The Queen of Different World

The Queen of Different World
Doubt, Go or Endure!!



"Dewi Alice, jangan beritahu siapa pun mengenai ini. Jika mereka tahu lalu jati diriku terungkap maka..maka.., aku akan mati."


Tap!


Lezzy berhenti melangkah, perlahan Lezzy membalikan tubuhnya lalu menatap Aletha dengan sangat terkejut.


"Aletha..."


"Dewa Alam akan mengeksekusi mati diriku, Yang Mulia.."


Aletha berjalan maju, tidak ada tanggapan dari Lezzy. Dia hanya berdiri diam sembari menatap Aletha, sekarang Aletha telah mengatalan hal yang paling tidak ingin di ketahui siapa pun.


"Ulangi kata-katamu."


Aletha mengalihkan pandangannya menuju padang bunga mawar hitam, tangan kanannya memegang lengan kirinya mencoba meredakan rasa resah yang kian semakin parah.


"Jika kalian mengetahui jati diriku, maka aku akan di hukum mati."


Lezzy mundur beberapa langkah, "Bagaimana ini bisa terjadi, apa yang telah kau lakukan, Aletha?"


"Ada sebuah kesalah pahaman yang terjadi pada hidupku dulu, Yang Mulia. Para Tetua tidak mendengarkan penjelasan dariku dan mereka langsung menghakimiku secara sepihak."


"Lalu bagaimana dengan Ibuku? Tidak kah dia mendengarkan penjelasannya?"


"Dewi Selini Thea melindungiku, dia mempercayai semua penjelasanku. Tapi, perjanjian itu juga yang dia ajukan untuk ku, saat aku bertekad ingin meninggalkan Imorrtal. Semua yang memilih meninggalkan Imorrtal harus menutup gelar Dewa atau Dewi nya dan dianggap sebagai pengkhianat bangsa."


"Ini tidak mungkin.., apakah Ibuku sungguh mengajukan persyaratan itu?"


"Apakah saya terlihat sedang berbohong, Yang Mulia?"


"Tapi Aletha nenghukumu dengan kematian bukankah itu sudah sangat berlebihan, bahkan mereka sendiri saja masih belum tahu kebenarannya."


"Yang Mulia, saya sudah menjelaskannl sistem peraturan di Imorrtal. Mereka tidak mengenal belas kasih, jadi bisakah Yang Mulia tidak memberitahukan ini."


"Aku tidak bisa membiarkan ini, aku tidak ingin kau berada dalam bahaya. Aletha kau tidak seharusnya berada disini, kau harus pergi sebelum semua terlambat."


"Pergi? kemana?"


"Aletha, kau paham maksudku. Kita harus mengakhirinya sebelum kau jauh dalam bahaya. Bukankah kau ingin pergi dari sini? Aku akan membantumu."


Aletha paham alur pembicaraannya, tapi apakah harus dengan cara itu?


"Ayo kita kembali, aku akan membantumu kembali ke Bumi. Lupakan apa yang terjadi selama kau ada disini, lupakan semua bahwa kau pernah mengenal kami da--"


"Termasuk Welliam, Yang Mulia?"


Lezzy diam, sorot mata Aletha begitu terlihat sangat tersiksa. Kenapa pilihannya harus berpisah?


Inikah yang membuat Aletha selalu menolak tentang hubungan Mate? Inikah yang selalu Luna katakan, bahwa hal itu bisa membuatnya dalam bahaya?


Lezzy selalu bertanya-tanya kenapa dia harus menolaknya? Padahal dia tahu semakin banyak ia menolak semakin banyak pula rasa sakit yang ia tahan. Sungguh, tak puaskan Dewa Alam menguji hidupnya? Sehingga mereka menargetkan juga takdir hidup Putra dan Matenya?


"Tidak ada cara lain, hanya ini yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkanmu. Kau harus kembali ke Bumi!"


Lezzy mengembalikan kondisi lingkungan kesedia kala. Dimana dimensi indah itu telah hilang dan mereka kembali pada taman yang ada di dalam rumah kaca.


Pergi? Aku harus pergi meninggalkannya, ini tidak adil. Dari semua hukuman Aletha, tidak pernah sekali pun ia merasakan takut meski itu adalah kematian. Tapi jika dia disuruh untuk pergi dari Welliam, oh sungguh Aletha tidak akan sanggup.


Entah apa yang merubahnya, bukankah ini peluang yang bagus untuk kembali? Bukankah ini yang paling diinginkannya? tapi saat ia diberi pilihan untuk kembali kenapa justru hati ini menolak. Rasanya sakit, rasanya sesak, rasanya hidup ini semakin memuakan untuk Aletha.


Selama kehidupannya, tidak ada satu hal pun yang membuatnya merasa resah, tidak ada satu pun yang mampu membuat seorang Aletha Wisteria merasa tertekan.


Aletha tidak ingin berpisah! Tidak bisakah satu kali ini saja takdir mendukungnya? Untuk pertama kalinya dia bisa merasa lebih hidup karena adanya kehadiran Mate ke dalah hidup membosankannya.


Aletha menahan tangan Lezzy, saat Lezzy hendak berjalan pergi. "Jangan..., jangan pisahkan kami."


"Aletha, ini adalah pilihan terba---"


"Apakah ini sungguh pilihan terbaik, untuk ku Ratu? Apakah ini jalan keluarnya? Apakah aku harus berakhir dengan mengorbankan kebahagiaanku, Yang Mulia?!"


"Aletha, bukankah sejak awal kau tidak ingin hal ini terjadi. Kau selalu menolaknya, ini kesempatanmu untuk kembali. Jika para Dewa Alam mengetahui keberadaanmu itu akan sangat membahayakanmu. Aku yakin Welliam akan memiliki pemikiran yang sama."


"Tidak..., tidak! Kumohon Yang Mulia, jangan bawa aku pergi. Jangan paksa aku untuk berpisah dengannya, aku tahu ini adalah situasi yang sangat genting. Tapi aku tidak akan mati, percayalah.."


"Apa yang membuatmu seyakin itu? Saat ini posisimu telah kuketahui, dan bila ini terdengar hingga ke imorrtal tidak kah kau akan langsung di adili?"


"Tidak, anda masih belum tahu siapa diriku yang sebenarnya. Selama kalian tidak tahu, hukuman itu tidak akan terjadi. Yang Mulia, bukan kah anda yang menyuruhku untuk terus memperjuangkannya? Bukankah anda yang bersikeras menuntut kami untuk selalu bersama meski takdir berkehendak melawan. Tapi disaat aku tengah memperjuangkannya, anda justru menyuruhku untuk melepaskannya?!"


"Tapi itu jauh sebelum aku tahu, bahwa kau bisa saja mati hanya karena bersama dengan Welliam. Aletha, kau tidak boleh bertindak gegabah."


"Aku tidak bisa, aku hiks..tidak bisa kembali, semua akan baik-baik saja. Aku hanya ingin anda tetap merahasiakan ini, biar aku yang menyelesaikan semua masalahku. Kumohon...hiks."


Ini pertama kalinya Lezzy melihat Aletha menangis, sikap dingin dan acuhnya hilang dalam satu aliran air mata. Seakan dia tersiksa dengan pilihan ini, tapi Lezzy juga tidak bisa membiarkannya.


Bagaimana jika hal itu terjadi, tidak kah Aletha memikirkan kondisi Welliam yang jauh lebih terpuruk hanya karena kepergiannya. Jika mereka berpisah setidaknya tidak akan ada rasa penyesalan hanya karena tidak kemampuan mereka dalam menjaga dan melindungi Matenya sendiri.


"Yang Mulia, aku terlanjur mencintai Welliam. Aku..aku hanya ingin bersamanya, Welliam memberikan semua perasaan asing untukku. Rasa sakit, bahagia, resah, dan kerinduan kepadaku. Jika memang aku harus mati setidaknya biarkan aku tetap bersamanya.."


"Aku tidak bisa, Aletha aku tidak mau melihatmu mati."


"Kalau begitu jangan lihat, jangan dengar, jangan rasakan. Tidak bolehkah aku tetap seperti ini? Tidak bolehkah aku sedikit serakah hanya untuk tetap bersamanya? Kumohon.."


Lezzy dilema dengan keputusannya, ia tidak tahu Aletha bisa merasakan penderitaan hanya karena harus pergi dari sisi Welliam, jadi dia sudah mengakui perasaannya. Apa yang harus dilakukan Lezzy sekarang.


Ia memang ingin Aletha dan Welliam bersama, ia ingin mereka mengakui semua perasaan mereka. Tapi jika hal itu dapat memgorbankan sisi yang lain, tidak kah itu jauh lebih buruk?


Lezzy menghela nafas pasrah "Baiklah, aku akan merahasiakannya. Kita coba cari jalan keluarnya lagi, tapi jika hal ini telah ketawan oleh pihak Imorrtal aku ingin kau kembali ke Bumi. Biarkan kami yang menghadang para Dewa agar tidak menangkapmu."


"Tapi Yang Mulia, bukankah itu jauh lebih buruk? Mereka itu kuat bagaimana hal yang terjadi malah Darkness World yang hancur? Aku tidak mau seperti itu.."


"Aletha, kami pun tidak mau kau mati. Kau membawa kebahagian untuk Putraku, kau adalah bulan untuk Welliam di gelapnya malam. Aku akan mencoba melindungimu juga, karena aku yakin Ibuku pasti memiliki rencananya sendiri."


Harus adakah yang berkorban hanya untuk kebersamaan kami?


"Kembali lah, kau pasti lelah..kita akhiri pembicaraan ini jangan pikirkan apa pun, kau paham Aletha?"


Aletha masih terlihat cemas tapi ia juga sudah pusing memikirkannya, mungkin beristirahat akan sedikit membantunya tenang. Aletha memberi hormat untuk izin undur diri, lalu berjalan keluar dari rumah kaca.


"Kau dengar itu, Fedrick?"


Sekelebat kobaran api hitam membara disebelah Lezzy, menampilkan seorang pria yang tidak lain adalah Fedrick.


Sejak mendapat tatapan dingin dari Istrinya, Fedrick mengikuti Lezzy dan Aletha. Bersembunyi sembari mendengarkan pembicaraan mereka, semua pengakuan mereka begitu membuat Fedrick terkejut.


Mungkin inilah yang dimaksud Dewi Bulan itu, bahwa mereka akan merubah sistem alam ini walau dihadapan mereka ada banyak jurang dijalan yang akan mereka pilih.


Fedrick melihat Istrinya, ia mengerti atas kesedihan mereka karena dulu pun mereka berada disituasi yang sama, meski begitu takdir Putra dan Matenya tak akan semudah seperti kisah mereka.


"Bagaimana tanggapanmu mengenai ini?"


"Lezzy, mungkin inilah jalan takdir mereka. Dengar kau harus mempercayai ini, mereka akan baik-baik saja kita hanya perlu mendukung mereka, karena mereka yang akan merubah sistem kejam itu. Mereka yang akan menyelesaikan semua masalahnya.."


"Aku tidak yakin, apakah ini pilihan tepat merahasiakannya dari Welliam. Tapi jika itu yang terbaik untuknya, maka aku akan diam."


"Kuharap, ada masa depan yang cerah untuk mereka."


--.o☘o.--


Aletha menatap langit biru tak berawan, tatapannya kosong rasanya semua menjadi hampa. Sekarang ia harus bagaimana?


"Cuit..cuit.."


Seekor burung Canaria berwarna biru dan bercahaya terang, terbang memutari Aletha lalu hinggap di pundaknya. Burung ini adalah bentuk Soul Of Life milik Aletha.


"Ini tidak seperti dirimu, apa kau benar-benar sudah menyukai pria itu, Aletha?" Burung itu berkicau tegas di pendengaran Aletha.


"Apa kau percaya hubungan Mate, Carina?"


"Entahlah, kami hanya roh dari spirit kalian. Aku tidak bisa merasakan perasaan apa yang saat ini sedang kau bimbangkan."


"Kukira dengan mengangkat pedang, hidupku tidak akan pernah merasakan hubungan asmara. Itu masih hal yang abstrak untuk ku, tapi entah mengapa hanya dengan mengingatnya saja itu sudah cukup membuatku merindukan sosoknya."


"Jadi apa pilihanmu? Tidak kah ini bisa gawat untukmu?"


Kembali ke Bumi dan menjadi seorang Megumi lagi, apa harus seperti ini? Padahal dulu aku bersikeras melarikan diri darinya, padahal rasanya benci sekali untuk tetap bersamanya.


Aletha tertawa kecil, ia berjalan menelusuri padang rumput menuju ke Kerajaan Lucifer. Aletha juga masih bingung, apakah dia harus bertahan atau sebaiknya berhenti. Perasaan ini sunghuh merepotkannya, meski benci untuk mengakuinya tapi di memang sudah terlanjur menyukainya.


"Aletha.."


Aletha melihat pemilik suara itu, baru saja dia tengah memikirkannya tapi sebuah keajaiban, bahwah saat ini dia sedang berdiri beberapa langkah darinya. Melihat wajahnya semakin membuat Aletha sakit, pergi darinya dan melupakan sosoknya yang sudah menjadi bagian dari hidup Aletha.


Kini aku paham kenapa Lucy tetap bertahan, meski tahu bahwa harapan pada hubungannya hanya ada jalan perpisahan. Dia hanya tidak bisa pergi dari seseorang yang sudah menjadi hal berharga untuknya. Jadi aku sama bodohnya dengan Lucy yang mulai terbuai oleh cinta?


Aletha melangkah pelan kearah Welliam dan saat dia sudah semakin dekat Aletha mempercepat jalannya lalu memeluk hangat Welliam.


Welliam nampak kebingungan ini tidak seperti Aletha, apa yang terjadi padanya sehingga dia berinisiatif untuk memeluknya terlebih dahulu.


"Kau baik-baik saja?"


Aletha mengangguk pelan "Hm, Welliam, boleh aku bertanya?"


"Ucapanmu itu saja sudah menjadi sebuah pertannyaan untuk ku."


"Aku sedang serius." Ucap Aletha sembari melepaskan pelukannya dan melihat Welliam dengan tatapan kesal.


"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?"


Aletha diam, ia masih ragu untuk mengatakannya. Angin menyelimuti kedua insan yang masih dalam diam menunggu ada yang berbicara dari salah satu diantara mereka.


Welliam menghela nafas, Aletha siuah diam selama 10 detik tapi masih tidak bertannya. "Kita kembali saja, kau pasti lelah. Jika ada yang ingin dikatakan nanti saja setelah kau beristirahat."


Welliam menggenggam tangan wanitanya sembari mengajaknya berjalan kembali ke Kerajaan.


"Welliam, seandainya jika kau mendengar kabar bahwa aku pergi darimu atau jika aku mati, apa yang akan kau lakukan?"


Welliam berhenti lalu menatap Aletha penuh menyelidiki, pertannyaan Aletha sungguh membuat Welliam tidak suka mendengarnya.


"Apa ada seseorang yang mengancammu?"


"Ini hanya seandainya, mungkin bisa saja aku kembali mencoba pergi darimu da--"


"Itu tidak akan terjadi! Kau tidak akan bisa pergi dariku, jika kau berhasil lolos aku pun akan menangkapmu dan membawamu kembali kesisiku."


"Bagaima, jika aku ma--"


"Meski kau mati sekalipun, aku tetap tidak akan mengizinkanmu untuk pergi dariku! Bila hal itu terjadi aku juga akan tetap membawamu kembali walau hanya jasadmu saja!!"


Aletha menundukan kepalanya, "Bagaimana jika para Dewa Alam yang membawaku pergi? Bukankah kita Makhluk yang berbeda?"


"Aku hanya perlu memutuskan kepala mereka saja, kan? Lagipula itu tidak akan terjadi karena kau Mate ku tidak perduli siapa dirimu. Bahkan Dewa pun tidak berhak memisahkan kita! Aletha aku tidak tahu apa yang ingin kau katakan, tapi satu hal yang harus kau percaya, aku tidak akan pernah melepaskanmu meski harus melawan kehendak para Dewa Alam. Bila perlu aku ingin menghancurkan sistem kejam mereka!"


Aletha mengangkat kepalanya, ia diam terpukau dengan ucapan Welliam, meski terdengar terlalu narsis tapi setidaknya itu sudah cukup menenangkan hati Aletha yang sedang bimbang.


"Kuharap kau menepati kata-katamu, Welliam."


Mereka saling tersenyum penuh kelegaan, mulai hari ini tidak akan ada kata penolakan dan keraguan dihati mereka. Apa pun yang terjadi biarkan mereka tetap bersama.


Aletha melepas kalung crystal birunya, lalu memberikannya kepada Welliam.


"Kau ingin aku memiliki ini? Bukankah kalung ini berharga untukmu?"


"Justru karena berharga. Aku hanya ingin kau yang menjaganya, karena kau juga tidak kalah pentingnya dengan kalung itu. Mungkin saat ini masih banyak rahasia yang belum bisa kukatan. Tapi, bila saatnya tiba akan kuambil kembali kalung itu darimu dan akan kuceritakan semua tentangku kepadamu, Welliam."


Welliam tersenyum smrik sembari meraih dan memakai kalung milik Aletha. "Akan kutunggu kisah menarikmu, sayang.." Welliam memberikan kecupan singkat pada kening Aletha.


Mereka kembali berjalan bersama dengan beberapa percakapan ringan di waktu senja, membiarkan matahari perlahan bersembunyi malu dengan memamparkan cahaya jingganya.


Tring..


Aletha menolah kebelakang saat ia merasakan kehadiran Soul Of Life milik sang Dewi Bulan.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa, sebaiknya kita segera kembali, aku sudah cukup lelah."


"Baiklah aku juga sudah lelah, dan kebetulan saat ini aku punya banyak waktu luang."


"Lalu?"


"Mau kutemani malam ini?"


"Tidak! Jangan coba-coba kau berani memasuki kamarku, malam ini!"


"Ck, jangan khawatir aku tidak akan melakukan sesuatu kepadamu."


"Justru karena tidak ada apa-apanya, aku semakin takut dengan apa yang terjadi nanti."


"Cih!"


Welliam melirik kesal sembari berjalan lebih cepat, sedangkan Aletha tertawa kecil kemudian kembali menoleh kebelakang, melihat rusa putih dengan sekelebat cahaya gemilang.


"Ini jawabanku, untuk pertanyaanmu diwaktu itu Dewi Seleni Thea. Bahwa aku akan mencoba merubahnya sesuai dengan permintaanmu."


Aletha tersenyum lalu berlari kecil untuk mengimbangi langkah Welliam. Aletha juga tidak akan membiarkan mereka menyakiti orang-orang terdekatnya, lagipula ada beberapa yang ingin Aletha cari tahu tentang hal mengganjal antara Darkness World dan Imorrtal.


--.o🍁o.--