The Queen of Different World

The Queen of Different World
Instructions; Lorddark's Zone Area II



Fedrick berjalan dengan sangat gagah. Aura yang ia keluarkan begitu sangat menyeramkan, beberapa pelayan yang merasakannya pun turut merinding. Sudah sangat lama sekali Lord Besar Fedrick tidak mengeluarlan Aura dingin, seolah beliau ingin sekali membunuh seseorang.


Itu semua karena surat yang dikirim oleh Putranya yang telah pergi selama hampir 1 minggu, dan baru memberi kabar. Welliam masih menyelidiki siapa Carlitos yang sebenarnya dan apa tujuan mereka hingga detik ini, kenapa mereka masih bersikeras ingin melanjutkan pemberontakan?


Di surat itu tertulis bahwa Welliam sempat bertarung dengan pemimpin asli Carlitos. Sosok perempuan tangguh yang sangat kuat, tapi dia masih belum bisa mendeskripsikan wujudnya karena dia terlindungi oleh jubah hitam dan beberapa kupu-kupu emas.


Apakah sosok itu bagian dari kaum Darkness World atau berasal dari luar dari Darkness World, karena dia berhasil memanggil makhluk Troll dan goblin. Tapi yang paling membuat Fedrick marah adalah tujuan awal pemimpin itu.


Mereka menginginkan pedang milik Katastrofi kembali, pedang hitam yang selama ini dia simpan di daerah hutan terlarang atau Lorddark's Zone. Belum lagi di pedang itu memiliki Crystal merah yang merupakan salah satu Crystal pelindung Darkness World yang telah lama hilang. Ekdikisi Thanato, ya itulah nama Crystal itu yang berarti Dendam Kematian.


Selama ini Fedrick memang tidak pernah membicarakan hal ini kepada Lezzy, dia takut Lezzy akan cemas. Ini tidak bisa dibiarkan, meski harus Fedrick akui bahwa pertarungannya dengan Katastrofi dulu masih belum bisa dikatakan kemenangan. Melainkan pertarungan yang tertunda.


Kali ini tidak akan dia biarkan mereka miliki pedang itu, apalagi jika berniat ingin menghancurkan keluarga kecilnya yang sangat berharga, Fedrick pasti akan menghabisi mereka hingga ketitik darah penghabisan.


Tap.


Fedrick berhenti berjalan melihat para prajurit yang menjaga gerbang masuk Lorddark zone, jatuh tak sadarkan diri apalagi dengan kondisi pintu gerbang terbuka.


"Apa mereka telah bergerak?!"


Dalam langkah cepat, Fedrick kini sudah berada di depan jurang yang berada di dalam daerah Lorddarks Zone. Bukan.., itu bukan jurang sungguhan melainkan sihir ilusi dan pintu teleportasi untuk bisa menuju ke sebuah ruangan dimana dia menyembunyikan pedang itu.


Selain dia tidak ada yang bisa memasukinya tanpa seizinnya. Itulah kenapa para penyusup beberapa waktu lalu tidak dapat menemukan letak pedang itu, dan untungnya Welliam telah membunuh mereka.


Tapi perasaannya tidak enak, melihat sesuatu hal yang mengganjal di depan tadi, pasti sudah ada yang menemukannya. Tapi apa mereka bisa memasuki wilayah yang telah ia pasangkan sihir kuat?


Fedrick membuka portal dimensi dan seluruh tubuhnya terhisap kedalam sihir teleportasi. Kini dia sudah berada di dalam gedung yang menyegel pedang itu.


Saat sudah ada disana, ada sesuatu hal yang membuat mata dark bloodnya aktif, Fedrick mengaktifkan mata Iblisnya saat melihat sosok berjubah hitam persis seperti yang di bilang Putranya. Berdiri tepat di sebelah pedang itu.


"Siapa kau? Beraninya kau memasuki wilayah terlarangku!"


.


.


.


Aletha sangat terkejut dengan kehadiran pria yang terlihat sedang menggerang marah. Ia melihat pedang itu kembali, tidak pedang ini tidak boleh berada di Dunia Kegelapan atau pun Bumi karena jika tidak, semua akan berubah menjadi bencana dan akan menimbulkan perang bersekala besar.


Secara reflek Aletha mengambil pedang itu, dan saat Aletha menyentuhnya pedang itu bersinar terutama pada bagian Crystal merah yang cahayanya sangat gemilang.


Pedang yang tadinya terbagi menjadi dua, kini mulai berubah menjadi sempurna bahkan bentuknya jauh lebih ramping, bila dilihat dari samping terlihat sangat tipis hingga menyerupai garis, warnanya jauh lebih hitam dan sangat pekat.


Crystal merah yang awalnya berada di bawah gagangnya kini memecah menjadi beberapa bagian, bagian pertama mengukir bunga Lycoris di unjung pedang dekat genggamannya, bagian kedua berbentuk pecahan kaca kecil yang tersebar di area pegangan pedang.


Pria yang dilihat Aletha tak lain adalah Fedrick. Menatap benci saat melihat pedang itu telah kembali menjadi sempurna. Aletha tidak percaya saat melihat bentuk tranformasi dari pedang ini, menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.


Boom


Trang!


Aletha melompat mundur dengan sangat jauh saat dirasa pria itu melancarkan serangan kearahnya. Karena bergerak sangat buru-buru Aletha juga menjatuhkan pedang yang tadi ada ditangannya.


"Apa tujuan kalian yang sebenarnya?"


Fedrick meraih pedang itu lalu melirik tajam kearah Aletha. Beberapa sihir penyerang berbentuk seperti piasau, melayang dibelakang Fedrick bersiap untuk bergerak menyerang Aletha, kalau-kalau Fedrick langsung memberi perintah.


Aletha yang tidak mengerti dengan alur pembicaraan pria dihadapannya, hanya bisa diam.


"Rencanamu untuk membentuk Carlitos, apa untuk menghancurkan duniaku?" Fedrick berucap dingin, ia benar-benar sudah sangat emosi.


Carlitos? Siapa itu Carlitos?


Jika dilihat dari kondisi fisiknya dan mata merah sepekat darah, aura gelap yang memecarkan seorang penguasa tinggi. Tidak salah lagi pria ini adalah Iblis.


*Tapi siapa? Saat ini Welliam sedang berada diluar Kerajaan, tidak mungkin dia adalah Lucy atau pun Ratu Besar. Apalagi dia adalah laki-laki. Dari yang aku ketahui hanya ada dua pria yang mewarisi gen bangsa Demon, Welliam adalah pangeran dan satunya lagi adalah....


Mungkinkah dia penguasa tinggi di Darkness World ini, Yang Mulia Lord Fedrick*?


Dibalik tudung hitamnya tersamar gambar wajah sang Lord. Sial! Kenapa harus Lord sendiri yang menangkap basah dirinya, menurut analisah Aletha sepertinya Lord Besar sudah salah paham kepadanya.


Ia kira Aletha adalah pemimpin dari musuhnya, meski dikatakan secara baik memangnya dia akan percaya kalau Aletha bukan penyusup atau pun musuh. Terlebih saat ini yang paling Aletha tidak suka adalah berhadapan langsung dengannya, sama saja dengan meminta dibuka semua tentang identitasnya secara paksa.


Sepertinya ia akan sedikit kesusahan untuk bisa melepaskan diri, Welliam saja sudah sangat kuat apalagi dengan Lord besar ini. Aletha tidak perlu mengulur waktu dia harus pergi dari sini dulu, untuk masalah pedang itu bisa ia cari tahu perlahan-lahan.


"Jadi bagaimana kabar Katastrofi?" Fedrick berkata dengan nada merendahkan.


"Bagaimana kau mengetahui nama Katastrofi?"


"Mengetahui? Bukankah di hari aku mengalahkannya kau sendiri hadir untuk menyelamatkannya? Jadi kau benar-benar datang kembali dengan pasukan Carlitos yang baru. Sepertinya pemimpin Carlitos juga berasal dari Imorrtal."


Setelah Katastrofi kini Lord ini membahas Imorrtal juga. Apa yang sebebarnya sudah terjadi pada dunia ini, siapa Carlitos apa hubungannya Carlitos dengan Imorrtal? Apalagi Katastrofi sepertinya ikut terlibat. Tidak bisa, Aletha tidak bisa mengikuti alur pembicaraan.


Ia tidak mengerti, apa yang telah terjadi selama dia pergi untuk menebus dosa di masa lalunya. Tapi Aletha ingin tahu dengan apa yang dikatakannya.


Brukh!


Crang..


Tanpa aba-aba Fedrick menyerang Aletha dengan pedang hitam itu, untungnya Aletha bergerak cepat dengan mengambil belati miliknya yang selalu dia ikat di paha kanannya. Hanya sebatas belati pisau, Aletha mampu menahan tekanan yang diberikan Fedrick.


Tapi itu masih belum cukup karena besar kekuatan mereka hanya sebatas 10 banding 1000. Jika terus begini dia bisa terus terpojok lalu semua akan berakhir ditangan sang Lord.


Fedrick yang terus menekan sosok dihadapannya masih bekum bisa melihat wajahnya, sepertinya tudung hitamnya memiliki sihir tingkat tinggi yang mampu menutupi aura keberadaannya. Tapi Fedrick tidak akan pernah melupakan slogannya yang selalu menghabisi lawannya tanpa diberi keringanan. Tak masalah, cepat atau lambat dia akan mengetahui wujudnya jika dia sudah membawanya ke ruang bawah tanah.


Meski saat ini titik kekuatannya hanya sebesar 5% tapi jangan pernah pandang remeh seorang Aletha. Sebelum semua semakin sulit, dengan cepat Aletha mengerakan jemarinya lalu sihir biru tercipta membuat cahaya terang yang mampu membuat penglihatan sedikit terganggu.


Fedrick yang merasakan silau dengan cahaya itu sedikit merenggangkan tekananya, tidak mau melewatkan kesempatan ini segera Aletha gunakan untuk melepaskan diri.


Tanpa memberi celah sedikit Aletha menyerang Fedrick dengan gerakan yang begitu lincah, seolah Aletha adalah seorang petarung hebat.


Karena masih terasa buram pada pandangannya, Fedrick pun tidak terlalu bisa mengimbangi gerakan Aletha yang kelewat cepat.


Aletha berlari lalu berpijak pada dinding dan dengan sekali putaran sempurna, Aletha berhasil menendang Fedrick hingga bergerak mundur dengan sangat kuat. Darah segar mengalir kecil dari sudut bibir Fedrick.


Menyadari dia mendapatkan pukulan salam pertemuan dari lawannya. Dengan ringan Fedrick menyeka darah itu lalu berdecih merendahkan.


Mata itu kian berkilat dengan sangat merah. Sudah cukup, Fedrick akui perempuan ini cukup kuat tapi dihadapan Fedrick itu masih belum seberapa.


Tangannya yang telah dihiasi kuku runcing terangkat. Sihir berwarna ungu gelap terbuat dengan sangat besar, lalu dengan cepat ia lepaskan sihir itu tanpa belas kasih kearah Aletha.


Drak.


DUAR!!


Karena serangan yang begitu cepat Aletha tidak sempat menghindarinya, hal hasil Aletha terhempas keluar cukup jauh dari tempat itu. Akibat dari ledakan sihir itu juga, membuat setengah dari bangunan itu pun ikut runtuh menjadi bongkahan batu.


Untungnya Aletha mampu mengendalikan diri sehingga dia tidak sampai terjatuh dengan kasar, ia berhasil mendarat dengan baik meski harus sedikit terseret di dasar tanah.


"Uhuk!"


Akibat serangan kasar dari Fedrick Aletha sedikit mendapatkan efeknya. Darah yang sedikit keluar dari mulut Aletha menandakan ia mengalami luka dalam, tapi sepertinya lukanya tidak terlalu parah. Bagus ini waktu yang tepat baginya untuk melarikan diri.


Kekuatannya masih belum pulih terlebih kalungnya masih bersama Welliam. Setidaknya meski dia menggunakan sihir kehadirannya di dunia ini tidak akan mudah di lacak.


Dengan sedikit tertatih Aletha berusaha berdiri, pergelangan kakinya dan dadanya sedikit berdenyut perih.


Tap


Wush..


Dalam sekejap Fedrick sudah berada dihadapan Aletha. Seolah ia tidak ingin membiarkan lawananya hidup, Fedrick tidak akan pernah melepaskan musuhnya begitu saja. Gawat ini benar-benar sudah sangat gawat, jika dilihat dari gerakan Fedrick.


Sudah pasti ia ingin membunuh Aletha. Tangan kanan yang menggengam kuat pedang hitam tengah diarahkan tepat di dada Aletha, sepertinya Fedrick sudah sangat murka. Tapi dia salah paham, karena Aletha tidak ada sangkut pautnya dengan Carlitos.


Aletha tidak bisa berdiri tubuhnya seperti kaku, Fedrick menyihir tubuh Aletha agar tidak bisa kabur. Kekuatannya masih sangat lemah untuk mencoba melepaskan diri dari sihir perintah. Lagi pula meski dia kabur dan berlari, sudah pasti Lord ini akan tetap bisa mengejarnya, sekarang apa yang harus Aletha lakukan? Apa dia harus mati disini?


Sekilas bayangan tentang seseorang hadir dibenaknya. Aletha tertawa kecil, bisa-bisanya dihari yang mungkin menjadi hari terakhir, dia masih sempat mengingat wajah menyebalkan Welliam. Apa benar dia telah jatuh hati pada Pangeran Demon itu?


Biarlah jika memang harus mati maka matilah, lagian dia juga sudah lelah dengan hidup yang begitu membosankan ini. Anggap saja ini adalah balasan dari Dosanya dulu.


Tapi..tapi kenapa, kenapa rasanya Aletha ingin sekali melihat wajahnya meski hanya sebentar.


Fedrick mengangkat pedang itu dan bersiap menikam jantung Aletha, lalu dengan cepat Fedrick menggerakkan pedangnya dengan sangat cepat kebawah.


Aletha memejamkan matanya menunggu sisa waktu hidupnya.


Welliam.....


--.o🍁o.--