The Queen of Different World

The Queen of Different World
Memories Of You ; I Will Come!



Setiap orang pasti akan teringat akan cinta pertamanya dan mencoba menangkap kembali hari-hari yang asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlungan hatinya, dan membuatnya begitu bahagia di balik segala kepedihan misterinya.


[ Kahlil Gibran ]


~°•°.🍁.°•°~


Beherapa pecahan ingatan seseorang mulai tersusun kembali, menyusun layaknya potongan puzzle yang ingin memberikan gambaran tentang seseorang yang sangat berharga untuknya.


"....buktikan semua janjimu kepadaku, sabagi tanda bahwa kau mencintaiku."


Hari yang mulai memasuki waktu senja, menghangatkan kembali nuansa dingin di ruang hampa pada hatinya. Matahari yang mewarnai langit dengan jingga keemasan, menjadi pemandangan yang pas untuk melambangkan filosofi dari golden memories yang sempat hilang.


Tring!


"Aletha.."


"Kakak, apa kau sudah mengingatnya? Coba katakan sekali lagi, kau tahu siapa Aletha?"


Welliam menggenggam erat pita ditangannya. Tentu saja dia ingat, dia tidak akan pernah menghilangkan nama Aletha dalam kamus hidupnya. Meski harus dia akui bahwa dia begitu lambat dalam mengingatnya.


Dia memang bodoh seperti yang dikatakan Lucy, bagaimana bisa dia melupakan Matenya sendiri. Dasar tidak berguna! Welliam terus menggerutu pada dirinya sendiri.


Fairys sialan!


Welliam melirik Lucy, bukan lebih tepatnya pada danau yang melindungi bunga Lycoris. Dia berjalan sembari mengabaikan ucapan sang Adik.


"Keluarlah! Aku masih memiliki waktu, bukan?"


Kakak biara dengan siapa?


Tak lama danau yang terlihat tenang, mulai beriak akibat hembusan angin. Dari dalam danau, bunga Lycoris terbang keluar permukaan air lalu membentuk sesosok Fairys yang sama persis dengan di dimensi itu.


Bukan, mungkin Welliam harus memanggilnya sebagai Ekdikisi Tanatho itu sendiri. Fairys itu, melihat kelangit dimana matahari masih terlihat dengan sangat jelas, walau hari memasuki senja.


Fairys itu terbang mendekati Welliam. Dia bingung, sebenarnya apa yang membuat Dewinya jatu hati kepada Demon ini? Lalu dia melihat pita merah itu, dan dia sadar akan sesuatu.


"Sekarang, aku Tuan mu, Ekdikisi Tanatho."


Fairys itu tersenyum, "Thana, namaku Laicyori Thana. Tuanku, Paduka Lord."


"Baiklah Thana, apa kau tahu cara membuka gerbang Imorrtal? Aku perlu membawa pulang Istriku yang sedang bertamasya."


"Apa Kakak akan pergi sendiri?"


"Ya, seperti yang kau bilang. Kita tidak punya banyak waktu. Jadi, apa kau bisa membuka portalnya?"


"Tidak, portal Imorrtal begitu rumit dan spesial. Hanya mereka yang menjadi bagian Imorrtal yang tahu.., tapi sebelum Dewi menusuk Tuan. Dewi berpesan kepadaku, untuk membawa anda ke Bumi. Tepatnya, Kota Hirosima. Disana ada sebuah Kuil Itsukushima. Dewi bilang, ada satu gerbang Inari yang bisa membuka portal dunia Imorrtal yang terhubung dengan Bumi, kita bisa pergi lewat gerbang Inari itu."


"Tunggu apalagi, bawa aku ketempat itu."


"Tunggu, Kakak. Setidaknya, bawa beberapa Asassinmu ak---"


Welliam mengelus kepala Lucy, "Jangan khawatir, kami sudah merencanakan ini semua. Aku sangat berterimakasih kepadamu Lucy, jika saja kau tidak membantuku mengingatnya, pasti aku akan menyesalinya seumur hidupku."


"Lucy sudah berjanji kepada Kak Aletha, bahwa aku akan meyakinkan Kakak."


"Sudah waktunya pergi, Tuan."


Thana membukakan portal ke bumi, yang akan langsung tersambung ketempat tujuan mereka. Welliam, memanggil Zymba untuk ikut bersamanya.


"Lucy katakan pada mereka, semua akan baik-baik saja. Dan juga, jika aku masih melihatmu menagis karena b*jing*n itu. Akan kupastikan, dia mati ditanganku!"


Welliam berjalan memasuki Portal di ikuti Thana dan Zymba, lalu bunga Wisteria menutup portalnya dengan sanagat rapih.


Lucy yang mendengar ucapan Welliam, membuatnya kalut. Ia jadi ingat surat yang dikirim Harlie kemarin, begitu sangat miris dan melukai hati. Tapi dia mencoba menyampingkan perasaan itu.


"Sekarang aku sudah menepati janjiku. Jadi, kalian harus kembali dengan selamat, Kak Aletha."


"Jika aku memilih untuk melukai Welliam, bisakah kau berjanji kepadaku, Lucy. bila Welliam berhasil melewati kematiannya, kemungkinan besar dia akan melupakanku. Jadi, kumohon.. Bantu dia untuk mengingatku kembali, aku tidak ingin mati seperti ini. Aku masih ingin tetap bersqmanya, tolong katakan kepadanya bahwa aku menunggunya. Bawa aku kembali, selamatkan aku dari kegelapan yang menyiksa hidupku ini..."


Ia tatap langit senja yang begitu hangat seraya tersenyum, mengingat pesan hangat dari Aletha yang terlihat tersiksa dari pilihan perpisahan mereka.


Namun...


Kuharap, Harlie juga bisa mengerti perasaanku. Akankah, aku juga bisa bahagia seperti mereka?


--.o☘o.--


*Jepang.


~Kuil Itsukushima.



Gemuruh ombak yang menyatu dengan hembusan angin disore hari begitu sangat menyejukan. Air laiut yang tengah pasang dengan pantulan sinar matahari, begitu terlihat seperti permata alam yang tiada duanya.


Welliam tidak tahu, ada tempat seindah ini di bumi. Atau, apw karena dia lebih sering menghabiskan waktunya dalam dunia berdarah. Makanya dia tidak pernah melihat keindahan di Darkness World seperti yang dia lihat sekarang.


"Apa kayu yang menyerupai gerbang itu, yang dimaksud Aletha?"


"Benar, Yang Mulia. Manusia menyebutnya sebagai Inari, dan temlat ini adalah kuil mengapung diatas air laut yang tengah pasang."


"Kenapa disini begitu sepi? Apa karena sudah memasuki waktu malam, jadinya tidak ada siapa-siapa?"


"Tidak, saya membuka waktu sendiri untuk kita. Saat gerbang Imorrtal akan dibuka, kita akan memasuki waktu yang berbeda dengan dunia Manusia. Sehingga anda tidak perlu khawatir, tidak akan ada yang melihat kita melakukannya karena ini sangat rahasia."


"Kalau begitu, bagaimana dengan waktu perbedaan diantara dua dunia?"


"Tentu akan tetap berbeda jauh, hanya saja saat kita memasuki Bumi. Wisteria membantu dalam perjalan waktunya, sehingga kita dapat mengimbangi waktu yang ada di Darkness World. Itu adalah salah satu kekuatan Wisteria, sebagai pengimbang waktu masa."


Jadi begitu, sekarang Welliam paham kenapa saat pertemuannya dengan Aletha begitu singkat. Dan juga tida memakan waktu terlalu lama di Darkness World.


"Sekarang buka portalnya."


"Saya tidak bisa melakukannya, Lord. Karena saya hanya bagian dari kekuatan manna.."


"Lalu siapa yang akan membukanya?! Untuk apa kita kesini jika kau tidak bisa."


"Aku yang akan melakukannya."


Mereka menoleh, seekor rusa putih yang terselimuti cahaya putih kebiruan. Berjalan diatas permukaan air laut tepat ditengah Inari itu.


Tidak perlu bertanya, Welliam sudah tahu siapa sosok dalam wujud Soul Of Life nya. Tidak salah lagi, dia adalah Selini Thea.


Rusa itu berubah shift menjadi sosok Dewinya. Selini Thea menatap cucu pertamanya dengan sangat lembut, Welliam mendatanginya.


"Aku selalu heran, kenapa kau selalu menjadi penghubung diantara masalah. Seolah kau telah mengetahui ini semua."


"Aku bisa melihat masa depan, tapi aku tidak akan merubah takdirnya. Aku hanya akan menuntun kalian, sisanya kalian sendiri yang harus menyelesaikannya.."


"Ada yang ingin kutanyakan, kenapa kau membuat perjanjian seperti itu dengan Aletha? Dan, jika kau tahu bahwa Tahlia yang bersalah kenapa tidak kau hentikan?"


"Di dunia manusia, tepatnya di Negara Jepang ini. Dulu pada masanya, ada seseorang yang berbicara seprti ini, 'bukan aku yang membunuh, tapi politik lah yang membunuh mereka.' kata-kata itu ada benarnya juga, karena hal itu juga yang terjadi pada dunia Imorrtal. Sebenarnya, waktu itu bukan salah Tahlia, bukan salah Alstha. Semua salah pada sistem peraturan itu sendiri. Pada masa dimana politik pemerintahan berdiri tidak seimbang, akan ada banyak timbul pendapat yang berbeda sehingga konflik hukuman melewati peraturan hukum pun akan terjadi. Maksudnya, peraturan itu sendiri yang membunuh rakyatnya. Imorrtal tidak pernah memasuki keseimbangan dalam dunia pemerintahan, Maharani dan Maharaja harus berdampingan untuk bisa bertukar pemahaman menjadi penguasa. Hanya saja, Octopus merubah peraturan itu, sehingga banyak yang berselisih paham dan saling membunuh akibat peraturan alamnya!"


"Waktu itu kau penguasanya, kenapa tidak hentikan pria bernama Octopus?!"


"Welliam, sebagai penguasa kita memiliki batasan yang tidak akan mampu kau lewati. Tidak selamanya kita bisa mengendalikan dunia, Raja yang berada diatas tidak akan bisa mengambil keputusan semaunya, jika tidak ada mentri yang mendukung. Jendral yang mengangkat pedang pun tidak akan sanggup bertahan dimedan perang, jika tidak ada bantuan dari tentaranya sendiri. Awalnya, aku bertemu dengan Kakekmu Carzie, untuk mengetahui sisi pemahaman dunia Manusia. Dan aku sadar, kita lah yang seharusnya belajar dari Manusia. Mungkin sedikit tenggang rasa karena perbedaan derajat, hanya saja mereka lebih memahami kondisi alam ini secara rasional. Kita akan diuji, apakah kita layak memahami arti dari seorang pemimpin? Kau harus bisa memahami posisimu sebagai Lord, Welliam."


Welliam diam sesaat, lalu dia memahami sesuatu hal. Semakin tinggi posisismu, makan akan mulai timbul rasa arrogant tinggi, dan secara alami sikap pemimoin itu, akan menyimpang dari jalan seorang penguasa.


"Akan kuingat kata-katamu, sebagai nasehat yang harus diajarkan kepada setiap generasi Lord."


"Sudah waktunya, matahari akan mulai memasuki fase senja yang akurat untuk membuka gerbangnya. Jika aku buka dengan portal dimensiku, aku khawatir kalian malah akan memasuki kota utaman. Itu sebabnya kita memerelukan benda pusaka dari dunia Manusia, untuk membuka gerbangnya."


Selini Thea mengangkat tanganya dengan lembut, lalu waktu seakan berhenti. Dimana cahaya matahari yang hendak ternggelam berhenti tepat diatas gerbang Inari itu, dengan beberapa pantulan sunset yang bergemilang dari lautan yang tengah pasang.



Lalu secara perlahan ditengah Inari, tebuka sihir portal yang menjadi gerbang menuju pintu masuk dunia Imorrtal. Selini Thea kembali melihat kearah Welliam.


"Pita itu seperti seutas benang merah yang mengikat takdir kisah cinta kalian, dan sekarang pita itupun telah menjadi semourna, tunjukan wujudmu..."


Pita Aletha yang ada pada Welliam bersinar, lalu Fairys Thana terbang memutari pitanya. Dan mulai herubah menjadi pedang hitam Aletha, salah satu senjata artefak Dewinya.


Bentuk pedang itu jauh lebih sempurna dari sebelumnya, dengan pita merah di ikuti dua bola bell berada diujung pegangan pedangnya.


' Welliarm Lorddors Ton Varsileas '


Nama Welliam yang tadinya ada di pita merah itu, mengukir tulisan namanya dari bahasa Arclanta, menggunakan pecahan Crystal Ekdikishi Tanatho disetiap pedang hitamnya.


"Aletha menyatukan pedangnya dengan pita merah ini, agar kau bisa menghunakannya juga. Apalagi Thana telah mengakuimu, sehingga aku tidak perlu khawatir jika Katastrofi menggunakan pedang ini dan Crystal-nya dengan cara yang salah. Lagipula, kau juga keturunanku Welliam.."


Welliam meraih pedang itu, bahkan pedangnya begitu ringan, berbeda dengan pedang emas milik sang Ayah yag begitu berat. Dia tersenyum smirk, mari kita cabut dendam ini hingga ke akarnya!


"Ini hanya pendapatku, mungkin musuh lebih dominan membencimu dibanding kaum Demon. Kau tidak melawan, bukan karena kau tidak mampu. Hanya saja kau lebih menggunakan ideologi dalam bertindak, membiarkan mereka puas lalu melihat sendiri kehancuran mereka diakhir. Kau yang menuntun dan menghubungkan kami pada pehamanan yang sebenarnya itu sudah sangat hebat, mungkin seperti inilah caramu untuk merubah peraturan Alam ini. Dengan cara menyatukan kami yang berbeda dunia, untuk bisa membuat Darkness World dan Imorrtal berdampingan kembaki. Kurasa, kau Neneku yang begitu hebat dan tangguh. Penguasa yang bijak tidak perlu banyak omong, kita hanya perlu diam mengamati lalu membuktikannya dalam tindakan."


"Kuucapkan terimakasih, karena telah memahamiku, Welliam. Sekarang pergila."


Welliam memasuki portal itu, dia akan membuat pritungan kepada Aletha karena memutuskan sendiri untuk pergi, jika sudah bertemu lihatlah apa yang akan Welliam lakukan.


"Tugasku telah selesai.."


Lirih Selini Thea, sembari melihat kepergian Welliam. Lalu, keadaan lingkungan telah kembali menjadi normal.


--.o☘o.--


"Tahanan berhasil melarikan diri. Jangan biarkan dia lolos!"


Semua anggota Titania sibuk mencari keberadaan Aletha, tepat saat Tahlia pergi meninggalkan pulau itu. Dia beraksi untuk menyelidiki Benteng ini, apalagi yang paling mengganggunya adalah percobaan Tahlia dalam membuat monster baru dari Goblin dan Troll.


Dia berlari dengan sangat lincah, melompat dari laintai menuju bangunan lebih tinggi. Lalu kembaki berlari diatas susunan paraler yang terpasang dengan begitu rumit.


Ia mencoba untuk tidak berpaspasan dengan kelompok Titania yang anggotanya adalah kaum Dewa dari kalangan menengah, mereka memberontak dan memilih menjadi bawahan Tahlia.


Sebenarnya, sudah berapa lama dia membangun kelompok Titania dan Carlitos?!!


"Dewi, diujung lorong itu, disanalah tempat ruang reset uji coba terhadap Troll dan Goblin."


Aletha mengerti, dia menghendap lalu menerjang serta menebas habis, ke'empat penjaga yang berjaga didepan pintu.


Pedang putih yang sebening berlian meneteskan darah segar dari musuhnya, Aletha sudah pernah bilang. Ada atau tidaknya pedang hitam ditangannya, hal itu tidak akan mematahkan sebelah sayap Dewinya.


Karena Aletha, masih memiliki pedang lain yang tidak kalah menyeramkannya dengan pedang hitam kematiannya. Ya, pedang yang memiliki kekuatan dari Wisteria menjadi simbol keadilan untuknya.


Aletha mengalirkan manna yang tersisa kepedangnya, lalu menghancurkan pintu dihadapannya, sehingga meninggalkan lubang besar yang mengkebul oleh debu.


Dia melangkah masuk, mencoba melihat apa yang sedang diciptakan Tahlia dengan menggunakan mahluk pembangkang sebagai kelinci percobaannya.


"Ini tidak mungkin, apa semua tabung sihir ini adalah yang kau maksud Carina?"


"Benar Dewi."


Aletha diam dengan tubuh yang menegang. Seribu, bukan! Lebih tepatnya ada sejuta tabung sihir yang didalamnya terdapat tubuh Troll raksasa dan juga Goblin yang sedang hibernasi menuju perubahan wujud monster mengerikan.


"Jadi ini yang dinginkan Octopus, saat memanfaatkan Tahlia. Dunia Imorrtal telah menjadi kotor, beraninya mereka!"


--.o🍁o.--