The Queen of Different World

The Queen of Different World
A Pregnancy That Must Be Kept A Secret



  ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ ꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷.🍁.꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷   ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟


Jangan pandang sebuah hubungan dari kesempurnaan. Tapi, pandanglah hubungan itu karena saling membutuhkan untuk melengkapi kekurangan dari pasanganmu sendiri.


────────────── · · · · · ✦


.


"Aletha, haruskah kau turun kemedan perang? Maksudku, lebih baik kau berada di Istana dan biarkan Welliam yang mengurusnya."


"Tidak bisa Ibu, aku harus berada di peperangan ini. Tahlia dia---"


"Aku tahu kau sangat kuat Aletha. Hanya saja, aku ..., aku tidak bisa mengizinkanmu pergi kemedan perang, dengan kondisimu tengah mengandung."


"Ibu, bilang apa?"


"Saat ini, kau sedang hamil Aletha!"


Kalimat itu begitu jelas terdengar, entah dia harus bahagia atau takut. Akhirnya apa yang mereka dambakan hadir kedalam hidup rumah tangga kecil mereka, tapi kenapa harus hadir disaat waktu yang tidak tepat?


Aletha tidak menyalahkan anugrah Tuhan ini. Tapi jika Welliam tahu dia sedang mengandung, sudah pasti dia tidak akan di izinkan turun kegaris depan.


Tidak! Jika dia tidak ada disebelah Welliam. Mimpi itu akan terwujud, dimana Tahlia akan membunuh Welliam menghunakan senjata artefak Dewa. Bahkan mampu membunuh seorang Dewa dalam sekali serangan.


' Kau akan melihat mate yang paling kau cintai mati, Aletha! '


"Aku akan coba bicara dengan Welliam mengenai posisi--"


"Tidak! Ja-jangan beritahu dia ..." Aletha sepontan menahan tangan Lezzy saat dia hendak beranjak pergi.


Lezzy menoleh melihat Aletha yang terlihat sangat pucat "Aletha ..."


"Kumohon, jangan beritahu mengenai kehamilanku kepada siapapun termasuk Welliam."


"Aletha apa kau benar-benar akan pergi berperang, dengan kondisimu saat ini?!"


"Ya, aku ..., aku akan tetap prgi."


"Aletha, apa yang sedang kau fikirkan? Jika kau nekad pergi, tidak hanya untuk kandunganmu tapi kau juga bisa dalam bahaya!"


"Aku tahu ini gila, tapi, aku juga tidak bisa meninggalkan situasi saat ini. Ibu, aku pasti akan melindungi ana---"


"Apa kau bisa menjamin keselamatan kalian? Akan sangat mustahil kau bisa mempertahankannya dalam keadaan bahaya, Alwtha. Bahkan kandunganmu saja masih terlalu muda. Aku tidak bisa menerima ini!"


Aletha bangun menghadang Lezzy. "Jangan pergi Ibu, dengarkan aku dulu. Aku ingin menyelesaikan ini sendiri."


"Aletha kau selalu menyelesaian masalah besar dengan keputusanmu sendiri, disini ada kami. Cobalah untuk lebih mengandalkan orang-orang disekitarmu! Apa kau tidak memikirkan Welliam? Apa kau masih ingin hidup dalam kebohongan?" Aletha diam, dia juga sangat tertekan dengan situasi ini.


"Dengar Aletha, jika Welliam tahu kau dan juga anakmu dalam bahaya. Dia yang akan paling merasa tidak berguna, kali ini saja biarkan Well---"


"Lalu aku harus diam sembari menunggu kabar mengenai kematiannya, Ibu?"


"Itu tidak akan terjadi."


Aletha menggelengkan kepalanya pelan, dia menolak ucapan Lezzy. "Ibu tidak tahu, sejak kami memilih untuk hidup bersama. Maka kata perpisahan sudah melekat kuat didalam hubungan kami, mungkin saja perang ini bisa membuatnya pergi dariku. Aku akui aku yang mengajukannya, tapi takdir memang ingin kita memilih jalan penuh bahaya ini."


"Bukan berarti kau harus mengorbankan anakmu."


"Aku tidak berniat mengorbankan anakku, aku juga tidak berniat mengorbankan Welliam. Tapi, mimpi itu memberikanku tekanan batin yang begitu menyesakkan. Ibu, semua masalah yang terjadi berawal karena diriku. Sejak dulu, dendam Tahlia adalah benih yang kutanam hingga menjadi tanaman berduri akibat kebodohanku yang tidak mampu memperhatikannya dengan baik. Bahkan, semua penderitaan yang anda lalui dulu pun, juga karena diriku ..."


Lezzy diam, semua penderitaannya dulu ..., dari kepergian orang tua hingga penghinaan dari orang-orang disekitarnya. Berawal dari Aletha? Mungkinkah ini sudah menjadi satu paket yang merantai seribu permasalahan.


Sehingga penderitaan ini masih tetap menurun kepada hubungan anak-anaknya. Sungguh, ini tidak adil! Lezzy ingin berteriak dihadapan sang takdir, kenapa ini tidak ada ujungnya?!


"Maaf... hiks, maafkan aku untuk semua penderitaanmu ..."


Aletha jatuh terduduk, sembari merintih. Dia yang menyandang gelar Dewi Perang terkuat, harus dibantah dalam satu tetes air mata.


Mungkin mereka melihat dia sebagai sosok wanita kuat. Tapi sekali lagi, kita diberi tahukan bahwa Dewa juga bukan mahluk sempurna. Mereka, yang diberi sebuah selumbung perasaan pasti akan tergoyah dalam keadaan tertentu.


Lezzy mencoba menahan emosionalnya, berusaha kuat agar tidak kecewa pada pilihan takdir. Berusaha menyangkal bahwa semua ini berawal dari Aletha, sejak dulu dia juga ingin tahu kenapa orang-orang yang dia cintai harus pergi dalam sekejap.


Orang tua yang begitu hangat, harus pergi dan meninggalkannya sendirian dalam usia dini. Bahakn berlanjut hingga kedua orangtua angkatnya, yang ikut pergi meninggalkannya dalam kesepia diusia 10 tahun.


Membiarkan dia yang masih gadis kecil, hidup dalam irian batin akan sebuah keluarga sempurna.


"Aku akan menebus semua kesalahanku, menghilangkan dendam pada Tahlia yang telah lama merugikan banyak orang. Jadi, biarkan aku pergi, aku tidak ingin ada yang terluka karena diriku. Kumohon, jangan renggut mereka dari diriku lagi ..., ibu aku pasti akan baik-baik saja."


Lezzy menuntun Aletha untuk duduk kembali diatas kasur bersama dirinya. Ia genggam erat tangannya, Lezzy juga sudah tidak marah lagi. Waktu tidak dapat diputar, masa lalu hanya akan menjadi kenangan untuk memberikan pelajaran agar masalah dapat diselesaikan dimasa mendatang.


Mungkin saat inilah, waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya. Lezzy menghapus air mata Aletha seraya mengusap sayang kepadanya.


"Baikalah, aku ..., aku akan mengizinkannya. Tapi, kau tidak boleh berada digaris depan. Kau harus tetap di tenda, aku hanya mengizinkan kau ikut dalam perancangan strategi tapi tidak dengan perangnya. Auriel dan Ariel akan ada disana untuk mengawasimu, mengerti?!"


Aletha sedikit berfikir, meski ini berbeda dengan tujuannya. Tapi, ini lebih baik dari pada harus tetap di kerajaan. Baikalah, untuk saat ini kita ikuti saja sisanya akan Aletha fikirkan setelah disana.


"Ibu jangan khawatir, itu sudah cukup. Tapi, apa Ibu akan memberitahu Welliam?"


"Aku tidak setuju dengan keinginanmu untuk merahasiakannya. Tapi ..., baiklah, Aku tidak akan memberitahukannya, tapi kau harus tepati janjimu!"


Aletha memeluk Lezzy, meski dia sendiri takut bila terjadi sesuatu pada kandungannya. Tapi, ia berani bersumpah akan menyelamatkan mereka berdua.


"Aletha!"


Mereka menoleh, melihat Welliam datang tergesah-gesah bersama Lucy. "Kau baik-baik saja?"


"Apa kakak bodoh? Tentu saja Kak Aletha sedang kurang sehat, aku kan sudah mengatakannya bahwa kondisi kak Aletha sedang tidak baik. Apa selama tiga hari ini, Kakak memaksanya bekerja keras?"


"Yang kutanyakan kondisinya sekarang, dan aku juga tidak memaksanya! Sebaiknya kau keluar saja, biarkan aku yang mengurus Istriku."


"Menyebalkan! Kak Aletha, setelah Iblis ini keluar. Lucy akan datang lagi dan serahkan kesehatan Kakak kepadaku.., aku akan merawat Kakak."


"Aku hanya kelelahan saja, jangan lhawatir."


"Cepat keluarlah!"


"Iya iya! Tahu begitu, tadi aku tidak perlu memanggil Kakak. Ayo ibu." Lucy berjalan pergi dengan wajah jengkel.


"Kau harus ingat apa yang kukatakan, sekarang istirahatlah. Ibu titip Aletha kepadamu Welliam ..."


"Ibu tidak perlu khawatir."


Lezzy berjalan meninggalkan mereka, saat hendak menutup pintu. Ia tatap kembali Putra-Putrinya. Melihat tekad Aletha membuatnya ingat dengan kejadian pada masa lalu.


Dulu, dia hanya bisa menjadi penoton meski tahu Fedrick dalam bahaya. Dulu, dia hanya memilih menurut untuk pergi meninggalkan Fedrick padahal konfisinya sedang tidak baik.


Bahkan, dulu, dia sempat hilang arah hingga akhirnya sosoknya sebagai Vasilissa lah yang menyadarkan dan menyatakan siapa jati dirinya.


Jika saja dulu, dia bisa seberani Aletha untuk menerjang pilihan sulit yang membawa perpisahan. Dan bersikeras tetap disebelah Fedrick, nungkinkah hal ini tidak akan terjadi?


Inilah yang membuat dia dan Aletha berbeda. Mahluk yang sama-sama ditakdirkan untuk menjadi Wanita penguasa dalam gelar Queen. Namun, memiliki sikap kepemimpinan yang berbeda.


Lezzy tersenyum, dia menutup pintu. Seraya berharap Putra dan Putrinya dapat melewati ini dengan membawa kemenangan bagi kedua dunia.


"Hari itu, pasti akan segera tiba ..." Lezzy kembali menyusuri lorong istana.


.


.


"Kau yakin tidak apa-apa? Atau mau kupanggilkan Haikal?"


"Tidak perlu, tadi Ibu sudah mendatangkan Alkemis istana. Aku hanya kelelahan saja."


"Kau selalu saja membuatku khawatir. Aku benar-benar tidak habis fikir, bagaimana caranya membuatmu tidak berulah terus-menerus!"


Aletha tertawa kecil "saya mohon belas kasih anda, Paduka Lord."


"Sekarang kau suka bercanda ya? Pokoknya, selama empat hari ini kau tidak boleh turun dari tempat tidur ini."


"Apa kau ingin membuatku lumpuh, hah? Aku tidak mau!"


"Kalau begitu jangan kerjakan apapun termasuk jalan-jalan ditaman."


"Apa? masa ketaman saja tidak boleh?"


"Tidak!"


"Kalau bertemu dengan Lucy?"


"Tidak!"


"Bagaimana dengan Ibu?"


"Tidak!"


"Keperpustakaan?"


"Tidak!"


Aletha melirik kesal "Setidaknya biarkan aku--"


"Tidak! Pokoknya kau tidak boleh kemanapun, sampai kondisimu membaik."


"Wah, aku seperti anak kecil saja. Sebenarnya, kau ini ayahku atau suamiku?!"


"Suamimu, jadi jangan membantah!"


"Menyebalkan." Aletha menarik selimut seraya tidur membelakangi Welliam.


"............."


"Aletha apa kau mara---"


"Menjauh dariku 10 meter, Welliam!" Ketus Aletha.


Melihat reaksi Aletha, sepertinya dia tidak akan bisa menghabiskan waktu malamnya bersama Aletha, apalagi Aletha dalam suasa bad mood.


Padahal, aku sudah capai-capai membujuk Briant -_-


--.••°o🌻o°••.--


*Dimensi, Aletar Suci Agra


[ Tanah Peperangan ]


~Camp Wilayah Lucifer.


Sesuai hari perjanjian, untuk melangsungkan perang yang menentukan pengakhiran dari sebuah masalah yang terus bercabang menjadi konflik.


Tanah Agra, tidak berada di wilayah Imorrtal ataupun Darkness World. Melainkan sebuah dimensi terpisah yang memiliki wilayahnya sendiri, terbentuk dari permohonan kaum Manusia pada zaman peperangan dulu.


Sehingga Aletha menjadikan dimensi ini, sebagai dunia pararel dari Bumi atau replikanya. Meski masa telah berubah, tempat ini tetap sama.


Kini mereka telah berada dipesisir utara dari bagian Agra, untuk membangun Camp sebagai peristirahatan mereka.


Sejak meninggalkan Kerajaan, Auriel dan Ariel benar-benar tidak sedikitpun melangkah pergi dari sisi Aletha sehingga ia benar-benar bosan. Bahkan Fivian tidak akan melayaninya selama perang berlangsung.


Lezzy benar-benar tidak mengizinkan Aletha turun ke medan perang. Sejak datang kesini Aletha hanya diam di dalam tenda, dia terus memikirkan bagaimana caranya bisa ikut andil dalam perang, tanpa ketahuan Ariel dan Auriel. Tersisa 30 menit lagi sebelum perang dimulai.


Harusnya kaum Fairy dia ikut sertakan dalam perang ini, sehingga Olyfia mampu dia ajak kompromi. Tapi dia lengah dan menyuruh kaum Fairy tetap di Darkness World untuk membantu kaum yang tidak bisa bertarung.


Aletha berjalan keluar tenda dan seperti dugaannya, Ariel langsung menghadangnya.


"Salam Queen, anda tidak boleh meninggalkan tenda."


"Aku hanya ingin bertemu Welliam untuk membahas strategi cadangan."


"Maaf Yang Mulia, sudah 15 menit yang lalu. paduka serta pasukan inti pergi kegaris depan."


"Apa? Tapi bukanya masih tersisa 30 menit lagi? Dan juga kenapa aku tidak diberi tahu?"


"Auriel telah bilang kepada Paduka, bahwa anda akan berada digaris belakang untuk menjaga camp. Dan Paduka setuju, sehingga beliau pergi lebih dulu."


"Kau mengaturnya sendiri? Tanpa persetujuanku?"


"Benar Queen."


"Ariel, aku tidak mungkin pergi ke garis depan, percayalah. Sekarang kau bisa bergabung dengan para Alkemis."


"...................." Ariel tetap diam dengan sikap tegap dihadapan Aletha.


Ini sungguh menyebalkan, dia tahu kalau Ariel bukan pelayan yang langsung bekerja dibawahnya.


Tapikan dia seorang Ratu saat ini, apa dia tidak bisa mendengarkan perintahnya? Apa sebaiknya dia gunakan saja kekuatannya? Tidak, nanti malah maslah malah menjadi rumit.


"Kalau begitu, kau ambilkan saja beberapa buah untukku."


Ariel mengangguk, lalu dia menyuruh seorang pengawal yang kebetukan lewat di depan tenda utama. Menyuruhnya, mengambilkan beberapa buah untuk Aletha.


"Tunggu, kenapa bukan kau yang pergi?"


"Saya tidak mungkin meninggalkan anda, Queen."


"Apa sekarang kau sudah membantah perintahku?"


"Saya hanya melaksanakan perintah Ratu Besar. Yang Mulia, anda harus tetap menjaga kesehatan anda. Kami tidak bisa membiarkan anda dalam bahay--"


BOOM!!


Tiba-tiba saja dari arah jam 4, ledakan terjadi. Sirine peringatan terdengar menggema, kebulan asap besar memenuhi angkasa. Burung cemara terbang meninggalkan sarang yang berada di pohon tinggi.


"Yang Mulia!!" Teriak salah satu prajurit dari lima pengawal yang menghampiri mereka.


"Yang Mulia, kita mendapatkan serangan dadakan. Musuh menyerang kita secara langsung, sepertinya mereka te---"


"Lindungi, Yang Mulia Queen!!" Ariel berteriak saat melihat sebatang pohon besar terlempar kearah mereka.


Dengan cepat Ariel dan ke-5 prajurit itu membuat sihir perlindungan, agar pohon itu tidak sampai mengenai Aletha. Namun, sebelum pohon itu jatuh ketanah.


Aletha lebih dulu membelah hingga menghancurkannya menggunakan pedang Wisterianya, pedang ramping yang memiliki dua mata pedang sebening crystal.


Selang dari serangan itu, teriakan penuh ambisi para Carlitos yang memasuki wilayah camp mereka, terdengar dengan begitu jelas. Pasukan Carlitos menyerang mereka secara brutal, Ariel menuntun Aletha untuk ketempat yang lebih aman.


"Queen, sepertinya serangan dadakan ini akan sedikit menyulitkan kita. Mereka memiliki seribu pasukan dalam gerakan ini, jika keadaan memburuk saya akan mengirim anda kembali ke kerajaan."


Ini aneh, camp yang kubangun disini adalah area zona kekuasaanku. Beberapa sihir kuat pun telah terpasang, tidak mungkin jika musuh dapat melacaknya. Lalu bagaimana mereka menemukannya?


' Seminggu lagi, mari kita bertemu di tanah Agra! '


Tahlia! Jadi kau sudah memahami letak geografis dan struktur dari dimensi ini? Tidak heran jika dia berhasil menebak dimana aku akan mendirikan camp untuk keamanan kami!


"Yang Mulia, anda mendengar say--"


"Ariel, dimana kembaranmu?"


"Saat ini Auriel menangani sisi camp lain, sebentar lagi juga pasti akan datang kesini. Ada apa Queen?"


"Bagus, kau dan Auriel tetap berada disini. Segera rawat prajurit yang terluka, sebisa mungkin tahan mereka agar tidak semakin menyebar."


"He?"


"Dan juga, buat formasi bintang enam bersama kaum Elf, agar tekanan dari serangan musuh dapat kita atasi. Aku akan menemui Welliam, pasti ada yang tidak beres!"


"Tunggu, Yang Mulia!" Aletha pergi begitu saja tanpa mendengarkan ucapan Ariel.


"Yang Mulia! Anda tidak boleh pergi ke--"


Stup!


DUAARR!!


Ariel mundur beberapa langkah saat sihir panah datang hendak melukainya. Seorang pria berdiri tepat dihadapannya, mencoba menantang Ariel untuk tanding by one.


"Kau!"


"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi dari sini, Ariel."


Tatapan Ariel mendingin saat mengenali musuh dihadapannya. "Apa sekarang kau sudah bosan hidup, Beta Karlos?!"


.


.


Aletha berjalan dengan sangat tegas melewati para musuh dan sekutu yang saling beradu kekuatan untuk membunuh. Beberapa sihir yang dilancarkan kearahnya, seketika langsung hancur tanpa melukainya.


Itu karena beberapa kelopak Wisteria terbang mengelilinginya, seperti melindungi Aletha dan tidak akan membiarkan musuh menyentuhnya walau seujung jaripun.


Aletha geram sekaligus kesal, pada penyerangan yang harus ia akui, bahwa ia juga lalai bila nanti terjadi penyerangan dadakan seperti ini.


"Jadi kau ingin bermain curang Tahlia? Aku tidak akan mengampunimu!"


Aletha menggengam erat pada pedangnya, ia mengangkat pedang Dewi kebanggaanya lalu dengan kuat menancapkanya kedasar tanah.


"ΕΞΆΠΛΩΣΗ!!"


(Habisi Mereka!)


Pedang itu bersinar, lalu terlukis pola sihir besar dibawah pijakanya. Sihir itu mengguncangkan daratan dengan dahsyat, membelah tanah menjadi beberpa bagian sembari membentuk jurang-jurang tak berdasar.


Para Carlitos yang dia kehendakinya, jatuh kedalam jurang buatan Aletha. Kembali Aletha menarik pedangnya, berputar lalu mengayunkan pedang pusakanya denganangat sempurna.


Sehingga tanah yang tadi menelan ratusan korban jiwa dari musuhnya, menutup kembali. Tepat disaat itu, sepasang sayap putih keperakan terbuka merkah dengan sangat tangguh dipundak Aletha.


Sayap itu menghentak kuat, dia terbang ke langit tertinggi, sehingga dapat melihat seluruh daratan di tanah suci Agra ini.


"Sudah kuduga, Tahlia memang telah memahami tempat ini. Dan juga, para Troll hasil temuannya memang diturunkan kedalam medan perang! Kalau begitu ...."


Aletha memberikan isyarat perubahan strategi menggunakan sihir manna-nya. Yang saat ini terlukis diangkasa membentuk bunga Wisteria, berwarna biru keunguan. Sebagai tanda, bahwa mereka harus menggunakan formasi cadangan seperti yang direncanakan.


"Aku tidak akan membiarkanmu terus berjaya, Tahlia! Hari ini juga, kau akan mati."


--.••.o🍁o.••.--



Maaf atas kurang nyamannya dalam Up cerita. Seminggu ini Author sedang kurang sehat, jafi aktifitas banyak yang tertunda.


Tapi jangan khawatir, cerita ini tidak akan membuat kalian bosan ataupun memiliki akhir kisah yang mengecewakan.


*Mohon Pengertiannya


Salam Manis


Author❤