
----------. *-🍁-* .----------
Terkadang, rasa penyesalan harus datang belakangan. Karena rasa sakit itu, yang akan menyadarkan mu dari pilihan yang salah. Sehingga kau menerima pelajaran hidup baru lagi, meski itu adalah akhir dari hidupmu
----------. *-🍁-* .----------
.
"Aku sudah muak denganmu, lihatlah bagaimana aku yang berasal dari kasta rendah memenggal kepalamu. HUGO!!"
Hugo menjadi ribuan kupu-kupu hitam, dia menyatukan dirinya dengan Tahlia. Lalu sebotol kaca kecil mencul di genggaman Tahlia, senyum penuh makna terukir dengan sangat mengerikan.
Aletha yang mengetahui rencana Tahlia berusaha menghentikannya untuk tidak meminum ramuan, dari reset temuan Carzie. Bisa jadi, ia ingin Tahlia menggunakan tubuhnya sebagai kelinci percobaan dari sihir terlarang itu.
"Tahlia jangan!!!"
PRANG!
Terlambat.
Tahlia meneguk habis ramuan itu tanpa mendengarkan ucapan Aletha. Hanya butuh beberapa detik saja, sihir gelap itu bekerja.
Angin kian merusung ombak, memaksa hutan untuk menari dengan kasar. Langit menggelap tanah berguncang, bahkan Aletha hampir kehilangan keseimbangannya akibat ulah dari kombinasi sihir gelap yang sepertinya kekuatan itu melebihi dari kata kuat!
" Σηκωθείτε, αίμα του σκότους! "
( Bangkitlah, wahai darah kegelapan! )
Dalam satu perintah pada mantra sihir terlarang terucap, seluruh darah yang tergenang hingga tumpukan mayat dari pasukan sekutu maupun musuh ikut terserap kedalam diri Tahlia.
Ini gawat, dia menggunakan sihir dari temuan Carzie lalu merubahnya menjadi sihir gelap yang begitu mematikan, menggantikan jutaan mayat dan darah sebagai transaksi untuk membuka sihirnya.
Tahlia telah melawan hukum langit yang melarang keras mereka, para kaum Imorrtal menggunakan sihir gelap sebagai perantara kekuatan.
Ini bisa mengguncangkan jagat raya bila Tahlia kehilangan kesadarannya. Pada akhirnya, semua ini berjalan sesuai keinginan Octopus untuk menjadikan adiknya sebagai kelinci percobaan, hanya keluarga Tahlia lah yang mampu membuka sihir gelap.
Karena ini bisa beresikp fatal, Ayah Tahlia memilih untuk mati dari pada menggunakan sihirnya. Tapi kini Tahlia malah termakan buaian Octopus.
"Ahahaha!!! Lihatlah bagaimana aku mencabikmu hingga menyisihkan tulangmu saja, Aletha."
Tahlia menggila layaknya monster berdarah dingin, dia menyerang Aletha terus menerus tanpa membiarkannya berhenti sejenak. Rasanya untuk menghela nafas saja sangat sulit dilakukan.
Hutan Agra telah tandas menyisihkan pohon tumbang dengan kobaran dahsyat dari si jago merah. Aletha terus melompat dari satu pohon kepohon lain, sesekali dia menangkis semua serangan dari kupu-kupu hitam.
Layaknya predator yang tidak mau kehilangan mangsanya, Tahlia sungguh kehilangan akal sehatnya. Ini bahaya, jika Aletha terus bergerak dengan pergerakan tidak teratur, bisa-bisa ini membahayakan kandungannya.
Terlebih usia kandungannya masih terlalu muda, Aletha juga tidak pernah dalam situasi terlemah seperti ini. Sudah hampir 50% dia kerahkan semua kekuatan sihirnya, dan jika dia melampaui batas. Bisa dipastikan buah hatinya akan berdampak parah juga.
Aletha menoleh kebelakang melihat Tahlia masih mengejarnya dengan penuh ambisi. Disela pelariannya, Aletha meraih seranting pohon kokoh lalu memutarkan tubihnya 180° dan saat Tahlia menyerangnya.
Dengan cepat Aletha menendang Tahlia hingga dia jatuh kedasar tanah dengan sangat kasar.
DUMB !!!
Suara dari dentuman itu begitu besar, hingga menghancurkan tanah lembab dan berlumut. Akhirnya Aletha mampu menghirup udara dalam tempo cepat. Selama penyerangan gila Tahlia, bisa dihitung bahwa dia sesekali menahan nafasnya, akibat serangan brutal dari Tahlia.
Tumpukan tanah yang tadi menimbun setengah tubuh Tahlia mulai berkerak, perlahan Tahlia menunjukan dirinya lengkap dengan tatapan sinisnya.
Aletha yang masih diatas pohon hanya mampu menatap iba kepada kondisi adiknya saat ini.
"Berhenti menatapku dengan wajah menyedihkan itu! Kenapa, kenapa kalian semua melihatku seperti bangkai yang menjijikan! Kenapa?!!"
Tahlia sudah termakan emosinya sehingga pola pikir dan rasa sakit batin yang terbungkam, mulai tercurah dengan sendirinya.
"Apa yang salah dengan terlahir sebagai kasta rendah? Kalian para bangsawan berclaster, selalu memandang rendah kami yang memiliki darah berketurunan kotor. Kalian tidak sesuci itu hingga bisa mengendalikan alam! Selini Thea yang paling agung saja hanya dapat menjadi penguasa bisu saat mengetahui rakyatnya menderita, bahkan Ayahmu mengesahkan peraturan pembagian dua kalangan Imorrtal yang sangat tidak adil, aku benci! Aku henci! AKU BENCI IDEOLOGI SEPERTI ITU !!!!"
Aletha diam mendengar argumen kekesalan Tahlia, ungkapan itu menyakitinya sebagai Dewi tertinggi bagi kaum Imorrtal. Sadarkah, bahwa sebaik apapun kau merubah situasi untuk lebih baik lagi, justru, malah akan ada seseorang yang menjadi korban dari api cemburu.
"Tahlia, Ayah tidak bermasud membedakan para Dewa. Tapi inilah yang terbaik, bukankah kau--- "
"Apanya yang terbaik? Kami dipandang layaknya budak, padahal kita satu kasta terlahir dari bintang harapan dan menjadi Dewa yang mampu membawa kebahagiaan. Tapi rasku, justru lebih buruk dibanding kaum Darkness World."
"Kau salah paham, Ayah membentuk peraturan itu karena dirimu. Apa kau tidak ingat?"
"Cih, sekarang kau malah bersikap sama menyebalkannya dengan Ayahmu!"
Tahlia menggerakan tangan kanannya membuat sabit kematian miliknya kembali terwujud.
"Dalam perang, yang kalah harus mati. Hanya ada satu kursi kemenangan dan kita tidak mungkin membaginya Aletha. Mari tentukan, kau atau aku yang mati."
Aletha menatap rembulan, ia merindukan kehadiran Selini Thea yang mampu memberikan petunjuk kepada mereka yang tersesat pada pilihan.
Waktu terus berjalan, ia tidak ingin kejadian pada Sofia terulang lagi dan merugikan banyak mahluk alam.
Tapi, dia juga memiliki tanggung jawab sebagai seorang kakak untuk membebaskan penderitaan adiknya.
Apa yang harus kulakukan ...
Tring!
Pedang Aletha bersinar, namun yang paling menarik perhatiannya adalah bunga Wisteria yang menggelantung sebagai hiasan di pedang putihnya, mengingatkannya pada seseorang yang begitu ia hormati.
Ayah benar, masih ada satu cara untuk mengakhiri dusta antara pemimpin dan rakyat yang berkhianat, yaitu hapuskan akar permasalahannya, tapi, bukan aku yang akan melakukannya. Melainkan Tahlia sendiri yang menjadi kunci sebagai hakimnya ...
"Tahlia harus mati!" Guman Aletha menahan kecamukan pikiran dari ingatan masa lalunya bersama Ayahnya, sewaktu dia berumur 9 tahun dan Tahlia berusia 5 tahun.
Welliam, kau bisa mendengarku?
Aletha ...
Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa Katastrofi terikat pada Tahlia. Tunggulah sebentar lagi, saat aku berhasil mengakhiri Tahlia, selanjutnya kuserahkan kepadamu mengenai Katastrofi dan Carlitos.
....kau bisa mengandalkanku, percayalah bahwa aku akan membawa kemenagan untuk dunia kejam ini. Dan untukmu Queen ku, bagaimanapun situasinya kau harus kembali kesisiku!
Aletha tersenyum tipis seraya menutup matanya, meski mereka birkomunikasi lewat lirihan batin. Tapi, perintah itu begitu sangat terasa dekat bagi Aletha.
Yes My Lord!
Tahlia menatap Aletha yang hanya diam tanpa bergeming sedikitpun dari posisinya. ia pun tersenyum sinis melihat itu.
"Jangan khawatir, jika kau mati akan ku kirim juga Matemu, agar kau tidak kesepian disana!"
Aletha kembali membuka matanya, "bukan aku, tapi dirimu adik ku ..."
"Berhenti bersikap sombong, Aletha!!"
Tahlia kembali menyerang Aletha dengan brutal, sihir kupu-kupu berubah menjadi belati pisau yang bergerak sangat cepat. Dengan gesit Aletha menahan semua serangan itu. Ditengah dia menahan serangan, Tahlia masih terus menyerangnya dengan sabit kembar kematiannya.
Hal itu, membuat Aletha kian dalam posisi terpojok, sudah banyak manna yang ia keluarkan dan semakin berat juga kekuatan gila dari adiknya ini untuk ia tahan.
Tahlia membuat sihir pisau lebih banyak, sehingga pisau itu menggores lengan serta pipi Aletha, semakin dibiarkan Tahlia menjadi hilang kendali.
Maka dari itu, Aletha hanya punya satu cara untuk dapat memutuskan rantai kegidupan Tahlia, tapi ..., itu juga dapat membahayakan kandungannya jika dia memaksa untuk melakukannya.
"Kau lengah Aletha!"
BRUKH !!
Karena ia sibuk dengan pikiran keraguannya, membuat Aletha tidak fokus sehingga ia tak berhasil mengelak dan berakhir dengan menghantam sepohon kokoh dibelakangnya.
Punggungnya terasa nyeri, Aletha tersadar akan situasi. Dia meraba lembut perut datarnya, mencoba meastikan buah hatinya tidak dalam bahaya.
Tahlia menatap heran, sejak awal bertarung pergerakan Aletha seperti di batasi oleh sesuatu, dan ia tidak bertarung layaknya seorang Dewi Perang yang ia kenal dulu.
Apa mungkin ....
Aletha mencoba bangun dari posisinya, dia tidak boleh ragu. Inilah yang ingin takdir inginkan dari konflik yang tak berujung klimaks, maka dia sendiri yang harus menyelesaikannya.
"Tahlia, sebelum kematianmu ada yang ingin kukatakan ..."
"Kematianku? Ka--"
"Apa kau ingat dengan janjimu sewaktu kecil kepada Ayah? Dulu, saat kita berdua selalu menghabiskan waktu bersama Ayah, kau pernah bilang ......"
. 🍁 .
"Lia inin mereka tidak tecakiti. Papa tahu, Lia melihat bangcawan yang mengina kalanan endah cehingga meyeka tidak bica bebas. Bagaimana jica Papa memicahkan meyeka dengan keyompok meyeka cendiri, maka meyeka akan bahagiya " Ucap Tahlia saat berusia 5 tahun.
"Kau ingin Ayah membagi dua kalangan agar menjadi adil? Bukankah itu malah menjadi pemisah kaum, Tahlia"
"Tidak, muncin atan teydenga buyuk. Tapi, meyeka akan bica begaul dengan teman-temannya sendiyi. Bangcawan belum tentu bica ceperti talanan bawah dan talanan bawah beyum tentu bica menerima cara cocial bangcawan, cetiap Dewa punya caya keyidupannya cendiyi. Dan, bila macih ada yang menghina Lia akan menghutumnya!"
"Hm, Lia akan menjadi Dewi Hatim yang paying tuat dan adil cepeti Papa dan Kakak, hehehe ...."
"Hahaha, bagus itu baru Putri Ayah. Baiklah, mari kita jadikan ini sebagai janjimu kepada Ayah."
"Papa janan hawati, Lia atan bejanji untut membutitannya. Lia juga inin menjadi Dewi yan di pecaya oyeh, yan mulia Vacilica."
Melihat kepolosan Putrinya Loryan pun tersenyum, "Ayah akan bangga dengan semua yang kau lakukan nanti, Tahlia. Ingatlah, bahwa keluarga kita selalu mengutamakan keadilan. Ayah akan menanti hari dimana kau akan mewujudkannya."
"Tahlia, kau melupakan buku Filsavat mu lagi."
"Ah, Mama!"
Tahlia menghampiri Lyra yang telah lama mengasuhnya dan menjadi Ibu tersayang bagi dirinya, meski dia adalah Putri angkat.
"Aletha, saat surya berkhianat dan rembulan berdusta, kau mungkin akan menjadi Dewi perang yang paling adil untuk menghukum para penguasa. Tapi, Tahlia adalah langit yang akan mengatur sebuah bencana. Ayah tidak akan tahu, saat Tahlia sudah dewasa apakah dia masih seperti anak lugu yang begitu ceria atau malah menjadi pendendam. Cepat atau lambat dia akan mengetahui mengenai kematian keluarga kandungnya ..."
Loryan, Ayah Aletha mengelus lembut kepala Putri kandungnya. Dia yang masih berusia 9 tahun, dengan ciri khas pendiam dan sikap dinginnya, hanya dapat menatap heran dengan ucapan sang Ayah.
"Kau mungkin masih bingung dengan ucapanku, tapi ingatlah kau memiliki hak untuk menghukum Tahlia bila dia berbuat salah sebagai Dewi Hakim. Hanya kau yang berhak, karena kau adalah Kakak nya, yang akan membawa lambang Wisteria untuk menjunjung keadilan. Inilah hidup, kejam atau tidaknya itu tergantung pada kita yang melihat dunia ini seperti apa ..., maka dari itu, Ayah akan mencoba mengabulkan keinginan Tahlia agar kedua kasta ini bisa bahagia dengan kelompok yang mereka anggap sebagai keluarga. Ayah juga ingin lihat aksinya yang begitu hebat, sebagai Dewi Timorias ..."
Aletha hanya dapat diam melihat senyum lebar diwajah Ayahnya, lalu kembali melihat Tahlia yang bermain riang bersama Ibunya.
. 🍁 .
Aletha mengatakan masa lalu yang begitu bahagia pada saat itu, mencoba memberikan perasaan hangat itu kembali kepada Tahlia.
"Kasta Imorrtal terbagi dua, itu karena Ayah mengabulkan keinginanmu untuk membuat mereka bahagia dengan keluarga sebangsanya sendiri. Selama ini, kau selalu salah paham Tahlia ..."
"Ini tidak benar, bukan aku yang menciptakan situasi ini. Semua yang kau katakan omong kosong, Ayah selalu mengabaikan ku dan lebih memperhatikanmu, dia hanya memperkenalkan mu kepada bangsawan politik sebagai Putri kebanggaannya!!"
"Itu karena, Ayah tidak ingin kau ikut campur dalam dunia politik yang penuh dengan permainan kotor, Tahlia."
"TIDAK!! kau bohong! Kau bohong! Semua yang kau katakan BOHONG!!!" Tahlia mulai, kehilangan kepercayaan terhadap ambisinya, dan menjadi sangat kacau..
Hatinya menjadi goyah, hanya dengan cerita masa lalu yang jika dikatakan malah menjadi ingatan buram pada benaknya. Apakah ini juga sihir ilusi?
"Tahlia, semua salahku..., kau menjadi seburuk ini karena aku tidak lebih memperhatikanmu, meski takdir terus menyadarkanku bahwa kau musuhku. Tapi, kau tetap Adik ku ..."
"Tidak! Berhenti mengatakan hal kosong seperti itu !!!"
dunia tidak seadil dulu.. tegaslah, bahwa kau ada untuk mengadili mereka, Aletha tis Polemou !
Aletha telah mengambil keputusan ini, meski dia sendiri berat melakukannya. "Aku tidak punya pilihan lain, maaf telah membuatmu lama menderita, Tahlia ..."
Tring !!
Satu langkah Aletha membawa kegelapan pada lingkungan disekitar mereka. Pedang putih yang membawa keadilan bercahaya mengikuti pantulan langkah sang Wisteria.
Tahlia terlihat begitu waspada dan sangat panik saat semua lingkungan hutan Agra berubah menjadi hitam menyisihkan pencahayaan dari langkah sang Kakak.
"Aku tidak akan kalah!"
Tahlia melebarkan sayap kupu-kupunya, lalu merangkum tubuhnya untuk menjadi perisai kalau saja Aletha menyerangnya.
"Tahlia ..."
Tahlia menatap heran, saat Aletha berjalan seraya menatap kasih penuh sayang kepadanya.
"Kau adalah ..."
Kau adalah Putriku yang sangat Ayah banggakan, Tahlia ...
DEGH!
"Ay.., ayah----"
CRASH!!!
Aletha bergerak dalam sekali serangan cepat, pedang setipis angin itu memecahkan sayap berlumuran darah, lalu menekan kuat tubuh sang Timorias.
Suara dan ucapan Aletha menyadarkannya dengan sesosok yang paling hangat untuknya dikala dia masih sangat rapuh, ucapan kata yang begitu persis menyapu habis sikap egois yang tertanam kebadanya.
' Lia akan menjadi Dewi Hatim yang paying tuat dan adil cepeti Papa dan Kakak, hehehe .... '
' Ayah akan bangga dengan semua yang kau lakukan nanti, Tahlia. Ingatlah, bahwa keluarga kita selalu mengutamakan keadilan. Ayah akan menanti hari dimana kau akan mewujudkannya. '
Tahlia diam dengan penuh rasa bersalah pada ingatan masa lalu yang kian tergambar jelas. Seakan dia kembali sadar dari lautan kegelapan tak berdasar pada hatinya, sebuah panggilan halus menariknya keluar dari kebencian dan ke dendaman yang entah sejak kapan sudah menjadi ambisinya.
Perlahan air matanya mengalir begitu saja di kedua mata permata hijau yang menyerupai alam. Karena serangan cepat dari Aletha terlalu sempurna, sehingga Tahlia tidak sanggup menahannya, ia pun tumbang dengan luka goresan fatal pada lehernya.
Namun sebelum ia jatuh, Aletha menangkubnya memeluk sayang musuh yang sebenarnya saudari angkat yang begitu ia sayangi. Aletha yakin, di dalam lubuk hati Tahlia masih tersisa rasa sayangnya terhadap keluarganya.
Karena ia tahu, dia menjadi seperti ini karena hasutan dari Octopus sehingga batin yang terguncang pada saat itu, mendorongnya untuk melakukan hal yang begitu kejam.
"Tahlia ..."
"Aku.., aku sungguh adik ya--akh! Bodoh ..., bagaimana aku bi..bisa melupkhannya ..."
"Jika kau melupakan Ayah, itu hal yang wajar disaat kau merasa terluka dengan semua ini. Tapi ingatlah, karena dirimu juga kami menjadi bertemu dan mendapatkan pemahaman baru mengenai dunia ini, Tahlia."
Tahlia menangis "Aku tidak per..pernah ingin menjadi pengu..asa, aku ingin sebuah tem-tempat dimana aku dapat diperhatikan, mungkin ini sulit untuk dimaafkan, tapi ..., aku selalu ingin mengatakannya kepadamu dan Dewi Selini Thea ..." Tahlia berusaha kuat untuk mengatakannya.
"Bahwa.., bahwa aku hanya ingin keberadaan ku diakui, kakak ..."
Aletha mengusap air mata sang Adik untuk terakhir kalinya "Terkadang, kita menjadi bodoh hanya karena sebuah nafsu, Tahlia."
"Maaf, aku minta maaf untuk yang terjadi kepada So ..., Sofia. Dan juga, apakah Ayah akan kecewa?"
Aletha menggelengkan kepalanya seraya terisak tangis "Dia selalu bangga dengan apa yang kau lakukan, jangan khawatir. Tidurlah Tahlia ..., Ayah dan Ibu pasti menyambut malam mu, karena kau juga adalah bagian dari Wisteria!"
Tahlia menutup kedua matanya dengan senyuman diakhir kehidupan sejarahnya, "Kuharap, kau segera melahirkan keponakanku yang sama cantik dan kuatnya denganmu, Kak Aletha ...."
Aletha sangat terkejut mendengar ucapan Tahlia, jadi Tahlia sudah memyadarinya kalau saat ini dia tengah mengandung?
Aletha membalas senyuman terakhir darinya, hari ini dia telah kehilangan dua orang yang paling dia sayangi dan mereka adalah keluarga terbaik selama ia menjadi Dewi di tanah Imorrtal.
"Selamat tinggal, Adik ku ..."
Perlahan, tubuh Tahlia mulai menghilang menjadi jutaan kupu-kupu emas layaknya bintang yang menerangi malam gelap gulita, di hari yang penuh dengan rasa berkabung.
( illustrasi )
.
Aletha berusaha kembali tegar, karena perang masih berlanjut. Masih ada Katastrofi yang berbeda kasus dengan Tahlia.
Aletha mencoba berdiri, namun ia merasakan rasa sakit yang tidak tertahankan pada perutnya. Terasa kram yang begitu mencabik jiwa dan raganya.
"Egh! Ha..., ha..., " Helaan nafas Aletha yang terdengar lemah.
Mungkinkah ini efek dari sihir kenangan yang dia lakukan untuk mengingatkan Tahlia? sudah dia duga bahwa rencana ini dapat membahayakan kondisi kandungannya, karena untuk melakukannya membutuhkan manna yang sangat besar. Pandagan Aletha menurun dan terlihat mengkabur.
"Welliam ..." Aletha kehilangan keseimbangannya dan jatuh dengan kondisi lemah.
"Kak Aletha!"
Untungnya, Lucy datang tepat waktu, dia menahan tubuh Aletha dan mencoba menyadarkannya.
Tapi, hal yang membuat Lucy kaget serta takut pada saat di seluruh kakinya dipenuhi darah dari pangkal pahanya.
"Tidak, kuharap ini bukan darah dari..., dari---"
"Akh!" Rintih Aletha menaham sakit.
"Bertahanlah kak, aku akan membawamu pulang. Molie, dapatkah kau menemui Tetua Alberd? Sampaikan pesan ini kepadanya untuk di sampaikan kepada Kakak!"
Molie langsung berlari sesuai perintah, sedangkan Lucy membuka gerbang portal menuju Lucifer Kingdom. Saat ini, kondisi Aletha dalam keadaan sangat MEMBAHAYAKAN!!
--••. 🍁 .••--
Uwuw, kita semakin dekat dengan Epilog😍
siapa yang bersemangat cerita ini segera END wkwkwk
4 Chapter lagi, jadi terus tunggu keseruan dan kejutan lainnya ya😚