The Queen of Different World

The Queen of Different World
Complicated Relationship



Brukh!


Welliam menjatuhkan Aletha dengan sangat kasar ke atas ranjang tidurnya. Saat ini mereka ada di sebuah Villa yang ada di tengah hutan berada di belakang Castle Violence.


Sebuah Villa yang hanya boleh dimasuki Welliam dan kedua tangan kanannya, jika itu atas perintah Welliam sendiri. Biasanya sang Pangeran sering datang kesini jika sedang tidak ingin di ganggu.


"Akh! Kau sungguh pria yang tak berprasaan."


"..............."


Welliam saat ini berada diatas Aletha sembari mengunci pergerakan Aletha. Meski Aletha kuat dalam ketahanan dan penyerangan, bukan berarti dia bisa melawan tenaga Welliam. Setiap kali Aletha bersama Welliam entah mengapa tenaganya seperti hilang dan seluruh tubuhnya sangat lemas, apa karena dia seorang Demon ? Atau karena dia memang sosok makhluk terkuat disini?


"Beraninya kau mencoba pergi dariku!"


"Memangnya kenapa? Apa sekarang kau ingin membunuhku?"


"Aletha!"


"Hentikan, aku sudah bilang kapedamu Welliam. Aku bukan milikmu, aku bukan Mate yang menjadi belahan jiwa dari seorang Iblis keji sepertimu!"


"Jaga ucapanmu Aletha! Aku juga sudah bilang kepadamu, kau memang benar milikku, gadisku, dan juga Mate yang akan menjadi Ratuku! Tidak akan ada yang bisa mengambilmu dariku begitu juga sebaliknya kau pun tidak akan bisa pergi dariku!"


"Aku tidak mau.., aku tidak akan sudi----"


PLAK!!


Aletha diam dengan tatapan kosong, pipinya terasa panas dan perih. Benar, baru saja Welliam menampar Aletha dengan kuat hingga membuat suara pukulan yang sangat menggema di kamar itu.


Welliam sudah sangat murka dengan semua sikap Aletha kepadanya, dalam tatapan yang sangat tajam dan dingin membuat Aletha sedikit gemetar kecil, sikap keberanian yg Aletha punya tadi telah hilang tertelan dengan ketakutan.


"Jangan kau kira aku tidak bisa bersikap kasar kepadamu, Aletha. Dengarkan ini baik-baik, jika kau masih ingin hidup jadilah gadis penurut. Jika kau berani mencoba melarikan diri lagi, akan kerebut paksa hakmu sebagai wanita! Dan jika kumau akan kuminum darahmu lalu kita lakukan perjanjian Mate! Hingga kau akan menjadi makhluk sepertiku."


Deg!


Aletha kian semakin ketakutan, setiap ucapan yang Welliam katakan begitu menakan jiwa, seolah peringatan itu akan berdampak buruk yang sangat mengerikan bagi Aletha.


Kenapa, kenapa takdir begitu tidak adil untuknya. Aletha tidak ingin apapun, Aletha hanya ingin kehidupan tenang tanpa ada sesautau hal yang akan membawanya kembali pada peristiwa itu.


"Ku-kumohon.., lepaskan hiks..., lepaskan aku."


Welliam kian menggeram kesal saat melihat air mata Aletha mengalir pelan dari matanya, membuat mata crystal birunya bergemilap cahaya.


Dengan tampang terpaksa Welliam melepaskan Aletha dari genggaman kuatnya, lalu berjalan keluar kamar sembari menutup pintu dengan sangat kasar.


"Yang Mulia.."


"Jika ini terjadi lagi, aku sendiri yang akan memenggal kepalamu, Fivian!"


"Hamba salah, hamba terlalu ceroboh dan lengah. Mohon berikan hukuman kepada saya, Yang Mulia."


Mata yang masih berkilat kebencian dengan gertakan gigi yang hampir meruncing membuat aura kegelapan Welliam meluap dan hampir menggetarkan Villa besar itu.


Welliam menutup matanya mencoba meredamkan emosinya yg kian menggebu-gebu.


"Obati dia, mulai hari ini kau adalah pengawal dan pelayannya!! Satu gores luka yang dia terima maka kau akan merasakan seratus kali lipat dari apa yang Aletha rasakan!"


"Terimakasih atas kemurahan hati anda, Yang Mulia."


Welliam berjalan melewati Fivian yang masih menundukan kepalanya dengan hormat, hukuman ini sangat ringan bagi Fivian, lebih baik mendapat luka parah akibat tak bisa menjaga Lady dari pada harus dihukum dengan sadis di ruang bawa tanah.


Tapi bukan berarti dia juga akan membiarkan Lady nya terluka, jika sudah mengabdi kepada Pangeran maka dia akan melindungi Lady nya dengan nyawanya sendiri.


Fivian berjalan memasuki kamar, melihat Lady nya terduduk diam memeluk kedua lutut nya, sembari menangis terisak, ia sedikit bersendu cemas. Fivian cemas dan bingung, bagaimana menjelaskan sosok Tuan nya yang tidak seperti Lady nya duga.


"Lady, mari saya obati luka anda.."


Fivian mencoba menenangkan Aletha yang sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Tuan nya kepadanya.


-o.☘.o-


Brak!


Brukh!!


Ia tidak perduli lagi dengan rasa sakit pada tangannya, toh luka itu akan segera pulih dengan sendirinya, tapi Welliam benci sangat membenci dirinya yang tidak bisa menahan emosinya. Hingga dengan berani melukai Matenya dengan tanggannya sendiri.


"Argggh!!!"


Prang!!


Kenapa, kenapa dia tidak mampu mencoba menjelaskannya baik-baik. Dia tidak bisa bersikap seperti Ayahnya, selembut Ibunya, atau bahkan seceria Adiknya! Ini lah dia seorang Demon yang memiliki darah kental keturunan kaum terkuat dan bengis.


Tapi Welliam tidak suka saat melihat Aletha mencoba melarikan diri, setiap penolakan yang Aletha lakukan begitu mengiris jiwa nya.


Ia benci, sejak dulu dia selalu memandang remeh hal yang berbau dengan Soulmate, bahkan ia berharap tidak akan ada karena menurutnya perempuan itu merepotkan.


Dari semua perempuan yang mencoba mengambil hatinya, hanya ada satu dalam benak mereka yaitu gelar tahta tertinggi.


Walau hubungan Mate jauh lebih menyakitkan dan dulu sangat ia benci, tapi harus Welliam akui bahwa saat ini dia sudah terlanjur mencintai sosok Aletha.


Tapi kenapa, kenapa dia malah justru menolaknya! Welliam hanya ingin dia selalu bersamanya, Welliam hanya ingin dia menjadi miliknya satu-satunya yang berharaga. Tidak kah dia merasakan hal yang sama?


Darah mengalir cepat dari tangannya, luka yang terus ia perdalam membuat Loise sedikit mengerti, perasaan kesal apa yang saat ini Tuan nya rasakan.


"Yang Mul----"


"Pergi, aku sedang tidak ingin mendengar nasehatmu!"


Loise diam lalu menutup matanya sembari membungkuk memberi hormat.


"Semoga kejayaan dan kedamaian Darkness World, selalu bersama anda Yang Mulia. Saya pamit undur diri."


Wellia meminum sekali teguk minuman Wine yang terbuat dari darah, lalu membanting gelas kesembarang arah. Ia membuka kancing kemeja putihnya membiarkan dada bidang berototnya terpampang jelas.


"Salam Yang Mulia, Lady saat ini telah merasa tenang dan beliau sedang tertidur sekarang."


Laporan Fivian diabaikan oleh Welliam, tak perlu menjawab Fivian pun tahu bahwa Tuan nya pasti akan mengunjungi Lady nya.


Wushh...


Tap!


Welliam duduk di tepi ranjang sembari menatap diam, melihat Aletha yang sedang tertidur dengan wajah polos. Pipinya menjadi melebam merah dan matanya menjadi sembab, lagi-lagi rasanya menyakitkan melihat Matenya tersiksa karenanya, tapi Welliam sungguh tak ingin melepaskannya.


Dia mengusap lembut pipi memar Aletha dan tiba-tiba hadir cahaya emas yang mengobati luka di pipi Aletha, jemari gagah Welliam bergerak memainkan helaian rambut sutranya.


Wajah cantik jelitanya dan aroma tubuh serta darahnya yang begitu menggoda. Benar-benar sudah membuat Welliam hampir gila, ingin rasanya dia mengurung Aletha selamanya di kamarnya dan tidak pernah mau mempublikasikan dirinya kepada rakyatnya nanti.


Pertemuannya dengan Aletha tak sebaik kedua orangtuanya dulu. Dia yang masih awam untuk mengetahui sosok Matenya membuatnya semakin begairah, tidak disangka ia mengerti sikap posesif Ayahnya kepada Ibunya.


"......Jika kau berani mencoba melarikan diri lagi, akan kerebut paksa hakmu sebagai wanita! Dan jika kumau akan kuminum darahmu lalu kita lakukan perjanjian Mate! Hingga kau akan menjadi makhluk sepertiku."


Welliam kembali menggenggam tangannya dengan kuat, ia kesal. Pasti Matenya sangat terluka dengan ucapan kasarnya, tapi Welliam tidak akan sekejam itu kepada Matenya.


Dan juga, Welliam tidak akan melakukan hal itu tanpa persetujuan Matenya, dia akan menunggu sampai Aletha yang memang menginginkannya sendiri, itu lebih baik dari pada harus di benci Aletha.


"Tidak bisakah kau tetap disini bersamaku?"


Welliam mengecup lembut kening Aletha, membuat gadis itu tersenyum manis dalam tidurnya.


"Kau sungguh perempuan yang merepotkan."


--.o🍁o.--



Maaf telat Up Readrs.


Author lagi sibuk dengan sekolah.


tapi akan diusahakan Up,


mohon bersabar ya teaders