The Queen of Different World

The Queen of Different World
Miss you ; A feeling



*Castle Violence.


Aletha duduk di atas pagar balkon, yang ada diluar kamarnya. Sejak kejadian menyelinap ke Lorddark's Zone. Aletha memutuskan untuk kembali ke Castle Welliam, dengan alasan Aletha tidak suka suasana yang ramai dan sudah nyaman dengan Castle Violence. Itu keputusan yang tepat, sebelum sang Lord Fedrick mengetahuinya.


Lezzy juga tidak bisa memaksakan, setidaknya Aletha bisa merasa nyaman untuk tinggal di dunia ini. Sedangkan Lucy masih terus mengunjungi Aletha.


Aletha menutup buku kisah yang diberikan Welliam. Terdengar helaan nafas lembut darinya, sudah beberapa hari ini, sorot matanya tidak terlihat bersemangat. Mungkin karena dua hari ini, tidak ada pesan yang selalu Welliam kirim lewat burung sihir.


Aletha menatap rembulan, hembusan angin membiarkan helaian rambutnya terhuyung. Sudah lama sekali Castle ini terasa sepi, apa karena dia? Aletha tersenyum samar. Bahkan hingga detik ini perasaan asing ini masih bisa dia rasakan, rasa sakit yang entah karena apa selalu melukai jiwanya. Setiap Aletha menyadari bahwa Welliam masih belum juga kembali.


Ia menatap bayangannya pada kaca pintu, yang menghubungkan kamarnya dengan teras balkon. Semakin lama warna rambutnya perlahan berubah, warna silver itu kian menyebar seiring berjalannya waktu. Aletha menggenggam kuat gaun tidurnya.


Apa semua akan baik-baik saja, jika perasaan ini kubiarkan seperti ini?


Angin hadir dengan begitu kencang, membuat Aletha menatap langit, hembusan angin itu membawa sesuatu yang sedang melayang-layang. Lalu jatuh dibawah kaki Aletha.


Ia meraih benda itu, sebuah bulu berwarna hitam ke'emasan. Dari bentuknya saja Aletha sudah paham, bulu ini berasal dari sayap perkasanya, apa dia telah kembali?


TAP!


Aletha melihat kearah pintu kamarnya, saat dirasa indra pendengarannya mengkap suara tapakan kaki. Ia berjalan keluar kamar, tidak ada siapa pun di lorong Istana. Tapi ini aneh, ada sesuatu hal yang menarik diri Aletha untuk berjalan menelusuri lorong-lorong Istana.


Langkah kaki yang berjalan lambat, perlahan mulai berjalan cepat. Bahkan saat Aletha menuruni tiap anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai lainnya, ini tidak seperti dirinya. Apa yang sedang terjadi, padahal Aletha tidak tahu untuk apa dia pergi ke lantai dasar. Tapi tetap saja, raganya terus berjalan maju tanpa diperintah oleh Aletha.


Sejumlah pelayan yang masih beraktivitas di malam hari. Menatap bingung, saat melihat Aletha yang biasanya terlihat tenang, berlari dengan sangat terburu-buru. Ia tidak perduli pada pandangan mereka, sekarang yang paling dia pikirkan adalah perasaan yang begitu mengganggunya.


Entah lah, hanya saja ia merasa jantungnya berdetak dengan cepat, tatkala Aletha semakin mendekati pintu utama Istana. Ia menggenggam sangat erat bulu hitam indah itu, lalu secara sepontan Aletha membuka pintu utama dengan sangat lebar.


Brak!


Krieet..


Angin berhembus kencang, bahkan bulu hitam ke'emasan itu turut terleps dan terbang dari genggaman Aletha. Setelah membuka pintu itu, kini Aletha paham kenapa dia begitu sangat gelisah, dan rasanya ia ingin cepat-cepat membuka pintu ini.


Aletha diam menatap seorang pria yang masih berdiri membelakanginya.


Tanpa sadar Aletha berjalan kearahnya, kakinya melangkah dengan sangat ringan. Bahkan sangking ringannya, Aletha sudah berdiri di belakang pria itu dan hal yang paling dia sendiri bingung adalah, Aletha memeluk pria itu.


Rasanya aneh, perasaan debaran tak karuan tadi perlahan mulai tenang, dan perasaannya jauh lebih nyaman dan hangat.


Ha~ada apa denganku, ini tidak seperti dirimu Aletha. Sebaiknya aku cepat melepaskan tanganku, sebelum dia salah paham. Tapi..., kenapa rasanya berat hanya untuk sekedar melepasnya.


".......perasaan bisa saja berubah. Bukan untuknya, melainkan dirimu sendiri."


Tidak, aku tidak mungkin menyukainya. Sadarkan dirimu, dia makhluk dari dunia kegelapan, terlebih sosoknya adalah calon penguasa.


"Welliam...."


Tidak, kau tidak mungkin berubah Aletha. Ti-tidak mungkin.., tidak mungkin...


Aletha mengeratkan pelukannya dan semakin menghirup dalam, aroma hangat dari Welliam.


"Aku merindukanmu....."


Rasanya kesal dan begitu membingungkan. Yah, dia kesal untuk mengakui perasaan rindu itu. Tapi dilain sisi, dia juga bingung dengan perasaannya yang selalu bertolak belakang. Bahkan sangking kesalnya, rasanya Aletha ingin sekali menangis.


Lalu, aku harus apa pada perasaanku?


Dan tanpa sadar air mata Aletha mengalir turun dengan begitu lembut, membuat mata permata birunya terlihat berkaca-kaca.


--**.o☘o.**--


Ah, bagaimana ini. Aku benar-benar mengatakannya, ini sudah diluar akal sehatku. Bahkan Welliam hanya diam menatapku tanpa ada tanggapan. Aku menundukan kepalaku lalu melangkah mundur, mencoba membuat jarak diantara kami.


"We-welliam, itu...aku bisa menje----"


Sreet.


Belum sempat aku menjelaskannya, Welliam kembali menarik ku kedalam pelukannya. Bahkan jauh lebih erat. Tunggu, apa tadi aku tidak salah lihat? Kalau tidak salah, dia.. tersipu?


"Welliam, sesak.."


"Hm. Sebentar saja, biarkan tetap seperti ini."


Ini aneh, biasanya aku akan langsung mendorongnya, atau sebisa mungkin memberontak dan membuat jarak sejauh-jauhnya. Tapi kenapa sekarang, aku hanya bisa diam membiarkan dia memeluk ku.


Sungguh, ini bukan diriku yang biasanya. Kenapa rasanya menyenangkan, saat dia memeluk ku dengan sangat dalam. Kumohon tetaplah tenang, kenapa kau berdetak sangat cepat. Apa ada yang salah dengan jantungku?


Welliam melepaskan pelukan kami, lalu dia menatapku dengan wajah lega. Belum lagi terlihat dia sedikit merona, ini sungguh tidak baik untuk jantungku. Jika dia terus menatapku, bisa-bisa aku salah paham dengan tatapan lembutnya.


"Kau belum tidur?"


Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawabannya.


"Hem, apa kau menungguku?"


"Ha! Te-tentu saja tidak. Aku hanya... menikmati suasana malam saja."


Welliam tertawa kecil, bahkan suara tawanya itu sudah bikin kesal. Kali ini kenapa dia tertawa, memangnya salah? Kan memang benar aku menikmati suasana malam hari.


"Kenapa kau tertawa? Hentikan, itu sungguh menyebalkan."


"Hahah.., aku hanya senang kau menyambutku dengan sangat agresif."


"A-aku tidak melakukannya!"


Welliam tersenyum "Oya? Tadi kau memeluk ku dengan sangat kuat, lalu kau berkata, aku merindu--"


"Wah!! Sudah cukup. Aku ti-tidak mau mendengarnya!"


Ah, sial! Rasanya memalukan. Kalau dipikirkan lagi, aku seperti perempuan nakal yang tiba-tiba saja menerjang pria. Argh! Ini gila, ini gila, ini gila. Apa sebaiknya aku mati sekarang saja ya?


Kenapa dia hanya diam saja?


Aku mengangkat kepalaku, dan ternyata tanpa sadar aku tadi langsung menutup mulutnya, dengan kedua tanganku. Oh tidak!


"Ma-maaf, itu...aku tidak ber--"


"Tidak apa-apa..."


"Eh?"


Welliam meraih tangan kananku, lalu ia kecup lembut jemari tanganku, sembari melirik manis kearahku.


"Aku menyukainya."


Deg... Deg... Deg...


Menyebalkan! Kenapa dia harus mengatakan itu. Tidak bisa, aku tidak bisa terus seperti ini. Jangan biarkan perasaan mengganggu ini menguasaimu.


Aku menarik nafas dalam, mencoba menenangkan diriku. Kemudian menarik tanganku dari genggaman Welliam. Ya, ini jauh lebih baik.


Namun sesaat, Raga serta jiwaku cukup terkejut, saat dirasa ada sesuatu yang membuatku hangat. Welliam memakaikan jass kebangsawanannya kepadaku, dia menyampingkan rambutku kedepan.


"Apa seperti ini cara mengikatnya?"


Aku memiringkan kepalaku, lalu tersadar dengan apa yang dia maksud. Meski ikatan pada pita itu tidak terlalu sempurna, asalkan bisa mengikat dengan kuat itu sudah cukup kok.


"Ya, tidak terlalu buruk."


"Apa kau sangat menyukai pita ini, setiap saat kau selalu memakainya. Padahal ada banyak perhiasan di kamarmu, kau tidak menyukainya? Atau semua perhiasan itu masih kurang?"


"Hentikan, jangan diperbanyak lagi. Aku tidak suka dengan barang-barang seperti itu. Lagipula, aku sudah bosan, Ada begitu banyak perhiasan seperti itu di kediaman Wisteria. Yah.. walau bentuknya tidak persis sih. Pokoknya, pita ini adalah yang paling berharga dan juga itu, kembalikan kepadaku!"


Aku menunjuk benda yang menggelantung pada leher Welliam. Bisa-bisanya dia membawa kalungku selama seminggu, apa dia kira aku akan rela memberikan kalungku kepadanya.


"Jika kau mau kalung ini kembali, kau harus menemaniku jalan-jalan."


"Ha!"


"Oya, jangan lupa untung menggenggam tangaku juga."


"Lagi! Oh, Welliam kita kan sudah pernah melakumannya. Kau harus menepati janjimu, sekarang kembalikan."


Welliam nampak berfikir lalu dia memasang wajah menyindir, dengan senyum khas kelicikannya.


"Jika kau tidak mau, akan kubuang kalung ini dan bila perlu kuhancurkan!" Ucapnya dengan nada dingin.


"Aa! Baiklah-baiklah. Berikan tangamu."


Aletha menggenggam tangan Welliam, sedangkan Welliam tersenyum riang. Sepertinya dia akan memanfaatkan kalung ini dengan sangat baik.


Dasar iblis lak**t! Jika saja bukan karena kalung itu, mungkin aku sudah mencabik-cabik mu. Terutama untuk wajah tampan yang selalu bikin silau mata! Ha~biarlah, hanya untuk hari ini saja dia boleh bersikap sesuka hati!


"Jadi, kita mau kemana?"


Welliam tersenyum tanpa menjawab apapun. Tubuhku merinding, saat dirasa sepertinya dia akan melakukan sesuatu hal yang jauh lebih mengerikan. Oh siapa saja, adakah yang bisa menyingkirkan pangeran yang satu ini!


.


.


.


Aletha diam terpukau dengan tempat ini. Padahal dia sering berkeliling taman yang ada di Violence. Tapi untuk yang satu ini dia tidak pernah mengetahuinya.


Ternyata, jika menelusuri lebih dalam taman bunga Dandelion. Akan ada sebuah hutan lebat dan terdapat satu Villa besar. Villa yang dulunya pernah Welliam gunakan, untuk mengurung Aletha saat dia mencoba kabur. Tapi yang membuat Aletha terpukau bukan Villa, hutan, ataupun taman bunga Dandelion.


Melainkan danau biru dengan tersebarnya bunga teratai yang saling bercahaya. Bulan purnama yang membulat sempurna, menghujani sinar terangnya diseluruh danau. Membuat semua tempat ini bercahaya biru.



Ini sungguh menakjubkan. Bagaimana bisa ada tempat yang mampu menjadi bingkai indah, untuk memandang bulan.


Welliam berdiri di depanku, lalu saat dia melangkah ke'atas permukaan danau. Seluruh bunga teratai yang menutupi jalan kami, secara serentak menyingkir dan bergerak ke sisi kanan dan kiri. Aku menatap Welliam, sepertinya dia ingin aku mengikuti langkahnya.


Dengan ragu aku melangkahkan kakiku, lalu saat kakiku menyentuh permukaan air, genangan dari pijakanku membeku membentuk serpihan salju berbentuk bintang datar.


Sekali lagi, aku mencoba melangkah secara perlahan, dan hasilnya jauh sangat menakjubkan. Mereka bersinar sesuai dengan warna bulan.


Aku jadi penasaran dengan rangkaian sihir yang ada pada danau ini, kira-kira siapa ya yang membuat danau ini? Sepertinya bukan Welliam, mengingat dia lebih suka menghancurkan dari pada mengindahkannya. Terselah lah, yang penting aku bisa melihat sendiri tempat ini.


"Kau suka?"


"Hm, tempat ini sungguh sangat menakjubkan. Apa danau ini terbuat sendiri karena faktor alam? Atau ada yang membuatnya dengan sihir?"


"Aku yang membuat sendiri, tempat ini."


"Ha! Sungguh?"


Welliam mengangguk kecil. Wah, ternyata dia ada untungnya juga menjadi pria kuat.


Kami sampai di tempat tujuan sebenarnya. Ditengah danau ini, ada terdapat daratan kecil dengan berdiri satu pohon besar tak berdaun. Dengan kata lain hanya terdapat pohon tua yang menyisihkan ranting kosong.


Aku duduk pada ayunan yang mengantung, pada batang pohon yang begitu kokoh. Hanya ada satu ayunan disini, dan Welliam berdiri di belakangku.


"Kenapa kau membuat tempat ini?"


"Entah lah, aku juga tidak tahu kenapa aku membuat tempat ini. Hanya daerah ini saja, yang tidak kujadikan sebagai tempat penyiksaan."


"Ck..ck..ck, kau ini benar-benar kejam ya. Dengar, sebuah tempat pasti akan menyimpan kenangan. Setiap alam, benda mati atau hidup, mereka akan merekam kejadian yang mereka rasakan setiap waktunya. Jadi, cobalah kau membuat tempat yang paling ingin kau kenang bersama seseorang, setidaknya Castle mu ini tidak akan terkesan menyeramkan."


Welliam diam, tak lama tangan kanannya memegang salah satu tali pada ayunan, tangan kirinya dia masukan kesaku celana.


Ia turunkan sedikit tubuhnya mencoba mensejajarkan dirinya dengan Aletha yang masih duduk di ayunan, lalu berbisik lembut pada telinga gadisnya.


"Kalau begitu, biarkan tempat ini yang menjadi penyimpan kenagan kita. Langit, bintang, bulan, danau, semua yang ada disini. Biarkan mereka merekam, semua kebersamaan kita."


"........."


Dengan cepat Aletha berdiri, lalu membalikan tubuhnya menghadap Welliam sembari memegang telinga kirinya, yang terasa panas akibat malu.


"Bu-bukan begitu, maksudku kau harus membuatnya dengan keluargamu."


"Setiap waktu aku sudah melakukannya."


"Pembohong, Lucy bilang kau sering mengurung diri di Castle mu semenjak usiamu yang ke 20 tahun."


"Apa dia banyak menceritakan tentangku?"


Aletha mengangguk.


"Ck, kelinci kecil itu. Tidak bisakah dia tutup mulut."


"Ini sudah sangat larut, cepat kembalikan kalungku."


Welliam melepaskan kalung di lehernya. Sejenak dia melihat liontin kalung itu.


"Apakah, pemilik kalung itu masih hidup?"


Kilas ingatan pada pertempuran dua hari lalu kembaki teringat. Welliam berjalan kearah Aletha, dan mencoba memakaikannya dileher Aletha.


"Aletha, aku memang tidak tahu apa pun menganaimu dan semua tragedi dimasa lalumu, tapi tidak bisakah kau mempercayaiku. Aku tahu, kau bukanlah seorang manusia. Lalu siapa kau sebenarnya dan darimana asal---"


"Hentikan!"


Aletha mendorong kuat Welliam, hingga membuat Welliam mundur beberapa langkah. Kalung yang belum sempat ia kaitkan, terjatuh dan sontak hal itu mengejutkan Welliam.


"Aku sudah pernah bilang kepadamu, jangan pernah mencari tahu tentang masalaluku, terutama untuk jati diriku, Welliam!"


--.o🍁o.--