The Queen of Different World

The Queen of Different World
Fedrick suspicion



Aletha yang melihat buah apel jatuh tak jauh darinya, berdiri mencoba meraih dan berniat meletakan kembali ke wadahnya.


"Aletha!"


Brukh!


Aletha terjatuh, saat bertabrakan dengan pelayan yang hendak membantu mengumpulkan buah. Beberapa kain serbet yang ada ditangan pelayan itu, turut jatuh hingga sehelai kain menutupi wajah Aletha.


"Saya mohon maaf, Lady.."


Welliam bangkit dari duduknya dan memarahi pelayan barusan. Fedrick yang melihat Aletha terjatuh dengan beberapa kain menghampirinya, ia sedikit menurunkan tubuhnya mensejajarkan diri dengan Aletha.


"Kau baik-baik saja, Lady?"


Aletha sedikit mengangkat kepalanya, saat itu juga Fedrick merasakan deja vu dengan wajah Aletha yang tertutupi setengah oleh kain, jika melihat Aletha seperti ini dia mirip dengan sosok itu.


"....dia yang akan mengakhiri semua kekacauan ini bersama Pangeran."


Ingatan mengenai ucapan Alexa dan kejadian di Lorddark's Zone, kembali terputar dibenak Fedrick. Ia tersenyum smrik lalu membantu Aletha bangun.


"Saya baik-baik saja, terimakasih Yang Mulia dan juga maaf sudah merepotkan anda."


Aletha menyingkirkan kain yang ada diatas kepalanya, lalu merapikan sedikit penampilannya. Fedrick melihat tajam kearah Aletha.


"Boleh kutanya sesuatu kepadamu?"


"Apakah itu, Yang Mulia?"


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Bukan di istana tapi disuatu tempat yang tidak terduga?"


Aletha terdiam setelah mendengar perkataan Fedrick. Apa dia sudah mulai curiga, tapi sepertinya Lord masih belum tahu sepenuhnya. Karena dia sendiri masih memastikan dugaannya, pikir Aletha mencoba membaca situasi.


"Maaf Yang Mulia, ini adalah pertemuan pertama kita, saya juga baru pertama kali datang ke dunia Darkness World. Jadi mustahil bila kita pernah bertemu sebelumnya, kalau boleh saya tahu kenapa anda bertanya seperti itu, Yang Mulia?"


Fedrick menatap dalam kearah Aletha, lalu tersenyum samar. "Pintar."


"Anda mengatakan sesuatu, Yang Mulia?"


"Tidak, hanya saja kau terlihat....."


Fedrick sedikit mendekatkan diri ketelinga Aletha.


"..mirip seperti seseorang yang sedang kucari, Lady Aletha."


Deg.


Aletha sedikit mencengkram kuat buah apel ditangannya, mencoba sebisa mungkin bersikap tenang. Fedrick kembali menarik diri lalu mengambil buah apel ditangan Aletha.


Aletha berbalik membalas tatapan penuh menyelidik dari Fedrick. Ia tidak boleh mengalihkan tatapan mata tajam itu, atau jika tidak dia akan kalah.


"Kau baik-baik saja?"


Aletha mengalihkan perhatiannya kesumber suara "Ah, jangan khawatir aku baik-baik saja, Welliam."


"Lain kali berhati-hatilah, karena salah melangkah kau bisa saja terjatuh seperti tadi. Kuharap kau bisa nyaman berada disini, aku permisi dulu.."


Fedrick menggigit apel merah itu lalu berjalan melewati mereka berdua, menghampiri Lezzy yang masih berdiri disebrang meja makan.


Aletha melirik sinis kearah sang Lord. Itu bukan nasehat, tapi peringatan untuknya agar tidak mencoba melakukan sesuatu hal yang dapat melukai anggota kerajaan.


Sepertinya dia sudah salah paham dengan kejadian itu, aku harus berhati-hati lagi saat bertemu dengannya.


"Apa yang kalian bicarakan tadi?"


"Beliau hanya menanyakan keadaanku dan beberapa nasehat, Lord sungguh sosok yang perhatian."


Bukan, Welliam merasa bukan itu yang dibahas. Meski tidak tahu apa yang terjadi diatara mereka, tapi ia cukup pintar dalam membaca situasi. Ucapan Ayahnya adalah sandi tersembunyi untuk Aletha.


"Aku akan memberikan hukuman kepada pelayan itu."


"Welliam, dia tidak bersalah. Aku yang kurang memperhatikan keadaan, kejadian ini tidak sengaja."


"Tapi tetap saja, dia ceroboh."


"Kau terlalu sensitif, aku tidak terluka justru dia yang mendapatkan dampaknya jika kau melihatnya dengan aura membunuh."


Welliam menghela nafas "Baiklah, kali ini kau ku ampuni. Cepat bereskan dan pergi."


"Terimakasih atas kemurahan hati anda, Yang Mulia."


Lucy berjalan menghampiri Welliam dan Aletha. Jadi ini reaksi orang yang sedang jatuh cinta ya, masalah kecil seperti ini saja bisa dibuat masalah besar. Sungguh, kakaknya ini benar-bebar sudah berubah bila dihadapan Matenya.


"Maaf mengenai tadi, Aletha."


"Ratu tidak perlu meminta maaf, ini kesalahan saya."


"Baiklah, jika kau tidak apa-apa kami akan permisi untuk undur diri, oya untuk bebrapa hari kalian tinggal lah disini. Akan kusuruh Auriel untuk menyediakan kamar, atau kalian mau satu kamar saja?"


"Itu bukan ide yang buruk Ibu."


"Welliam! Em, saya lebih nyaman kamar terpisah saja, Yang Mulia."


"Hee.., padahal jika kalian satu kamar mungkin saja aku akan lebih cepat menerima cucu -,-"


"Jika Ibu bersikeras seperti itu, aku berjanji akan mengabulkannya lebih cepat, bukan begitu Aletha?"


"Apa! Ti-tidak Yang Mulia, ak--"


"Baguslah, kalau begitu kalian nikmati saja waktu senggang kalian, bersama-sama. Kami pergi dulu, ayo Fedrick."


"Tidak, Yang Mulia dengarkan dul--"


BLAM!


Pintu tertutup menandakan Lezzy dan Fedrick telah pergi. Aletha sudah benar-benar lemas, sudah bebrapa kali dia dibikin jantungan hari ini.


Oh, benar-benar keluarga yang menakutkan -_-


"Kau sungguh tidak sabaran ya, padahal dulu saat Ayah menyuruhmu untuk menikah secara pol-hump."


Welliam menutup mulut Lucy, sebelum menyelesaikan ucapannya. Dia sudah lelah mendengar ocehan adiknya ini.


"Hengmphamkan hangan khaha!"


(Lepaskan tangan kaka!)


Welliam melepaskan tangannya, membuat Lucy mengatur nafas dengan sangat buru-buru. Lucy menendang kaki Welliam dengan sepatu kokohnya.


"Kau--"


"Salam, Paduka." Sambut Ariel datang memberi hormat.


"Ada apa?"


"Saya ingin menyampaikan pesan King Harlie, kepada Putri Lucy." Ucap Ariel.


"Kau masih berhubungan dengan Raja Ikan itu, hah?!"


"Itu bukan urusan, kakak. Jadi apa yang dia katakan?"


"Beliau, sedang menunghu anda di Paviliun Gypsolen, Putri."


"Baiklah, terimakasih Kak Ariel."


"Sama-sama, Putri."


"Kau mau kemana, Lucy?"


"Tentu saja menemui Harlie."


"Aku sudah bilang berkali-kali, jauhi dia aku tidak suka kau dekat dengannya!"


"Kakak tidak punya hak melarangku, Harlie adalah Mateku!"


"Kau berani membatahku, Lucy? Sebagai Kakakmu aku tidak akan merestuinya!"


"Aku tidak perduli, kami juga bahagia kok. Jadi, berhenti ikut campur urusanku kak."


"Lucy!!"


Lucy mengabaikan panggilan Welliam, dan berlari meninggalkan Welliam yang masih marah.


"Siapa itu Harlie?"


"Dia adalah parasit yang paling ingin kubunuh! Tak perduli meski dia Mate dari Lucy. Aku tidak suka melihat bedebah itu bersama adikku!"


"Apa yang membuatmu membencinya?"


"Harlie adalah King di kaum Merrmeid, dia juga bisa dikatakan musuh bangsa Demon. Mengingat dulu dia pernah bermain api dengan para Carlitos! Aku tidak suka dia."


Carlitos? Kalau tidak salah, Lord Fedrick juga pernah mengungkit masalah itu. Apakah mereka ancaman di dunia ini?


"Apa Carlitos yang kau katakan, berkaitan dengan pekerjaanmu selama seminggu ini?"


"Ya."


Welliam berjalan keluar ruang makan seraya menggenggam tangan Aletha.


"Apa mereka ada kaitannya dengan Matenya Lucy?"


"Aku tidak tahu pasti, tapi dulu dia pernah menjadi bagian dari mereka. Meski dia sudah menjadi baik, tapi tetap saja aku tidak suka dengannya. Kita tidak tahu kapan pria dengan pikiran seperti mata pedang, akan kembali mengarahkan pedangnya kearah kita."


"Aku mengerti ke khawatiranmu sebagai seorang Kakak. Tapi tidak kah kau berfikir, bahwa kau terlalu mengekangnya, Welliam?"


"Aku tahu sikapku ini terlalu berlebihan, aku juga tahu Lucy bukan perempuan lemah. Tapi aku hanya ingin melindunginya, ada banyak definisi dunia yang belum ia ketahui. Bahwa dunia ini bisa saja berbohong kepadamu, dan mencoba menutupi kebusukan seseorang dengan simpatiknya. Bagiku dia adik berhargaku.."


Aletha tersenyum "Kau selalu berdebat dengannya, tapi ternyata sangat menyayanginya. Aku mengerti sekarang, kenapa kau selalu melarang Lucy untuk memasuki Castle mu. Itu karena kau tidak ingin menunjukan sisi kejam dunia ini, dan terpenting kau tidak ingin tawa riangnya hilang karena hal yang berbau dengan kekerasan. Seolah dia seperti pahatan kaca yang sewaktu-waktu bisa saja pecah, walau hanya tersentuh sedikit"


"Bagiku, Lucy masih terlihat seperti anak-anak yang rapuh. Sejak kecil aku sudah berjanji pada Ibuku, untuk selalu melindungi Lucy dari semua yang mampu membahayakannya. Karena dia terlahir dengan sangat spesial."


"Spesial?"


"Aku juga tidak tahu apa yang dimaksud dengan Spesial oleh Ibu, tapi setidaknya yang aku tahu. Aku harus melindunginya sebagai seorang Kakak."


"Kalau begitu, cobalah untuk berkata jujur. Aku yakin Lucy akan memahaminya.."


"Itu karena aku juga seorang kakak."


"Kau punya seorang adik, Aletha?"


Ya, jauh sebelum peristiwa itu terjadi, yang mengharuskan aku pergi untuk bersembunyi.


Aletha tersenyum kearah Welliam "Adik ku begitu persis seperti Lucy, periang dan juga sangat banyak bicara. Tapi, sekarang aku tidak tahu bagaimana keadaannya.."


"Aku minta maaf, jika itu mengingatkanmu dengan sesuatu hal yang buruk bagimu. Tapi setidaknya, Lucy sudah seperti adikmu juga."


"Kau tidak perlu khawatir Welliam, aku akan melindungi Lucy juga. Dia sudah seperti adik bagiku, meski terkadang sedikit menyebalkan."


Welliam menyelipkan rambut sutra Aletha, ke tilanga mungilnya. Lalu mengusap lembut wajah Matenya.


"Lupakan masalah Lucy, ini waktunya bagi kita untuk menghabiskan waktu bersama." Welliam kembali menarik Aletha untuk berjalan, menuju ke tempat yang ada dibenaknya.


--.o☘o.--


Padang rumput hijau menggelar bagaikan permadani, beberapa bunga tumbuh dengan berbagai jenis dan warna. Pohon-pohon rindang berbaris rapih di setiap sudut taman.


Suara gemersik dari sungai yang mengarus deras menuju danau, benar-benar sangat segar. Aletha menyukai tempat ini, taman disini jauh lebih hidup dan terlihat sangat indah.


Apalagi beberapa kaum Fairy terbang menari diatas bunga-bunga, mereka mengurus semua taman disini. Serbuk peri dari sayap mungil mereka berjatuhan ditiap kelopak bunga, membuat bunga yang kuncup perlahan mulai bermekaran.


Aletha mengamati setiap bunga yang tumbuh disini, mata biru bagaikan cerminan langit, merekam lambat bunga Gracelia berwarna jingga cerah.


"Oya Aletha, aku lupa mengatakan sesuatu. Kau boleh melihat sepuasmu tapi jangan sampai meme--"


TEK!


"..tiknya."


Terlambat.


Weliam terlambat mengatakan itu, sehingga Aletha terlanjur memetik bunga Gracelia dihadapannya.


"Ops.."


Welliam menghela nafas.


"Hanya satu saja, lagi pula masih ada banyak disini."


"Kau menyukai bunga itu?"


Aletha mengangguk "Bunganya indah dan juga aromanya begitu wangi."


"Sungguh? Seleramu begitu mirip dengan Ibu."


"Maksudmu?"


"Ibu menanam bunga Gracelia, karena dia bilang aromanya mirip Ayah. Dan satu hal lagi, taman ini di buat oleh Ayah khusus untuk Ibu."


Oh tidak! Sepertinya hari ini akan ada pemakaman untuk ku (T - T)


Aletha benar - benar sudah tidak dapat berkata lagi, ia diam mematung tanpa ada harapan untuk hidup. Terlebih, sekarang para Fairy yang ada disini menatap kearahnya, dengan setangkai bunga Gracelia ditangannya.


"Ba-bagaimana ini.." Aletha terlihat gupek mengenai bunganya.


"Ini semua salahmu." Lanjutnya.


"Kau yang memetiknya tapi aku yang disalahkan?"


"Ha-harusnya kau mengatakannya dengan cepat tadi!"


Welliam menggaruk sedikit kepalanya "Hem, jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya.."


"Caranya?"


"Lisza." Panggil Welliam kepada Fairy kecil.


"Saya Lisza Fanesya, menghadap anda Paduka."


Lisza mengangkat kepala lalu melihat kearah Aletha, jiwanya sebagai seorang Fairy tumbuh menggebu-gebu.


"Wah, Paduka Welliam. Siapakah wanita cantik ini?" Ucap Lisza sembari terbang memutari Aletha.


Itu karena Fairy suka sekali dengan sesuatu hal baru, atau sesuatu hal yang menurut mereka menarik.


"Menjauhlah darinya, aku memanggilmu bukan untuk melihatnya."


Lisza nampak cemberut "Lalu, apakah ada hal yang ingin anda perintahkan, Paduka?"


"Aku ingin kau mengurusi bunga yang telah di petik oleh mateku."


Lisza melihat tangkai gundul tak berbunga lalu beralih melihat bunga ditangan Aletha. Lisza tersenyum, ini hal mudah untuk diatasi.


"Baik, Paduka Welliam."


Lisza terbang memutari tangkai yang telah terpetik, dengan sangat cepat. Membuat serbuk peri berkilau dari sayap mungilnya, menumbuhkan kembali bunga Gracelia kesedia kala.


Huft..., syukurlah, sepertinya aku tidak jadi mati hari ini.


Aletha menghela nafas dengan lega. Sudah berapa kali dia menyinggung Lord dan Queen disini, meski tidak sengaja.


"Kau tidak perlu takut, Ayah sepertinya menyukaimu jadi dia tidak mungkin membunuhmu, hanya karena masalah ini."


Kau tidak tahu Welliam, aku pernah bertarung dengan Ayahmu. Bahkan dia memberikan peringatan-_-


"Ibu juga, pasti memaklumimu karena telah memetik bunganya."


Dari pada Ayahmu, aku lebih khawatir dengan Ibumu. Karena tanpa kusadari, beliau pernah menjadi bawahanku di cabang perusahaan Wisteria-,-


Pertemuan kita ini takdir atau karma ya?


"Bisakah kita kembali saja, aku sudah sangat lelah."


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamarmu."


Welliam dan Aletha berjalan menjauh. Lisza diam dengan sangat berseri-seri, ini pertama kalinya dia lihat, paduka Welliam bersikap santai dan tersenyum kepada seorang wanita.


"Lisza, apa yang kau lakukan disana?"


Lisza berbalik, ia melihat sosok yang memanggilnya.


"Olyfia?"


"Kenapa kau hanya diam berdiri disini?"


"Ah, kau ketinggalan hal menarik tadi."


"Maksudmu?"


"Kau lihat wanita bersama dengan Paduka Welliam? Dia wanita yang begitu sangat cantik dan juga auranya terlihat mirip seperti Alice."


Olyfia mengikuti arah pandang Lisza, ia sedikit menyipitkan mata mencoba untuk memfokuskan penglihatannya, kepada wanita yang dimaksud Lisza.


"Olyfia, ada apa denganmu?"


"Tidak ada, hanya saja dia terlihat seperti seseorang yang kukenal."


"Itu hanya perasaanmu saja, dilihat dari sosoknya sepertinya dia baru pertama kali ke dunia ini. Ayo, sebaiknya kita kembali ke Pixifly."


Olyfia kembali melihat kearah Aletha, lalu kembali terbang mengejar Lisza.


.


.


Disisi lain.


Fedrick berdiri di balkon pada lantai ke tiga, Kerajaan Lucifer. Sejak Welliam dan Aletha berjalan kearah taman, ia sudah terus-turasn memperhatikan mereka.


Rasa kecurigaannya kian semakin bertambah, saat dia terus memperhatikan sosok Aletha. Meski hari itu dia tidak bisa melihat wajah penyusup itu, tetap saja Welliam sangat yakin dengan dugaannya. Karena firasatnya tidak pernah salah.


"Salam Yang mulia, saya telah menyekesaikan berkas wilayah." Lapor Briant kepada Fedrick.


"Kalau begitu, hukumanmu kutambahkan."


"Lagi?!"


Fedrick menatap tajam kearah Briant.


"M-maksud saya, apakah tugas yang akan saya kerjakan, Yang Mulia."


"Aku membutuhkanmu, untuk memastikan seseorang." Ucap Fedrick kembali melihat kebawah.


Melihat perubahan raut wajah serius, Lord Besar. Membuat Briant mengikuti arah pandangnya, yang ia lihat saat ini hanya ada Lord Welliam dan seorang wanita.


Briant kembali serius "Apa yang ingin anda pastikan, Yang Mulia?"


"Perempuan yang bernama, Aletha Wisteria. Aku ingin kau melakukan sesuatu kepadanya, akan kuberitahu penjelasannya. Sekarang pergilah."


"Hamba mohon undur diri." Briant menghilang begitu saja.


Fedrick memasuki Kerajaannya seraya meraih segelas darah segar dari atas meja, di ruangan pribadinya.


"Sepertinya, aku mendapatkan calon menantu yang sangat menarik."


"Ingat perkataan saya Lord, anda tidak boleh membunuhnya."


"Jangan khawatir Alexa, aku hanya penasaran dan mencoba mengujinya saja."


"Lakukanlah apa yang ingin anda lakukan, tapi saya beri nasehat kepada anda Lord. Jangan terlalu berlebihan, jika tidak ingin melihat Putra anda murka."


"Justru aku ingin melihatnya serius, bukankah ini bisa menjadi penguji hubungan mereka?"


"Hem.., saya tidak akan ikut campur."


Fedrick meminum darah segar itu, mata Iblisnya berkilat sangat dalam. Mencoba menebak reaksi apa yang akan ditunjukan oleh putranya.


--.o🍁o.--