The Queen of Different World

The Queen of Different World
Revealed; Aletha Identity ?!



Briant menatap tajam, mengaktifkan mata Vampire nya lalu meraih pedang yang ada disebelahnya. Dengan gerakan cepat Briant berlari kearah Aletha, dengan memfokuskan titik sihir pada pedang ditangan kanannya.


Kewaspadaan Aletha aktif membuat dia membalikan badan, dan hal yang paling tidak dimengerti adalah serangan Briant. Sihir yang ada pada pedang itu bukanlah sihir pertahanan, melaikan jenis sihir membunuh yang sangat akurat.


Briant semakin dekat, pedang itu diarahkan untuk menusuk jantungnya.


Jika Aletha tidak mengelak dia akan mati, tapi kalau dia gunakan kekuatannya... Tidak, sudah tidak ada lagi kata keraguan. Dia berniat membunuh bukan melatih, Aletha tersenyum sinis.


"Jangan sombong dulu..."


Kalung biru milik Aletha bersinar, begitu juga dengan kedua mata biru Aletha yang berkilat dingin.


Tatapan tajam Aletha membuat Briant merinding sekaligus terkejut, aura membunuh Aletha begitu sangat Familiar. Dia terlihat seperti Lord yang tengah murka.


Tangan Aletha bergerak sedikit, lalu secara samar kilatan listrik merah terukir ditiap jemarinya, mencoba membentuk pola sihir.


Aletha benar-benar hilang kendali saat dia merasa dipandang remeh oleh kaum rendah seperti bangsa Vampire.


Briant melesat dengan cepat kearah Aletha, membuat pedang itu hanya tinggal 30 centi meter dari Aletha.


"Beraninya kaum rendah sepertimu, menantangku..."


BOOM!!


"Kak Aletha!!"


Ledakan tak bersekala besar terjadi, membuat kebulan asap dari desiran pasir menutupi arena pertandingan. Tidak ada yang tahu apakah Aletha selamat dari serangan cepat Briant, atau dia berhasil mengelak.


Tapi itu sangat mustahil, mengingat serangan itu adalah sihir tingakt VII yang digunakan militer untuk menyerang musuh. Sebenarnya apa yang membuat Tetua ini menyerang Aletha begitu saja.


Angin hadir menghempas dan menyapu habis kebulan asap. Menampilkan sosok pemimpin terbaik di Darkness World, benar dia adalah Fedrick.


Fedrick berdiri tepat di hadapan Aletha menahan pedang Briant yang mencoba melukainya.


Sejak dia berbincang dengan Putranya tentang masa lalu. Dari ruang pribadinya arena camp pelatihan begitu jelas terlihat. Dia dan Welliam terus menyaksikan aksi bertanding Aletha dan Briant.


Sejak tadi Fedrick juga yang memberi perintah, dia hanya ingin tahu siapa sosok Aletha sebenarnya. Bukankah sangat mustahil jika Manusia bisa memiliki tekhnik pedang sempurna dengan sihir yang besar.


"Kau sudah cukup membuktikannya, aku telah melihatnya sendiri."


"Baik Yang Mulia." Ujar Briant seraya bertekuk lutut.


Aletha tersadar dari aksi cerobohnya untunglah Lord Fedrick yang menahan serangan itu, jika saja tadi dia kehilangan kendali dan tertelan rasa nabsunya, dan mereka mengetahui kekuatan milik Aletha yang sebenarnya. Semua akan berakhir dihari ini juga! Sehingga keberadaan dan jati dirinya akan dalam bahaya.


Segera Aletha meredahkan lagi amarahnya, untunglah tidak ada yang sadar.


"Aletha, kau baik-baik saja?"


Welliam datang sembari memastikan wanitanya tak memiliki luka goresan meski hanya sekecil pun.


Welliam melihat semuanya, awalnya dia membiarkan karena pertandingan masih sangat aman bahkan dia sangat bangga saat Aletha berhasil mengalahkan salah satu Tetua.


Hanya saja Welliam murka saat mengetahui Briant berniat membunuh miliknya yang berharga, apalagi sihir itu bukanlah sihir lemah.


"Aku baik-baik saja."


Welliam melihat Briant dengan sangat murka. "Briant! Beraninya kau menunjukan mata pedangmu kearah Mate ku!! Apa kau berniat membunuhnya, ha?!"


"Hamba tak berniat begitu, Paduka. Tapi saya mengakui kecerobohan dan kesalahan saya, saya siap menerima hukuman apa pun itu."


"Termasuk hukuman tidur abadimu, Briant?"


Briant nampak begitu takut, aura dan tatapan Welliam sudah pada batas kemurkaannya.


"Saya terima, Yang Mulia."


Welliam meraih pedang yang ada ditangan Aletha, bersiap memenggal kepala Briant. Fedrick yang melihat itu mulai kacau dan berniat menghalangi Putranya.


"Hentikan!"


Satu perintah yang terdengar dengan sangat mutlak menghentikan semua pergerakan makhluk yang ada disana, bahkan tubuh Aletha turut kaku ia tidak dapat menggerakan tubuhnya.


Perasaan ini begitu sangat ia kenal, kekuatan memerintah yang bertitah dengan sangat mutlak. Hanya ada satu makhluk yang bisa menggunakan kekuatan ini, dia adalah....


"Ibunda?" Lirih Licy saat menyadari sang Ratu sudah berdiri disebelahnya.


Lezzy berjalan menghampiri mereka, sesaat setelahnya tubuh mereka bisa digerakan kembali. Mereka senua memberi hormat kepada Ratu agung Darkness World.


"Salam Queen Alicia."


"Turunkan pedangmu, Welliam. Briant tak salah, ini hanya latihan biasa dia tidak berniat membunuh, bukan begitu Aletha?"


Merasa mendapatkan isyarat, Aletha mau tidak mau harus ikut adil dalam drama kebohongan sang Ratu.


"Ah, b-benar Welliam, ini hanya latihan saja. Tadi sebelumnya aku meminta bantuan Tetua untuk mencoba menyerangku dari belakang, itu karena aku masih lemah dalam membaca situasi lawan dari arah belakang. Kau tidak perlu menghukumnya, ini kesalahanku, maaf membuatmu khawatir."


Welliam menggeram kesal mencoba menahan amarahnya, meski tahu itu bohong tapi jika Ibunya sendiri yang bilang dan ditambah saat wanitanya juga ingin melindungi Briant.


Welliam tidak bisa membantahnya, perlahan Welliam menurunkan pedangnya.


"Bisa kau bertanggung jawab mengenai ini, Fe..drick?"


"Ah, te-tentu saja Ratuku. Aku akan membereskan ini.."


Ops sepertinya Istrinya ini telah mengetahui rencananya. Sungguh tatapan kesal Lezzy tadi membuat Fedrick cukup berkeringat dingin.


"Apa aku keterlaluan?"


"Saya sudah memperingatimu, Lord!"


"Iya, iya aku salah."


"Melihat Welliam marah itu sudah cukup. Terlebih saat wanita itu berniat mengeluarkan sihirnya."


"Namanya Aletha, coba ingatlah nama wanita itu yang akan menjadi menantumu, Lord."


"Tak kusangka, calon menantuku memberikan kesan terbaik dalam perkenalan. Kurasa dia sudah memenuhi syarat menjadi menantu, keluarga Lorddark's. Terlebih aku suka caranya dia bertarung, tapi kenapa Pedang itu menjadi sempurna saat dia yang menyentuhnya?"


"Anda telah diberi petunjuk mengenai itu, Lord. Lupakan itu, sekarang yang menjadi masalahnya, adalah bagaimana anda menjelaskan tindakan anda kepada Putramu yang sudah kelewat marah, Lord?"


"Diamlah, Alexa! Aku juga pasti akan mengatakannya, kalau ini hanya bercanda."


"Anda yakin ingin menjelaskannya dengan kata 'bercanda'?"


Fedrick sendiri tidak yakin, sepertinya dia benar-benar sudah kelewatan. Apalagi melihat Welliam yang sudah murka.


Lezzy menghampiri Aletha "Ikutlah denganku, Aletha. Dan kau Lucy.. Bukankah hari ini kau ada kelas Filsavat dengan Auriel?"


"Ah, Lu-Lucy lupa.., ekhem! Kak Aletha nanti kita bertemu lagi ya, bye."


Melihat kepergian Lucy, membuat Lezzy ikut pergi sembari membawa Aletha bersamanya. Tapi sebelum pergi Lezzy memberikan tatapan tajam kepada Fedrick, seolah berkata 'aku juga ingin mendengar penjelasanmu, Fedrick!!'


Welliam kembali melihat Briant "Kau tetap dihukum. kerjakan semua berkas wilayah yang ada diruanganku, satu lagi kau juga harus menggantikan aku pergi ke daerah Neptuna untuk mengontrol daerah disana!"


Lagi?!!


Briant baru saja menyelesaikan tugas Lord Besar dan sekarang dia mendapatkan hukuman, untuk mengerjakan tugas Welliam yang jauh lebih banyak dari pada Lord Fedrick.


Jika menolak perintah ini dia akan mati ditangan Fedrick, dan bila dia tidak mengerjakan tugas itu dia akan mati ditangan Welliam.


Mereka Ayah dan Anak yang mengerikan!


--.o☘o.--


Aletha hanya mengikuti langkah Lezzy tanpa ada yang saling berbicara. Entah lah, sejak Lezzy mengajaknya dia hanya diam sehingga Aletha enggan untuk bertanya.


Tapi kenapa sang Ratu memaafkan Tetua itu? Bukankah sudah sangat jelas kalau dia berniat membunuh?


Atau.., tunggu kalau tidak salah Lord Fedrick hadir di waktu yang tepat, dia juga merasa Briant selalu menatap kearah salah satu jendela di Kerajaan Lucifer.


Jangan-jangan, dia sedang di uji oleh Lord? Jadi ini peringatan yang dimaksudnya saat makan bersama.


"Aku minta maaf, atas kebodohan Suamiku, dia terlalu kelewatan dengan kejahilannya.." Ucap Lezzy tanpa melihat Aletha.


"Maksud, Yang Mulia?"


Lezzy berhenti, mereka sampai di sebuah padang rumput yang membentang luas. Daerah ini cukup jauh dari Istana, Aletha tidak melihat ada tumbunhan yang tumbuh. Hanya terdapat satu bangunan berdiri dengan gemilang ditengah padang rumput ini.


Sebuah rumah kaca berukuran besar, yang terlihat sangat megah. Lezzy melihat Aletha, dia harus mengatakannya agar Aletha tak perlu merasa hidup seorang diri dengan kebohongan.


"Masuklah, disini sangat aman untuk membahasnya.."


Dia ingin membahas apa?


Aletha menuruti untuk memasuki rumah kaca itu. Rumah ini begitu menakjubkan, bebebrapa tanaman tumbuh di dalamnya. Dua pohon kembar bunga persik berdiri ditengah-tengah, Lezzy menggerakan jemari lentiknya, membuat seluruh ruangan ini berubah.


Tak ada lagi dinding rumah kaca, yang ia lihat malah padang bunga mawar hitam dan bunga Lily emas, yang bercahaya.


Langit malam yang penuh dengan bintang dan satu bulan purnama membulat sempurna di balik dua pohon persik, seolah mereka sedang berada di dimensi yang berbeda.


"Duduklah.."


Aletha duduk disalah satu kursi yang tersedia tepat dibawah pohon persik, membiarkan tiap kelopak bunga menghujaninya dengan lembut.


"Kau mau teh?"


Aletha mengangguk "Em, Yang Mulia.., saya masih bingung, kenapa anda membawa saya kesini?"


Lezzy menghentikan kegiatannya menuangkan teh kedalam cangkir milik Aletha, lalu melanjutkannya lagi ke cangkir miliknya. "Aku tahu ini berat untukmu, Aletha."


"Untuk ku?"


Aletha meraih secangkir teh diatas meja sembari menunggu tanggapan sang Ratu.


"Kau berusaha menjadi lemah di Bumi, mencoba membaur layaknya Manusia. Tapi kau tidak bisa menunjukan kekuatanmu, hanya untuk sekedar melindungimu dari dunia kegelapan. Hidupmu penuh dengan tekanan beban."


"Maksud anda?"


"Aku telah mengetahui semuanya, Aletha."


"Saya tidak mengerti dengan ucapan anda, Yang Mulia."


"Kau tidak perlu menyembunyikannya dariku, aku pernah bilang kau tidak sendiri Aletha. Dunia ini, Kerajaan ini adalah tempatmu untuk pulang juga. Ceritakan kepadaku semua masalahmu, semua beban yang mengharuskanmu hidup dalam kebohongan."


"Apa yang ingin anda tahu, Yang Mulia? Saya hanya seorang Manusia. Saya juga telah mengatakannya mengenai status saya di Bumi? Bahkan, Yang Mulia mengetahui itu karena anda pernah bekerja disalah satu Perusahaan Wisteria."


"Kau memang hidup layaknya seorang Manusia di Bumi, mencoba menutupi dirimu dengan kehidupan bersosial. Tapi Aletha, kau bukanlah Manusia. Kau juga bukan bagian dari Darkness World..."


"Bu-bukan, anda salah paham. Saya sungguh Manusia, maaf Yang Mulia saya ingin kembali ke kamar. Latihan tadi cukup melelahkan.l."


Aletha nampak gugup, ia mengerti alur pembicaraannya. Tapi sungguh, Aletha berharap dugaannya tidak benar.


"Aletha Wisteria. Kau berasal dari bangsa Imorrtal, dunia para Dewa."


DEG!!


--.o🍁o.--