
Selepas dari urusannya di wilayah Neptuna, kini Welliam masih menyibukan diri dengan tumpukan berkas berisi catatan laporan Carlitos dari tahun ke tahun.
Ia pernah meminta Alebrd untuk membawakan semua dokumen berisi data Tetua terdahulu. Tidak disangka semua data para Tetua dan para bangsawan ternama, menjadi kelinci percobaan bagi Carlitos.
Tapi ada sebuah laporan yang membuat Welliam sedikit berfikir keras. Di situ tertulis, tepat saat Lord Fedrick menyuruh Alberd untuk menangkap semua para Tetua, mereka justru mati dengan sangat mengenaskan.
Sehingga Fedrick belum sempat menanyakan jelas mengenai rencana Katastrofi. Meski begitu, Fedrick tidak terlalu memikirkannya karenan mau mereka mati atau hidup tidak akan merubah apa pun, pada waktu itu.
Karena hal ini juga, membuat Welliam memutuskan untuk pergi sendiri ke wilayah Neptuna. Terjerat sebuah laporan rahasia, bahwasanya Katastrofi memiliki dua orang tangan kanan kepercayaannya.
Dia adalah Harlie dan Erca. Hanya saja Erca telah mati di tangan Tetua Styvn, di hari itu juga Erca yang sejak dulu telah menyamar menjadi Elinna, mengharuskannya berada di sisi sang Ratu.
Otomatis, para Tetua itu mati di tangan Harlie. Tapi nasib Harlie jauh lebih beruntung, karena dia berhasil dimaafkan oleh Ibunya dulu. Itulah mengapa Welliam benci bedebah seperti dia!
Namun disebuah buku Darkness World tertulis dengan sangat kecil, "Aremtanestua Farmegastia meruokrcih, wertigo----" Yang berarti (rahasiaku tersimpan di lautan terdalam, dia me----).
Kalimat itu terpotong karena sebagian kertas pada halaman buku itu hilang, tapi untungnya Welliam menemukan potongannya. Yaitu tiga lembar dokumen yang dia dapatkan disebuah goa karang di lautan dasar Neptuna.
Welliam telah memahami semuanya, mulai dari permasalahan Rechyla sampai kisah kedua orang tuanya. Hanya saja untuk menarik keluar peran antagonis yang sebenarnya, Welliam memerlukan konflik yang mengharuskannya memainkan trik tarik ulur sebuah permasalahan.
Di tengah rasa pusing memikirkan para Carlitos, Welliam lebih tidak bisa tenang saat melihat wanita cantik yang sejak tadi terus-terusan tidak bisa diam, dibalik selimutnya.
Welliam menutup dokumen ditangannya, lalu bersandar pada kursi kerjanya sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kau masih belum tidur juga, Aletha?"
Aletha menyibakan selimut yang tadi menutupi wajahnya. "Bagaimana bisa aku tidur, jika kau ada disini?! Bahkan kau sampai memindahkan meja kerjamu di kamarku. Kau fikir kamarku adalah ruang rapat, ha!"
Aletha tidak tahu kalau Welliam kembali lebih cepat dari perhitungannya. Saat setelah dia bermaim bersama Lucy di danau Wisteria, Aletha benar-benar kaget melihat Welliam sudah duduk dengan sangat rapih di kamarnya, lengkap dengan semua berkas kerjanya yang sudah kelewat menumpuk.
Tapi yang membuat Aletha kesal, kenapa harus dikerjakan di kamarnya? Bila dia masih sibuk jangan diperlihatkan secara terang-terangan dong! Kan, Aletha jadi semakin kesal, pasti malam ini dia tibak bisa beristirahat dengan nyaman.
"Bukankah kau merindukanku?"
"Lalu, haruskah kau membawa semua pekerjaanmu ke kamarku?"
"Aku harus menyelesaikan ini sebelum acara pernikahan."
"Kalau begitu, kerjakanlah di ruanganmu."
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku bisa gila, jika tidak melihatmu."
ALASAN MACAM APA ITU!!
Aletha melirik kesal, apa Welliam masih anak kecil? Sabar..sabar.., kau harus sabar Aletha.
"Yang Mulia, hari ini aku sangat lelah.."
"Kalau begitu tidurlah."
"Aku tidak bisa tidur, dari tadi mendengar suara lembaran kertas dokumenmu itu!"
Welliam berjalan menghampiri Aletha, ia menatap intens Matenya. "Perlu kubantu, agar kau bisa tertidur lelap?"
"Ti--tidak usah!" Kembali Aletha menutupi dirinya dengan selimut tebal, sepertinya ada maksud lain dari ucapannya itu.
"Apa hari ini, Lucy terlihat senang?"
"Maksudmu?"
Welliam membuka selimut yang menutupi Aletha, "kau membawa dia ke danau Wisteria, apa Lucy terlihat sangat bahagia?"
"Kau tahu?"
"Apa yang tidak kuketahui di dunia ini?"
"Kebodohan mu."
"Kau bilang apa?!"
"Maksudku, hari ini Lucy sangat senang. Bahkan dia jadi akrab dengan Zymba,"
"Kalian bertemu dengan Zymba?"
Aletha mengangguk, "jangan khawatir, Zymba tidak melukai kami. Tunggu, tidak biasanya kau membahas Lucy."
"Aku tahu, Lucy sering bercerita tentang Harlie kepadamu."
"Kau mengetahuinya?!" Aletha terbangun.
Welliam melihat Aletha, lalu berbaring disebelah Aletha. "Dia adikku, tentu saja aku tahu semua yang dilakukannya."
"Jangan bilang kau menyuruh Asassin mu untuk mengawasi Lucy, secara diam-diam?"
"Menurutmu?"
"Welliam, aku tahu Lucy bersikap kurang dewasa. Tapi, kau jangan terlalu keras kepadanya, maksudku biarkan dia menyelesaikan sendiri urusannya dengan Raja bedebah itu!"
"Sepertinya kau sudah tahu sifat Harlie."
"Aku tidak menyukainya, sangat tidak suka! Tapi, aku akan mencoba menghargainya karena perasaan Lucy."
"Sejak kecil, Ibu selalu bilang. Dunia luar adalah masalah bagi Lucy, dia yang terlahir spesial begitu mudah rapuh untuk berjumpa dengan orang lain. Alasan Lucy dilarang keluar kerajaan, karena Ibu khawatir dengan garis hidupannya yang mungkin saja dia sendiri masih belum kuat untuk mengatasinya. Meski aku sendiri kurang paham, tapi pasti karena inilah alasan ke khawatirannya."
Aletha paham yang dimaksud Ratu Alicia, ia juga tahu pasti Ratu ingin menyembunyikan identitas Lucy dari bangsa Imorrtal. Hanya saja Aletha takut, semakin dirahasiakan justru Lucy semakin terluka.
Tapi apalah daya Aletha, dia juga tidak punya hak untuk merubah takdir yang telah ditetapkan untuk Lucy. Ia hanya berharap, darah Crownsiamoer tidak terlalau menjerat Lucy dengan rantai pilihan hidup.
Aletha kembali berbaring seraya memeluk Welliam. "Jangan khawatir, Lucy masih dalam fase pengujian, sebelum waktunya dia harus belajar dari semua masalah pada takdirnya. Semua orang termasuk dia pun, berhak untuk bahagia meski dengan cara labirin hidup yang berbeda."
Mungkin hadirnya Aletha dalam hidupnya bisa membantunya dalam mengatasi Lucy. Interaksi Welliam kepada Lucy selalu dalam batas perdebatan. Walau tidak pandai merangkai kata untuk lebih dekat, tapi inilah caranya Welliam untuk selalu memperhatikan Lucy.
Sekarang Welliam bisa legah karena Aletha dan Lucy begitu sangat akrab, jadi dia tidak terlalu khawatir dengan keseharian Lucy.
Welliam melihat Aletha yang sudah terpejam, sepertinya dia benar-benar kelelahan hari ini. Sembari mengelus lembut wajah sang Mate, Welliam melirik kembali tumpukan dokumen Carlitos.
.
"Apakah pemilik kalung itu masih hidup?"
"Masalah Darkness World berkaitan juga dengan Imorrtal...."
"....bagaimana jika Dewa Alam yang memisahkan kita?"
"Aletha bagian dari Imorrtal..."
".....jangan pernah cari tahu mengenai masa laluku."
"Rasa ingin tahumu bisa membunuh Aletha..."
.
Jika pemimpin Carlitos berkaitan dan berniat melukai Aletha, tidak ada pilihan lain. Welliam harus bersikap sedikit posesif kepada Aletha, terlebih musuhnya akan semakin menjadi hama bila tidak cepat ditangani.
"Hanya tinggal sedikit lagi, semua akan baik-baik saja. Carlitos atau pun pihak Imorrtal, aku jamin mereka tidak akan bisa menyakitimu, Aletha."
Welliam membenarkan posisi tidur Aletha, lalu menarik selimut untuk membuat Aletha semakin nyaman dalam tidurnya. Seraya memberikan kecupan sayang kepadanya, Welliam beranjak pergi meninggalkan kamar sang kekasih.
Tepat saat pintu tertutup, Aletha membuka matanya. Sejak tadi Aletha memang tidak tertidur, dia hanya meresapi rasa kenyaman bila bersama Matenya.
Tidak disangka ucapan Welliam membawa rasa khawatir kepada hatinya. Sebenarnya Aletha masih menimbang rasa bingung, bila Welliam telah melakukan penandaan Mate, bukankah itu berarti Welliam melihat jelas dirinya yang sebenarnya?
Tapi Welliam tidak mengungkit sedikitpun mengenai itu, ataukah dia memang sudah tahu tapi bersikap tidak mengetahuinya?
Carlitos dan Imorrtal, aku juga ingin tahu apakah dia bagian dari Carlitos dan telah merencanakan ini semua, sejak lama?
Aletha bangun lalu memperhatikan semua dokumen yang ada di meja kerja Welliam. Jemarinya mengetuk pelan pada halaman di buku Darkness World yang telah tercoret oleh tinta hitam, sebuh kata yang menjadi ciri khas tulisan Welliam.
'Pemimpin Carlitos ..........'
"Great Lady?"
--.o☘o.--
*Kediaman, Lezzy & Fedrick.
Fedrick melempar dokumen mengenai laporan wilayah, kesebuah meja dihadapannya. Mencoba menetralisir rasa pusing yang kian menumpuk dikepalanya.
Sudah 10 abad ia menduduki posisi Lord, memimpin dunia kegelapan dengan 7 ras dari bangsa yang berbeda. Masalah wilayah yang setiap hari semakin banyak membuatnya lelah, bahkan muak melihat para bangsawan itu terus menjilat posisi kasta berclaster.
Sekarang dia telah memiliki dua buah hati yang telah melewati usia kedewasaan. Dia pun telah menyerahkan posisinya kepada Putra tunggalnya, tapi walau begitu, dia masih harus menggantikannya berhadapan dengan para bangsawan.
Fedrick lelah, dia hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama sang Istri. Melepas kursi kekaisaran dengan tenang, dan berharap Putranya tidak merepotlannya lagi.
Tapi lihat ini, sudah senang kalau Welliam akan segera menikah, dengan begitu statusnya sebagai Lord tidak perlu disembunyikan lagi, tapi malah acara diadakan dengaan sangat cepat. Sehingga banyak urusan data temurun yang prlu ia salin secara terbengkalai.
Lezzy membuatkan secangkir blood tea yang biasa di minum Suaminya, untuk sedikit mengurangi rasa frustasinya karena kelakuan Putranya. Lezzy pun duduk disebelah Fedrick.
"Lezzy, setelah pernikahan mereka. Ayo kita tinggal di Bumi, hidup dengan status sosial keluargamu sebagai Crownsiamoer."
Lezzy tertawa kecil. "Apa kau segitunya frustasi dengan Welliam, Fedrick?"
"Aku tidak habis fikir, sudah senangnya aku memberikan gelar Lord kepadanya di usia mudanya. Tapi sampai sekarang, aku masih harus berhadapan dengan kaum penggila status itu. Sikap semenanya itu turunan dari siapa, ha?!"
"Tentu saja dari dirimu! Kau lupa bagaimana sikapmu dulu? Bahkan jauh lebih gila dari Welliam. Jika melihatmu seperti ini, kau terlihat seperti Kakek-kakek yang sangat kelelahan. Owh, aku lupa, kau memang sudah sangat tua."
"Walau usiaku sangat tua, tapi Suami mu ini masih memiliki karisma pemuda berusia 30 tahun. Kau tidak lihat wajah tampan Putramu itu turunan dari siapa?"
"Ahahaha..., Fedrick, sejak kapan kau memiliki sikap berlebih seperti itu? Seprtinya, laporan ini telah merusak sebagian otakmu. Berbaringlah, akan kubantu hilangkan rasa percaya dirimu itu, haha.."
Tentu Fedrick tidak akan menolaknya, lekas ia membaringkan dirinya dengan menidurkan kepalanya diatas paha Lezzy.
Kesempatan seperti ini sangat jarang ia dapatkan, akhir-akhir ini waktunya bersama Lezzy semakin sedikit hanya untuk mengirusi pekerjaan.
Untungnya, dia hanya perlu menyalin dari semua yang dikerjakan Welliam. Meski begitu dia juga pria normal yang ingin mendapatkan belaian kasih dari seorang Istri, tapi masih terjerat dalam urusan Putranya ini.
Fedrick memejamkan matanya menikmati belaian dari Mate terkasihnya, entah sudah berapa abad dia tidak memiliki waktu hanya untuk sekedar beromansa, seperti dulu.
Namun, sayangnya momen romantis mereka harus kembali terganggu. Saat Putra mereka tiba-tiba saja memasuki ruangan mereka, hal ini membuat Fedrick menghela nafas dengan sangat, sangat, lelah.
"Tidak bisakah kau membiarkan Ayahmu ini, memiliki waktu bersama Ibumu?" Ucap Fedrick tanpa merubah posisinya.
"Untuk malam ini tidak."
"Ka--"
"Fedrick.."
Fedrick mencoba tenang, lalu kembali pada posisi santainya, sembari menyilangkan tangannya dengan kaki kanan ia tekuk dan kaki kiri ia biarkan lurus.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan dengan kami, Welliam?" Lanjut Lezzy.
"Ini mengenai Aletha,"
"Ha.., jika kau butuh konsultasi hubungan, kau memilih waktu yang salah."
"Aku ingin acara penobatan Aletha sebagai Ratu, dilakukan tanpa ada yang menyaksikannya."
Fedrick bangun dari posisinya, "alasanya?"
"Hanya ingin menjaga keselamatannya saja,"
"Kau kan, bisa menambah jumlah penjagaannya? Bahkan kau punya pasukan Asassin. Kenapa harus penobatannya dilakukan secara tak langsung?"
"Aku ingin segera mengakhiri para pengkhianat yang bersembunyi di fraksin kita."
"Caranya?"
"Mudah, sebagian dari mereka telah kuamankan, tapi tersisa 18 kaum bangsawan yang belum menunjukan diri. Aku ingin menggunakan penobatan Aletha sebagai umpan. Memancing mereka keluar dengan sendirinya lalu menghabisi musuh yang membaur dengan sangat kompeten disekutu Lorddark's."
"Jadi, penobatan dilakukan secara tak langsung?"
"Benar, Ibu akan memandu Aletha selama penobatan berlangsung. Dan juga, meski hanya dugaan, tapi sepertinya pemimpin Carlitos memiliki ikatan tertentu terhadap Aletha."
Fedrick nampak berfikir, dia juga sempat menduga hal yang sama mengenai Aletha dan para Carlitos. Ia tatap Putranya beberapa saat, lalu mempercayakan semua masalah ini kepada Welliam.
"Baiklah, kita lakukan sesuai rencanamu. Sekarang Carlitos adalah musuhmu, lakukanlah apa yang menajdi keyakinanmu. Ayah akan mendukung semua pilihanmu,"
Welliam tersenyum sarkastik, dengan bangga dia bangun dari posisi duduknya. "Satu hal lagi, sebaiknya malam ini Ayah menyelesaikan semua berkasnya. Jika tidak, besok malam tidak akan ada waktu bagi Ayah untuk bersama Ibu."
"Kau!"
"Selamat malam, Ibu."
"Selamat malam, sayang. Salam untuk Aletha."
Welliam pergi meninggalkan kediaman orang tuanya. Lezzy melihat Fedrick yang benar-benar sudah frustasi dengan semua berkas laporan yang harus dia selesaikan, sebelum semua diambil alih oleh Putranya.
"Lezzy..."
"Welliam benar, Fedrick. Jika kau terus menunda, nanti semakin banyak laporan yang harus kau salin."
"Apa kau tega melihatku tersiksa dengan semua berkas yang tidak ada habisnya, ini?"
"Ini tugasmu sebagai seorang Ayah, Fedrick."
Lezzy tertawa, lalu beranjak prgi meninggalkan Fedrick yang masih ditemani dengan setumpuk berkas. Fedrick hanya bisa pasrah, seprtinya dia harus menahan sedikit rasa rindunya malam ini dengan Istrinya.
Biarlah ini juga adalah berkas terakhir yang akan ia kerjakan, karena setelah pernikahan Welliam. Dia tidak perlu lagi menggantikan Putranya untuk menjumpai rapat bangsawan atau pun mengurusi berkas yang tidak ada habisnya.
"Baiklah, mari kita selesaikan malam ini juga!"
--.o🍁o.--