
Aletha masih terus-terusan kepikiran dengan surat yang diberikan oleh teman karibnya, sewaktu masih tinggal di Imorrtal.
Memang tidak terlalu akrab, hanya saja Aletha dan dia adalah yang paling bersekutu dengan Selini Thea atau orang kepercayaannya.
Terlebih, dia juga salah satu Dewa tertinggi bahkan berposisi nomor satu di Imorrtal. Aletha kira teman lamanya ini tidak terlalu tertarik dengan masalahnya.
Tapi siapa yang menyangka, kalau sepertinya Dewa yang bisa menjadi orang ke dua untuk menduduki tahta kekaisaran Imorrtal. Mau dengan repot memperingatinya.
Sepertinya dia juga sudah menyadari musuh yang sebenarnya. Tunggu, kalau tidak salah, Aletha juga merasakan keberadaan pria ini.
"Apa dia datang ke acara pernikahan?"
"Siapa yang datang, ke acara pernikahan?"
Aletha menoleh, ia lupa kalau saat ini Welliam juga ada disebelahnya. Welliam yang sedang tidur bersandar pada bantal disebelah Aletha, menatap sang Istri.
Sebenarnya sejak tadi dia merasa risih, karena Aletha terus berpindah arah pada posisi tidurnya. Sehingga, Welliam yang masih membaca buku laporan dari Loise menjadi terganggu.
"Siapa yang datang, ke acara pernikahan kita?"
"Aa..m, tidak ada. Aku hanya bergumam kecil." Aletha menarik selimut lalu membelakangi Welliam.
"Apakah dia satu orang yang sama, dengan yang mengirimi surat sore tadi, Aletha?"
Aletha terbangun "Surat?! Surat yang mana?"
"Surat kosong, yang sepertinya membutuhkan matahari untuk membacanya."
"Apa kau melihat isi suratnya? Bagaimana dengan tulisannya, apa kau bisa membacanya?"
Welliam menutup buku laporan ditangannya.
" Προσέξτε, κινδυνεύετε από την Αλέτα. Σταματήστε να σκέφτεστε το παρελθόν, ο κόσμος δεν είναι τόσο δίκαιος όσο πριν Να είστε σταθεροί ότι είστε εκεί για να τους κρίνετε!"
Aletha diam membisu, bagaimana bisa Welliam melafalkannya dengan begitu sangat fasih. Bahkan, Welliam mampu membaca tulisannya dengan benar.
"Aa--apa kau paham artinya?"
Welliam kian menatap tajam Aletha, semakin dibiarkan rahasia Aletha akan terus bertambah tanpa diketahui olehnya.
"Berhati-hatilah, kau sedang dalam bahaya Aletha. Berhenti memikirkan masa lalu, dunia tidak seadil dulu. tegaslah, bahwa kau ada untuk mengadili mereka!"
Bibir Aletha bergetar kecil. Sudah Aletha duga, meski Welliam tidak menunjukan ketertarikannya terhadap Filsavat dan filosofi sejarah.
Bukan berarti dia tidak akan paham, tapi Welliam sudah lebih dulu menguasai semua buku itu sejak usia dini.
Terlebih, bahasa Arclanta adalah bahasa yang begitu sulit. Sejauh ini hanya Lord Fedrick dan Queen Alicia yang paham dengan bahasa itu, dan kini Welliam pun ternyata mengetahuinya.
"Apa seperti ini, cara pengucapan bahasa Arclanta dunia Imorrtal, Aletha?"
"Seberapa banyak yang kau ketahui, Welliam?!"
"Hampir, tapi tidak semuanya."
Aletha tidak tahu harus berbicara apa lagi, tapi bahasa Arclanta memang berasal dari Imorrtal. Jadi begitu, sebelum Welliam merebut suratnya dia sudah membacanya dari belakang Aletha.
"Ba-bagaimana dengan sosok ku?"
"Yang aku tahu, kau berasal dari Imorrtal."
"Siapa yang memberitahumu?"
"Tidak ada, tapi ada yang memaksaku untuk mengetahuinya."
Aletha tahu pasti dia adalah Dewi Selini Thea. Dia lah yang menyuruh Welliam melakukan penandaan Mate, tapi kenapa? Bukankah dia yang bilang tidak ada yang boleh tahu tentangnya.
"Aletha, apa kau masih helum bisa mempercayaiku?"
"Welliam, bukan begitu aku ha--"
"Mau sampai kapan aku harus menunggu? Aletha, masalahmu juga adalah masalahku. Keselamatanmu juga adalah tanggung jawabku, haruskah kau terus berasumsi bahwa semua akan baik-baik saja bila kau yang mengurusnya sendiri?"
"..........."
Welliam memegang erat kedua lengan Aletha, mencoba membuat Aletha untuk menghadapnya.
"Kau tidak bisa terus-terusan berjalan sendiri. Apa karena mereka Dewa lalu aku akan kalah? Aku tak selemah itu, justru kau lah kelemahanku. Cukup dihari itu kau membuatku takut akan kehilanganmu!"
"Lalu apa aku juga harus merelakanmu pergi? Welliam, Imorrtal begitu kuat. Bagaimana jika para Dewa Alam mengutus dia yang menajadi Dewi penghakim mengadilimu? Apa aku bisa tenang melihatmu harus mati? Aku tidak ingin kau berakhir seperti Ardsekar."
"Aletha, saat ini bukan tentang diriku. Tapi tentang dirimu, kau masih belum bisa mempercayai seseorang disisimu! Apa aku selemah itu dimatamu? Hanya karena kalian Dewa yang menentukan takdir langit, bukan berarti mereka yang di bawah tidak bisa mengatur takdir daratan, lautan, bahkan makhluk hidup yang berpijak diatasnya!"
Welliam sudah kesal, dengan ambisi Aletha yang terus menutup mulut. Kelemahan Aletha adalah emosionalnya, sehingga ia selalu beranggapan sendiri pun bisa ia atasinya.
"Kau memiliki ku untuk terus disisimu, apa yang membuatmu hidup seperti buronan dunia? Kau tidak akan selamanya bisa berdiri sendiri."
Aletha menatap Welliam, apa dia sudah terlalu egois? Ia tahu, Welliam bukanlah pria yang lemah. Mungkin saja dia jauh lebih kuat dari para Dewa, lagi pula darah keturunan Selini Thea ada padanya juga.
Welliam melepaskan cengkramannya pada lengan Aletha, sepertinya dia sudah terlalu keras kepada Aletha.
"Maaf, lupakan yang kukatakan. Padahal aku berjanji untuk menunggu sampai kau yang mengatakannya. Tidurlah, masih banyak usrusan yang harus aku kerjakan." Sembari beranjak dari tempat tidur.
Mendengar itu, ada rasa bersalah pada batin Aletha.
Berhenti memikirkan masa lalu, dunia tidak seadil dulu. tegaslah, bahwa kau ada untuk mengadili mereka!
Aletha menahan tangan Welliam. "Kau sungguh ingin tahu, mengapa aku meninggalkan Imorrtal? Kenapa aku selalu tersiksa dengan kenangan masa lalu?"
Welliam sedikit tertegun karena Aletha mau menceritakannya, tapi Welliam juga tidak ingin memaksanya.
"Tidak perlu, katakan saat kau sudah siap saja."
"Tidak, aku sungguh ingin mengatakannya, saat ini kau juga bagian terpenting dari hidupku. Maka kau berhak mengetahuinya, meski tidak akan banyak yang kuberi tahu."
"Kau tidak merasa terpaksa?"
Aletha menggeleng pelan, Welliam kembali pada posisi tidurnya. Kemudian Aletha mendekatkan diri kearah Welliam. Mencoba mencari posisi nyaman untuk menceritakannya.
Melihat Aletha tidur bersandar di dadanya, membuat Welliam mengelus pelan kepala Matenya. Aletha menutup kedua matanya, mengingat kembali semua kenangan masa lalu yang begitu menyiksa.
--.🍁.--
🍁Kisah Dimasa Lalu.
"Salam, Lady Arthena. Anda mendapat surat dari para Tetua Agung."
Dibawah guguran bunga Wisteria, Aletha membuka kedua mata birunya yang secerah langit dan sepekat lautan. Dia menatap dingin kepada Maidery keluarga Wisteria, membuat Maidery itu menunduk menahan rasa takut.
"Pergi."
"Baik, Lady Arthena."
Di Imorrtal, siapa yang tidak mengetahui sosoknya. Dia yang menjadi Dewi Agung tertinggi berposisi nomor III dan ber-bangsawan Claster Danke. Mamimpin jutaan tentara, serta di hormati karena keagungannya sebagai seorang Dewi.
Dia adalah Aletha Wisteria.
Menyandang Nama Dewi, sebagai.
Bergelar bangsawan sebagai Danke.
' Aletha tis Polemou Wisteria. '
Menjadi satu-satunya Pemimpin keluarga Wiateria. 'Arthena.'
Meski Aletha menjadi satu-satunya generasi pemimpin keluarga, tapi dia memiliki seorang Adik perempuan sepersusuan. Bernama, 'Tahlia Wisteria.'
Mereka yang berbeda kalangan kasta, begitu dekat hingga menjadi seorang yang melindungi Selini Thea dari dekat.
Tapi, sifat Aletha begitu dingin kepada siapa pun, sehingga ia disegani oleh banyak Dewa dan Dewi. Kemahirannya dalam berpedang di medan peperangan, mengukir nama sebagai Dewi bersarah dingin.
Karena besar kekuatannya membuat semua begitu berhati-hati dalam berdalih dengannya, Aletha juga di kenal sebagai Dewi yang selalu mengikuti peraturan dari Tatua Agung.
Meski begitu haknya tak dapat di kekang, karena dia memiliki pemikiran yang adil dalam menilai tindakan.
Tidak ada satupun yang membuatnya luluh selain Adiknya, untuk bisa mengikat kedekatan bangsawan kepadanya.
Dia, Dewi paling berjaya pada masa itu, namun semua kekacauan bermula pada satu peristiwa yang membawa serantai masalah.
Aletha yang telah selesai membaca surat dari Tetua Agung, berjalan kesudut taman kediamannya. Menatap kebawah, melihat Kota Leryvora.
Yang melayang tak jauh dari kediaman Wiateria, di tengah angkasa dunia Imorrtal. Aletha mengenakan jubah Dewinya berwarna putih sutra, untuk menutupi wajah jelitanya, sebelum pergi ke ibu kota.
"Kumohon!!"
Aletha yang tadi hendak mengeluarkan sepasang sayap perkasanya, tertunda saat mendengar rintihan kecil dari suara fana.
"Kumohon, hiks.., jika sungguh Dewi Polemou ada, bisakah Dewi hentikan peperangan ini hiks.., hentikan perang yang merenggut kedua orang tuaku. Kumohon, Sampaikan harapanku kepadanya!"
Tubuh Aletha bersinar, lalu dalam beberapa detik setelahnya Aletha berpindah dimensi. Dirinya tiba-tiba saja berada disebuah hutan gelap, dengan seorang gadis kecil tengah menagis.
"Apa kau yang berbicara?"
Gadis itu mengangkat kepalanya. Menatap penuh haru kepada Aletha.
"Apa anda Dewi yang dikirim untuk menolongku?"
Aletha masih berwajah dingin, dia sedikit bingung bagaimana bisa anak kecil ini membawa paksa dirinya ke Bumi.
Bagi kaum Manusia, sosoknya hanyalah permohonan mitos, oleh mereka.
Tapi gadis ini berhasil memanggilnya dengan sekali permohonan, seolah ini telah menjadi takdirnya.
"Dewi, kumohon hentikan peperangan ini. Sudah banyak orang-orang tak bersalah mati ditangan para Kerajaan. Aku pasti akan berikan imbalan kepadamu, asalkan mereka berhenti membunuh."
Aletha memang tahu bahwa saat ini, Bumi memasuki abad dunia peperangan. Sehingga ia sering mecium bau darah tak bersalah, akibat ketamakan pemimpin yang ingin meluaskan wilayah kekuasaannya.
"Apa yang ingin kau berikan kepadaku?"
Gadis itu sempat kebingungan, dia merongga saku celana kusamnya dan menemukan sesuatu, lalu dengan ceria dia memberikan dua buah permen gula-gula kepada Aletha.
"Bagaimana dengan permen ini? Untuk sekarang, aku tidak memiliki gold atau permata." Ujarnya dengan begitu polos.
Aletha menghela nafas, dia berfikir anak ini terlalu bermain-main dengan maslah yang ada. Tapi, mata langitnya melihatn lekat tanah yang bercampur darah pada tangan mungil gadis itu.
Memahami sesuatu, Aletha menatap kebelakang gadis itu. Disana terdapat dua tumpukan batu, yang sepertinya menutupi sesuatu didalamnya.
Sadar dengan pandangan Aletha, gadis itu berjalan kearah tumpukan batu dibelakangnya.
"Dewi, kuperkenalkan ini makam kedua orang tuaku. Mereka.., baru saja tiada, Ayah salah satu prajurit Kerajaan Charlotte yang melindungi kota, dan Ibuku adalah seorang pengurus panti di dekat sini. Ayah, Ibu dia adalah Dewi yang akan menolong orang-orang di Margencia."
"Disini begitu sepi, siapa yang memakamkan mereka?"
Gadis itu terlihat ragu, "aku, aku melakukannya sendiri. Karena kami berhasil melarikan diri ketengah hutan, dan juga aku tidak tahu bahwa kedua orang tuaku telah terluka karena melindungi anak-anak panti. Jadi...jadi..."
Aletha mengetahui kelanjutannya, tapi ia tidak menyangka anak ini memiliki nyali yang begitu berani.
Meski telah ditinggal orang tuanya, tapi dia masih bisa bersikap tegar walau dalam posisi berkabung.
"Bagaimana caranya kau mengetahuiku? Padahal Manusia tidak terlalu perduli dengan adanya keberadaan Dewa atau pun Dewi?"
"Ibu sering menceritakannya, bahwa Dewi Polemou adalah Dewi Perang yang selalu bersikap adil. Dia menjadi Dewi yang di agungi, dalam menyelamatkan ketidak adilan pada peperangan. Jadi, aku mencoba berharap, bahwa Dewi mau menolong kami.."
Aletha diam beberapa saat, lalu dia tersenyum tipis. "Siapa namamu?"
"Eh? So-sofia, Navilera Sofia."
Aletha meraih permen ditangan Sofia. "Harapanmu, telah tersampaikan, Sofia!"
Lalu Aletha pergi begitu saja.
.
.
Disebuah perang yang begitu ricuh. Para Manusia, dengan sangat sadis membunuh darah sekaumnya sendiri, tanpa memikirkan lagi bagaimana jadinya dunia dimasa depan.
Ketamakan, akan sebuah kekuasaan membawa pengorbanan nyawa cukup banyak, yang harus mereka bayar.
Apa mereka menyesal? Maka jawabannya tidak! Tidak ada kata menyesal dalam kamus ketamakan mereka.
Tanpa sadar tindakan bodoh mereka menyeret seseorang, yang menjadi Raja di dalam sebuah peperangan.
BOOM!!
Ditengah pertempuran yang liar, seketika sebuah ledakan muncul dengan kecepatan seperti sambaran petir dari langit.
Semua manusia yang tengah asik berperang terdiam, dengan kejadian yang tidak terduga barusan.
Lalu dikebulan asap hitam, secara kasar datang hembusan angin yang menghempas permukaan area pertempuran.
Membuat seluruh Manusia menatap kaku dan terkejut, dengan kemuncuan sosok yang berdiri diantara daratan dan langit.
Sosok itu melayang dengan menawan, apalagi yang membuat mereka terpukau adalah sepasang sayap besar yang tengah terbuka dengan merkah dipundak gagahnya.
“Aku, Thea tou Polemou, telah hadir...”
--.o🍁o.--
🌸Info Novel.
Maidery : sebutan pelayan di Imorrtal.
Arthena : sebutan nama untuk pemimpin keluarga Wisteria.
Leryvora : Nama Ibu Kota dunia Imorrtal.
Danke : Gelar bangsawan, yang berkedududkan sebagai 'Mentri Pertahanan ' di Kerajaan Imorrtal.
---🌸---