
*Hari ke-5 setelah Welliam meninggalkan Castle.
Dibawah kaki gunung wilayah Barat Darkness World. Berdiri empat tenda putih dan satu tenda besar berwarna merah marun, tepat di tengah ke empat tenda putih.
Hutan lebat dengan beberapa pohon yang menjulang tinggi menghalangi jalannya sinar matahari, membuat daerah itu remang terhadap cahaya.
Welliam berdiri menatap peta dan beberapa laporan yang datang dari berbagai wilayah tentang Carlitos. Kembalinya Styvn dan Fivian dengan laporan mengenai wilayah itu, sungguh sangat mencekatkan bagi Welliam.
Dia tidak takut, tapi malah gairahnya bergejolak untuk segera bertemu dengan sosok kuat yang dikatakan bawahannya. Dengan senyum semirk, Welliam menatap tajam pada bentangan berkas penyusun strategi.
Sudah lima hari dia meninggalkan Castle nya hanya untuk masalah ini. Terlebih sepertinya dia akan sedikit bersabar dengan rasa rindunya kepada seseorang yang ada di Castle nya. Meski begitu Welliam rajin mengirimi Aletha surat melalui Burung sihir.
Hu.., berapa lama lagi aku harus berada disini!
"Paduka Welliam, kami telah hadir semua."
Mendengar ucapan Loise membuat Welliam menghela nafas, mencoba memfokuskan diri lagi.
Ia menatap serius kepada bawahannya. Loise, Styvn, Fivian, dan yang terakhir Briant. Mereka berkumpul untuk membahas wilayah musuh.
"Hari ini juga kita harus memasuki daerah itu dan menghabisi mereka." Ujar Welliam.
"Yang Mulia, maaf jika hamba menyela. Tapi apakah kita bisa mengatasi sosok itu, dari laporan Styvn dia pasti sosok yang sangat kuat?"
Welliam yang mendengar pertannyaan Briant, mengerutkan alisnya. Kenapa? Dia tidak jauh beda dengannya, jika dia kuat itu hal wajar karena dibalik orang lemah terdapat orang yang unggul.
Kenapa juga Welliam harus takut, bukan kah akan sangat menarik jika lawannya itu benar-benar kuat!
"Lantas, aku harus mundur seperti cacing yang ketakutan?"
Briant diam menegang. Apa yang telah dia katakan, sungguh bodoh dia bertannya seperti itu kepada seorang Welliam Cornelis Lorddark's.
"Mohon ampun Yang Mulia, hamba telah berkata yang tidak-tidak."
"Kali ini kubiarkan, tapi jika kau ragu. Kau boleh pergi kembali ke Kerajaan!"
"Hamba akan selalu mengabdi kepada anda, Paduka."
"Tepat di waktu senja, aku ingin kita memulai penyerangan sesuai dengan rencana yang telah di buat!"
"Baik Yang Mulia."
Sejak kemarin, Welliam meghabiskan hari-harinya hanya untuk memikirkan rencana dan strategi. Kali ini waktunya dia bergerak megubsir habis semua musuh-musuh yang selalu menjadi kotoran di dunianya.
"Salam Yang Mulia, pasukan Lucifer Kingdom telah bersiap pada pos dan rute, sesuai dengan perintah anda." Ucap Panglima Perang Lucifer Kingdom, Michael yang berasal dari kaum Werwolf.
"Baik semua telah siap. Bergeraklah sesuai perintahku!"
Welliam memberikan perintah dengan sangat cakap. Membuat seluruh bawahannya sigap untuk bersiap menghadapi para musuh.
--.o☘o.--
Daerah Barat Daya.
Wilayah Carlitos.
Perbukitan curam yang menjulang tinggi. Para pasukan Lucifer Kingdom telah bersiap pada posisi mereka, tepat di waktu senja dimana Matahari hanya tinggal beberapa jam lagi akan menutup sinarnya.
Sesuai dengan rencana, mereka membagi pasukan dengan di pimpin oleh bawahan kepercayaan Welliam. Fivian berdiri di depan dinding yang berlupang, sepertinya mereka sengaja membiarkan dindingnya rusak.
Tanpa membuang waktu lagi, Fivian membuat sihir berukuran besar, lalu tercipta bola sihir berwarna ungu. Ia lepaskan sihir itu lalu dengan serangan cepat sihir itu bergerak memasuki daerah yang terlindungi oleh dinding.
Bebatuan kecil bergerak, tanah pun ikut bergetar. Lalu kebulan asap terlihat dari balik dinding itu, bukan. itu bukan dari ledakan sihirnya, melainkan ratusan Goblin yang berkerumanan berlari keluar dan menyerang mereka.
Fivian melompat keatas pohon lalu berdiri di dahannya. Para prajurit Lucifer Kingdom dari berbagai ras ikut adil untuk mengalahkan para kurcaci Goblin, dan memang harus mereka akui. Bahwa para Goblin begitu sangat gesit dalam bertarung.
Boom!
Wush....
Trang.
Ledakan, aduan pedang, dan juga beberapa mantra sihir. Mengguncang sesisi tanah pertempuran. Para kelompok Carlitos turun untuk melawan balik, beberapa pihak musuh semakin lama semakin banyak.
Ini gila, semenjak mereka mengetahui bahwa pimpinan Carlitos adalah Great Lady. Wanita itu secara terang-terangan melawan pihak Kerajaan dengan tangan terbuka. Tidak ada kata strategi, seolah mereka bertarung secara paksa atas perintah wanita keji itu.
Meski begitu mereka masih belum tahu apa yang di inginkan wanita itu. Jika dia berharap untuk memperalat mereka, tanpa memberikan ganjaran kebebasan seperti apa yang dijanjikan Katastrofi dulu. Maka mereka mungkin akan berbalik melawannya. Tapi, sepertinya akan sulit dan sia-sia karena mereka sendiri seperti boneka yang digerakan wanita itu dengan sesuka hati.
Briant menebas beberapa pohon lalu melemparkan tiap pohon itu kearah Goblin. Layaknya mengangkat sebuah lidi ia sudah tidak perlu berbelas kasih, teringat pada hari penyerangan dimana King Kristof yang ikut adil menyeret paksa kaum Vampire nya. Untuk unjuk taring melawan Lord, dia tidak akan pernah membiarkan kaum Carlitos menghasut Negeri Vampire nya lagi.
Cukuplah kepala Kristof waktu itu, sebagai tanda untuk peringatan kepada kaum Vampire. Lalu atas izin Lord Fedrick, Wilson diangkat sebagai King selanjutnya, meski dalam pengawasannya.
Mata Vampire nya menderang, beberapa angin bergerak secara brutal. Menggores hingga menyayat mereka, bagaikan daging tak bertulang. Tidak hanya Briant saja, Loise dan Styvn ikut membuncah marah. Sihir-sihir dengan berbagai warna terus terukir sembari melancarkan penyerangan.
Suasana atmosfire di area pertempuran mengguncang mereka, tanah yang tak beraturan telah menggetarkan isinya. Menyeret gempa untuk segera menenggelamkan mereka kedalam tanah, lalu menutup seolah ingin menutupi jasad mereka.
Para Goblin maupun Carlitos terus berteriak mencoba menggetarkan diri, bahwa kali ini mereka lah yang harus menang bukan para kaum bangsawan seperi mereka! Yah, kekalahan pada masa lampau akan mereka bayar segera, tidak! Di hari ini juga. Decitan tiap serangan menjadi melodi teebaik saat ini. Rasa haus akan sebuah kemenangan, membuat mayat dari kedua belah pihak semakin bertambah banyak.
Pertarungan terus berlanjut, hingga Matahari pun enggan untuk selalu melihat aksi brutal mereka. Perlahan mulai menenggelamkan diri membiarkan hutan belantara itu menjadi gelap. Malam yang tak disertai cahaya To Fos Tou Fengariou, semakin membara.
Fivian bergerak dengan sangat lincah dengan pedang ditangannya. Gergerakannya untuk membunuh lawan terlihat sangat anggun, Seolah dia tengah menari. Perempuan berbangsa Elf ini, selalu dijuluki sebagai wanita sang penari perang, menjadi sorotan bagi para musuh. Kenapa tidak? itu karena kekuatannya benar-benar tak bisa dipandang remeh.
Pertarungan masih bertimbang seimbang. Tak ada kata memyerah bagi kedua belah pihak, mereka yang kalah adalah orang-orang lemah yang pantas untuk di injak bagaikan tanah tak berarti.
Namun....
BOOM!!
Ledakan besar bagaikan sambaran petir hadir. Membuat semua yang tengah bertarung diam dan melihat ke sumber suara. Sebuah senjata yang sering di sebut sebagai sabit kematian menjadi tersangka atas ledakan tersebut. Senjata yang memiliki dua sabit, berwarna silver dan hijau permata. menjadi penengah antara kedua belah pihak. Tapi hal yang semakin mencengkang adalah sosok yang berdiri diatas senjata itu.
Jubah hitam yang berkibar menjadi alunan ke sunyian disana. Para Goblin dan Carlitos tersenyum dengan sangat sadis menyadari sang pemimpin turun untuk membela.
"GREAT LADY TELAH TIBA! KINI WAKTUNYA KALIAN MATI!!"
"YA! BUNUH MEREKA! HANCURKAN SISTEM LUCIFER KINGDOM!!"
Sorak demi sorak menggelegar di area pertarungan. Mereka terus menghujat tanpa tahu lidah setajam pisau itu, bisa saja menujah si penggunanya. sosok yang disebuat Great Lady turun, sejak awal dia selalu memperhatikan pertarungan dari atas dinding yang memiliki ketinggian 70 Meter.
Jemarinya sudah sangat gatal, saat melihat ke-4 orang yang memimpin pasukan Lucifer Kingdom tak tumbang-tumbang juga, justru malah sebaliknya Carlitos malah yang jatuh lebih dulu.
Tentu saja dia membenci akan sebuah kalimat kekalahan, ia ingin sekali memenggal kepala ke-4 orang itu. Maka dari itu Great Lady pun, turun tangan langsung untuk menjadi malaikat maut bagi para musuhnya.
Ia mengambil senjata terkuatnya lalu menghuyungkan sabit kematiannya. Dalam sekali gerakan, serangan itu mampu menghempas semua yang ada di sekelilingnya. Semua tercabik-cabik dan menghancurkan banyak sekali tumbuhan maupun makhluk yang ada disana.
Bersekitar 20 Meter dari posisinya. Puluhan pohon tumbang dan hal yang paling keji kaum Carlitos dan Goblin yang begitu sangat dekat dengannya, hancur menjadi beberapa potongan. Semua menatap tak percaya dia membunuh bawahannya sendiri tanpa ada rasa penyesalan.
Untungnya saat ini Briant dan Styvn memasang sihir penghalang, untuk melindungi mereka dan prajurit Lucifer Kingdom. Meski begitu pola sihir yang menjadi benteng pun, sepertinya tidak terlalu kuat menahan serangan ringan dari sososk itu. Itu terlihat jelas pada pola sihir yang retak bagaikan retakan pada cermin yang hampir hancur.
"Cih. Serangan kecil ini saja.., Kalian tidak bisa bertahan. Memalukan!"
Ucap Great Lady mengetahui setengah dari bawahannya mati hanya karena tak bisa menahan kekuatannya. Padahal ia baru mengunakan kekuatannya sebesar 5% baru sekecil itu.
Tapi biar lah, mereka juga hanya di jadikan pion untuk membukakan jalan. Kenapa dia harus berbaik hati?
Briant, Styvn, Loise, maupun Fivian. Mereka berkeringat dingin. Yah aura yang dikeluarkan dari sosok itu begitu sangat mengerikan, kekuatannya begitu besar atau bisa dikatakan hanya keturunan Lorddark's lah yang bisa mengimbanginya. Itu pun jika mereka bisa membaca tiap pergerakannya.
Wajah yang masih tertutup oleh tudung hitam membuat mereka berempat, tak bisa mengenali wajahnya. Meski begitu dari postur dan suaranya, sudah bisa mereka tebak bahwa pemimpin Carlitos adalah seorang wanita.
Great Lady kembali melihat tajam kearah lawannya. Dia kembali mengeratkan genggamannya pada sabit kematian, lalu dengan cepat bergerak maju kearah mereka.
Trang!
Mereka berhasil menahan sabit kematian itu dengan sihir pelindung, hanya saja meski di tahan oleh tiga orang itu pun masih sangat kesusahan. Bahkan mereka bergerak sedikit kebelakang. Apa-apaan wanita ini, kekuatannya bagaikan monster!
Great Lady itu tersenyum semirk. Dia akui kekuatan Tetua dan tangan kanan Welliam sangat hebat, tapi itu masih sangat lemah karena mereka membutuhkan tiga orang untuk menahannya.
Usaha yang sia sia.
Krecak.
PRANG!!
Sihir pelindung itu berhasil dihancurkan oleh wanita itu. Ia tersenyum dengan sangat bangga, sedangkan Briant Styvn, dan Loise menggeram kesal. Fivian tak bisa diam saja dengan cepat dia menyerang sosok wanita itu dengan berbagai macam sihir, tapi mau dilakukan apa pun wanita itu tetap tak terkalahkan. Semua serangan Fivian berhasil ia hindari, pergergerakannya yang lincah begitu sangat sempurna.
"Sungguh, makhluk rendah yang hina!"
Great Lady bergerak mundur lalu tangan kanannya terangkat, 100 pola sihir terukir dengan sangat terang di tengah gelapnya malam. Ratusan bongkahan Crystal berwarna hijau melayang dengan sangat gagah. Bentuknya yang begiru runcing membuat siapa pun kalang kabut, jika sihir itu berhasil menggores kulit mereka.
Cetak!
Syutt...
Tepat saat dia menjentikan jarinya, semua ratusan Crystal itu bergerak dengan sangat cepat. Serangan yang datang dengan jumlah banyak, membuat mereka dan prajurit Lucifer Kingdom kewalahan. Alhasil mereka gagal menghindarinya, beberapa luka goresan yang cukup fatal terukir di tubuh Briant, Styvn, dan Loice.
Sedangkan Fivian berhasil selamat karena Loise sempat melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Banyak prajurit Lucifer Kingdom mati akibat serangan brutal dari wanita gila itu.
"Mari kita akhiri ini!"
Tanpa memberi cela atau pun sekedar untuk bernaps, wanita itu kembali bergerak dengan sangat cepat kearah Briant, Styvn, dan Loise, Fivian. Mereka berempat ingin menghindari serangannya namun sayang, saat ini tubuh mereka tak dapat digerakan itu karena serangan Crystal tadi. karena terdapat posion sihir yang membuat tubuh menjadi kaku.
Great Lady menarik sabit kematiannya bersiap menebas habis para musuhnya. Dengan senyum yang terukir dengan begitu sadis. Dia menatap penuh gairah, memikirkan bagaimana jadinya saat melihat para musuh yang mengganggu rencananya, berubah menjadi cairan merah kental dan berbau anyir (Darah!).
"Pergilah ke Neraka, perset*n!!"
Whuss...
DUAR!
BOOM!!!
--.o🍁o.--