
5 T A H U N K E M U D I A N
----------------------------•ू❁☆゚. * ・ 。゚
🍁 Kyoto, Jepang
Setelah sekian lama meninggalkan bumi pertiwi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada masa lalu. Akhirnya, Aletha bisa juga kembali ke bumi.
Meski begitu, ia juga tidak bisa berlama-lama berada disini karena dia masih mengemban kewajibannya sebagai seorang Ratu, apalagi saat ini masih ada seorang malaikat kecil yang menanti kepulangannya di kerajaan rumah tangga mereka.
Aletha memutuskan kembali untuk melihat perkembangan Perusahaan Wisteria yang telah lama ia tinggali, awalnya Welliam menolak mengenai ini.
Tapi, bagi Aletha ini sangat penting. Bukan karena keuangan dari berbagai aset saham, melainkan beberapa sekolah, panti asuhan, dan rumah sakit yang ia bangun.
Jika perusahaannya berhenti begitu saja, tanpa ada alasan yang jelas. Itu juga bisa berdampak buruk bagi media masa yang mempertannyakan dirinya, jika dia hilang begitu saja.
Meski tidak perduli dengan urusan pemegang saham, tapi dia tidak mau para manusia tamak memanfaatkan kekosongan kursi direktur sebagai hak kuasa mereka.
Sebenarnya bila di hitung kalender di bumi, ia sudah pergi sekitar satu setengah tahun. Padahal kalau di Darkness World 5 tahun telah berlalu, terkadang ada enaknya juga perbedaan waktu ini.
Aletha menatap langit sore, karena sudah susah payah datang kesini Aletha harus lebih menikmati waktunya. Karena Welliam hanya memberinya waktu dua hari, jadi mau tidak mau Aletha harus memanfaatkan kebebasannya yang sangat langka ini.
"Saat ini, Jepang sedang memasuki musim dingin. Jangan berlama-lama di pantainya, jika urusanmu sudah selesai ayo kita pulang. Aku sudah merindukannya."
Aletha melihat Welliam yang datang sembari memakaikan jaket hangat kepundaknya. Meski dia yang paling menolak, tapi Welliam juga tetap pergi bersamanya.
Padahal kalau di pikir, pekerjaannya masih banyak menumpuk di ruang kerjanya. Welliam berdiri disebelah Aletha, ikut memandangi matahari terbenam bersamanya.
Suasana senja memanglah yang paling menyegarkan, meski sudah memasuki awal musim dingin, tetapi desiran ombak pantai yang terus menggapai pesisirnya, masih terus terdengar bahkan sangat menyenangkan.
Matahari mulai bersembunyi malu-malu menenggelamkan cahaya sinarnya yang hangat, membuat pantulan warna jingga ke'emasan pada langit dan air laut.
"Aku selalu penasaran, kenapa kau masih terus mengkhawatirkan perusahaan mu di bumi, apa semua kekayaan di kerajaan masih belum cukup?"
"Kita pernah bahas ini Welliam, aku memiliki ratusan pelajar yang tengah bersekolah, ribuan anak yatim piatu yang perlu dilindungi di panti, bahkan jutaan orang sakit yang selalu datang ke rumah sakit. Kau pikir saham ku hanya ada satu? "
"Baiklah, aku minta maaf. Lalu, bagaimana kabar mengenai sahabatmu? Apa kau berhasil menemui mereka?"
Aletha sedikit merenung namun dia juga bahagia. Kemungkinan dia sudah tidak bisa datang ke bumi lagi, jadinya ia memanipulasi ingatan mereka menurutnya itu pilihan terbaik, karena dia tidak mau membuat mereka lebih khawatir.
Meski begitu ia masih menyempatkan waktu untu melihat mereka kemarin. Yang ia tahu, Kiyo sekarang menjadi perancang busana ternama, dan Tejou telah banyak memenangkan turnamen Kendo.
Ia bahagia kepada mereka, meski tak dapat dekat seperti dulu. Tapi itu sudah cukup, toh Aletha juga tak bisa terus bersama mereka.
Setidaknya mereka semua punya tujuan hidup masing-masing, dan bahagia karena impian yang telah terwujud.
"Aletha ..."
"Jangan khawatir, Kiyo dan Tejou sudah lebih bahagia. Aku tidak perlu lagi cemas akan masa depan mereka, melihat dari jauh pun itu sudah cukup bagiku. Lagipula, saat ini aku sudah memilikimu dan juga Putri kecil kita ..."
"Kau benar, kita harus segera pulang. Karena Sofia sudah menunggu ..."
Aletha tersenyum riang, mereka saling berpelukan. Membiarkan rasa bahagia ini terbagi, Welliam kian mendekatkan dirinya dengan Aletha.
Lalu mencium lembut bibir ranum Aletha, yang selalu membuatnya terbuai dan enggan untuk melepaskannya.
"Aletha apa kita sudah bisa pulang sekarang?"
"Hm, semua masalah perusahaan sudah kuberikan kepada Carina, saat ini dia menyamar menjadi manusia untuk memantau saham."
"Baiklah, mari kita pulang. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan malaikat kecilku ..."
Welliam membuka portal Darkness World. Untuk sekali lagi, Aletha melihat Negeri Sakura. Sudah sangat lama, bumi ini melindunginya. Menjadi tempat sandarannya disaat dia bersembunyi dari cahaya kenyataan.
Tapi kini dia sudah tidak perlu lagi berada di dalam kegelapan masa lalu, atapun berpura-pura menjadi manusia biasa sebagai Megumi. Karena Welliam yang secerah mentari pun akan selalu menyinari hidupnya.
Terimakasih ...
Aletha dan Welliam memasuki portal dimensi, meninggalkan bumi pertiwi dengan penuh rasa terimakasih yang amat sangat besar, lalu kembali pulang ke Darkness World.
Kembali bukan untuk menjadi seorang Dewi Perang ataupun Demon sang tiran berdarah dingin. Melainkan menjadi Lord dan Queen, yang terikat dalam cinta kasih dari buah hati mereka sebagai keluarga yang bahagia.
.
.
Di depan pintu utama Lucifer Kingdom, terbuka sebuah gerbang sihir dimensi dengan sangat jelas. Dari dalam portal itu, keluar sepasang Suami-Istri yang kembali membawa kebahagiaan.
Para pelayan dari berbagai ras yang berdiri sejajar disebelah kanan dan kiri, menunduk memberi hormat kepada penguasa terhormat di Darkness World.
"Selamat datang kembali, Paduka Lord Welliam dan Yang Mulia Queen Althenia."
Mereka berdua berjalan beriringan, melewati para pelayan yang masih senantiasa menunduk hormat. Para Fairy terbang diatas mereka, menjatuhkan butiran cahaya gemilang mirip seperti bintang.
"Welliam, apa kau yang merencanakan ini semua?"
"Bukan, aku bahkan tidak mengetahuinya."
"Lalu?"
" MAMA! PAPA! "
Welliam serta Aletha, mengalihkan perhatiannya menuju seorang gadis kecil, berambut bubble gum seleher berwarna hitam.
Dengan kedua mata berciri khas bangsa Demon, namun memiliki warna mata yang berbeda dan jauh lebih cantik. Yaitu warna merah berpaduan dengan pink magenta.
Gadis kecil itu, berlari dengan sangat riang kearah mereka. Tak perlu merasa heran, karena Aletha dan Welliam sudah tahu siapa gadis kecil itu.
Welliam membuka kedua tangannya sembari bertekuk lutut, membiarkan Putri kecilnya datang kearahnya. Dan benar saja, Putri mereka melompat kedalam pelukan Welliam.
Welliam mendekap erat malaikat hidupnya lalu mengangkatnya dengan sekali putaran, kemudian menggendongnya.
"Apa kabar cantik ku? Apa kau merindukan kami?"
"Hem, Sofia sangat merindukan Mama dan Papa, hehehe ..." Ucap Sofia tertawa polos.
"Hua ..., Putri Mama sudah sangat lancar berbicara, ya."
"Tentu saja, kan Sofia cerdas seperti Papa."
"Ahahaha ..., kau sungguh Putri kebanggaan Papa." Welliam mengusap surai rambut Putrinya.
Aletha tersenyum melihat interaksi Ayah anak ini, mereka terlihat sangat harmonis. Tahun ini, Putrinya memasuki Usia 4 tahun, dan sejak dini, dia juga semakin pandai berbicara dan membaca.
Bahkan, Putrinya sudah mampu mempelajari beberapa Filsavat Kekaisaran. Hal yang membuat Aletha kian menyayangi anaknya adalah, saat Putrinya bertumbuh besar.
Karena semakin lama, Aletha melihat Putrinya semakin mirip dengan Sofia. Cara tertawa dan cara berbicaranya yang sedikit Dewasa, begitu persis dengan gadis kecil itu.
"Akhirnya kalian kembali, Sofia begitu merindukan Kakak. Setiap hari, dia menanyakan kapan kalian pulang."
Lucy yang sejak awal ada di depan pintu utama berjalan menghampiri kedua kakaknya. Ia menunduk memberi hormat, lalu kembali menegakkan badannya.
"Maaf merepotkan mu, Lucy. Apa selama kami pergi, Sofia menyusahkan mu?" Aletha menggapai tangan Lucy.
"Tidak Kakak, justru aku sangat senang bisa bermain dan menjaganya setiap hari. Sofia juga sangat menggemaskan, jadi dia tidak mungkin menyusahkan ku."
"Syukurlah jika begitu ..."
"Sofia, selama tidak ada kami. Apa saja yang kau lakukan?"
"Papa jangan khawatir, Sofia menepati janji kita, untuk menjadi Putri yang penurut dan baik. Sofia hanya bermain bersama Uni Lucy, Nenek dan Kakek."
( *Uni : Sebutan untuk Tante atau Bibi )
"Tapi, kau menjahili Tetua Briant dan Tetua Styvn, Sofia." Lanjut Lucy.
"Ahaha, kalau itu tidak masalah. Papa tidak akan marah."
"Welliam ..." Aletha menyikut Welliam.
"Oh iya, sebaiknya kita segera ke taman Wisteria. Ayah dan Ibu menggelar pesta kecil untuk menyambut kepulangan Kakak."
"Ayah dan Ibu?"
"Papa, ayo kita ke sana dengan terbang. Sofia ingin terbang bersama Papa!"
"Kau sungguh ingin terbang?"
"HEM !!"
"Baiklah,"
Welliam menunjukan sayap hitam perkasanya, kemudian mendekap Sofia dalam kawasan aman selama terbang nanti. Lalu tak lama, sayap Welliam mengepak kuat hingga membawa mereka berdua terbang tinggi ke langit.
Lucy dan Aletha hanya tersenyum melihat tingkah energik mereka. Sesampainya mereka di Taman Wisteria yang ada di Lorddark's Zone.
Mereka langsung disambut hangat oleh Lezzy dan Fedrick. Para Tetua Darkness World, dan Loise serta Fivian.
Namun saat Welliam datang bersama Sofia, Fedrick sempat marah karena Welliam membawa Sofia terbang. Soalnya, Sofia selalu menolak jika Fedrick yang memintanya untuk terbang bersamanya.
"Cucu manis ku, kenapa kau tidak pernah mau Kakek ajak terbang?"
"Papa bilang, jangan terbang bersama Kakek. Nanti, tulang pinggang Kakek jadi sakit."
"Apa?! Dasar anak nakal, kau pikir aku sudah setua itu ha?!"
"Ayah, Sofia itu Putriku. Jadi wajar kalau aku ingin melindunginya."
"Tapi aku Kakeknya, lagipula aku tidak mungkin melukainya!"
"Ha~lebih baik Ayah berikan kami adik lagi saja, karena aku tidak mau berbagi waktu main bersama anakku."
"Adik ?" Fedrick terlihat berpikir sejenak, kemudian melirik Lezzy dengan senyum sakarstik. Sedangkan yang di tatap malah melirik bosan.
"Lezzy, ap---"
"Tidak mau! Fedrick, kita sudah punya cucu. Lagipula dua anak sudah cukup! Berhentilah kekanakan, terima saja kenyataan ini." Ucap Lezzy ketus, membuat Fedrick jadi murung.
"Kakek jangan sedih, sebenarnya Sofia juga tidak mau Kakek jatuh sakit karena bermain terus bersama Sofia. Jika, Kakek sakit Sofia merasa sedih. Itu sebabnya Sofia menyetujui keinginan Papa."
Fedrick yang melihat keimutan Sofia dalam menghiburnya, membuat semangatnya kembali terisi penuh. Dia gendong Sofia lalu mencium pipi cuby nya.
"Kau sungguh sangat manis Sofia!! Tidak seperti Papa mu yang sejak kecil tidak ada manis-manisnya. Hem, apa sebaiknya aku berharap keturunan Lorddark's adalah perempuan?"
"Jangan bodoh, Fedrick!" Lezzy menjewer telinga Fedrick saat mendengar ucapan tak masuk akal Suaminya ini.
Habisnya, mereka hanya dapat melihatnya dari jauh tanpa boleh menyentuhnya sedikitpun oleh Welliam dan Fedrick.
"Jangan tatap Cucu ku, lebih dari sedetik!"
"Jangan tatap Putri ku, lebih dari sedetik!"
"Kejamnya! Padahal kami juga ingin bisa akrab dengan Putri Sofia," Ucap Briant.
"Dulu juga saat bersama Putri Lucy, kami tidak boleh dekat juga." Curhat Styvn.
"Kalau begitu buatlah anak kalian sendiri."
"Paduka, memangnya kami menjadi begini karena siapa? Jika bukan karena Kerajaan, mungkin kami sudah menemukan Mate kami." Lanjut Albert.
"Salah sendiri menjadi tangan kanan Lord." Ucap Welliam dan Fedrick bersamaan tanpa ada rasa bersalah.
Mendengar itu, ketiga Tetua Darkness World Shock berat, dan hanya bisa diam menjadi batu. Sepertinya hanya mereka bertiga yang memiliki nasib buruk di kedua season ini -_-
"Loise, sepertinya nasibmu juga akan seperti kami."
"Ah, saya mohon maaf Tetua Briant. Karena sebentar lagi, saya akan menikah."
" HA !! "
Semua yang mendengar ucapan Loise berteriak terkejut, habisnya tidak sedikitpun dari mereka yang mengetahui tentang asmaranya.
"Lalu siapa pendamping mu? Kau kan belum bertemu dengan Mate mu." Bantah Welliam.
Loise terlihat ragu mengatakannya, perlahan dia menggenggam tangan wanita cantik disebelahnya.
"Se..sebenarnya, Fivian adalah Mate saya Paduka."
" APA ?! " Kedua kalinya mereka semua terkejut.
"Welliam apa kau tidak tahu mengenai ini?"
"Tentu saja tidak, Aletha."
"Tapi, kau'kan Tuan nya."
"Memangnya aku harus ikut campur dalam urusan mereka? Lagipula aku yakin, para pembaca juga tidak mengetahui hal ini, jika mereka ternyata pasangan Mate."
Aletha menghela napas lalu tersenyum, ia tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan Mate
Tapi seperti inilah hidup, setiap harinya akan ada sesuatu hal yang mengejutkan. Langkah yang tak dapat diprediksi serta perhitungan sebuah konflik yang akan terjadi nanti, tidak dapat kita telaah.
Setidaknya ia memahami sesuatu hal dari hidup ini. Bahwa setiap mahluk akan menjadi peran utama di dalam kisah hidup mereka masing-masing.
Tapi, Aletha tidak akan lagi menyalahkan keadaan pada hidup yang sudah tertulis di dalam takdirnya. Hidup ini, tak jauh beda dengan sebuah kisah cerita, hari-hari yang terus terlewati akan menjadi bab dan chapter, yang selalu menulis perjalanan sejarahnya. karena ia yakin, Tuhan pasti punya rencana-Nya sendiri.
"Tidak kah, mereka terlihat bahagia, Ardsekar?"
Dari sisi lain, Rechyla dan Ardsekar memantau keluarga bahagia itu dari balik pohon Wiateria. Mereka selalu mengamati, keturunan Lord dan Queen agar dapat mengembalikan dunia ini menjadi lebih baik lagi.
"Kau benar, sekarang, mereka jauh lebih bahagia dan tugas kita juga telah selesai, Rechyla."
Rechyla tersenyum, sekarang beban hidupnya telah hilang dan akhirnya mereka berdua dapat pergi dengan tenang tanpa khawatir kepada dunia ini.
Perlahan mereka berdua mulai menghilang menjadi serpihan cahaya bintang kecil, yang tergabung dalam hujan Wisteria.
"Selamat tinggal, dan terimakasih atas bantuan kalian yang telah menceritakan kisahku sebagai pelajaran hidup, wahai mentari dan rembulan Darkness World ..."
Tring ...
Aletha menoleh kebelakang, saat dirasa dia seperti merasakan kehadiran Rechyla. Namun, dibelakang sana tidak ada siapa pun, selain pohon Wisteria yang tengah berguguran.
"Mama sedang lihat apa?"
Aletha kembali melihat kedepan, lebih tepatnya kebawah, menatap Sofia yang sudah ada di hadapannya. Ia tersenyum sembari menggendong Putri tersayangnya.
Memeluk erat buah hatinya dengan penuh sayang. Bila dilihat dari dekat, Ia seperti melihat Sofia, gadis kecil yang dulu memohon kepadanya. Ia masih belum percaya, bahwa keajaiban itu mengabulkan harapannya untuk bertemu dengannya lagi.
"Mama hanya sedang melihat bunga Wisteria, sayang."
"Apa Mama tahu? Setiap, Sofia melihat Wisteria, Sofia jadi merindukan Mama bahkan Sofia merasa tidak ingin pergi jauh dari sisi Mama. Sofia, mau Mama selalu bersama Sofia dan Papa untuk selamanya."
"Jangan khawatir, Mama dan Papa akan selalu bersama mu. Mengamati setiap pertumbuhan mu, menjadi wanita dewasa yang begitu membanggakan bagi kami, sayang ..."
"Mama jangan khawatir, jika Sofia sudah besar. Sofia akan jadi kuat, sekuat Mama! Dan, menjadi Kaisar hebat seperti Papa!"
"Akan kunantikan hari itu tiba!"
"Papa !" Sofia tersenyum riang.
Welliam menghampiri kedua malaikat cantik bagi hidupnya. ia dekap mereka berdua dalam sekali pelukan sayang. Mencium pipi Sofia, lalu menutup mata Putrinya agar dapat mengecup bibir manis sang Istri.
"Papa! Kenapa menutup mataku?!"
"Itu karena Papa dan Mama, menyayangimu, Sofia." ujar Welliam yang sudah mendapat tatapan dingin dari Aletha.
Sofia terlihat kebingungan karena usianya yang masih kecil, tapi dia tetap tersenyum bahagia di hadapan kedua orangtuanya.
"Sofia juga sayang Mama dan Papa. Hehe .."
Di setiap hari, di setiap jam, di setiap menit, bahkan di setiap detik. Kisah ku tidak akan pernah berhenti untuk di baca ataupun di ceritakan.
Aku berharap, kisah hidup ku yang penuh dengan lika-liku dapat memotivasi bagi kalian yang membacanya, karena ...
INI SEMUA MASIH BELUM BERAKHIR !!
---.•• 🍁 ••.---
*Castle Roseria
Lucy berjalan sendirian di sebuah lorong kediaman Roseria. Ia membawa sebuah buku yang selalu menjadi cerita favorite-nya sewaktu kecil, buku yang ditulis sendiri oleh ibunya, berjudul:
Queen Of Rulers From Another World.
Meski sejak kecil ia menyukainya, tapi setelah ia beranjak dewasa. Lucy sudah jarang membacanya sehingga ia mulai lupa dengan alur ceritanya.
"Lucy ?"
"Kak Welliam ?"
Lucy dan Welliam tidak sengaja bertemu, sepertinya mereka satu arah karena disini hanya ada satu lorong, yang akan membawa mereka kesebuah tempat seorang Putri kecil.
"Apa Kakak akan menemui Sofia?"
"Benar, aku buru-buru menyelesaikan tugasku. Agar dapat melihatnya sebelum dia tidur. Kau sendiri?"
"Ah, Kak Aletha ingin aku membawakan buku ini. Sepertinya, Kak Aletha akan membacakannya untuk Sofia."
Tanpa diberitahu, sepertinya Welliam sudah mengetahuinya. Karena satu arah, mereka memutuskan untuj pergi bersama ke kamar Sofia.
Sesampainya di depan kediaman Sunny, Welliam mengetuk pintu tapi tak mendapat balasan. Dan benar saja, saat dia membuka pintu. Aletha dan Sofia sudah tertidur pulas di tempat tidur.
"Sepertinya, malam ini tidak akan ada yang membacakan dongen."
"Maaf telah merepotkan mu, Lucy. Padahal kau sudah membawakannya."
"Tidak apa-apa kak, bukunya kutinggalkan disini. Siapa ta---"
"Tidak, lebih baik kau baca saja. Siapa tahu, kau dapat mengingat impianmu."
"Impianku?"
"Hm, kau lupa? Sewaktu kecil kau selalu bersikeras untuk menjadi seorang Ratu seperti Va----"
"Papa ..."
Mereka melihat Sofia yang terbangun namun masih setengah terkantuk, sehingga kedua matanya menjadi sayup-sayup tertutup.
"Lebih baik, Kakak segera tidur. Biar Lucy bawa kembali bukunya, besok pagi akan kubawakan lagi untuk dibacakan kepada Sofia."
"Lucy, meski aku tidak bisa memastikannya. Tapi, Kakak yakin, kau pasti akan segera menemukan kebahagiaan mu sendiri."
Terlihat Lucy menahan kesedihannya, dia raih tangan kakaknya yang mengelus pipinya.
"Terimakasih banyak, Kakak ..."
"Selamat malam, adik ku."
Lucy memberi hormat untuk undur diri dengan senyuman, kemudin berjalan pergi meninggalkan Castle Roseria dan kembali ke Castle Estelle miliknya.
Di kamar, Lucy meletakan buku Ibunya di atas meja dekat jendela kamar yang tengah terbuka lebar. Lalu mengganti pakaiannya menjadi piyama gaun tidur. Lucy sempat melihat rembulan yang terbingkai cantik dari jendela kamarnya.
"Kuharap, hari itu akan segera datang ..."
Lalu, Lucy membaringkan dirinya di tempat tidur seraya menarik selimut dan perlahan kedua matanya terlelap dalam tidur.
TRING !!
Angin berhembus kencang menerbangkan beberapa kelopak bunga Wisteria, lalu membuka paksa buku Lezzy hingga membolak-balikkan tiap bab di buku itu.
Dan saat berhenti di halaman terakhir yang menyisihkan selembar kertas kosong, muncul sebuah tulisan yang terukir oleh sinar rembulan.
Bertuliskan :
' THE QUEEN OF VASELLICA' MOON '
---------------. - END - .---------------
...
...
----. - The Queen Of Different World - .----
---------------. - SELESAI - .----------------
🍁 Sampai Bertemu Lagi di Season 3 🍁