The Queen of Different World

The Queen of Different World
The Real Enemy Of The Antagonist!



"Kakak benar, bangsawan tertinggi dengan posisi claster I di Imorrtal. dia adalah Yang Mulia, Kendric Athananysus Helios."


"Nama baru, apa dia seorang Dewa terkuat? Jadi sistem alam ini dibuat olehnya?" Fedrick mencoba menggali informasi dari seorang penguasa sebenarnya di Imorrtal.


"Bukan, beliau tidak pernah ikut campur kedalam politik atau kepemerintahan. Dia seorang Dewa yang begitu sulit ditemui, hanya orang-orang tertentu yang dapat bertemu dengannya. Yang Mulia Kendric adalah Dewa Kýrios tis athanasías tou íliou, yang berarti Dewa Matahari keabadian. Dengan gelar bangsawannya Lórdos Macharagiá, yang memiliki arti Sang Dewa Maharaja. Dulu beliau memberikan posisi tahta kepada Dewi Selini Thea yang menjadi Maharani disana, sebenarnya akan sangat bagus bila Maharani ataupun Maharaja bisa memimpin bersama. Itu akan membuat keseimbangan yang baik untuk alam, tapi Tetua Octopus kembali berdalih, bahwa para Dewa hanya membutuhkan 1 penguasa diantara kedua Putra dan Putri dunia Imorrtal."


"Jadi, mereka harus memilih. Ratu atau Raja yang berhak duduk di tahta?" Tanya Welliam.


"Benar, karena sebenarnya Octopus ingin kedua penguasa itu saling membunuh untuk merebutkan tahta. Sayangnya Kendric tidak tertarik dengan kursi tahta, itu sebabnya kursi tahta jatuh ketangan Dewi Selini Thea. Jika sekarang memasuki kekosongan penguasa, itu berarti Kendric masih tidak tertarik untuk menaiki tahta. Tapi, kenapa bisa begitu?"


Tahlia menundukan kepalanya, "Tahlia juga tidak tahu, beliau orang yang sangat mysterius. Bahkan Tahlia saja tidak pernah melihat parasnya, hingga saat ini hanya sedikit orang yang pernah bertemu dan berkomunikasi baik dengan beliau.." Tahlia melirik Aletha.


Benar, hanya Aletha, Dewi Selini Thea dan orang kepercayaan Kendric. Itu karena mereka terjalin dalam sebuah hubungan untuk melindungi Darkness World dari para Tetua Agung terutama Octopus.


Bahkan ia tidak pernah membicarakan hal detail mengenai rahasia mereka kepada siapa pun, termasuk Tahlia.


Sedangkan Fedrick tersenyum smrik. Ia tidak menyangka sistem pemerintahan Imorrtal begitu sangat buruk, atau bisa dikatakan terlalu banyak kontrofersi yang dibuat.


Sehingga banyak dari mereka yang berdalih kedudukan hanya demi sebuah tahta.


Sebenarnya, siapa yang mahluk tamak di peraturan Alam ini?


"Kurasa cukup sampai disini pembahasan mengenai, Dewa Kýrios tis athanasías tou íliou. Ini tidak ada kaitannya dengan beliau, jadi bisa kita hentikan?"


Aletha mencoba menyekat pembicaraan, agar tidak banyak informasi yang bocor. Terlebih, saat ini masih ada musuh yang harus disingkirkan.


"Benar, aku juga merasa ini hanya akan menimbulkan beberapa asumsi buruk mengenai Imorrtal. Lagipula, Darkness World tidak pernah berniat menyerang Imorrtal. Bukan begitu, Fedrick?"


"Kami tidak setamak itu, kekhawatiran para Dewa hanya akan membuat hiburan untuk kami yang hina ini. Lucu sekali, aku justru malah tidak berniat menginjakan kaki atau mengirim rakyatku ke Imorrtal."


Tegas Fedrick sembari meminum segelas ramping darah, secara terang-terangan di hadapan Tahlia. Seperti memberikan isyarat 'Jangan sekali pun kalian berani, menjadikan duniaku kambing hitam. Jika tidak, aku sendiri yang akan meminum darah para Dewa! '


Aura tekanan yang menggoyahkan jiwa dan raga Tahlia, begitu sangat ketakutan. Inikah sosoknya yang sebagai Vasilias?


"Jadi, kembali pada intinya. Apa para Dewa akan menghukum Aletha, karena dia masih hidup?"


"Mungkin, mengingat Kakak telah menikahimu dan juga dia telah termasuk kedalam daftar sebagai pengkhianat bangsa. Tetua Octopus pasti akan mengirim Dewi Hakim untuk mengadilinya.."


Aletha menggenggam erat gaunnya, jika Tahlia sudah berkata seperti itu. Mungkin memang benar, bahwa dia adalah musuh yang sebenarnya.


"Tahlia, aku ingin tanya. Apa---"


"Apa yang kalian bicarakan, hingga seserius itu?"


Tiba-tiba saja Lucy hadir, yang memang akan datang terlambat. Karena dia baru saja mendapatkan surat balasan dari Harlie setelah sekian lama.


Aletha tidak mau menyeret Lucy yang begitu polos, kedalam masalah berdarah dan rumit seperti ini. Dia mencoba memberi kode unruk tidak membahas masalah ini dihadapan Lucy.


"Kami sedang membahas mengenai jamuan keluarga, Lucy." Aletha mencoba memberi klu alur agar mereka mengikuti pembicaraan ini.


"Jamuan keluarga?"


"Benar sayang, oh iya, dia adalah Adik Aletha." Lezzy mencoba mengikuti alur pembicaraan.


"Kau Adik, Kak Aletha?"


"Saya Tahlia Wisteria, senang bertemu denganmu."


"Namaku, Lucy Daiana Lorddark's. Apa kau juga berasal dari Bumi?"


"Bumi?"


"A--ah, Lucy, apa kau membawa sapu tangan yang kuinginkan?"


"Maaf, Lucy lupa. Nanti akan Lucy ambilkan."


"Terimakasih.."


Fedrick dan Welliam berdelik curiga, kenapa Aletha sebegitu resah?


Aletha kembali melihat Tahlia. " Kurasa kau harus segera kembali, jika kau terus disini itu bisa membahayakanmu."


"Eh? Kenapa kembalinya harus cepat-cepat? Lucy baru saja berkenalan."


"Benar, bagaimana jika Tahlia tinggal sehari disini?"


"Ta-tapi, jika Octopus--"


"Kakak jangan khawatir, Tetua Octopus tidak akan berani melukaiku. Lagipula, ada Kakak yang akan melindungiku, bukan?"


Aletha masih menimbang sebelum akhirnya dia menyetujuinya, "Benar, akan lebih baik jika kau di dekatku.."


"Kalau begitu, mau kutunjukan sisi Kerajaan ini?"


"Apakah boleh Putri?"


"Tentu saja, Lucy akan menemanimu."


"Terimakasih, Dewi Alice."


"Dewi Alice?"


"Ma-maksudnya, Queen Alicia. kau lupa menyebutnya lagi."


Apa Putri Demon ini tidak tahu apa pun, mengenai situasi saat ini?


"Maaf, aku hanya merasa Queen Alicia begitu cantik."


"Oh.., tidak masalah jika salah penyebutannya. Ibu memang cantik seperti seorang Dewi, hehe.."


"Anda benar, Putri."


"Kalau begitu kami pergi dulu. Salam Ayah, Salam Ibu, dan juga untuk Queen Althenia kita yang sangat cantik hari ini.."


"Semakin hari, mulutmu semakin manis dalam berbicara ya." Aletha tersenyum.


"Apa kau tidak memberi salam kepadaku?"


"Kenapa juga harus memberi salam kepada Kakak, aku sudah bosan. Kakak juga selalu mengabaikan salam ku, tapi kalau urusan menjaili responnya cepat.."


"Kau--"


"Welliam." Lezzy mencoba menghentikan prdebatan mereka, sebelum menjadi adu mulut yang berkepanjangan.


"Pergilah, jangan sampai kau menangjs rindu kepadaku, nanti."


"Itu tidak akan terjadi, hum!!" Lucy dan Tahlia berjalan pergi.


"Kami juga harus pergi, ayo Aletha.."


"..........." Namun Aletha hanya diam dengan tatapan kosong.


"Aletha, Aletha!"


"Ah, iya?"


"Ada apa denganmu?"


"Am, tidak apa-apa, hanya sedikit banyak fikiran."


"Sebaiknya kau istirahat saja, dan mengenai keberadaanmu yang diketahui Imorrtal---"


"Aku tidak ingin kembali ke Bumi, ma-maksudku semua akan baik-baik sa..."


"Jangan khawatir, mungkin dulu aku berniat membawamu kembali saat mereka mengetahui keberadaanmu. Tapi sekarang aku telah memahaminya, semua keputusan ada padamu.."


"Aku sudah bilang, tidak akan ada yang bisa membawamu pergi. Kenapa kau masih mengkhawatirkan itu?"


"Bukan itu yang kukhawatirkan tapi..." Aletha kembali diam.


"Tapi?"


"Tidak ada, oh iya Ibunda, mengenai rencana kita untuk pergi ketaman Violence. Bisakah Ibu pergi terlebih dahulu? Aku ingin membahas mengenai rancangan wilayah dengan Ayah dan Welliam."


"Baiklah, tapi jika itu memang masalah serius, kau tidak perlu menemuiku."


Aletha tersenyum sembari menganghuk kecil. Sedangkan Lezzy, beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga Lorddakr's. Menyisihkan, Aletha dan kedua Demon yang masih menunggu pembahasan Aletha.


"Aku ingin tahu, rancangan wilayah yang seperti apa, sehingga Ratu harus turun tangan untuk membahasnya?"


Fedrick kembali serius dalam kode aneh yang diucapkan Aletha, karena selama ini Ratu tidak pernah ikut campur dalam masalah politik wilayah secara mendetail.


"Aku juga ingin tahu, apa yang membuatmu segelisah itu, Aletha?"


"Tadinya, ini mau kusimpan sendiri sebagai keterdugaanku, tapi masalah sudah sampai serumit ini. Sepertinya kalian jiga harus tahu."


"Mengenai?"


Fedrick dan Welliam saling mekirik, jika Aletha bisa menunjukan eksperi serius yang begitu dingin. Sepertinya ini masalah serius.


--.o☘o.--


Disebuah gerbang yang menjadi pintu masuk kedalam tanah terlarang, wilayah Lorddark's. Berdiri beberapa penjaga khusus sihir bertingkat Master, ditetapkan sebagai penjaga pintu gerbang Lorddark's Zone.


Di hari yang sama, dimana malam telah mengambil alih surya dan membantu rembulan yang bersinar. Malam sunyi berangin kencang, dengan bebebrapa rintikan hujan kecil.


Menghiasi suasana di wilayah Lucifer Kingdom. Tidak ada satu pun pelayan yang berkeliaran disana, kecuali penjaga yang bertugas di depan gerbang. Karena wilayah itu adalah tanah terlarang bagi siapa pun.


Bersekitar enam penjaga dengan terbagi dua ras, Vampire dan Witch. Berjaga dengan sangat ketat di depan pintu gerbang.


Hingga kewaspadaan mereka aktif, saat melihat beberapa kupu-kupu emas hadir, hingga menampilkan sesososk berjubah hitam berdiri tak jauh dari hadapan mereka.


Sosok yang tidak lain adalah Great Lady. Dia berhasil menyelinap masuk dan menemukan tanah Lorddark's Zone karena bantuan dari Hugo, tapi apa tidak terlalu cepat jika penjaga itu berhasil menemukan keberadaannya?


"Siapa kau?" Ucap salah satu penjaga dari bangsa Vampire.


"Sebaiknya kau pergi, jika tidak mau menjadi mayat!" Tambah ungkapan dari penjaga kaum Witch.


"Kalau begitu mari kita lihat, siapa yang akan menjadi mayat!"


Para penjaga mulai menunjukan beberapa rangkaian pola sihir dengan warna yang berbeda. Mencoba menyerang penyusup yang ingin memasuki wilayah Lorddark's Zone.


Tanpa rasa takut, Great Lady tersenyum penuh menyindir. Dari balik tudung hitam yang menutupi setengah wajahnya, dia mulai bergumam kecil.


Membuat kupu-kupu kesayangannya, terbang menyerang kaum malam seperti mereka. Tanpa tahu tingkat kekuatan wanita ini, mereka dengan berani melancarkan serangan yang menurut Great Lady itu hanyalah setetes air di lautan.


Pola-pola sihir itu hancur menjadi kepingan cahaya, saat kupu-kupu emas itu berubah menjadi belati piasu tak terkalahkan. Dan dengan gerakan cepat, pisau itu menebas dengan sadis kepala penjaga itu, tanpa meninggalkan jejak suara yang bisa memanggil bala bantuan.


Dengan ironisnya mereka semua mati dalam sekejap. Great Lady berjalan mendekati pintu gerbang, seperti yang di duga, mereka menggunakan sihir pelindung khusus yang begitu rumit.


Tapi untungnya dia berhasil menemukan cara untuk bisa memasuki wilayah ini. Teringat saat dia membunuh Grue salah satu pemimpin Carlitos, dia pun menyuruh Hugo untuk mencari berkas mengenai data gerbang ini.


"Biar aku yang membukakannya untukmu."


"Tidak kusangka rencanamu cukup berhasil, Hugo. Dengan menyebarkan berita keberadaannya, itu akan mempermudahkan ku untuk mendekati wilayah ini."


Hugo berhasil mematahkan sihir pelindung, sehingga pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Meski rencana ini cukup bervlbahaya, tapi tidak ada kata mudah dalam sebuah tindakan, jika kita tidak mengambil resiko besar dengan berani.


Ada yang aneh dengan hutan ini...


"Kukira karena ini tanah terlarang, tempat ini menyimpan sejuta emas. Ternyata hanya hutan belantara."


"Tapi justru ini adalah tempat terbaik untuk menyimpan pedangnya. Baiklah sekarang menyebar, temukan pedang itu!"


Hugo memerintahkan ribuan kupu-kupu emas menyebar kewilayah Lorddark's Zone. Tidak perlu memakan waktu lama, Hugo pun berhasil menemukan lokasi.


Berjarak sekitar 1 km dari posisi mereka terdapat jurang yang memiliki sihir ilusi tinggi. Great Lady pun melakukan teleportasi untuk ketempat jurang itu.


"Jurang ini begitu terasa nyata padahal hanya ilusi."


"Kita hancurkan saja sihir ilusinya."


"Jangan ceroboh, Hugo. Aku tidak mau mengundang mereka, meski nanti mereka pasti akan menyadari keberadaanku."


Tanpa rasa ragu, Great Lady terjun dengan tenag kedalam jurang. Yang sebenarnya itu adalah cara untuk memasuki ruangan yang menjadi penyimpanan pedang hitam.


Dia mendarat dengan sangat semourna tanpa ada luka sedikit pun, Great Lady menerawang ruangan tanpa jendela dengan kelembapan tinggi dan begitu pengap.


Namun, mata hijaunya berhasil melihat apa yang selama ini dia cari-cari. Ditengah ruangan, pedang hitam melayang dengan sangat gagah. Ke'elokan bentuk yang begitu sempurna dengan beberapa hiasan bunga Lycoris dari pecahan Crystal Ekdikisi Tanatho.


Menjerat siapa pun yang menatapnya, tapi pedang itu berbeda dengan terakhir kali dia lihat.


"Pedang ini, telah menjadi sempurna. Mungkinkah..."


Sring!


Sebuah pedang emas menyandra leher Great Lady, tubuhnya dikunci dengan sihir kuat. Dia melirik, menatap Fedrick yang menjadi dalang dari ini semua.


"Respon yang cepat. Sejak tadi, aku terus kepikiran. Dimana sang Lord disaat musuh berhasil merusak gerbangnya, ternyata kalian telah mempersiapkan ini. Sungguh serangan tidak terduga."


"Itu karena kau bodoh." Welliam menunjukan dirinya.


"Kalian sepasang Ayah dan Anak yang begitu serasi. Sungguh, Demon yang menyebalkan!"


BOOM!!


ledakan besar terjadi, saat Great Lady menyerang mereka menggunakan kupu-kupu tersayangnya. Menyerang Fedrick dan Welliam secara brutal, apa mereka kewalahan? Maka jawabannya tidak!


Ini persis seperti olahraga malam bagi mereka, hingga pada akhirnya Welliam mengeluarkan bola sihir merah kearah Great Lady dan ledakan untuk kedua kalinya terjadi. Karena sihir Welliam beradu dengan sihir pelindung Great Lady.


Serangan itu cukup besar bahkan sempurna, sehingga mereka harus keluar dari ruangan itu dan bertarung di dalam hutan gelap bertanah tandus.


"Dia cukup tangguh, serangan dan pertahanannya begitu baik daripada Katstrofi."


"Lalu Ayah takut?"


"Cih. Itu tidak akan terjadi, bisa-bisa Kakek mu merangkak kekuar dari kuburannya, hanya untuk menertawaiku yang takut dengan wanita itu? Lucu sekali."


"Ini menyebalkan, kenapa kalian tidak mati saja!"


Dari balik kebulan asap, Grat Lady keluar dari ruang rahasia itu sembari memegang pedang hitam yang dia cari selama ini.


"Jika kau bosan dengan kami, kenapa tidak kau tidak mati lebih dulu saja?" Sindir Welliam.


"Aku tidak akan pernah bisa mati! Baiklah karena aku telah mendapatkan pedangnya, kurasa aku perlu memberikan kalian hadiah!"


Mengetahui muslihat Tuannya, Hugo memecah diri menjadi jutaan Kupu-kupu pembunuh berwarna merah, mereka bergerak cepat kearah Welliam dan Fedrick.


Seakan serangan itu hanya mainan, Welliam atau pun Fedrick tidak bergeming sedikit pun dari posisinya. Bahkan mereka tidak berniat membuat sihir pelindung, karena...


" Καταψτε το "


(hancur)


DEG!!


Great Lady diam menegang saat mendengar seseorang berkicau kalimat itu. Suara lembut penuh tekanan dingin, tidak salah lagi itu adalah Dia.


Sekejap angin bergemuruh kencang membawa kelopak bunga Wisteria, yang mampu menghentikan kupu-kupu pembunuh itu diam di udara, lalu jatuh ketanah menajdi abu.


Sesaat setelahnya, lingkungan hutan tandus itu berubah seolah ini adalah dimensi buatan. Pedang hitam ditangan Great Lady pun hancur menjadi beberapa kelopak bunga Wisteria.


Pedangnya palsu? Sudah kuduga ada yang aneh dengan hutan ini.


Setelah kebangkitan Aletha dari tidur mimpi buruknya, hutan Lorddark's Zone telah berubah menjadi Hutan Wisteria.


"Sepertinya, kau telah mempercayai keterdugaanmu itu, sayang."


Sayang? Mungkinkah--itu pasti dia, hanya ada satu orang yang mampu membuat dimensi sempurna seperti ini.


Merasa telah terjebak, Great Lady kian semakin benci kepada satu sosok yang baru saja Welliam panggil sayang. Sepertinya dia tidak bisa terus-terusan, mengendalikan para tokoh pemain lagi.


"Jukukanmu sebagai Dewi tertinggi, memang bukan buaian kata saja, Aletha!"


Perlahan Aletha menunjukan wujudnya, dia berdiri diantara Welliam dan Fedrick. Sungguh ironis dan sangat menyakitkan, saat mengetahui kebenaran dari ini semua.


"Tadinya aku ingin menganggap ini sebuah lelucon, tadinya aku berharap bahwa ini hanya kebohongan, dan juga! Aku tetap ingin menyangkalnya, bahwa kau pelaku dari ini semua!" Aletha mengepal kesal mengetahui fakta tentang musuh mereka.


Disisi lain, Rechyla melihat semua yang terjadi dari balik salah satu pohon Wisteria. Sejak kedatangan Great Lady ke wilayah ini, dia memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya di tanah Lorddark's zone ini.


Karena sejak apa yang diucapkan Dewi Selini Thea waktu itu, ia ingin melihat dan mendengar kebenarannya sendiri.


' Mungkin kau tidak tahu Rechyla, musuh kita yang sebenarnya........ '


ALAM MENGETAHUI SEGALANYA!


"Tidak kusangka, kau memainkan peranmu dengan sangat sempurna, Adikku."


TAPI TIDAK MENYEMBUNYIKAN KEBENARANNYA!!


' ..adalah Adik Aletha, Tahlia tis timorias Wisteria. '


SANG PENCIPTA, MENUNJUKAN KEBENARAN KEPADA MEREKA YANG MENUNTUT KEADILAN !!


"Harusnya aku sadar, kau pasti akan mengetahui semuanya saat sihir mimpi buruk itu, berhasil kau pecahkan."


Great Lady, Bukan! Tapi Tahlia, dengan bangga membuka tudung hitam dan memperlihatkan wajah aslinya, sembari tersenyum sakarstik dihadapan musuhnya.


"Yah, tidak perlu menyesal, lagi pula aku sudah siap dengan ini semua. jadi, bagaimana menurutmu pertunjukan konsfirasi yang telah kuciptakan ini, Kakak ku tersayang?"


--.o🍁o.--