
Art. Cover Novel {2}
---*o🍁o*---
*Lucifer Kingdom.
~Aula Singgasana Lord.
Aula besar berinterior kerajaan luas. Ruangan yang remang akan sebuah pencahayaan, menambah kesan dingin yang mendalam pada suasana disini. Hanya terdapat beberapa obor yang menerangi aula singgasana.
Tidak banyak barang yang terpajang pada ruangan ini. Hanya ada satu kursi berwarna hitam dan emas, yang berada di tempat paling tinggi. Lima belas anak tangga menyusun menjadi penyanggah kursi keagungan itu, dengan karpet merah membentang panjang dari pintu masuk hingga ke kursi tahta. Pilar-pilar berwarna emas menyusun berderet di sebelah kanan dan kiri.
Aula ini adalah Sebuah tempat yang menjadi singgah tertinggi di dunia Darkness World. Kedudukan yang hanya bisa di tapaki bagi dia yang menjadi seorang penguasa, dengan gelar Lord Agung.
Kini di aula singgasana sunyi dan megah. Welliam duduk pada barusan anak tangga ke-10. Kaki kirinya ia tekuk untuk menjadi penyanggah tangan kiri, sedangkan kaki kanan ia biarkan lurus dengan tangan kanan memegang secawan emas.
Indra penciumnya menghirup nikmat aroma dari minuman yang paling dia sukai. Cairan kental berwarna merah pekat, menjadi teman hibur dikala dia sedang ingin menenangkan pikirannya.
Genap seminggu setelah Welliam pergi meninggalkan Aletha di Castle nya. Sebenarnya setelah kejadian di wilayah barat daya, Welliam telah kembali ke kerajaan. Hanya saja dia masih belum bisa bertemu dengan Mate nya, karena selama dua hari ini masih ada hal yang ingin dia selesaikan.
Keluarga Duke Efran masih beralibi dan bersikeras untuk menolak panggilan dari pangeran Demon. Welliam masih memperlakukannya dengan cara yang terhormat, tanpa harus menyeret paksa mereka dengan kasar. Mengingat dia Senat yang paling dekat dengan mendiang Lord generasi ke III, sehingag ia di hormati dengan statusnya itu. Tapi ini sudah sangat kurang ajar.
Welliam sudah sangat kesal, putranya yang masih berada di penjara bawah tanah, belum juga mau menyerah, padahal bukti sudah sangat jujur.
Alhasil Welliam pun menunjukan taring pedangnya sebagai seorang pangeran Demon. Tidak perlu dipublikasikan atau pun dibicarakan, semua pun telah tahu tidak akan ada yang pulang dengan hidup-hidup setelah tertangkap olehnya.
Mungkin mereka bisa bersenang ria, dengan menghinanya dibelakang. Tapi mereka hanya kelinci kecil yang tidak tahu apa pun tentang alam liar. Welliam meminum darah segar itu, bagaikan segelas wine penambah nikmat.
Pintu singgasana terbuka lebar, menampilkan Alberd, Briant, dan Loise. Tapi Welliam menatap dingin kepada satu pria paruh baya. Berjalan menuju kearahnya dengan tampang angkuh, yah dia adalah Duke Efran.
Mereka berhenti tepat di depan anak tangga. Duke Efran berdiri tegap. Tangan kanannya ia arahlan ke dada sebelah kiri, dengan badan sedikit menunduk.
"Saya, Duke Efran Carstellin. Menghadap, Yang Mulia Pangeran."
Hening.
Tak ada tanggapan dari Welliam sedikit pun mengenai penghormatannya. Waktu bergulir hingga ke detik 30, tapi masih belum ada yang berani menyuarakan suara mereka.
Tung.
Tung.
Tung.
TRANG! (berputar)
Welliam menjatuhkan cawan emas ditangannya, membiarkannya berguling melompat kebawah pada tiap anak tangga, lalu berputar di lantai dasar tepat di bawah kaki Duke Efran.
"Yang Muli---"
"Apa aku menyuruhmu untuk berbicara?"
Duke Efran menggenggam kuat pada tiap jemari tanggannya. Harusnya ia tidak perlu menannyakan kedatangannya kesini, karena dia tahu. Ia dipanggil untuk membahas para Carlitos.
Tapi dia masih belum mau mati lebih cepat. Lagian dia sudah bersusah payah, dan berhasil lepas dari kandidat tersangka, saat dulu Lord Fedrick memutuskan untuk membunuh semua para tetua terdahulu.
Meski begitu sumpahnya kepada Katstrofi untuk menjadi infestor dana Carlitos, tak bisa dipungkiri.
Kenapa aku harus takut? Hanya karena dia seorang pangeran dari bagsa Demon, lalu aku harus mati ditangannya. Dulu saja Lord Fedrick tidak bisa ikut campur dalam urusanku, karena aku adalah orang terdekat mendiang Lord terdahulu. Dan hal yang tak bisa diingkari adalah dia yang masih menjadi seorang Pangeran, dengan kata lain aku masih aman sedangkan bocah itu hanya alat yang digerakan Ayahnya.
Duke Efran terus meyakinkan diri pada pikirannya saat ini. Dia kembali mengangkat tubuhnya menjadi sikap tegak, Welliam tersenyum semirk melihat sikap angkuh Duke Efran.
"Berapa lama kau menjadi bagian Carlitos?"
"Maaf Yang Mulia, hamba masih belum mengerti kesalahan hamba."
"Begitukah? Kalau begitu....."
Welliam menajamkan mata dark bloodnya.
"Bawa tubuhnya!"
Duke Efran terkejut mendengar ucapan sang Pangeran Demon? Siapa yang dia maksud, meski masih menduga-duga tapi Duke Efran mulai bergetar merinding.
Styvn datang sembil menyeret tubuh yang tak lagi bernyawa, lalu dia melempar tubuh itu tepat kearah Duke Efran. Ia mendekati tubuh itu lalu membalikan mayat itu yang tak lain adalah.
"Putraku, Felixs!!"
Dia menggoyang-goyangkan Putranya yang sudah tak bernyawa. Dengan raut kekecewaan dan amarah, Duke Efran menatap benci kearah Welliam.
"Yang Mulia. Apa yang telah anda lakukan! Kenapa anda membunuh Putraku?!"
"Kau sudah mendengar dan melihatnya. Aku cukup sabar untuk mengundangmu dengan cara yang terhormat. Tapi kau malah bersikap manja kepdaku, dengar! Aku paling tidak suka menunggu. Lagipula dengan membunuh putra tak bergunamu, kau pasti akan bergegas keluar dari sarang guamu itu!"
"Putra saya tak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Saya mengirimnya ke wilayah barat daya untuk bisnis kecil dengan Kerajaan Shadow Rump. Jika dia ada disana, dengan keadaan sedang sangat genting, itu juga tidak bisa dikatakan dengan pemberontakan. Lagipula putra saya tidak tahu, jika dihari itu anda sedang melakukan penyerangan."
Duke Efran berkata dengan intonasi yang begitu tinggi, sembari manatap marah kepada Welliam.
"Ck. Kenapa kau berisik sekali? Aku memanggilmu untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi kau malah membahas putramu?"
"Yang Mulia! Anda baru saja membunuh putra hamba, dimana letak kesalahannya?!"
"Jika benar dia tidak ada kaitannya, kalau begitu... Dia memang pastas mati! Karena lahir mwnjadi putramu Duke Efran."
Apa? Hanya dengan alasan dia lahir menjadi putranya, Welliam membunuhnya meski dia tahu bahwa putranya tidak salah. Pangeran ini sungguh telah gila, dia benar-benar tak layak menjadi penerus penguasa.
Tidak, sejak awal dia dan Ayahnya (Fedrick) memang makhluk gila. Keturunan Demon jauh lebih baik saat Lord ke III memimpin, karena dia mudah untuk di bodohi ataupun dikendalikan. Fikir Duke Efran.
Sistem liberal yang mereka kibarkan hancur dan terobek begitu saja oleh mereka. Sudah cukup! Duke Efran sudah sangat marah.
"Letak kesalahannya adalah dia akan menjadi penerusmu untuk mengikuti Carlitos. Dari data yang telah kuterima, selama hampir beberapa abad ini, kau selalu membantu mereka(Carlitos). Kau bersembunyi menjadi pengikut setia dengan berpura-pura lugu, dengan statusmu sebagai seorang Bangsawan kelas atas. Nama Duke mu diberikan sebagai tanda kesetiaanmu kepada keluarga Lorddarks, semenjak mendiang Kakek ku berdiri menjadi Lord."
Duke Efran diam mendengarkan semua tuduhan yang tertuju kepadanya.
"Tapi pada dasarnya kau tak pernah mau mengabdi kepada bangsa Demon. Mata tajammu itu akan berbalik menusuk di waktu yang pas, kau juga diam-diam membangun prajuritmu sendiri untuk ikut bergabung dengan Carlitos. Dan satu data yang tak terbantahkan ialah Putramu, Felixs der Efran. Telah berani menggelapkan semua dana yang di gunakan untuk seluruh kebutuhan ibu kota Zainthor, hanya untuk kesenangan bodohnya itu. Alibimu masih lemah untuk membodohiku, Efran!"
"Ya! Saya salah satu bagian dari Carlitos. Tapi anda tidak bisa menghukum atau membunuh saya, karena Lord ke III. Yang Mulia Lord, Cloud Arctess Lorddarks. Telah memberikan wasiat Sejanna agar tidak ada yang boleh membunuh keluarga Duke Efran. Meski itu adalah putranya, yang tidak lain adalah Lord Fedrick!!"
"Anda hanyalah seorang Pangeran! Anda tidak bisa menghakimi saya sesuka hati anda, karena Yang Mulia memperlukan izin dari Lord Besar yang memimpin dunia ini!" Suara penuh arrogant terdengar dengan sangat lantang.
Karena Lord Fedrick sendiri tidak akan bisa membunuhku, karena wasiat itu. Cih! Kita lihat bagaimana caramu membunuhku, bocah demon?!
Welliam menaikan sebelah alisnya, sepertinya sampah ini cukup bodoh, untuk memasuki lubang kematiannya sendiri.
"Jadi maksudmu..., untuk bisa membunuhmu, aku perlu izin dari Lord yang berkuasa di Darkness World?"
"Ya! anda harus mendaptkan izi---"
"AHAHAHAHA!!!"
Welliam tertawa dengan begitu riang, gairahnya tumbuh menjadi sebuah kenikmatan tak terkira baginya. Ia memicingkan mata merahnya dengan senyum penuh kepuasan. Ini sungguh sangat menyenangkan, saat rencana lamanya telah banyak membodohi para bangsawan yang tamak dan egois.
Wush..
Tap!
Dalam sekejap, Welliam sudah berdiri tepat di depan Duke Efran. Aura kegelapan yang begitu menyesakkan jiwa dan raga, begitu bisa dirasakan oleh Duke Efran. Apa? Kenapa Pangeran ini tertawa seolah kata-katanya adalah lelucon menarik.
"Tadinya hal ini ingin kuberitahu, tepat saat hari pernikahan dengan Mateku. Tapi karena kau memang bersikeras menginginkannya, akan kuberitahu!"
Duke Efran terlihat bingung dengan ucapan Welliam. Apa? Apa maksud dari perkataannya?
Tunggu, Yang Mulia Welliam baru saja mengatakan pernikahan? Mate? Apa dia telah menemukan pasangannya? Duke Efran mengeratkan tangannya. Apa yang tidak ia ketahui, semua malah menjadi membingungkan.
"Baiklah, karena kau juga adalah bangsawan yang dekat dengan Lord ke III. Akan kuberitahukan kepadamu."
Welliam membalikan badannya, lalu dia berjalan menaiki anak tangga.
"A-apa, apa yang anda maksud, Yang Mulia?"
Tap!
"Bukankah kau perlu izin dari Lord?"
Tap!
"Bukankah kau ingin tahu kapan kau akan, mati?"
Tap!
"Lagipula, aku juga ingin kau menjadi rakyat dari kalangan bangsawan, yang pertama kali mengetahui ini."
Duke Efran terus memperhatikan Welliam saat dia terus menaiki anak tangga itu, semua ucapannya tidak bisa dia mengerti. Apakah dia benar-benar meminta izin Lord? Tapi itu adalah hal sia-sia, karena Lord Fedrick pun tidak akan bisa membunuhnya.
TAP!
Tepat ditangga ke lima belas, Welliam berdiri menghadap kebawah. Ia menduduki kursi kekaisaran itu, sembari menyilangkan kakinya dengan begitu angkuh. tangan kanan menyanggah kepalanya denagn sangat berwibawa.
Duke Efran, melihat dengan begitu heran. Apa yang dilakukan bocah Demon itu, bukan kah itu kursi milik Lord?
SRUK!
Alberd, Briant, Loise, dan juga Styvn. Dengan cepat mereka bertekuk lutut, tepat saat Welliam duduk di singgasa tertinggi.
"Kami memberi hormat kepada, Paduka Lord Welliam Cornelis Lorddark's"
DEG!
--.o🍁o.--
🌸Info Novel.
Sil-silah Kedudukan Lord dan Queen Yang Memimpin, Darkness World.
☘ LORD & QUEEN [ I ] • Pertama.
* Ardsekar Gluen Lorddar's
* Rechyla Melwar
☘ LORD & QUEEN [ II ] • Kedua.
* Kellid Gluan Lorddark's
* Shavenia Archien Obella
{ Karena Ardsekar tidak memiliki keturunan, dan dia wafat tak lama setelah Ratunya (Rechyla), maka kursi Lord di ambil alih oleh Adiknya atas perintah Ardsekar. }
☘ LORD & QUEEN [ III ] • Ketiga.
* Cloud Arctess Lorddark's
* Vexana Ariadena Castiella
☘ LORD & QUEEN [ IV ] • Keempat.
* Fedrick William Lorddark's
* Pricilia Lezzy Crownsiamoer
☘ LORD & QUEEN [ V ] • Kelima.
* Welliam Cornelis Lorddark's
* ????
---.🍁.---
Apakah Aletha akan menerima isi hati Welliam. Dan bersedia menyandang gelar Queen di Darkness World??
Terus simak kisah mereka yang seru abis!
See You💕