untuk saat ini -_-


Hingga lenguhan pelan dari Aletha memecah keheningan, membuat semua yang ada di kamar sang Ratu fokus kearahnya.


Dengan sedikit berat, Aletha menggerakan pelan kelopak matanya, mencoba membiasakan penglihatannya yang sempat mengkabur menjadi lebih jelas.


Tubuhnya terasa sakit, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih di kediaman kamarnya.


Lalu melirik pelan Lucy yang ada di sebelahnya, ia terlihat seperti seseorang yang sangat frustasi. Sepertinya Aletha berhasil membuat mereka sangat khawatir.


Dari Lucy, Aletha beralih melihat Lezzy dan Fedrick yang berada di kursi tak jauh darinya. Kemudian teralihkan oleh Fivian dibelakang Lucy.


Loise, Alberd, Styvn, serta Briant. Mereka juga ada disana tapi hanya berdiri jauh di dekat pintu masuk. Aletha tersenyum mencoba memberikan jawaban dari rasa khawatir mereka, bahwa dia baik-baik saja.


Saat telah melihat mereka semua, pandangan Aletha berakhir disaat ia menatap Welliam yang sedang berdiri tepat di depan tempat tidurnya.


Tunggu, bukankah raut wajah Welliam sangat aneh? Harusnya, jika seorang Istri sedang sakit Suami nya akan sangat khawatir tapi apa-apaan ini?!


Welliam justru malah melihat Aletha dengan sangat dingin sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Bahkan tatapannya saja mampu membuat jantung Aletha seakan berhenti.


Inikah sikapnya saat Istrinya dalam bahaya?


Aletha melirik Lucy, seakan bertanya kepadanya dengan sesuatu hal yang terjadi kepada Welliam sebelum ia sadar.


Terlihat Lucy sedikit ragu untuk mengatakannya, "Em, aku tidak ikut-ikutan ..."


Ha? Maksudnya? Aletha tidak mengerti dengan ucapan singkat Lucy. Dia semakin bingung, pada situasi mencekat dan canggung ini.


"Aletha."


Suara Welliam yang mengejutkan Aletha, berhasil membuatnya jantungan sesaat.


"Apa kau ..., sedang hamil?"


Kaget dengan pertannyaan Welliam, Aletha melihat Lezzy dan seketika Lezzy langsung buru-buru mengalihkan pandangannya, kearah lain. Melihat reaksi Lezzy, sekarang Aletha paham dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


"Lihat aku, Aletha!"


OH TIDAK! Sekarang Aletha benar-benar dibuat gugup sekaligus takut, apalagi tatapan Welliam kian menyeramkan dia saja sampai mengaktifkan mata Demon nya.


Sungguh? Apa Welliam benar-benar akan membunuhnya jika dia jawab iya.


"Welliam, aku tak ber----"


"KELUAR !!"


Semua yang mendengar titah Welliam buru-buru keluar. Fedrick langsung menarik Lezzy, menahannya untuk tidak ikut campur dalam masalah pasutri ini.


Fivian bergabung dengan Loise dan Alberd untuk menghilang menggunakan teleportasi. Sedangakan Styvn dan Briant, mereka sudah lebih dulu kabur.


Lalu bagaimana dengan Lucy?


Aletha masih menahan tangannya, mencoba keras agar dia tidak ikut meninggalkan dirinya dengan hewan buas ini. Namun sayang, genggaman Aletha berhasil Lucy lepas.


"Maaf kak, Lucy masih sayang nyawa. Ber..berhati-hatilah."


Dan dengan cepat Lucy pun lari keluar kamar. Meninggalkan Aletha yang sedang jantungan menahan takut amarah Welliam yang sepertinya akan segera murka. WHAT! Apa sekarang dia telah di khianati?


"Jawab pertanyaanku! Apa kau pergi ke medan perang, dalam keadaan hamil Aletha?!"


Oh jantung! Kenapa kau berdetak sangat cepat. Aletha benar-benar deg-degan mendengar suara Welliam yang sudah kelewat dingin.


"Aletha."


"Welliam, aku.., aku ti---ha ..., benar aku memang sedang ha..hamil."


"ALETHA----"


D E G !!


Aletha dibuat semakin jantungan saat Welliam berteriak keras kepadanya. Welliam terlihat begitu marah tapi ia juga mencoba menahan amarahnya agar dia tidak terlalu kelewatan batas.


Meski begitu, suaranya yang tercekat di ujung urat pita malah semakin membuat Aletha ketakutan. Pasalnya Welliam menggeram marah, sembari menggenggam patung batu yang ada di kamar sebagai miniatur hiasan.


Bisa dilihat, patung itu telah terukir retakan yang hampir menghancurkan bentuk indahnya.


"Aletha, tidak kah kau sadar bahwa tindakan mu ini salah?"


"Aku tahu, aku tahu bahwa yang kulakukan salah ta----"


"Lalu kenapa kau masih saja bertekad pergi?! Apa kau tidak memikirkan anak kita?"


"Aku memikirkannya, tapi aku benar-benar dalam masa dilema saat itu. Aku---"


"Dilema? Memangnya apa yang kau pikirkan, hingga kau harus merahasiakan hal sebesar ini dariku! Bahkan mereka semua telah memgetahuinya. Sedangkan aku yang merupakan Ayahnya saja, masih belum mengetahuinya! Kau pikir ini lucu?"


Aletha sedikit kesal saat mendengar kalimat terakhir Welliam, tidak kah dia juga kesal berada diposisi ini?


Ia tahu Welliam akan marah, tapi setidaknya tidak dengan tata bahasa yang seolah Welliam tengah merendahkannya.


Ia menyibak selimut yang menutupi setengah dari tubuhnya, berdiri dan menatap Welliam dengan tatapan serius.


"Apa menurutmu aku sedang membuat lelucon, Welliam? Aku tahu kau sedang khawatir, tapi kau tidak perlu semarah ini. Kita bisa bahas ini dengan baik-baik."


"Aletha--"


"Selama berperang, aku juga memikirkan kondisi dan keselamatannya juga. Kau tidak perlu semarah ini, lagipula sekarang aku dan kandunganku juga selamat!"


"Diam---"


"Diam? Kenapa aku harus diam? Apa kau sungguh tidak suka aku berada disismu saat berperang?"


"Ya, aku sangat tidak suka!"


"Kenapa kau tidak suka? Bukankah aku Dewi nya disini, apa aku hanya akan menjadi beban untukmu?"


" ............. "


"Kenapa sekarang kau diam? Jawab aku Welliam! Kenapa aku tidak boleh ikut berperang bersamamu, kenapa? Kena----"


"KARENA AKU TIDAK BISA KEHILANGANMU, ALETHA !!!"


Aletha diam tertegun saat Welliam menekan setiap kata-katanya, mencengkram kuat kedua lengannya. Menunjukan raut wajah ketakutan yang begitu terlihat, seakan ia tengah merasakan depresi yang sangat tertekan.


"Sekali saja, tak bisakah kau menuruti kata-kataku tanpa pernah membantahnya? Kau sedang hamil ataupun tidak, sejujurnya aku tetap tidak ingin mengizinkanmu berada di medan perang! Tidak kah kau memahami kekhawatiran ku?"


"Kau juga terlalu naif Aletha, sikapmu yang selalu beranggapan bahwa sendiri akan lebih baik, itu mengusik ku! Aku tahu kau wanita yang kuat, tapi, tak bisakah kau lebih mengandalkan ku juga? Tapi lihatlah, kau selalu saja bertindak sendiri, seakan aku ini tidak berguna! Aku tidak selemah itu ..."


"Tidak tahukah bahwa aku hampir gila saat mendengar kabar kau dalam kondisi kritis, disaat beramaan aku juga ingin membunuh diriku sendiri, saat aku mengetahui bahwa Ternyata--kau saat ini tengah mengandung, ini menyakitiku saat kau merahasiakannya padahal aku begitu menanti kehadirannya."


"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa Aletha, kenapa kau merahasiakannya dariku? Membahayakan dirimu dan juga buah hati kita dengan posisi aku tidak mengetahui apapun! KENAPA !!!"


Welliam meluapkan kekesalannya dengan meninju kuat cermin besar di belakang Aletha, membuat cermin itu pecah serta retakannya melukai kepalan tangan Welliam, hingga mengalirkan darah yang begitu banyak.


"Welli---"


"ARGHHH!!!"


Saat Aletha hendak meraih tangan Welliam yang terluka, buru-buru Welliam menarik tangannya. Ia jambak rambutnya sendiri dengan penuh perasaan frustasi, lalu duduk diranjang mengabaikan Aletha yang saat ini diam dengan tubuh gemetaran.


Seakan tepisan tangan Welliam seperti tamparan kuat bagi Aletha. Ia menjadi tersadar dengan perlakuannya yang sudah sangat egois, Aletha kira dengan merahasiakannya dan menyelesaikannya sendirian akan membuat semua baik-baik saja.


Tapi ternyata, justru hal ini malah dapat merusak hubungannya dengan Welliam. Menyisihkan konflik ringan yang mampu membuat kesalahan fatal, dalam rumah tangga mereka.


Ah~ ini menyakiti Aletha, setiap dedikasi ungkapan kekesalan Welliam menyakiti hatinya. Semua yang dikatakan Welliam benar-benar menekan jiwa dan batinnya, kenapa dia bisa begitu se'egois ini?


Harusnya ia bicarakan masalah ini dengannya, membuat solusi yang lebih masuk akal dalam menghadapi mimpi buruk itu.


Mungkin juga, jika dia benar-benar berbagi rasa ketakutannya Dewi Selini Thea tidak perlu mati. Benar dia memang terlalu naif dan bodoh.


"Maaf ..., hiks"


Welliam melirik Aletha, saat rintihan lembut itu menarik perhatiannya. Aletha sudah tak dapat membendung rasa bersalah dan rasanya sakit jika Welliam mengabaikannya bahkan sampai enggan ia sentuh.


"Maafkan aku, Welliam hiks ..., kau berhak marah dengan sikap bodohku. Tapi sungguh, mimpi itu menakuti ku. Jika kau khawatir denganku, lalu bagaimana denganku? Aku juga tidak ingin kehilanganmu ...."


"Aku hiks, aku juga ingin kau yang pertama kali mengetahui tentang kehamilanku. menjadi satu-satunya wanita yang memberikan kebahagian kepadamu, dengan melahirkan anak-anak dari benih harapanmu. Membantumu mewujudkan keluarga kecil yang sederhana. Semua salahku maaf Welliam ..."


Welliam terdiam sesaat, lalu menghela nafas panjang. Perasaan amarah yang tadi menggebu-gebu perlahan meredam, ia berdiri menghadap sang Istri yang masih terisak cukup keras tanpa berhenti menangis.


Lahir perasaan bersalah pada batin Welliam, ia tidak cukup kuat melihat wanitanya menangis karenanya itu cukup menggores pilu, seakan kesedihan Aletha mengingatkannya dengan sikap kasarnya dulu, bahkan ia pernah menampar Aletha sekali.


Bukankah disini dialah yang lebih brengs*k dan naif? Harusnya dia lebih bisa mengontrol emosinya, ia pernah dengar wanita hamil lebih sensitif dan juga mereka tidak bisa dibentak atau diajak ber-emosional tinggi. Itu hanya akan mempengaruhi kondisi sang Ibu dan janinnya.


Welliam menghapus air mata sang Istri, menarik lembut Aletha kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan Matenya dan membelai sayang dirinya.


"Aku seperti sudah di hukum, alam memaksaku harus memilih satu diantara kalian berdua. Membuatku berpikir keras mengenai masalah ini, tapi justru Dewi Selini Thea lah yang harus mati, tidak kah takdir mempermainkan ku? Apa orang-orang yang dulu pernah kubunuh dimedan perang, saat ini sedang mengutuk ku? Kau benar, aku begitu naif dan sangat egois. Maaf...maaf, semua salahku ..."


"Shuut ..., semua ini bukan salahmu hanya saja kita ditakdirkan memang untuk berada pada situasi kekacauan dunia, sehingga takdir ingin menguji kita agar bisa menyelesaikannya. Harusnya aku yang minta maaf, jika saja aku lebih bisa mengontrol amarah ku kau pasti tidak akan se'tertekan ini. Maaf telah bersikap kasar, Aletha."


"Welliam ..."


"Tapi, aku harap hal ini tidak terulang lagi. Jangan pernah rahasiakan apapun dariku, biarkan aku sebagai Suami yang menanggung beban dan menjadi pelindung bagi dirimu dan juga anak-anak kita, Aletha ..."


Aletha menatap Welliam, betapa bersyukurnya ia telah diberikan pasangan Mate yang begitu menyayangi dan mencintainya.


"Hem, aku mencintaimu Welliam ..."


Aletha menyandarkan kepalanya di dada bidang sang Suami, menenangkan dirinya dengan kenyamanan yang begitu hangat.


Welliam tersenyum seraya mengeratkan pelukannya, mencium harum aroma wanitanya yang sangat ia rindukan.


"Aku juga mencintaimu, Dewi ku." Aletha tertawa kecil mendengar panghilan baru dari Welliam.


Dari balik pintu luar kediaman kamar mereka, Lucy masih berada disana. Karena khawatir dengan mereka, Lucy memutuskan tidak meninggalkan kediaman Roserria dan menunggu dari luar kamar.


Mendengar semua pertengkaran mereka yang sempat membuatnya cemas, takut bila Welliam akan kelewatan dalam memahari Aletha.


Mengingat bagaimana dia mengintimidasi mereka, saat Haikal memberitahukan bahwa Aletha hamil dihadapan Welliam.


Namun, saat ia ingin masuk saat mendengar suara pecahan kaca. Ia mengurungkan kembali niatnya, dan hanya dapat menjadi saksi bisu dalam kelembutan asmara mereka.


Ini begitu mengiris hatinya, betapa indahnya kisah cinta mereka. Sangking indahnya, Lucy sering berpikir bahwa mereka seperti pangeran dan putri dari cerita dongeng yang sering ia baca sewaktu kecil.


Sedangkan dia?


Lucy memarik kembali tangannya, membiarkan kedua kakak tersayangnya itu saling mengasihi dan menyayangi. Ia berjalan menuju balkon Castle Roserria, menatap langit yang sudah memasuki waktu Fajar.


Serpihan cahaya mentari mulai melukis awan di langi Darkness World, sun rise yang menyapanya begitu sangat indah. Meski dia lega dengan hubungan mereka, tapi ia masih berlarut sedih dengan kisah cintanya yang begitu rumit.


"Akan kah, ada seseorang yang dapat memberikan arti cinta yang sesungguhnya kepadaku, Molie?"


Rubah putih yang selalu disebelah Lucy sebagai pelindungnya, duduk disebelahnya mengamati matahari yang semakin terbit.


Sehingga Darness World disapa oleh hari baru yang begitu cerah untuk awal baru dari berakhirnya perang dendam berpuluhan abad.


Rambut hitam Lucy yang terhuyung terbawa angin, ia selipkan pada salah satu kuping mungilnya.


"Hari itu akan segera tiba, Putri. Karena takdirmu sebagai Vasilissa akan menyeretmu kedalam penderitaan. Dimana Vasilissa terlahir sebagai Ratu di hati para Raja, sehingga kau harus memilihnya sendiri, siapakah Raja dihatimu yang pantas menyandang gelar Vasilias. Sama seperti, Dewi Selini Thea dan Queen Lezzy ..."


Lirih Molie, namun sayang Lucy tidak dapat mendengar penjelasan itu. Karena Molie ingin takdirnya sendiri yang akan memberitahukan jati dirinya, sebagai generasi keturunan bulan selanjutnya.


"Kuharap, hari itu akan datang kepadaku ..."


---.β€’β€’ 🍁 F I N 🍁 β€’β€’.---



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


T A P I .. B O O N G πŸ˜‚


Tunggu Up selanjutnya, 2 Chapter lagi nih😍


Love u All❀