The Queen of Different World

The Queen of Different World
Entering Enemy Territory



*Wilayah Barat Daya, dunia Darkness World.


•Hari ke-3 setelah Welliam meninggalkan Kerajaan.•


Fivian dan Styvn melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Mencoba memasuki daerah yang sudah ditandai dengan kecurigaan. Sudah 3 hari mereka tempuh untuk menuju tempat ini, harusnya semua menjadi mudah jika saja mereka tidak dipindahkan secara paksa dengan sihir teleportasi.


Karena saat mereka datang untuk menuju ke tempat tujuan, ada sesuatu hal yang menghalangi mereka, tapi mereka tidak bisa menyerah begitu saja. Atas nama Paduka Welliam, mereka bergerak mencari tahu hal apa yang ada di balik dinding sihir itu.


Saat telah sampai, yang mereka temukan hanya dinding dengan akar belukar berukuran raksa-raksa, merambat keseluruh daerah yang di lindungi. Tidak salah lagi, pasti ini adalah tempatnya.


Fivian mencoba menerawang pola-pola sihir yang terpasang diseluruh dinding. Memang benar, itu adalah sihir yang bisa mentransfer seseorang ke berbagai tempat secara acak.


"Bagaiman, apa kau sudah menemukan caranya?" Tanya Styvn sembari mengawasi daerah sekitar.


"Saya memang bisa mengatasinya, tapi akan sedikit membutuhkan waktu."


"Berapa lama?"


Fivian nampak berfikir "Sekitar 8 sampai 12 menit, Tuan."


"Baiklah, lakukan sekarang juga."


Sihir berpola hijau terukir dengan sangat memcolok di tengah gelapnya malam. Fivian memfokuskan kekuatannya untuk mencoba mematahkan tiap mantra yang mendesilir pada dinding itu.



Beberapa kilatan petir hijau bermunculan, seolah ingin merobek sihir dihadapannya. suara dari decitan kilatan itu, begitu memekik telinga. Secara perlahan sihir itu mulai bekerja dan satu demi satu mematahkan mantranya.


Namun semua tidak akan berjalan lancar, Styvn mengeluarkan pedang sihirnya yang selalu menjadi lambang kebanggaan keluarga Elf Lawier. Ia menyeringai sinis, saat mengetahui beberapa kelompok Carlitos unjuk diri.


"Apa pun yang terjadi, kau tetap fokus pada tugasmu. Sisanya biar aku yang mengurus mereka!"


Mengerti maksud dari seorang Tetua Darkness World sekaligus pangeran bangsa Elf. Fivian menatap lekat dan terus berusaha memecahkan sihir itu dalam waktu yang lebih singkat lagi.


"Kukira aku tidak akan pernah menemukan berkas tentang kalian lagi, Carlitos."


Dua belas pasukan Carlitos menghadap kepadanya, seolah ingin menantang salah satu Tetua Darkness World. Yah, Styvn sudah lelah selama ia mengabdi kepada Lord Fedrick, berkas tentang mereka selalu hadir bagaikan tindakan kriminal yang siap di adili.


"Styvn More Lawier. Harusnya kau menjadi King saja di bangsa Elf, dari pada harus menjadi budak keturunan Lord."


Dengan sangat angkuh mereka mencoba menghasut seorang Styvn. Ia tertawa renyah mendengar ucapan para kelompok sampah seperti Carlitos.


Styvn mengambil langkah awal lalu berpijak pada batang pohon, dengan sekali serangan tebasan pedang miliknya. Mampu membuat tanah yang dipijaki kelompok Carlitos retak lalu beberapa akar menyulur dari permukaannya, mereka melilit beberapa tubuh Carlitos lalu mencekik habis deru nafasnya.


Tidak terima dengan perlakuan Styvn, salah satu Carlitos dari bangsa Merrmaid mencoba menyerangnya dengan sihir air dalam jumlah besar. Gerak pola sihir berwarna biru cyan, begitu terang menderang dalam gelapnya malam.


Gelombang air datang dari pola sihir itu, lalu membentuk ribuan jarum yang meruncing tajam dan sangat keras.


Syutt......


Trang!


Trang!


Boom!!


Styvn terdorong kebelakang dengan sedikit kasar, punggung belakangnya sedikit perih saat tubuhnya menghantam batang pohon yang berdiri gagah bagaikan beton.


Akibat serangan dari kaum Merrmaid yang begitu cepat, beberapa jarus sihir itu berhasil menancap di beberapa lengan berototnya.


Fivian sempat hilang konsentrasinya, saat melihat sang Tetua berada dalam posisi terpojok. Ia ragu antara membantu atau menyelesaikan misinya, masih ada 165 komponen pola sihir yang belum ia hancurkan dan beberapa posion Crystal penguat dinding yang masih aktif.


Dengan kata lain beberapa sihir di dinding itu, memiliki sihir penyerang yang masih aktif dan sangat berbahaya!


"Hancurkan sihirnya. Aku tidak akan mungkin kalah dari mereka!"


Seutas perintah yang begitu menguat, membuat Fivian tidak perlu lagi merasa ragu. Ia kerahkan seluruh manna yang tersisa, lalu membuat sihir penghancur berukuran sangat besar.



Tulisan sastra bangsa Elf keluarga Zurich terukir dengan sangat kuat. Pola sihir itu semakin besar dan aliran listrik dari hijau berubah menjadi ungu, kembali menyerang dinding itu. Beberapa akar yang membentuk dinding perlahan mulai hancur. Akibat minimnya sihir penguat yang tidak bisa lagi menahan serangan bertubi-tubi dari Fivian.


Styvn tersenyum miring, jika komandan bangsa Elf nya bisa hampir menyelesaikan urusannya. Maka kali ini dia harus bisa membawa satu dari mereka.


Yah.. hanya satu saja yang dia butuhkan, untuk dibawa kehadapan sang Pangeran Demon! Karena sisanya..


Kalian tidak perlu berfikir keras. Tentu saja mereka harus mati!


Tersisa tujuh anggota lagi dan itu adalah hal mudah banginya. Dari pedang, senjatanya berubah menjadi panah. Styvn tarik busur panahnya lalu melepskannya dalam kecepatan 0.08 detik.


Alhasil para Carlitos yang tersisa tujuh orang itu mati dengan sangat mengenaskan. Panah yang bagian ribuan air hujan, berhasil menggores dan meninggalkan jasad tak bernyawa diatas tanah lembab bersimbah darah kental. Menyisihkan satu orang yang masih bertahan meski terdapat dua anak panah yang menancap ditubuhnya.


Kretak!


Prang..


Prang..


Styvn melihat kearah Fivian, satu demi satu pola sihir di dinding itu hancur bagaikan partikel cahaya. Keringat yang turun dari dahi hingga menurun ke dagu mungilnya, menandakan bahwa tenaga Fivian cukup terkuras banyak.


"Baguslah, kau berhasil menghancurkannya."


"Tuan, bagaimana dengan kondisi anda?"


Fivian mengerti lalu dia menarik nafas mencoba mengatur tenaga dalamnya. Styvn dan Fivian berjalan lebih dekat kearah dinding, tapi saat langkah ke lima, tanah bergetar dengan sangat kuat.


Membuat beberapa pohon disekitar sana ikut bergoyang dan membiarkan puluhan burung terbang meninggalkan sarang mereka.


Kretak!


Retakan besar terukir di dinding yang terbuat dari akar belukar. Mereka memasang sikap kewaspadaan, dan satu demi satu dinding itu hancur menjafi bongkahan kayu tak beraturan.


Tepat saat dinding itu telah menjadi lubang besar, Styvn maupun Fivian diam dengan angat terkejut. melihat sesuatu hal yang ada dibalik dinding besar itu.


Ini benar-benar sudah berbahaya, mereka tidak bisa memasuki lebih jauh lagi. Kenapa? Karena saat ini, ada puluhan Troll raksasa dengan ketinggian 68 Meter.


Mereka berbaris bagaikan susunan Titan-titan pelindung dan penyerang.


Belum lagi di bawah kaki mereka, ada ratusan Goblin. Mereka adalah maklukh yang tidak pernah di terima di Dunia Darkness World, karena mereka selalu mencari perkara dan suka memakan manna bersihir tinggi.


Meski mereka kaum lemah, tapi jika di serang dengan jumlah yang banyak. Akan sedikit merepotkan, lagian saat ini Styvn dan Fivian hanya berdua saja.


Dari posisi Styvn dan Fivian, mereka melihat keatas pundak Troll yang berdiri paling depan. Terlihat sesosok berjubah hitam tengah duduk dengan sangat angkuh di pundak raksasa itu, sosok itu menggerakan tangannya dengan sangat lembut.


Lalu perlahan hadir puluhan kupu-kupu emas, yang mulai berubah menjadi ratusan kupu-kupu. Cahaya kuning dari kupu-kupu itu menjadi penerang, menggantikan bulan yang masih bersembunyi dibalik awan.


Styvn maupun Fivian bisa merasakan kekuatan dari sosok itu sangat besar dan begitu kuat. Siapa dia?


Fivian, jangan ambil gerakan gegabah. Untuk saat ini kita harus mundur dan membawa satu anggita Carlitos itu.


Baik Tu---


Syuut...


Bam!


Komunikasi lewat telepati terhenti akibat serangan tiba-tiba dari sosok itu. Styvn dan Fivian bergerak mundur, untuk menghindari sihir kuat itu. Mereka menatap tidak percaya, sejak kapan kupu-kupu emas itu telah berubah menjadi ribuan belati pisau?


Tidak bisa, jika terus dilanjutkan mereka mungkin saja bisa kalah. Lalu sedetik kemudian, mereka di hujani oleh belati sihir emas itu. Fivian maupun Styvn sama-sama meghindari dan bergerak keberbagai arah, agar jangan sampai terluka.


Namun sialnya, saat belati itu jatuh ketanah mereka berubah menjadi bom yang saling meledakan diri. Cih! Decih Styvn dengan sangat kesal.


Lupakan misi membawa Carlitos itu. Untuk saat ini mereka harus bisa kembali dengan selamat, lalu sampaikan misi ini. Sosok itu tidak pernah ada dalam laporan Carlitos dalam beberapa abad ini.


Lantas siapakah dia?


Ledakan terus terjadi membuat getaran kuat pada tanah, beberapa pohon tumbang. Mereka berdua terus bergerak menghindar tanpa di beri kesempatan berhenti atau menyerang balik.


Satu demi satu para Goblin bergerak, keadaan berubah menjadi sangat mencekat. Sosok itu benar-benar sangat keji dan tanpa belas kasih. Tidak ada pilihan lagi, Styvn melihat kearah Fivian lalu memberikan isyarat untuk pergi.


Fivian mengerti dia bergelantungan pada dahan pohon lalu jatuh kedasar tanah. Posisi mereka saat ini semakin jauh dari dinding itu, lalu Fivian maupun Styvn berdiri diatas pola sihir yang sama.


Para Goblin hampir menggapai mereka, sedikit lagi hanya tinggal lima langkah lagi.


Sring...


Mereka berdua berhasil lolos dengan sihir teleportasi. Sedangkan para Giblin itu bersorak seperti kesal, saat musuh mereka berhasil lolos dari mereka.


"Hentikan. Jangan dikejar."


Suara lembut khas wanita mengalun merdu di pendengaran seluruh goblin. Sosok itu yang merupakan pemimpin asli Carlitos, sang Great Lady yang menjadi dalang atas semua kejadian selama ini.


Dia turun dengan begitu anggun, para Goblin dan Troll bertekuk litut dihadapnnya, seolah tengah memberi hormat kepada sang Ratu.


"Kenapa kau biarkan mereka pergi? Mereka telah mengetahui markas ini."


"Jangan khawatir Hugo, mereka akan kembali lagi dalam beberapa hari kedepan dengan pasukan mereka. Kita tidak perlu bersembunyi lagi, sejak awal mereka telah mengetahui kaum Carlitos! Hanya saja, mereka masih belum bisa menemukan jawabannya. Kali ini Carlitos harus menuruti semua rencanaku, jika saja Katastrofi tidak bertindak gegabah pasti kita tidak perlu mengalami kerugian! Atau bahkan, bisa saja aku memenggal kepala Lord dan Alice saat itu juga!"


Great Lady itu mengeluarkan semua unek-unek kekesalannya kepada Hugo. Kupu-kupu hijau yang selalu menjadi tangan kanan kepercayaannya. Baginya semua makhluk di seluruh dunia tidak ada yang bisa di percaya, kecuali kupu-kupu hijau yang ia ciptakan sendiri bernama Hugo.


"Jadi kau akan menghabisi mereka dipertemuan selanjutnya?"


"Ya! Itu sudah pasti. Kini musuh pertama yang perlu disingkirkan adalah Putra Mahkota Darkness World. Dia memiliki darah Demon dan darah sang Dewi Alice!"


"Aku mengerti maksudmu, tapi kita juga memerlukan orang yang bisa mengatur rencana jauh lebih baik lagi."


"Maksudmu?"


"Kita panggil kembali, tangan kanan Katastrofi yang masih hidup."


Great Lady mengerti orang yang dimaksud, dia tersenyum sinis lalu mata hijaunya berkilat tajam. Saat itu juga 12 prajurit Carlitos berubah menjadi puluhan kupu-kupu emas.


Yah semua kupu-kupu emasnya terbuat dari jasad musuh, rekan, bahkan hingga Manusia yang ia bunuh dan menjadikan mereka sebagai pengikut setia tanpa berkhianat.


"Kirim pesan kepada orang itu Hugo. Dan yang lain kembali pada posisi kalian, kita akan bersiap bertarung dengan pasukan musuh!"


Ujarnya dengan sangat dingin. Lalu menghilang bersamaan dengan hadirnya angin kencang.


"Kali ini, aku akan membunuh mereka. akan ku akhiri semua yang menghalangi jalanku! Ahahahah..."


--.o🍁o.--