
Namaku Lucy Daiana Lorddark's. Tentu kalian telah mengetahuinya, aku seorang Putri bangsa Demon dari pasangan penguasa terhebat di Darkness World.
Sosok ku selalu dipuji-puji dan di dambakan oleh banyak kaum ras lain. Rakyat mana yang tidak kenal aku? Aku dikenal sebagai Tuan Putri yang memiliki karisma menawan dan sering disebut sebagai putri paling cerdas dalam segala hal.
Tapi tidak dengan urusan percintaan. Mate ku hadir jauh lebih cepat dari Kakak dan juga Ayah. Aku tidak perlu menunggunya hingga ratusan tahun, karena saat usiaku 15 tahun. Aku bertemu dengan belahan jiwaku.
Dia... Harlie Monachole Neptun, Mate-ku.
Seorang King dari bangsa Merrmaid. Jika semua orang menyukaiku dan menerima kehadiranku, tapi tidak dengannya. Entah apa yang membuat dia begitu membeciku, dia selalu menampakan ketidak sukaannya kepadaku.
Bagaimana tanggapanku?
Tentu saja itu sangat menyakitkan, bahkan dia selalu bercumbu manis dengan wanita lain dihadapanku secara terang-terangan, padahal aku masih Mate nya.
Jika semua yang bertemu dengan Mate nya, akan timbul perasaan posesif dan ingin saling melindungi. Tidak dengan kami yang saling acuh, aku menyukainya tapi tidak dengan Harlie.
Aku tahu ini terdengar lucu dan bodoh, kenapa aku masih bertahan meski tahu dia tidak menyukaiku? Kumohon, percayalah. Perasaan hubungan Mate tidak seperti hubungan asmara dalam dunia Manusia.
Meski aku kurang paham dengan itu. Tapi kami saling terikat jiwa dan batin, rasanya sakit seolah hatiku tengah di iris setiap dia menolak atau bercumbu dengan wanita lain.
Aku tidak bisa mengatakannya kepada keluargaku, karena mereka masih menolak hubunganku dengan Harlie. Sebenarnya apa yang dia lakukan sehingga keluargaku tidak menyukainya?
Dan hari ini, aku kembali melihatnya tengah berciuman dengan salah satu pelayan Kerajaan Lucifer. Tidak dengan satu wanita bahkan ia sering mengganti dengan wanita lain, dan lucunya aku sering menyaksikan hal ini. Sungguh bodoh.
Bukankah dia datang untuk bertemu denganku? Lalu apa-apaan ini. Ini menyakitkan hingga merobek jiwaku. Pelayan itu sadar dengan kedatanganku, dia merapihkan kancing atasnya yang telah terbuka.
"Ma-maafkan sa-saya, Putri Lucy. Sa---"
"Pergi." Ucapku dalam nada dingin.
Pelayan itu berlari pergi, sedangkan Harlie bersandar pada pohon yang ada di taman Gypsolen. Dia menatap santai, seolah tak ada yang perlu dijelaskan.
"Aku suka pelayan itu, dia benar-bebar bisa mengikuti permainanku."
"Bukan kah kau datang untuk bertemu denganku, Harlie?"
"Ya."
"Lalu apa yang kulihat tadi, kau malah bercumbu dengan pelayanku!"
"Lalu apa masalahnya? Dengar Lucy aku sudah sering mengatakannya hingga aku muak mengingatkanmu. Bahwa aku menolak dirimu sebagai Mateku!"
"Harlie, tidak pernahkah kau memikirkan perasaanku? Sekali saja, apa yang membuatmu menolakku?"
"Kau ingin tahu? Baiklah, akan kuberitahu. Aku menolakmu karena kau adalah Putri dari Lord dan Queen."
"Hanya karena aku Putri mereka, lantas kau membenciku? Apa kesalahan mereka?"
"Kau tidak tahu Lucy? Apa yang telah dilakukan kedua orangtuamu adalah sebuah kesalah besar dalam hidupku. Bahkan hingga detik ini aku tidak bisa memaafkan mereka, selama ini kau hidup untuk apa? Hal seperti ini saja kau tidak tahu. Kau benar-benar Putri manja yang selalu buta dengan lingkunganmu, apanya yang cerdas? Kau hanya seorang Putri pecundang dihadapanku."
Ha.., ini menyakitkan bahkan jauh lebih perih. Jika Lucy boleh memilih, lebih baik dia tertebas pedang dari pada rasa hina ini. Tutur kebenciannya begitu menggores hati.
"Aku datang untuk mengembalikan benda sampah ini." Harlie melempar sapu tangan ke hadapan Lucy.
Ada gambar bunga Lily sebagai Filosofi keabadian, yang disulam oleh Lucy sendiri. Ini adalah hadiah dari Lucy, dua minggu yang lalu. Biasanya para gadis akan menyulam sapu tangan untuk diberikan kepada Mate mereka.
"Aku tidak membutuhkannya, sudah banyak wanita yang memberikan aku sapu tangan jauh lebih bagus dari pada punyamu. Kau kira aku akan luluh hanya karena ini? Lucy aku lelah dengan semua ini. Sudah berkali-kali kukatakan, tapi kau masih saja menggangguku."
"Apa aku mengganggu waktumu, dengan semua wanita rendahanmu, Harlie? Tidak tahukah kau, bahwa aku cemburu, bahwa aku terluka, bahwa aku.... tersakiti dengan sikapmu!"
"Itu yang aku inginkan. Semakin kau terluka, semakin kau menderita, semakin pula aku bahagia. Setidaknya aku bisa membalaskan dendamku lewat dirimu. Kau sungguh gadis yang bodoh, Lucy."
"HARLIE!!"
"Menjauh dariku!"
Harlie pergi begitu saja, berjalan tanpa menoleh sedikitpun kearah ku. Aku jatuh terduduk, astaga ini menyakitkan! Saat dia, Mate ku sendiri menolak dan menghindariku begitu saja.
Adakah hal yang lebih buruk dari ini? Akankah aku akan merasakan jauh lebih menderita dari rasa hina ini? Siapa saja katakan, apa yang tidak kuketahui mengenai perselisihannya dengan kedua orangtuaku.
Aku berusaha mencari tahu, tapi mereka semua hanya mengelak dari pertanyaanku. Apa yang membuatmu sebenci itu, Harlie. Sehingga kau tega membalaskan dendammu kepadaku?
"Lucy...."
--.o☘o.--
Aletha berjalan dengan sangat kesal, ia kira Welliam benar-bebar akan menghabiskan waktunya bersamanya, setelah kembali dari taman.
Tapi sebelum mereka sampai di kamarnya, dia sudah buru-buru pergi karena tadi mereka melihat Lord Fedrick berdiri di balkon lantai tiga.
Awalnya Aletha jantungan, karena dia kira sang Lord melihat aksinya tadi. Tapi untunglah sepertinya Lord tidak lihat, kini Aletha sedang berjalan-jalan menyusuri Kerajaan Lucifer.
Sebelum Welliam pergi, dia memanggil kepala pelayan untuk menemaninya berkeliling.
"Em, boleh aku tahu namamu?"
"Salam Lady, nama saya Auriel Adult Him. Saya kepala pelayan disini."
"Auriel? Apakah kau yang mengajari Lucy bebrapa teori Filsavat?"
"Benar Lady."
"Hem, karena aku bosan.. Bisakah kau tunjukan Perpustakaan disini?"
Auriel tersenyum. Saat Aletha berkata seperti itu, rasanya dia merasakan deja vu karena ucapannya sama seperti Ratu Alicia dulu.
"Kalau begitu, tempatnya tidak terlalu jauh. Kita hanya perlu berjalan lurus dari koridor Istana ini, lalu ada pintu hitam bertuliskan Perpustakaan, Lad--"
"Nyonya."
Aletha dan Auriel menoleh kearah pelayan yang datang menghampiri mereka.
"Kau sungguh tidak sopan, jangan berlari di dalam Istana dan juga jangan berteriak taupun memutuskan pembicaraan."
"Maafkan saya Nyonya Auriel. Saya mendapat pesan, anda disuruh untuk menghadap Yang Mulia Ratu."
"Kau boleh pergi." ucap Aletha.
Auriel kembali melihat Aletha "Tapi Lady, saya--"
"Tidak apa-apa. Aku hanya perlu berjalan lurus dari koridor istana ini, kan?"
"Saya akan menyuruhnya, untuk menemani anda Lady."
"Tidak usah, aku lebih suka berjalan sendiri."
Awalnya Auriel ragu, tapi melihat senyum tenang dari Lady nya, sepertinya tidak masalah.
"Kalau begitu, kami mohon undur diri."
"Bukan kah kau datang untuk bertemu denganku, Harlie?"
Aletha berhenti, ia mendengar suara seseorang yang sedang berbicara dari arah taman. Aletha tertarik dengan suara itu lalu berjalan mencari sumber suara, dan saat dia berhasil menemukannya.
Aletha bersembunyi dibalik dinding tanaman belukar, melihat Lucy dan seorang Pria. Setiap pembicaraan mereka membuat Aletha menggeram kesal, terutama saat pria itu melempar sapu tangan kearah Lucy.
Kata-kata kasar dari Pria itu membuat Aletha ingin sekali menamparnya, karena telah menghina Lucy yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Aletha menghampiri Lucy yang terduduk dengan isakan tangis, yang terdengar sangat menderita. Bahkan Pria itu tidak menggubsirnya, dasar brengs*k! Umpat Aletha.
"Lucy..."
Lucy menoleh dengan terkejut, lalu menghapus air matanya dengan cepat. Tapi untunglah yang datang adalah Aletha bukan Welliam, pikir Lucy.
"Apa dia Mate mu?"
"Kak Aletha mendengar semuanya?"
Aletha mengangguk, lalu mengajak Lucy untuk duduk di bangku taman "Apa dia selalu bersikap kasar kepadamu?"
"Tidak, Harlie tidak pernah memukul at--"
"Tapi dia selalu berkata kasar, Lucy tadinya ini hanya dugaanku saja mengenai hubunganmu dengan Mate mu. Tapi setelah melihatnya secara langsung, aku mengerti dan bebar-benar tidak menyukainya. Kau diperlakukan dengan begitu rendah dengannya, bahkan kau hanya diam saja saat dia ternyata sering bermain dengan wanita lain."
"Kak, Lucy mencoba untuk melupakan, aku juga sudah berusaha mengabaikan rasa sakit ini. Tapi, perasaanku terhadapnya tidak bisa berubah. Aku tahu ini sangat bodoh bagi Kakak, tapi Lucy sungguh tak bisa melerakannya."
"Sudah berapa lama kau seperti ini?"
Lucy diam sembari mengacuhkan pandangannya dari Aletha.
"Lucy, mungkin hubungan Mate adalah pasangan yang telah ditentukan, tapi ada juga yang tidak menyukai itu. Sehingga mereka tetap bersikeras menolak, meski mereka harus menderita selama hidupnya. Kau tidak boleh merasa terbebani dengan ini, mungkin saja dia bukan pasanganmu."
"Tapi Lucy yakin, saat pertama kali bertemu. Lucy merasakan adanya ikatan jiwa Mate padaku, aku yakin Harlie juga menyadarinya."
"Lalu kau mau terus-terusan seperti ini?"
Lucy kembali merintih perih, membiarkan air matanya menjadi pengganti rasa sakit.
"Bukankah ini lucu, aku menasehati Kak Aletha mengenai hubungan kalian, seolah aku bisa memberi jalan keluarnya. Padahal aku sendiri tidak bisa menangani hubunganku, hah.. Apa benar aku wanita pecundang?"
"Kau perempuan yang sangat hebat Lucy, mungkin saat ini kau menganggapnya sebagai Mate mu. Tapi kita tidak tahu dimasa depan akan seperti apa, Adikku adalah sosok yang ceria dan tangguh."
Lucy tersenyum, rasanya lega bisa berbagi cerita pahitnya. Kak Welliam memiliki Mate jauh lebih pengertian, Lucy harap hubungan mereka tidak akan sepertinya.
"Kak, Lucy punya permintaan."
"Katakan."
"Kumohon, jangan beritahu Kak Welliam ataupun Ayah dan Ibunda mengenai ini. Jika mereka tahu, aku yakin Harlie akan dalam bahaya. Aku tahu dia telah kelewatan hanya saja Lucy belum bisa merelakannya, dan bila ini memang harus berakhir biarkan Lucy yang mengurusnya."
Aletha menghela nafas, tadinya Aletha berniat memberitahu Welliam. Tapi ia juga harus mementingkan perasaan Lucy, karena saat ini hanya Lucy sendiri yang tahu untuk kebahagiannya.
"Jangan khawatir, aku tidak mendengar apa pun."
Lucy memeluk Aletha "Terimakasih, Lucy janji akan membalas kebaikan Kakak dihari ini."
"Berhentilah bersedih, lebih baik kita lakukan sesuatu untuk mengembalikan perasaanmu."
"Biasanya jika Lucy dalam keadaan seperti ini, aku selalu berlatih diri dengan para kesatria dan prajurit Lucifer Kingdom."
"Kau berlatih diri, seperti latihan berpdang atau bela diri?"
"Ya."
"Apa kita juga bileh berlatih disana?" Ujar Aletha nampak berseri-seri.
"Sepertinya Kak Aletha, suka bermain pedang ya?"
"Aku hanya merasa berlatih pedang adalah teman terbaik, dan juga itu bisa menghilangkan sedikit beban kita."
"Baiklah, apa Kak Aletha mau menemaniku berlatih?"
Aletha nampak berfikir, sepertinya tidak masalah lagian pedang itu bisa dijadikan hobi, Welliam juga tidak akan curiga karena dia juga pernah menyerang Welliam dengan Katana, saat pertama kali bertemu.
"Ayo, aku bosan bermain Putri-Putrian. Itu buka gayaku."
"Kalau begitu, ini bisa menjadi hari menyenangkan, karena kita bisa mengeluarkan semua kekesalan. Tapi sebelum itu, kita harus mengganti pakaian."
--.o☘o.--
Beralih pada posisi Harlie.
Harlie menunggangkan kuda hitamnya, sebenarnya dia datang untuk rapat antar bangsawan. Karena dia tak sengaja melihat sapu tangan Lucy, membuatnya kembali mengingat memory kebenciannya kepada keluarga Lorddarks yang telah membunuh Tuannya.
Lalu tersirat untuk mengembalikannya, itu lebih baik. kekuatannya telah di segel oleh Queen Lezzy dan mereka membunuh Katastrofi. itu membuatnya muak dan benci, tapi dia malah menjadi Mate dari Putri mereka.
meski ini diluar dugaan, tapi ada bagusnya juga karena dia bisa membalaskan dendamnya lewat Putri mereka. Meski begitu, semakin dia menyakiti perasaan Lucy semakin pula dia menderita. Akibat ikatan Mate, apalagi saat Lucy menangis tadi itu sudah cukup menggores hatinya.
"Salam King Harlie." Hormat Beta bangsa Merrmeid, bernama Karlos.
"Ada apa, Karlos."
"Anda Mendapatkan surat dari mereka, Yang Mulia."
"Selama hidupku, hanya ada satu pemimpin yang kuhormati yaitu Tuan Katastrofi bukan wanita itu."
"Apa anda ingin menolaknya lagi, King?"
"Aku menolaknya sebagai pemimpin Carlitos, hanya Tuan Katstrofi yang berhak memimpin. Sayang beliau telah mati ditangan Lord Besar Fedrick."
"Tapi King, utusan dari wanita itu mengatakan anda akan menyesal bila tidak membaca pesannya."
Harlie melirik sinis, memangnya apa spesialnya wanita itu. asal-usulnya saja tidak bisa diketahui oleh Harlie, untuk apa dia mengabdi kepadanya?
Harlie membaca dengan teliti isi surat itu, lalu beberapa detik kemudian. Harlie terlihat sangat terkejut dengan hadiah yang dikatakan wanita itu, lewat surat ini.
Harlie kembali bergairah "Karlos, buatlah janji pertemuanku dengan Great Lady. Aku harus melihat sendiri hadiah itu!"
"Baik, King."
--.o🍁o.--
Info Novel
BETA : Gelar yang diberikan kepada wakil Raja, atau tangan kanan sang Raja.