
Aku ingin kembali ...
Aku ingin memeluknya ...
Aku ingin melihatnya tertawa seperti dulu ...
Tak bisakah, atmaku menggenggamnya? Membiarkan asmaraloka dalam diri mengulang waktu, agar aku dapat merasakan kenangan hangat itu kembali?
-------------------------••°‹🍁☆゚. * ・ 。゚
TRING !
Suara bel kecil itu begitu mengusik ku, sehingga membangunkan jiwaku yang sempat terlelap dalam mimpi kosong. Perlahan kubuka kedua mataku, menatap remang pantulan langit cerah berawan rimbun.
Kedua mataku yang terlihat sebagai cerminan langit biru, mula menunjukan gemilang cahaya kesadaran. Pikiranku kosong dan tak dapat memahami kondisiku saat ini.
Matahari yang berada tepat di atasku begitu sangat menyilaukan, sehingga kuangkat tangan kananku perlahan. Mencoba menghalau cahayanya meski sinarnya dapat menembus disela-sela jemari lentik ku.
Aku tersadar dengan lingkungan baru yang belum pernah sekalipun kulihat ataupun kudatangi.
Aku bangun sembari melihat air jernih dibawah kaki lalu melihat sekitar ku yang---sungguh ini sangat menakjubkan dan begitu indah.
Tak ada daratan maupun tumbuhan disini, melainkan hanya lautan jernih yang terlihat seperti cerminan langit biru, seakan diriku melayang dan merasakan fatamorgana seribu kali lipat terpesona dari dunia fantasi ini.
Aku hanya dapat berdiri ditengah alam kosong, yang seakan tengah memeluk ku dengan sinar gemilangnya yang terlihat seperti crystal alam.
( Ilustrasi )
.
Aku tak dapat mengingat apa pun, apa yang sebelumnya terjadi? kenapa aku bisa ada disini? Entahlah, tiba-tiba saja aku ada disini.
Apa ini mimpi? Atau dimensi lain?
"Akhirnya Kak Aletha sadar juga."
Aku diam tertegun saat mendengar suara lembut ini lagi, perlahan aku membalikan tubuh mencoba meyakini apa yang sedang kupikirkan adalah kenyataan.
Dan benar saja, aku melihatnya lagi. Ini membuat rasa rindu di dalam diriku menggebu tal karuan, wajah mungil serta senyuman polosnya membuatku kian bernostalgia.
Rasanya sakit dan juga membahagiakan, saat dia dapat kulihat kembali setelah sekian lama.
"Sofia ..."
Sofia yang tengah memeluk boneka kelinci yang pernah kudapatkan dalam mimpi buruk diwaktu itu, ia genggam erat seakan tak pernah lepas dari dirinya sedikitpun. Sofia berjalan kearah ku dengan senyum khas keceriaannya.
Rasa bersalah kembali menyelimuti ku. Aku berusaha sekuat mungkin untuk tetap menahan air mataku. Karena Sofia pernah bilang, bahwa dia tidak ingin melihatku bersedih lagi.
Tapi sungguh,
Aku ingin kembali ...
Aku ingin memeluknya ...
Aku ingin melihatnya tertawa seperti dulu ...
Tak bisakah, atmaku menggenggamnya? Membiarkan asmaraloka dalam diriku mengulang waktu, agar aku dapat merasakan kenangan hangat itu kembali?
Tak bisakah, aku merubah kehidupannya yang dipenuhi kasih sayang orang tua seperti impiannya?
Bermain dan menghabiskan waktu untuk melihatnya tumbuh dewasa tanpa pernah memberikan beban hidup berat seperti dulu.
Aku ingin membayar kesalahanku karena tak dapat menolongnya dari jurang kegelapan diwaktu dulu.
Sofia masih terlalu mungil untuk menghadapi kejinya dunia ini, meski begitu aku bangga dengan sikap tangguh dan kedewasaannya meski dia masih sangat muda.
"Maaf ..."
"Lagi-lagi, Kak Aletha bilang seperti itu. Kan, Sofia pernah bilang, semua bukan salah Kakak."
Sofia terlihat begitu khawatir, lihatlah bahkan disaat seperti ini kami malah justru terbalik. Sebenarnya yang dewasa aku atau dia?
Tapi biarlah itu memang karakternya, dia memang dipenuhi perasaan lemah lembut dalam berkata.
"Jika aku ada disini, apa aku sudah mati?"
"Apa Kak Aletha sungguh berharap ingin mati?"
"Aku tidak tahu ..."
"Kalau begitu jangan berkata seperti itu, mereka juga tidak ingin Kak Aletha terus berlarut sedih."
"Mereka?"
"Iya, mereka yang ada di sana."
Sofia menunjuk kedua orang yang tengah menatapku dengan tatapan rindu serta khawatir.
Apa ini mimpi?
Apa ini sungguh nyata?
Tolong katakan bahwa ini benar sedang terjadi kepadaku. Atas keinginan batin terdalam ku, aku berjalan begitu saja melewati Sofia untuk bisa menuju kearah malaikat yang telah melahirkan ku.
"Ayah ..., Ibu ..."
Prasaan rindu, sedih, bahagia, bahkan rasa marah yang tak dapat kutunjukan lewat kata-kata, pada akhirnya air mata lah yang menjadi perwakilannya, seberusaha apapun aku mencoba menahannya tetap tidak bisa membohongi perasaanku.
Ayah dan Ibu telah meninggalkanku disaat aku menginjak batas kedewasaan ku di usia 20 tahun, mereka harus pergi dan membiarkan kesepian bersingga selama puluhan abad lamanya kepadaku.
Membuatku sempat terjebak dalam sikap dingin yang telah lama melupakan perasaan kasih sayang, apalagi setelah meninggalkan Imorrtal dan Tahlia dulu, aku semakin buta akan cinta dalam kehidupan hampaku.
Aku memeluk erat mereka, menumpahkan segala rasa emosialku dalam tangisan yang mencekat nafas, sehingga aku pun terisak perih.
"Kau sudah tumbuh menjadi Perempuan kuat Aletha ..."
"Ayah, hiks ..."
"Berhentilah menangis Putriku, kau seorang Dewi Perang yang sangat tangguh. Harusnya kau tersenyum bukan menangis sayang."
"Tidak ..., aku hiks--tidak sekuat itu Ibu ..."
"Aletha ..."
"Aku juga tidak berhasil me..menyelamatkan Dewi Selini Thea, bahkan aku--aku ..hiks, telah membunuh Tahlia. Aku tidak dapat dibanggakan, Aletha juga tidak memberikan kasih sayang lebih terhadap Tahlia sehingga dia menjadi..menjadi---"
"Semua bukan salahmu, sayang. Kami sudah sangat bangga dengan semua tindakanmu, kau adalah Putri tersayang kami. Yang kau lakukan itu sudah benar."
"Benar Aletha, Ayah juga pernah bilang bahwa kau berhak menghukumnya sebagai Polemoau ataupun sebagai seorang Kakak, ini salah Ayah yang tidak mampu menangani masalah ini ..."
"Aku sangat merindukan kalian, aku juga lelah dengan semua masalah kehidupan ini. Biarkan..., kumohon biarkan Aletha bersama kalian di---"
"Apa Kakak yakin?" Tahlia berdiri disebelah Ibu.
"Tahlia,"
"Kenapa kau bertanya seperti itu, tentu saja aku---"
"Lalu Kakak akan meninggalkan dia? Semua yang kau lakukan hingga di titik peperangan ini, bukankah karena kau ingin tetap bersamanya? Tapi, kenapa sekarang kau malah ingin pergi darinya?"
"Pergi? Meninggalkannya ...."
"ALETHA !!"
Tring ...
Aku diam saat dapat kudengar suara baritone yang terasa tak asing bagiku, apalagi ada sebuah pita merah dengan dua bola bell kecil diujung pita nya, jatuh dibawah kakiku.
Kuraih pita merah itu, terdapat ukiran nama disepanjang pita nya dan ini membuatku terasa semakin tertarik untuk membaca tiap susunan hurufnya.
"Welliam Cornelis Lorddark's ..."
Tring ...
“Akhirnya, aku menemukanmu ...”
Suara itu kembali terdengar lagi dan selanjutnya yang kulihat---banyak bunga Wisteria yang jatuh berguguran.
Seakan kelopaknya ingin membantuku mengingat memory yang sempat memburam dan hilang mengenai seseorang.
Tring ...
“Menikah lah denganku, lalu jadilah Ratu untukku, My Soul Mate.”
Tring ...
Ha ..., bagaimana aku bisa melupakannya? Demon yang selalu bertekad membuatku tetap disisinya, meyakinkanku dengan memeluk erat diriku.
Memaafkan semua perlakuan buruk ku terhadapnya, bahkan dia masih tetap bersedia mengulurkan tangannya menungguku untuk bisa menerimanya walau kami berbeda bangsa.
Mate yang ditakdirkan untukku, dipertemukan lewat bunga Wisteria yang mengemban arti takdir cinta abadi.
Aku harus kembali kepadanya--tapi, langkah ku tertahan saat aku kembali melihat kedua orang tuaku, Tahlia serta Sofia yang ada disini.
Aku juga ingin bersama mereka mengingat dan mengulang waktu seperti dimasa lalu. Bagaimana ini, aku menjadi dilema untuk memilih satu diantara mereka. Haruskah aku meninggalkannya?
Tring ...
" Dan untukmu Queen ku, bagaimanapun situasinya kau harus kembali kesisiku! "
Benar, itu adalah perintahnya yang begitu mutlak dan tak mungkin kubantah. Aku juga masih berstatus Ratu nya, tak mungkin ku tinggalkan dunia yang masih rentan itu.
"Kalau begitu pergilah, sekarang bukan waktunya Kakak bersama kami ..."
Tahlia berjalan mendekatiku menggenggam erat kedua tanganku, mendekatkan kedua kening kami yang saling bersentuhan. Ini mengingatkanku dengan kami yang masih kecil, untuk menghilangkan rasa khawatir dan perasaan bimbang.
"Tugasmu sebagai Thea tou Polemou telah berakhir, tugasmu sebagai Putri keluarga Wisteria-pun juga telah berakhir. Ayah dan Ibu telah bahagia dan sangat bangga kepadamu, aku juga ingin Kakak tetap hidup setidaknya dengan membiarkanmu bahagia bersamanya, lalu mengembalikan kehidupan yang sebelumnya pernah ku hancurkan di Darkness World. Kuharap semua itu dapat membantuku membalaskan dosa yang telah kulakukan Kakak, meski aku tahu dosaku terlalu besar untuk dapat dimaafkan."
"Bukankah tugasmu sebagi Althenia belum berakhir? Terlebih, Kakak masih memiliki tugas yang tak bisa kau abaikan, untuk menjadi seorang Ibu bagi Putra-putrimu?"
Benar, semua yang dikatakan Tahlia sungguh menyadarkan ku dari pikiran kosong ku. Aku ingat, bahwa saat ini masih ada sebuah hadiah yang belum sempat kukatakan kepada Welliam mengenai kehadirannya di kehidupan kami.
Mengabulkan keinginannya untuk memiliki keluarga sederhana bersama buah hati kami, aku harus kembali dia juga pasti menungguku dan pasti sangat khawatir.
"Pergilah Putriku, kebahagiaanmu juga adalah kebahagiaan orangtuamu."
"Ibu juga akan selalu mengawasi mu, sayang."
Aku benar-benar bahagia bisa terlahir dan menjadi bagian dari keluarga hangat Ayah dan Ibu, aku juga senang bisa menjadi Kakak bagi Tahlia dan---kulirik Sofia yang masih setia di sana dengan senyum manisnya yang tak pernah luntur dari wajah jelitanya.
Kubelai lembut wajah mungilnya, jika aku boleh memilih waktu, aku ingin bersamanya membalaskan kesalahanku terhadapnya.
Lalu memberikan arti kebahagiaan yang sesungguhnya kepada gadis kecil ini. Telah lama Sofia nanti kasih sayang keluarga yang tak sempat ia rasakan dimasa kecilnya.
"Aku ingin sekali bersamamu, membayar kesalahanku dengan menemanimu Sofia. Tapi, aku harus pergi, maaf ..."
"Kenapa Kak Aletha masih saja merasa bersalah. Dan juga, Sofia pernah bilang bahwa kita akan bertemu kembali ..."
Gadis kecil itu terlihat sedang menahan air matanya seraya mengeratkan pelukannya terhadap boneka kelinci di dekapannya.
"Ji-jika ada sebuah keajaiban dan Sofia diberikan kesempatan untuk memiliki kehidupan kedua. Bo..bolehkah, Sofia memilih, untuk terlahir kembali sebagai Putrimu, Kak Aletha?"
Untuk beberapa saat aku hanya dapat diam, melihatnya dengan perasaan tertegun. Tak dapat kupercaya, Sofia memiliki harapan seperti itu kepadaku.
"Apa, tidak boleh?"
Tidak ingin membuatnya bersedih, aku kembali mengusap kepalanya. Tentu saja, aku pasti akan sangat bahagia jika hal itu benar terjadi.
Bukankah jika dia terlahir sebagai Putriku akan sangat menyenangkan, aku juga bisa menebus kesalahanku dulu kepadanya dengan memberikan kehidupan keluarga hangat kepadanya.
"Jika keajaiban itu sungguh ada, aku akan sangat menanti kelahiranmu di dalam hidupku. Welliam pasti juga akan sangat bahagia memiliki Putri cantik, manis dan tangguh sepertimu Sofia."
"Sungguh?"
Aku mengangguk seraya tersenyum kepadanya. Dan setelahnya Sofia buru-buru memelukku, dia sentuhkan kepalanya di bagian perutku. Lalu tersenyum riang mengadapku yang lebih tinggi darinya.
Dia memberikan boneka kelinci itu kembali kepadaku, aku mengambil boneka itu dengan sedikit kebingungan.
"Sekarang, bangunlah. Sudah berkali-kali dia memanggilmu untuk kembali, Putriku Aletha ..."
Aku kembali melihat Ayah, Ibu, dan Tahlia yang tersenyum hangat kepadaku. Bahkan, sekilas kulihat Dewi Selini Thea juga menyambutku diantara mereka.
Melihat senyum bahagia mereka membuatku sadar dan kembali tenang, sekarang aku sudah dapat menyarungkan pedangku menutup sejarahku sebagai Thea tou Polemou.
Lalu, membuka lembaran baru menjadi Ratu penguasa Darkness World sebagai Althenia bersama Mateku, dan juga membangun keluarga sederhana bersama Welliam.
Aku juga tidak perlu khawatir dengan masa lalu, karena sekarang semua telah selesai dan mereka jauh lebih bahagia.
Aku begitu bersyukur pada kehidupanku, setiap nafas yang kuhembuskan dan setiap detik yang terlewati di kehidupanku.
Sangat membuatku bahagia, ada begitu banyak hal baru serta pelajaran di setiap peristiwanya.
Kurasa sudah waktunya aku harus kembali dan meninggalkan mereka di dalam ingatanku.
Aku kembali melihat Sofia, ruah kebahagiaanku tak mampu kutahan, saat aku dapat diberi kesempatan untuk bertemu mereka sekali lagi.
"Sampai bertemu kembali ..............."
"ALETHA !"
Aku tak tak dapat mendengar kalimat terakhir Sofia saat suara Welliam kembali memanggil diriku, dia tersenyum bahagia disaat waktu dimana aku harus segera pergi.
"Kuharap, keajaiban itu sungguh terwujud ..."
Perlahan air yang berada dibawah pijakan ku menelanku kedalam alam sadarku, membiarkan kegelapan kembali menyapaku dan akan mempertemukanku dengan dia yang kucintai ...
"Welliam ..."
--.o °🍁° o.--