
Di langit biru yang membentang luas, angin membantu awan putih menutupi beberapa wilayah dari teriknya matahari. Hari ini suasana Darkness World jauh lebih cerah dan begitu sangat indah.
Namun, ditengah angkasa yang begitu menenangkan, hadir sebuah pola sihir. Seorang wanita cantik keluar dari lingkaran sihir portal, dia melayang dengan sangat menawan mencoba mengimbangi dirinya dengan grafitasi di dunia itu.
Kedua matanya yang bergemilang cahaya, menatap penuh arti pada sebuah kerajaan yang menjadi jantung Darkness World. Dia tersenyum dengan wajah penuh seri.
"Sudah waktunya untuk bertemu denganmu lagi, Kakak."
--.o☘o.--
*Aula Singgasana Lord.
Meski hari ini begitu sangat cerah, tapi sepertinya, tugasnya sebagai Lord tidak mengizinkan Welliam untuk beristirahat walau cuman beberapa saat.
Mulai dari pagi buta dia sudah disibukkan dengan berbagai berkas yang perlu dia selesaikan, bahkan ia sempat melewatkan sarapan bersama kekasih tersayangnya.
Dengan sangat lelah Welliam melepas Jass-nya sebagai seorang Lord kesembarang arah, lalu membuka kancing pada lapisan kedua dari setelan jass kecilnya.
Bahkan sangking gerahnya dia sampai mengacak-acak sedikit rambut hitamnya, membuat Welliam terlihat begitu kelewat tampan.
Dia duduk disinggasananya, hari ini begitu sangat melelahkan. Baru saja dia selesai rapat mengenai susunan ulang bangsawan yang mengatur wilayah, karena pemimpin wilayah terdahulu telah ia habisi akibat menjadi sekutu Carlitos.
Bahkan habis ini saja dia masih harus rapat lagi, mengenai peraturan otonomi wilayah yang terserang oleh Carlitos. Tidak heran jika Ayahnya sering mengeluh, mengenai peran palsunya untuk menggantikannya.
Jujur dia lebih suka turun kelapangan dari pada membereskannya lewat rapat atau beberapa berkas keluhan.
Sembari menyandarkan diri, Welliam memijat pelan kepalanya.
"Salam Paduka Lord, ada pesan dari para Assasin." Ucap Loise datang memberi laporan.
"Para Assasin telah melaksanakan perintah anda untuk bergerak ke wilayah musuh. Sekiranya, disana masih belum ada pergerakan dari musuh yang mencoba melawan." Lanjutnya.
"Hn. Terus lanjutkan sesuai dengan rencana."
"Baik, Paduka."
"Apa ada laporan dari pasukan Briant?"
"Sampai saat ini, situasi yang dilaporkan dari wilayah Neptun masih dalam status aman Lord." Jawab Alberd, yang sejak pagi selalu bersama Welliam.
Tidak hanya menyandang ketua Tetua, tapi Alberd juga menjadi Beta kepercayaan Lord dari generasi Fedrick hingga ke Welliam. Sehingga perannya akan begitu sangat penting disisi Lord.
Ditengah kesibukan dan rasa letihnya, tiba-tiba saja perasaan rindu dengan sang Istri menyeruak kedalam pikiran Welliam. Bisa-bisanya dia ingin cepat bertemu dengannya, meski masih banyak urusan yang harus dia selesaikan.
Setelah menimbang dalam keheningan, akhirnya Welliam putuskan untuk bertemu Aletha. Dia berdiri sembari menggerakan tangannya, membuat Jass yang dia lempar tadi dengan sendirinya kembali ketangan Welliam.
"Alberd, undurkan satu jam untuk rapatku nanti." Ucap Welliam berjalan sembari mengenakan jass-nya kembali.
"Ba--apa? Paduka, anda ingin menunda jadwal rapatnya?"
"Hn."
"Maaf Yang Mulia, sepertinya tidak bisa."
Welliam berhenti berjalan, dia menatap Alberd. Sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah tenang, seolah tatapan ketidak sukaan Welliam tidak terlalu menekan batinnya.
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena jadwal anda akan penuh dalan tiga hari kedepan, bila salah satunya diberhentikan, itu akan menghambat untuk jadwal yang lainnya." Jelas Alberd dengan sangat tegas.
"Kau ingin mengaturku?"
"Hamba tidak akan berani, Lord. Tapi, pekerjaan adalah yang paling terpenting saat ini."
"Apa kau tidak takut aku membunuhmu? Bicaramu begitu sangat percaya dirinya."
"Maaf bila saya lancang, tapi selama hidup saya. Saya sudah sering diancam seperti itu oleh Lord Besar, hingga saat ini pun saya masih hidup. Jadi, saya berani jamin anda tidak akan membunuh saya."
Loise diam terpukau dengan gertakan kecil Alberd, untuk membuat Demon buas ini menyelesaikan tugas kepemimpinan yang kelewat menumpuk.
"Ck."
Welliam tidak mampu melawan, karena dia masih membutuhkan sosok Alberd, dalam mengatur dan menjalankan semua peraturan yang mampu menyimbangi otonomi suatu wilayah bangsa.
Pantas saja dulu Ayahnya jarang menghabiskan waktu bersama dia dan Lucy, mungkin ini salah satu alasannya. Bahwa Alberd mampu menekan sosok Lord dalam urusan pekerjaan.
Dan Welliam berani jamin, Alberd selalu mengawasi Fedrick agar tidak beranjak sedikit pun dari kursi kerjanya. Entah mengapa, Welliam jadi sedikit merindukan Briant.
Karena setidaknya, walau dia cerewet tapi dia mampu ditaklukan, dari pada Alberd yang jarang bicara namun sulit ditunduki.
"Tidak heran, kalau mantan calon Alpha Moon Light Pack, yang begitu disanjungkan memiliki sifat tegas dan berwibawa. Kau, terlalu menjiwai peranmu sebagai Beta Agung, Alberd."
" Saya ucapkan terimakaish, atas sanjungan anda, Yang Mulia. Sudah jadi tugas saya, untuk mengawasi pekerjaan Lord."
Sepertinya, sindirian kecil Welliam tidak akan berpengaruh bagi Alberd. Justru dia malah tersenyum dengan sangat bangga.
"Cih! Tapi setidaknya aku masih mekiliki waktu bukan?"
"Benar, anda memiliki waktu istirahat sebanyak 10 menit."
Welliam berwajah masam, "Alberd, apa memuritmu 10 menit termasuk banyak?"
"Sangat banyak, Yang Mulia. Ah! Bahkan sekarang telah berkurang 5 menit. Sebaiknya kita segera pergi keruang rapat, Baginda."
"Kau--"
"Salam hormat untuk anda, Paduka Lord." Ucap salah satu penjaga kerajaan, menghadap Welliam.
"Ada apa?"
"Paduka, diluar ada seorang wanita yang terus bersikeras ingin bertemu dengan Queen Althenia."
"Siapa dia?"
"Kami tidak dapat mengenalinya, Yang Mulia."
"Kalau tidak dapat mengenalinya, usir dia keluar!"
"Ta-tapi, wanita itu bilang. Bila dia diusir, dia tidak akan sempat menolong Queen, Paduka."
Welliam menaikan sebelah alisnya, siapa sebenarnya wanita ini? Apa dia sudah bosan hidup! Awas saja, kalau ucapannya hanya sehuah omong kosong. Welliam pasti tidak akan membiarkannya hidup.
"Dimana dia?!"
--.o☘o.--
Disisi Lain.
Aletha dan Lezzy tengah merangkai beberapa bunga mawar yang baru saja diambil dari taman belakang, dan menyusunnya satu demi satu kedalam vas bunga, untuk dibawa ke ruang keluarga Lorddark's di Castle Utama.
Lezzy melihat bingung kearah Aletha, sepertinya dia tidak terlalu bisa dalam merangkai warna bunga.
Sehingga karangan bunganya terlihat begitu ramai dengan warna, dan terlalu berantakan. Lezzy membantu Aletha untuk merubah sedikit dari mahakarya amburadulnya.
"Baik, semua sudah tersusun rapih." Lirih Lezzy.
"Apa Ibunda suri, sangat menyukai hal seperti ini?"
"Tentu saja, setidaknya Kerajaan ini tidak terlalu suram bila kita meletakan beberapa bunga ditiap ruangan. Kau juga harus lebih sering mempelajari ini, Aletha."
Sepertinya akan begitu rumit, melihat dari rangkaian Ratu Alicia pasti akan ada banyak tehnik yang perlu kupelajari-,
"Kenapa, kau bosan dengan merangkai bunga? Apa sebaiknya kita menyulam saja?"
"Ah! Ibunda suri, sebaiknya kita ambil beberapa bunga di Castle Violence saja. Disana ada taman bunga indah.."
Aletha cepat-cepat mengalihkan pembicaraan dari menyulam. Bisa gawat, bila jemarinya kembali tertusuk jarum. Sedangkan Lezzy tertawa, dia tahu kalau Aletha tidak suka menyulam.
"Baiklah, kita kesana setelah meletakan ini di ruang keluarga "
"Iya, Ibunda."
Segera mereka beranjak menuju Castle utama, dengan Ariel dan Auriel yang membantu membawa dua vas kaca, yang baru saja mereka hias dengan bunga.
Sepanjang perjalanan ada begitu banyak topik pembicaraan yang mereka bahas, sehingga perjalanan menuju Castle utama menjadi terasa singkat.
Tinggal menuruni anak tangga yang menghubungkan dengan lantai untuk menuju tangga ke Castle utama. Perlahan, mereka menurini tiap tangga dengan Aletha yang menuntun turun, sang Ratu Besar agar tidak jatuh.
"Aku bilang, katakan!!"
Dengan cepat Lezzy dan Aletha menoleh kesumber suara. Suara lantang dengan penuh tekanan memerintah, begitu sangat menarik perhatian disana.
Dilantai dasar pintu utama, Welliam berdiri dengan aura murka yang begitu besar. Disebelahnya terdapat Alberd, Loise, dan beberapa pelayan penjaga.
Mereka berdua saling berpandangan saat melihat seseorang yang mengenakan jubah oren, bercorak bunga yang dirajut menggunakan sutra hitam berlapis emas.
Dilihat dari posturnya sudah bisa ditebak, kalau dia adalah seorang perepuan. Dan sepertinya, karena wanita itu juga yang menjadi alasan Welliam berteriak marah.
.
.
Welliam menatap tajam kearah wanita asing ini, sosoknya tidak dapat Welliam kenali, dari ras apa dia? Tapi, satu keyakinan dia memiliki aura yang begitu persis seperti Aletha.
Hanya saja Welliam kelewat marah, karena sejak tadi wanita itu terus bungkan. wanita itu selalu bilang,
' Aku hanya punya urusan dengan Aletha. Kau tidak perlu tahu apa yang ingin kusampaikan kepadanya. '
Terus berulang ulang, sampai Welliam muak mendengarnya. Sombong sekali wanita ini, apa sebaiknya Welliam menyeretnya ke ruang bawah tanah, agar dia mau membuka mulutnya?
Sepertinya itu ide yang bagus!
"Ini terakhir kalinya, aku bertanya. Siapa kau? Dan pesan apa yang ingin kaunsampaikan kepada Aletha, jika itu mengenai keselamatannya aku berhak tahu. Jika tidak, kuharap kau tidak menyesal!"
"Jadi kau ingin membunuhku? Kurasa bukan aku yang akan mati, tapi kau Demon. Dengar, aku sudah bilang ini urusanku dengan Aletha bukan denganmu jadi menyingkirlah!"
Semua yang mendengar itu begitu terkejut. Bagaimana bisa wanita ini menyinggung seorang Lord, apa dia tidak takut mati tersiksa ditangan Welliam?
"Berani sekali bicaramu! Bawa dia pergi dari sini, dan masukan dia kepenjara bawah tanah!"
"Aku tidak akan pergi sebelum memastikan, bahwa dia benar Aletha!"
"Memangnya kau siapa, hingga punya hak untuk bertemu dengannya?!"
"Aku punya hak, lebih berhak daripada dirimu! Karena aku ada---"
"Welliam, ada apa ini?" Lezzy angkat bicara, saat menghampiri mereka.
Mereka semua menatap kearah Lezzy bahkan Aletha pun ada disana. Gawat, bagaimana jika wanita jahan*m ini mekukainya? Fikir Welliam sembari menatap tajam melihat situasi sekarang.
"Ini sungguh dirimu?" Wanita itu berlari menuju kearah Aletha.
Karena tidak memperhatikannya, dia jadi kecolongan saat wanita itu berhasil melewatinya. Pergerakan wanita itu sangat gesit, sehingga dia mampu dengan mudah menerjang Aletha.
"Queen hati-hati!!"
"Aletha!"
Aletha yang tidak mengerti hanya dapat menatap diam, saat wanita berjubah oren hitam itu berlari kearahnya seolah ingin menyerangnya.
"Akhirnya, aku menemukanmu....."
Wanita itu menyambut hangat, dia memeluk rindu Aletha. Mendekap erat raga Aletha yang sudah lama tidak ia temui.
"..Kakak,"
Suara ini, dekapan ini, aroma dan sikapnya, membuat Aletha bernostalgia dengans satu-satunyabkeluarga yang ia miliki. Sudah begitu lama dia tidak melihatnya, ia kira dia tidak akan pernah memiliki kesempatam untuk melihatnya lagi.
"Aku merindukanmu selama ini, jadi berita itu benar. Ini bukan mimpi, kan? Ini sungguh dirimu Kakak hiks.." Lirihnya sembari melepas pelukan mereka.
"Kau.."
"Beraninya kau menyentuh Istriku! Akan kuhabisi kau!" Welliam meraih pedang milik Loise.
"Tunggu, jangan sakiti dia Welliam!"
Aletha menghadang Welliam yang ingin menyerang wanita itu, dia berdiri tepat dihadapannya dengan ujung pedang nyaris mengenai leher Aletha.
Untungnya pergerakan Welliam dapat ia kendalikan sehingga ia tidak melukai Matenya. Tapi apa yang dikalukan Aletha?
"Menyingkir Aletha."
"Welliam tenangkan dirimu dulu, ak--"
"Apa kau mengenalnya?"
"Aku mengenalnya, akan kujelaskan setelah kau mau menenangkan dirimu." Bujuk Aletha.
Welliam memikirkan lagi, seprtinya dia harus berbicara dengan kepala dingin, lagi pula ada banyak pelayan dan penjaga yang melihat.
Dia menurunkan pedangnya dan mencoba menuruti keinginan sang Istri. Tapi tetap saja Welliam tidak bisa menghilangkan tatapan kecurigaan dari wanita itu.
"Sebaiknya kita pindah ruangan untuk membahasnya."
Fedrick angkat bicara. Entah sejak kapan dia sudah berdiri disebelah Lezzy, melihat kehadiran Lord besar membuat semua pelayan dan penjaga kembali melanjutkan kegiatan mereka, yang sempat tertunda.
--.o🍁o.--