The Queen of Different World

The Queen of Different World
Towards Wedding Day



Aletha tidak menyangka bahwa ucapan Welliam di malam itu, benar-benar dia wujudkan. Ia kira pernyataan pernikahan yang akan diadakan seminggu ini hanya sebuah candaan.


Setelah kembalinya mereka ke Castle Violence untuk beristirahat, ke'esokannya Welliam mengajak Aletha kembali menghadap Lezzy dan Fedrick.


Lalu memberitahukan sebuah berita besar kepada kedua orangtuanya, mengenai pernikahan mereka yang akan diadakan dengan sangat cepat.


Hari itu Lezzy tersirat rasa khawatir, ia pun sedikit bingung haruskah menyetujuinya atau tidak. Melihat tatapan Lezzy membuat Aletha sadar apa yang sedang ia khawatirkan, tapi sekali lagi Aletha memberikan keyakinan.


Ia berdiri disebelah Welliam sembari menggenggam tangan sang kekasih, lalu tersenyum kearah Lezzy.


Melihat itu Lezzy melirik Fedrick yang masih duduk di kursi kepala keluarga, ia memberi isyarat kepada sang istri untuk mengingat ucapannya, bahwa tugas mereka saat ini hanya bisa memberi dukungan.


Ini bukanlah panggung yang menceritakan kisah mereka, karena mereka bukanlah tokoh utama dalam sebuah naskah tak berskenario. Saat ini waktunya mereka menjadi peran pendukung untuk kedua pasangan yang menjadi generasi mereka.


Darkness World membutuhkan pemimpin yang kuat, penguasa Darkness World haruslah yang sempurna.


Titik permasalahan telah mereka bantu pecahkan, sekarang giliran Welliam dan Aletha yang harus menyelesaikan semua permainan bidik catur yang tidak pernah bisa dimainkan seorang diri.


Lezzy paham. Ucapan Fedrick benar, bahwa saat ini semua masalah yang terjadi akan berbalik mengincar mereka yang menjadi generasi.


Kini giliran dia juga untuk menggantikan peran Vasilissa sang Ibu untuk menunjukan jalan menuju titik kemenangan, ia harus bersikap bijaksana sesuai dengan gelarnya.


Lezzy tersenyum bahagia, ia memandang sayang pada Putra dan menantunya. Ia merestui keputusan mereka, Aletha memeluk Lezzy.


"Aku akan mempercayai pilihanmu dan mendukungmu, Aletha." Bisik Lezzy.


.


.


Selepas dari Hari itu. Kini sudah lewat 3 hari, dimana tersisa 4 hari lagi menuju hari besar mereka, kemarin Welliam memberitahukan bahwa dia akan pergi ke wilayah Neptuna untuk mengerjakan urusan disana. Jadinya pagi ini terasa sepi.


Sebenarnya dari 3 hari yang lalu juga sudah terasa sepi, karena Aletha harus memasuki kelas khusus sebagai wanita bangsawan, yang mengharuskan dia untuk belajar menjadi calon Queen selanjutnya.


Tapi karena Welliam kadang mengunjunginya, jadi semua tidak terlalu membosankan. Namun untuk beberapa hari kedepan, sepertinya Welliam tidak akan menemuinya, seperti hari ini.


Untungnya karena sejak di Imorrtal dia telah menjadi wanita dari keluarga bangsawan kelas atas, membuat semua pelajaran tata krama sangat mudah ia lewati meski ada hal yang berbeda. Hanya saja ada satu pelajaran yang paling ia benci, yaitu kelas menyulam.


Dan saat ini juga Aletha sedang berusaha melarikan diri dari kelas itu. Ia berjalan sedikit menghendap-hendap dari pilar satu ke pilar lainnya, mencoba tak berpas-pasan dengan pelayan yang saat ini tengah mencari keberadaanya.


Aletha sedikit gugup saat melihat beberapa penjaga berjalan kearahnya, dengan cepat dia berpura-pura melihat bunga yang terpajang di sebuah vas bunga.


"Salam hormat untuk anda, Putri Aletha sang Rembulan Darkness World." Para penjaga memberi hormat saat bertemu Aletha.


"Terimakasih, kalian boleh melanjutkan kegiatan kalian."


"Baik Putri."


Aletha menghela nafas lega, sejak ia meninggalkan kediamannya yang ada di Castle barat Lucifer Kingdom. Aletha terus waspada seperti seorang pencuri, itu karena Aletha malas berurusan dengan Auriel bila dia ketawan lari dari kelas menyulam.


Untuk mwnghindarinya, Aletha pergi ke Castle Mouriyan yang ada di sisi timur Lucifer Kingdom. Sejak tadi sudah banyak penjaga dan pelayan sisi timur yang yang memberi salam kepadanya.


Karena undangan pernikahan telah tersebar keseluruh wilayah, maka gelarnya pun telah berganti menjadi Putri, sebelum seluruh rakyat Darlness World memanggilnya dengan sebutan Queen.


Aletha mengintip dari balik dinding, memastikan apakah lorong Istana ini ramai atau tidak, dan sepertinya semua aman karena lorong ini sangat sepi.


Mungkin karena, sebagian pelayan sibuk mengurusi persiapan pesta pernikahannya, sejak tiga hari yang lalu. Acara yang begitu memdadak membuat kebanyakan Pelayan maupun staf Kerajaan kewalahan, oky Welliam sungguh kejam karena membuat mereka kerepotan.


"Apa yang sedang Kakak Ipar lihat?"


"Aa!!" Aletha melompat kecil.


Dia membalikan badannya dengan cepat, melihat Lucy yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Aletha mengelus pelan dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang hampir melompat keluar.


"Lucy, kau mengejutkanku."


"Maaf, habisnya Kak Aletha terlihat waspada sekali. Dan juga, tidak biasanya Kakak datang ke Castile timur."


"Aku hanya melihat-lihat saja kok."


"Benarkah?" Lucy berjalan menuju taman yang ada disebelah lorong Istana.


"Iya, hanya ingin tahu saja sisi timur Kerajaan ini." Aletha mengikuti langkah Lucy kesebuah pondok yang berada di tengah taman.


"Kau mau kemana, dengan membawa keranjang itu?"


Lucy melihat keranjang kecil ditangannya. "Aku ingin menyulam, oya bukankah sekarang waktunya Kak Aletha belajar menyulam dengan Au--oh aku tahu, sekarang Kak Aletha sedang bolos ya, hem?"


"Ekhem! Apa aku pernah terlihat seperti wanita malas, hah?"


Lucy mengangguk, "sekarang sedang terlihat seperti itu."


"Ck." Aletha berjalan melewati Lucy dan duduk di kursi yang tersedia pada pondok itu.


Sedangkan Lucy tertawa kecil, lalu mengikuti Aletha untuk duduk dihadapannya, sembari mengeluarkan semua alat menyulamnya.


"Aku paling tidak suka menyulam, sangat susah dan begitu menyakitkan."


"Apanya yang menyakitkan?"


Aletha menunjukan jemari tangannya kearah Lucy. "Kau tidak tahu sudah berapa kali aku menderita karena tertusuk jarum, bila boleh memilih lebih baik aku terluka karena pedang dari pada jarum."


"Wah, Kak Aletha. Apa Kakak tidak bisa membedakan mana yang sakit dan menyakitkan? Lagi pula, tertebas pedang bisa mengakibatkan kematian."


"Kau tidak tahu luka sekecil apapun adalah yang paling menyakitkan, pokoknya aku tidak suka pelajaran menyulam."


"Ahaha.., dulu Lucy pun begitu. Tapi sekarang karena giat belajar, Lucy jadi tidak terlalu kesulitan bahkan sekarang menyulam menjadi hobi."


Aletha melihat Lucy begitu sangat antusias dalam menyulam sapu tangan, dengan corak dan jenis benang yang berbeda.


Bahkan sudah banyak sapu tangan yang dia buat, melihat semua kerja keras Lucy membuat Aletha sadar apa yang membuatnya menyenangi pelajaran menyulam.


"Apa semua ini untuknya?"


Lucy sempat berhenti sebelum kembali melanjutkannya lagi.


"Lucy lihat aku."


Lucy masih enggan melihat Aletha, bahkan ia berpura-pura tidak mendengar ucapan Aletha.


"Ha.., apa dia masih menyakitimu?"


Lucy berniat terus fokus pada sulamannya, namun sepertinya hati kembali menyadarkannya.


Lucy meletakan alat sulam, terlihat ia sedang mencoba menahan air matanya. Aletha meraih tangan Lucy, sepertinya dia telah salah berbicara.


"Setelah hari itu, aku tidak bisa menghubungi atau bertemu dengannya. Setiap kali aku mengiriminya surat, maka Harlie mengembalikan surat itu kepadaku tanpa ada kerusakan pada lebel lambang Kerajaan Lucifer. Aku bingung, kenapa hingga detik ini Harlie masih belum bisa menerimaku."


"Lucy, dengarkan ini baik-baik. Harlie bukanlah pasangan yang ditakdirkan untukmu--"


"Tapi dia Mateku, aku bisa merasakannya itu."


"Kalau begitu, aku tanya kepadamu. Apa kau pernah bertemu dengan King diseluruh wilayah?"


"Sampai saat ini, Lucy baru bertemu Harlie sebagai King Merrmaid. Kakak sudah tahu, bahwa aku sangat dikekang untuk keluar Kerajaan oleh Ayah maupun Kak Welliam."


"Jadi begitu, sekarang aku mengerti."


"Apa yang Kakak mengerti?"


Aletha tersenyum, "Lucy kau sunggu Putri yang terlahir dengan Spesial. Matemu saat ini belum tentu Pria yang akan menjadi takdir pasangan hidupmu, kau masih dalam fase perkembangan untuk menjadi dirimu yang sebenarnya."


"Lucy tidak paham dengan yang Kakak katakan."


"Mungkin sekarang kau tidak memahaminya, atau bahkan kau boleh menganggap ini sebuah omong kosong. Tapi ingatlah, saat kau telah menemukan pasangan yang ditakdirkan untukmu. Temuilah Queen Alicia, tanyakan hal yang membuatmu tidak mengerti."


"Walau Lucy tidak mengerti, tapi akan Lucy ingat."


"Kau menyulam motif apa?"


"Wisteria. Lucy dengar, bunga Wisteria memiliki arti takdir yang membawa cinta abadi."


"Siapa yang bilang?"


"Queen Olyfia. Oya kak, semenjak kemunculan bunga Wisteria. Banyak kalangan bangsawan menjadikan bunga itu sebagai tanda keberuntungan, bahkan sampai ada yang melelangnya kepada kaum bangsawan, dengan harga yang fantastic."


"Lucu sekali.." Lirih Aletha sedikit sinis.


"Bukan aneh, tapi memang tidak bisa. Mereka tidak bisa tumbang, walau hanya satu kelopak bunga yang jatuh, jika aku bilang tidak maka bunganya tidak akan jatuh."


"Hah? Apa hubungannya dengan Kak Aletha?"


"Karena bunga itu milikku, kau lupa dengan namaku Lucy?"


Lucy sedang memikirkan kembali, tidak lama dia sadar kalau di akhir nama Aletha ada marga Wisteria. "Bagaimana mungkin?"


"Tentu saja mungkin. Dengar, bunga itu belum pernah tumbuh tapi saat aku bangun di malam itu, kau pun melihatnya kalau pohon Wisteria mulai tumbuh di berbagai wilayah. Dan satu hal yang perlu kau tahu Lucy, meski ada jutaan Wisteria yang tumbuh tapi hanya ada satu pohon yang asli sebagai induk kehidupan."


"Maksud Kak Aletha?"


"Semua bunga Wisteria yang kau lihat, hanya bentuk bayangan dari yang aslihya. Seperti yang kau tahu dari Olyfia, Wisteria memiliki sihir alam yang sangat baik. Dengan menyebarluaskan, itu akan membantu memurnikan alam yang telah rusak menjadi lebih hidup. Bahkan bisa membuat Manna ditubuh menjadi lebih seimbang."


"Manna?"


"Tenaga tubuh yang menciptakan sihir disebut Manna, sedangkan untuk menciptakan Manna kita memerlukan energi dari sihir alam. Untuk itu, bila kau menyerap sihir alam dari pohon Wiateria itu bisa membuat kau mengendalikan Manna dengan baik."


"Wah, bagaimana Kakak mengetahui ini?"


"Hanya belajar dari pemahaman sebuah Filsavat."


"Tapi kalau semua pohon Wiateria adalah bayangan, kenapa saat aku menyentuhnya terasa nyata?"


"Lucy, pohon Wisteria ini memang sebuah bayangan, tapi menyimpan 50% dari sihir alam yang asli. Untuk bisa membantu mengimbangi alam dan Manna dari berbagai bangsa, itu akan membantu dalam menjaga keseimbangan sistem alam."


"Aku juga bingung, bukankah malam itu Kak Welliam membawa Kakak ke sebuah pohon Wisteria, jangan-jangan itu adalah pohon yang asli?"


"Benar,"


"Em.., boleh Lucy lihat pohonnya kak?"


Melihat Lucy terlihat sangat antusias membuat Aletha senang, setidaknya Lucy bisa melupakan King bodoh itu untuk menyulam saputangan yang entah sampai kapan akan dihargai.


Terlebih Alwtha masih menyimpan dendam dengan Harlie, karena telah memperlakukan lucy dengan sangat buruk, sungguh Raja yang breng**k!


"Baiklah, kalau begitu kuaja---"


"Yang Mulia!!"


Aletha menggeram kecil, sepertinya waktu senggangnya akan segera berakhir. Auriel berjalan dengan tergesah-gesah kearah mereka, sudah lebih dari satu jam dia habiskan waktunya bersama pelayan yang lain hanya untuk mencari keberadaan Putri Mahkota.


"Nyonya Auriel, kenapa terlihat lelah seperti itu? Baik-baik sa..ja?"


"Oh, Putri Aletha, jika anda ingin berjalan-jalan setidaknya beritahu saya. Kami semua khawatir,"


"Maaf, telah membuatmu kerepotan."


"Maaf Putri, bisa sekarang kita kembali?"


"Kem..bali? Auriel itu aku--"


"Maaf menyela Putri, tapi sekarang waktunya anda harus mengikuti kelas menyulam."


"Em, Kak Auriel, anda jangan khawatir sebenarnya kami sedang belar menyulam, bahkan Kakak Ipar telah mencoba membuat sulaman pertamanya. Lihat ini,"


Lucy memberikan sulaman bunga Wisteria setengah jadi, sebenarnya dia yang menyulamnya tapi rasanya kasihan juga melihat Kakak Ipar tersayangnya harus menderita.


Kalau Lucy nilai Aletha bukanlah tipe wanita kalem, mungkim lebih cocok menjadi wanita politik dari pada pergaulan wanita bangsawan, yang lebih cenderung kalem dan lembut.


Aletha melirik Lucy, kenapa dia bilang rajutan itu hasil tangannya? Lucy mengedipkan mata memberi isyarat kepada Aletha untuk tetap mengikuti alur pembicaraan.


"Benarkah ini buatan anda, Putri?"


"Em.., ekhem! Apa kau tidak percaya kepada Lucy?" ucap Aletha.


"Saya tidak bermaksud seperti itu. Jika benar, syukurlah.., setidaknya Putri telah memahami pergaulan wanita bangsawan."


"Kalau begitu, kau bisa pergi beristirahat. Aku ingin jalan-jalan bersama Lucy."


"Baik Putri, saya mohon undur diri."


Melihat kepergian Auriel membuat Aletha sedikit bernafas lega.


"Kau tidak takut dimarah Queen, karena berbohong?"


"Kurasa tidak masalah, sebenarnya tata krama menyulam tidak terlalu dipentingkan. Ini hanya menjadi adat temurun untuk pasangan Mate,"


"Adat?"


"Di Darkness World, pasangan perempuan akan menyulam saputangan untuk Matenya. Semakin rumit sulamannya maka semakin terikat kuat hubungannya, semacam tanda cinta kasih mereka. Makanya dikalangan bangsawan wanita, dijadikan sebagai hobi kewibawaan."


"Hubungan tidak ada kaitannya dengan menyulam, lagipula aku tidak pernah lihat Queen Alicia menyulam."


"Itu karena Ayah tidak membutuhkannya."


"Kenapa?"


"Dulu, aku pernah bertanya kepada Ayah. Kenapa tidak meminta Ibu, membuatkan satu sulaman sapu tangan? Lalu Ayah menjawab dengan sangat keren. Ekhem, Ayah tidak butuh benda seperti itu, cukup kalian berdua yang menjadi tanda cinta kasih dari kami."


"Sungguh? Lord Fedrick mengatakan itu?"


Lucy mengangguk senang.


"Meski beliau terlihat menakutkan, tapi sebenarnya Lord adalah pria sejati. Sungguh sangat keren."


"Benarkan. Mungkin itu yang membuat mereka masih terlihat romantis meski telah menjadi orang tua, jadi Kak Aletha jangan khawatir mengenai menyulam. Mungkin saja Kak Welliam juga tidak membutuhkannya."


"Kuharap begitu.."


"Jadi, bisa kita lihat pohon Wisterianya?"


"Tentu saja,"


Lucy segera membereskan alat sulamnya. Dia memanggil pelayan untuk meletakan keranjang sulam di kamarnya, lalu kembali melihat Aletha. Sepertinya dia begitu bersemangat.


"Dimana pohon itu?"


"Ada di Castle Violence,"


"Kalau begitu, pakai sihir teleportasi saja biar cepat."


Lucy membuka gerbang portal menuju Castle Welliam, mereka memasuki portal itu dan saat berhasil melewati sihir, sepertinya mereka datang secara acak.


Saat ini mereka berdua ada di hutan taman Dandelion, meski tidak jauh tapi biasanya Lucy selalu membuka gerbang portal di depan pintu utama Castle.


"Ini aneh, tidak biasanya aku berpindah kesini. Apa ada yang salah dengan pola sihirnya?"


"Jangan terlalu difikirkan, yang penting tetap di satu wilayah Violence."


"Baiklah, sekarang ki---"


"Lucy, awas!!"


Aletha menarik Lucy kebelakang, saat serangan dari hewan buas yang sering disebut sebagai Raja hutan menyerang mereka.


Ukurannya yang begitu sangat besar membuat Aletha dan Lucy, mungkin hanyalah hewan kecil bagi Singa itu.


Tapi harus Aletha akui hewan ini memiliki bentuk yang sangat cantik, bulunya berwarna putih bersih dengan mata tajamnya berwarna merah. Terdapat ukiran sebuah lambang di kening Singa itu, bila filihat dari kekuatan spirit.


Singa ini memiliki Manna sihir yang sangat besar, apa dia hewan legenda? Singa itu meraung dengan sangat keras, gigi taring yang kekuar dari mulut gagahnya begitu sangat tajam. Tapi kenapa di Castle Violence ada hewan best lagend spirit, selama Aletha disini ia tidak pernah melihatnya.


Lucy melihat hewan yang ingin menyerang mereka, seketika Lucy sedikit merinding terlebih dia tahu siapa pemilik Singa pembunuh itu.


"Kak Aletha, sebaiknya kita pergi saja."


"Kenapa?"


"Oh, sepertinya aku tidak pernah bilang, bahwa sebenarnya di wilayah Lorddarks ada se'ekor hewan best lagend spirit. Dia yang menjadi pelindung dan penjaga seluruh daratan dan perairan Lucifer Kingdom, terlebih hewan ini milik kak Welliam."


"Hewan ini milik Welliam?!"


--.o🍁o.--