
Langit biru membentang dengan sangat cerah, beberapa pohon rindang membantu menyejukan suasana.
Ditengah taman berada di Castle Violence, digelar sebuah acara makan bersama untuk sang Pangeran dan calon Putri Kerajaan Lucifer Kingdom.
Terdapat meja berukuran sedang menampilkan beberapa makanan mewah. Terdapat dua kursi yang siap menopang seseorang yang akan makan disana.
Aletha duduk disalah satunya, sembari melihat kursi kosong untuk Welliam dihadapannya.
Jari telunjuknya memutari cangkir teh dengan begitu bosan. Sudah 15 menit berlalu tapi dia tidak melihat kehadiran Welliam sedikit pun, sejak tadi juga Aletha sudah kesal dan ingin meninggalkan taman. Tapi Fivian selalu saja memohon untuk tetap bersabar.
Ini sudah keterlaluan, bagaimana bisa dia menyuruh perempuan yang menunggunya!
Aletha melirik tajam kearah Fivian, sedangkan Fivian hanya tersenyum kaku. Sebenarnya di tatap sinis begitu juga, membuat Fivian khawatir karena aura kesal Aletha begitu mirip dengan Welliam.
"Wah, lihat Lady, Yang Mulia sudah datang."
Aletha melihat kehadiran Welliam yang sangat mempesona, meski ia kesal tapi harus Aletha akui bahwa Welliam memang pria yang tampan.
Apalagi yang selalu membuat Aletha tersihir adalah sorot mata birunya yang begitu menawan, rasanya sayang juga kalau Aletha benar-benar menolak pria tampan yang sudah disiapkan untuk takdir hidupnya.
"Sepertinya aku membuatmu menunggu lama?"
Aletha tersadar dari khayalannya tentang Welliam. Dia berdehem kecil, lalu mengembalikan sikapnya seperti semula.
Untuk sementara ini, aku harus mengikuti alurnya dulu. Jika aku berulah lagi, dia pasti akan marah dan nanti malah jadi rumit.
"Tidak, aku juga cukup menikmati suasana di taman."
Welliam menaikan sebelah alisnya, ini sebuah kejutan tak terduga. Ia tidak menyangka gadis yang seperti kucing liar ini bisa bersikap santai kepadanya, sepertinya ada baiknya juga dia jatuh ke dalam danau itu.
Welliam mengambil alih duduk, dihadalan Aletha. "Bagaimana dengan keadaanmu sekarang?"
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."
Aletha tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan makhluk menyeramkan ini, jadi lebih baik dia mulai menyantap makanan dihadapannya.
"Bagaimana dengan pipimu?"
"Kenapa kau membahas itu?" Ucap Aletha tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Aku hanya ingin tahu saja."
"Apa menurutmu, aku terlihat baik-baik saja dengan sikap kasarmu itu?"
"Mengenai itu.., aku minta maaf."
Sret..
Aletha berhenti memotong daging yang ada dipiring makannya, lalu perlahan melihat Welliam.
Bahkan Aletha yakin, walau tidak jelas tapi dia melihat Welliam sedang tersenyum seolah dia merasa khawatir dan bersalah. Jadi Iblis kejam ini juga punya sisi lembut ya?
".....beliau sangat menyayangi anda..."
"....kau itu benar milikku, gadisku, dan juga pasangan mate yang akan menjadi ratuku..."
Aletha menyerup teh hangatnya, ada apa ini kenapa dia jadi merasa tegang dan wajahnya juga sedikit panas.
Sadarkan dirimu Aletha, dia itu Iblis kejam yang bisa kapan saja menerkammu. Manamungkin dia bisa memiliki sisi lembut, mungkin saja itu hanya siasatnya, ya itu pasti.
Mungkin.....
"Ekhem! Lupakan lah, lagi pula itu tidak terlalu sakit. Bahkan selama satu minggu ini aku hanya tertidur, dan juga tidak merasakan sakitnya."
Welliam cukup terpukau dengan ucapan Aletha yang terdengar ngelantur, tapi juga sangat menggemaskan bagi Welliam.
Aletha melihat bingung, saat welliam sedikit menunduk dan menutupi wajahnya dengan tangan kekarnya. Seolah ia sedang menahan ketawa.
Ada apa dengannya? Apa ada yang lucu atau ucapanku ada yang salah ?
"Kau benar-benar sangat berbeda ya, Aletha.."
"Berbeda?"
"...hanya saja kau terlihat sangat lucu."
Aletha sedikit merona merah, saat melihat wajah tampan Welliam berubah menjadi 120% tak terkalahkan.
Senyuman di bibir sexy-nya begitu sangat menggoda, bahkan bagi Aletha itu sangat menyilaukan mata.
Apa-apaan ini, kenapa dia tersenyum dengan lembut begitu? Biasanya dia hanya bersikap dingin dengan tatapannya yang begitu mengerikan. Apa Welliam sedang melakukan trik muslihat lain agar Aletha terjebak dalam permainannya?
Oh jantungku berdetaklah dengan normal, sadarkan dirimu Aletha, aku tidak mungkin memiliki perasan'kan kepadanya?
"Apa kau berharap aku berkata seperti itu? Kau memang berbeda tapi bukan berarti Lucu!"
Lupakan, dia benar-benar Iblis yang kejam! Apasih yang kuharapkan darinya, lagipula ini tidak sepertiku, apa karena hubungan mate?
Rasanya semua perasaan kagum tadi telah hancur, saat Welliam berkata seperti itu apalagi diucapkan dengan nada khas bicaranya yang super duper menyebalkan.
"Cih, aku tidak pernah mau mendengar kata-kata manis itu dari mulutmu. Menyedihkan!" Ucap Alteha dengan sangat ketus.
Aletha kembali memotong daging dengan sangat kesal, melihat tingkah Aletha membuat Welliam tersenyum tipis.
Sebenarnya yang ia katakan bukanlah sebuah pengejekan, tapi ia suka menggoda Aletha. Ditambah, hari ini sepertinya mereka tidak akan berselesih seperti sebelumnya.
Welliam memperhatikan setiap gerakan saat Aletha sedang makan, dia sendiri pun tidak sadar bahwa sikap acuhnya mulai sedikit berubah jika bersama Matenya.
Dan sangking asiknya, ia juga tidak menyentuh makanannya, bahkan teh dicangkirnya pun sudah mulai dingin.
Welliam tersadar ada yang berbeda dengan gadisnya, dia bangun lalu mendekati Aletha dengan sangat dekat membuat Aletha sedikit memundurkan tubuhnya kebelakang.
"Kali ini, apa yang mau kau lakukan terhadapku?"
Welliam menatap intens mata langit Aletha, lalu pandangannya tertuju pada rambutnya. Perlahan Welliam memegang rambut Aletha lalu mencium aroma yang selalu menjadi khas dari Matenya.
"Setelah satu minggu, rambutmu jadi semakin panjang dan ......"
Welliam kembali memainkan helaian rambut Aletha pada ujung rambutnya yang berwarna putih silver.
"Apa kau mewarnai rambutmu?"
Aletha mengalihkan pandangannya, sepertinya Aletha tidak ingin berkomentar mengenai pertannyaan Welliam.
Ia sudah tahu pasti Aletha akan menghindar dari pertannyaannya, maka dari itu Welliam melirik Fivian yang berada tak jauh dibelakang Aletha.
Mengerti tatapan Tuan nya Fivian menundukan kepalanya.
"Jawab Yang Mulia, saat Lady terbangun rambu----"
"Aku memang mewarnainya." Aletha menjawab dengan sangat cepat sebelum Fivian menyelesaikan perkataannya.
Welliam kembali melihat Aletha "Kenapa?"
"Karena.., warna rambut perpaduan seperti ini sangat populer dikalangan Manusia, apa kau tidak suka dengan warnannya? Aku bisa memotongnya jika kau ti--"
"Jangan dipotong, aku suka warna silvernya karena itu cocok untukmu. Jika dibiarkan mungkin saja warnanya akan menyebar keseluruh rambut."
William mengatakannya sembari mencium rambut Aletha pada ujungnya yang berwarna putih silver.
Mendengar itu Aletha sedikit senang, entahlah padahal itu bukanlah sesuatu hal yang spesial. Tapi rasanya, cukup menyenangkan saat seseorang menyukai warna rambut seperti itu.
"Apa makannya sudah selesai?"
"Hmm.."
"Kalau gitu, ayo ikut denganku."
"Kemana?"
"Kutunjukan sisi taman di Castle Violence, sekalian jalan-jalan, selama kau disini aku hanya mengurungmu. Jadi akan lebih baik jika kau menyukai tempat ini, mungkin saja taman itu menarik bagimu.."
"Kau tidak sedang merencanakan sesuatu untuk membunuhku, kan?"
"Kenapa kau selalu berfikir negatif tentangku, lagian kenapa juga aku harus membunuhmu?"
"Habisnya kau selalu bersikap kasar, ditambah lagi semua isi Castle mu ini pasti tempat penyiksaan."
"Makanya kuberi nama Castle ku dengan sebutan Violence."
Welliam berbalik dan berjalan lebih dulu, Aletha kesal sangat kesal menghadapi Welliam.
Tunggu, bukannya dia mau makan bersama dengan Welliam karena ada perlu ya? Ya ampun Aletha hampir saja lupa!
"Tunggu Welliam, sebelum jalan-jalan aku mau sesuatu...."
Aletha menghadang Welliam sembari mengulurkan telapak tangannya, seperti orang yang sedang meminta sesuatu. Awalnya Weliam bingung, tapi sepintas dia sepertinya paham yang dimau Aletha.
Genggam.
Welliam menggenggam tangan Aletha dengan sangat erat, sontak Aletha kaget dengan tindakan Welliam.
"Ap-apa yang kau lakukan?!"
"Menggenggammu."
"Kenapa malah menggenggam?"
"Karena kau ingin aku menggenggam tanganmu, kan?"
"Te-tentu saja tidak, bodoh!!"
Aletha geram, memangnya Welliam tidak paham apa yang Aletha maksud.
"Aku.., hanya ingin kalungku."
"Kalung? Maksudmu ini?"
Welliam menunjukan kalung berliontin biru ditangan kanannya, melihat kalungnya benar ada di Welliam membuatnya reflek ingin merebut paksa.
Tapi Welliam yang jauh lebih tinggi mengangkat tangannya membuat Aletha melompat kecil untuk meraihnya, dan hasilnya mereka malah semakin dekat sangat dekat sampai-sampai jarak pandang mereka hanya sekitar 10 centi meter.
Sadar dengan jarak diantara mereka, dengan cepat Aletha menjauhkan diri dan melepaskan genggamannya dari Welliam.
"Itu punyaku, kembalikan."
Melihat reaksi Aletha yang sedang tersipu seperti itu, membuat Welliam memiliki ide menarik.
"Jika kau mau aku mengembalikan kalungnya, kau harus menggenggam tanganku sampai selesai."
"Ha! Jadi maksudmu, kau mau kita bergandengan tangan saat jalan-jalan di taman?"
Welliam mengangguk kecil.
"Tidak mau! Gosip beredar di Castle mu sudah membuatku risih. Jika kita seperti itu, nanti aku semakin menjadi buah bibir mereka!"
"Kau jangan khawatir, jika ada yang membicarakanmu......"
Welliam melirik tajam kepara barisan pelayan yang sejak awal sudah disana, membantu menyajikan makanan.
"....itu sudah cukup, untuk wasiat terakhir mereka!"
Mengerti pesan ucapan Tuan mereka lewat tatapan mautnya, membuat para pelayan menunduk menahan rasa taku. Secara tidak langsung, Welliam memberikan peringatan kepada seluruh pelayan Castle.
Bahwa jangan coba-coba berani menghina atau pun berprilaku buruk kepada Matenya, karena Welliam tidak akan segan-segan akan membunuh mereka.
Apa itu tidak terlalu berlebihan? Keren sih tapi terdengar sadis.
"Jadi, kau mau atau tidak?"
Aletha tampak ragu, jika dibiarkan bisa saja Iblis ini akan semakin keterusan. Tapi Aletha juga tidak bisa mengabaikannya, karena dia sangat membutuhkan kalung itu.
"Ba-baiklah, hanya untuk kali ini saja."
Welliam tersenyum tapi tak sempat dilihat Aletha, karena saat ini Aletha masih menundukan wajah. Sembari mengulurkan tangannya, menunggu sambutan hangat dari tangan Aletha tadi.
Perlahan Aletha menggenggam tangan Welliam, ia masih belum berani menatap Welliam akibat rasa malu hingga membuat pipinya merona.
Sial! Akan kuingat ini kedalam daftar balas dendamku kepadanya, selama hidupku, belum pernah sekalipun aku sedekat ini dengan seorang Pria. Dasar Iblis!
Fivian sempat bernafas lega dan tersenyum, perlahan takdir mulai menyatukan perasaan keduanya. Fivian cukup khawatir dengan hubungan Tuan dan Lady nya yang tak pernah sependapat.
Jika saja mereka sedikit menurunkan perasaan ego satu sama lain, mungkin saja mereka akan bisa saling mengasihi dan menyayangi.
"Untuk beberapa saat, kau tidak akan melayani Lady Aletha dulu."
Loise yang sejak tadi berdiri disebelah Fivian, mulai angkat bicara saat melihat kedua Tuan dan Lady nya berjalan menikmati suasana taman.
"Kenapa, apa Yang Mulia sudah menemukan pelayan baru untuk Lady?"
"Bukan, ini mengenai para penyusup yang membuat kekacauan satu minggu lalu."
Mendengar ucapan Loise, membuat Fivian paham. Mata ungu yang selalu bergemilang lembut, berubah menjadi serius seolah Fivian memiliki sisi sendiri untuk seorang pengawal.
"Apa ada perintah dari Yang Mulia?"
"Pergi ke sisi barat daya hingga ke utara, periksa beberapa hal aneh di daerah sana. Kalau tidak salah ada sebuah desa dan beberapa bukit curam, para Assasin menemukan hal aneh disana. Aku akan---"
"Baiklah, aku mengerti!"
Fivian memejamkan matanya, bajunya sebagai pelayan berubah menjadi pakaian seorang komando prajurit bangsa Elf.
"Loise, tolong gantikan aku menjaga Lady, selama aku tidak ada."
"Dari pada mengkhawatirkan Lady Aletha, kenapa tidak kau khawatirkan dirimu sendiri."
"Maksudmu?"
"Bukan apa-apa, cepat selesaikan misimu lalu kembalilah dengan selamat."
Loise berjalan meninggalkan Fivian yang terlihat sedikit bingung. Merasa tak ada yang aneh dengan cepat Fivian menghilang untuk melanjutkan misinya.
--.o☘o.--
Sesaat Aletha melupakan semua rasa kesalnya terhadap Welliam, bahkan kejadian satu minggu lalu seperti angin lalu yang menerbangkan ribuan bahkan jutaan bunga Dandelion.
Welliam membawa Aletha ke hamparan padang bunga Dandelion. Yang ada di salah satu hutan Violence.
Beberapa kali Aletha berlari sembari menatap kagum bunga Dandelion yang sedang berhamburan, terbang terbawa angin bagaikan salju yang turun.
Awalnya Welliam sedikit sebal karena Aletha tiba-tiba saja melepas genggamannya saat melihat taman ini, tapi sepertinya tak masalah baginya jika Aletha bisa senang dan merasa nyaman di Castle nya.
Mungkin saja Aletha tidak akan mengungkit untuk kembali ke Bumi. Ia juga tidak bisa menunggu, dia tahu cepat atau lambat Ibunya akan memaksanya untuk mempertemukan Aletha.
"Welliam.."
Welliam yang asik pada pikirannya sendiri, kini kembali melihat Aletha yang sudah dihadapannya.
Aletha meletakan satu tangkai bunga Dandelion di depan mulutnya, lalu perlahan ia meniupnya menerbangkan bunganya tepat ke wajah Welliam, hingga ada yang hinggap dipakaian dan rambut reven milik Welliam.
Sontak hal itu membuat Welliam diam sedikit terkejut, cahaya matahari yang hadir dari celah-celah daun pepohonan bagaikan kilauan yang membantu pesona Aletha.
Waktu seakan berhenti sejenak, membiarkan Welliam untuk melihat sesuatu yang jarang ditunjukan oleh Aletha.
Ia tersenyum tipis melihat Aletha tertawa kecil, setelah meniup bunga itu.
"Harusnya kau membawaku kesini sejak awal, jadikan aku tidak akan merasa bosan."
"Memangnya kau belum pernah melihat bunga Dandelion?"
"Em, walau kadang aku berpergian ke Eropa atau Asia itu hanya untuk masalah perusahaan, sejujurnya aku lebih sering bersembunyi dan berdiam diri di kediaman Wisteria. Jadi ini pertama kalinya aku menyentuh langsung bunga Dandelion, selama aku hidup."
Aletha kembali memetik bunga Dandelion untuk dikumpulkan menjadi satu rangkai. Sedangkan Welliam melihat setiap kegiatan Aletha, tatapannya kembali menjadi serius, saat mengingat pembicaraannya dengan Loise sebelum menemui Aletha.
"Aletha, ada yang ingin kutanyakan?"
"Apa?" Ucap Aletha masih asik dengan kegiatannya tanpa melirik Welliam.
"Sebenarnya, kau bukan seorang Manusia?"
Aletha berhenti memetik bunga, lalu melirik pelan kearah Welliam dari posisi duduknya.
Angin berhembus kencang menerbangkan bunga Dandelion lebih banyak, bahkan rangkaian bunga Dandelion ditangan Aletha ikut berhamburan di tengah udara.
Mengelilingi kedua insan yang masih saling menatap dalam keterjutan dan menunggu jawaban.
"Welliam............"
--.o🍁o.--