The Queen of Different World

The Queen of Different World
Instructions; Lorddark's Zone Area



*Lucifer Kingdom.


~Kamar Aletha.


Aletha duduk menghadap cermin yang ada di meja riasnya. Seharian ini Aletha terus-terusan kepikiran dengan ucapan sang Ratu besar. Semakin lama dia di Darkness World, semua semakin membingungkan petunjuk yang silih bergati terus memenuhi pikirannya, padahal masa lalunya saja sudah sangat merepotkan dan kini malah muncul hal yang mengejutkan.


Tok..Tok..Tok..


Cuit..cuit..


Aletha mengalihkan perhatiannya kearah jendela kamarnya, ia melihat seekor burung pembawa pesan yang kini sedang mematuki kaca jendela.


Aletha meletakan sisir yang merapikan rambutnya, lalu berjalan dan membuka jendela.


"Hari ini kau disuruh mengantarkan pesan lagi ya?"


Aletha mengelus lembut burung Greo. Dia tipe burung penghantar pesan yang di kendalikan oleh tuannya. Sudah 5 hari Welliam belum kembali dan selama itu juga Welliam selalu rajin mengirimi Aletha surat lewat burung Greo nya, sepertinya Welliam selalu memperhatikan gadisnya meski sedang sibuk.


___🌾___


Para Assasinku melaporkan. Bahwa, Adik ku Lucy sering menemuimu.


Apa dia menyusahkanmu?


Meski dia cerewet tapi Lucy anak yang baik.


Maaf sepertinya untuk saat ini, aku masih belum bisa kembali.


___🌾___


Aletha tertawa kecil membaca sepucuk surat dari sang Pangeran Iblis. Entah mengapa meski hanya sebuah surat yang tiba, itu sudah cukup membuat rasa khawatir dan kecemasan Aletha pada pikirannya hilang. Perasaannya juga jauh lebih tenang.


Tanpa sadar Aletha tersenyum tipis. Aletha mengambil pena sihir yang ada di kamarnya lalu membalas surat Welliam.


"Kuharap kau datang lagi."


Burung itu terbang melayang dengan sangat ringan di tengah dinginnya angin malam. Kalau ditanya mengenai perasaannya kepada Welliam maka sudah pasti Aletha akan menolaknya, tapi waktu akan terus berputar dimana setiap deru nafasnya yang mengalun pelan dan tiap detakan jantungnya, akan merubah segalanya hanya karena hati dan jiwa yang merindukan seseorang.


Mungkin saat ini dia masih belum menyadarinya, bahwa seorang Aletha Wisteria. Mulai menempatkan nama Welliam dalam hatinya, sesuai dengan rencana takdir yang mencoba mengikat mereka dengan hubungan Soulmate.


"Sebaiknya aku mengganti pakaian dengan gaun tidur, sebelum pelayan datang."


Aletha menutup jendela lalu membalikan badan.


Brak!


Wush...


SRAK...SRAK...SRAK!!


Jendela yang ada dibelakang Aletha tiba-tiba saja terbuka secara paksa, membiarkan angin malam menerobos masuk dengan sangat kuat, membuat buku dongeng yang diberikan Welliam kepada Aletha terbuka dan berhenti di salah satu bab.


Aletha nampak terkejut dengan kajadian barusan, ia berjalan menuju buku itu. Karena setiap hari tidak ada kegiatan lain, maka setiap waktunya Aletha habiskan dengan membaca buku itu.


Persis yang dikatakan Welliam buku itu memang menarik dan sangat bagus. Hanya saja ada beberapa Karakter yang menjadi tokoh di buku itu, selalu membuat Aletha penasaran. Mungkin ini yang dimaksud Welliam, mengenai alasan dibalik penulis membuat cerita tersebut.


Akibat desiran angin yang cukup kuat membuat buku itu kini terbuka dan menampilkan halaman secara acak. Halaman yang terbuka saat ini adalah bab 43 yang berjudul ' •Book Darkness World• '


Tulisan tiap paragraf di bab tersebut bersinar lalu perlahan mulai berubah. Ada beberapa kata yang hurupnya di kapitalkan dengan sangat besar, seolah itu seperti sebuah sandi.


Saat Aletha telah memahami ada yang berubah, buku itu bergerak kehalaman yang lain dengan sendirinya. Berhenti tepat di bab 44 berjudul ' •Who Is Rechard Melwar• '


Aletha nampak berfikir. Sejak awal Aletha memang sudah curiga, seperti pada kata : Dewa Pembawa Bencana, Tiga Crystal Pelindung Dunia Kegelapan, dan yang paling membuatnya penasaran adalah kalimat Dewi Bulan, Vasilissa dan Pedang Kematian yang memiliki permata bagaikan biji buah delima.


Tokoh peran utama yang bernama Pricilia dan Lord, juga sepertinya ada maksud lain. Seolah kisah di buku itu adalah kisah nyata.


Jika kata Dewi Bulan dan Vasilissa yang dimaksud cerita itu adalah sosok yang sama seperti yang dipikirkan Aletha, maka sudah pasti ada yang tidak beres dengan cerita ini.


Lalu bagaimana dengan perubahan kata yang barusan saja terjadi pada dua bab di buku ini. Tunggu, buku ini ingin memberikan petunjuk pada Aletha.


Aletha mengambil kertas dan pena sihir, lalu menulis kalimat-kalimat aneh yang ada di dua bab tersebut.


-----☘


L ily


the O


R atu


D arkness


D ejavu


ter A singkan


kepe R gian


K ingdom 'S


Z ainthor


b O ok


huta N


que E n


-----☘


Dan saat hurup besar disatukan menjadi kalimat, yang terjadi adalah tulisan.


"Lorddark's zone."


"Lady, maaf saya datang terlambat."


Aletha menutup dan mencoret tulisan pada kata Lorddark's Zone dengan cepat, setelah menyadari kedatangan pelayan yang menggantikan Fivian untuk sementara.


"Lady, mohon maaf. Tapi sekarang sudah hampir jam malam. Kenapa Lady masih belum mengganti gaun anda?"


"Aku.., sedang menikmati suasan malam di Lucifer Kingdom."


"Tempat ini memang sangat indah saat malam, Lady. Em.. maaf Lady, saya akan membantu menyisirkan rambut anda sebelum tidur."


Aletha duduk dengan tenang membiarkan pelayan itu menyisir rambutnya, setelah dia mengganti pakaiannya.


Meski tadi dia sudah menyisir rambut tapi yang namanya Nona besar, Aletha juga masih sering susah melakukannya sendiri.


"Warna rambut silver Lady, semakin lama semakin bertambah banyak. Apa benar Lady mewarnainya terus?"


Meski sudah lima hari melayani Aletha, tapi Pelayan ini masih belum bisa menyesuaikan suasana dingin dari Aletha. Padahal ia sering lihat Fivian dan Putri Lucy berbicara santai bersama Lady nya.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu."


"Pertannyaan apa itu Lady?"


Ujar pelayan tadi sembari menunduk dan menghentikan aksinya dalam menyisir rambut Aletha.


"Apa kau tahu sesuatu tentang Lorddark's Zone?"


"Da-darimana Lady mengetahui itu?"


"Saat datang kemari, banyak prajurit yang membahas itu. Sepertinya kau mengetahui sesuatu?"


"Lady, tempat itu memang ada. Tepatnya berada di belakang Kerajaan, ingatlah ini Lady anda tidak boleh berkeliaran disekitaran daerah itu."


"Kenapa?"


"Tempat itu adalah altar suci di Lucifer Kingdom, hanya diperuntukan untuk anggota keluarga Kerajaan saja. Meski begitu tempat itu tidak bisa dimasuki setiap saat, karena gerbang akan dibuka setiap satu abad sekali. Saya dengar juga, beberapa minggu ini ada penyusup yang mencoba memasuki wilayah itu, tapi beredar kabar juga mereka semua langsung dihabisi oleh Yang Mulia Welliam."


Welliam menghabisi mereka? Apa ini ada kaitannya dengan kejadian penyusup yang berhasil memasuki Castle Welliam, seperti yang dikatakan Lucy?


"Saya masih belum tahu apa pun mengenai daerah dibalik gerbang itu, karena memang tidak ada pelayan yang boleh memasukinya. Jadi Lady juga jangan pergi kesana, tapi sebentar lagikan Lady akan menjadi bagian keluarga Kerajaan pasti tidak masalah. Oleh karena itu tunggulah sampai waktunya tiba saja, Lady."


"Aku mengerti, kita sudahi saja pembicaraan ini lagian aku juga tidak tertarik. Terimakasih sudah membantuku, aku mau langsung tidur."


Pelayan itu memberi salam lalu pergi meninggalkan kamar Aletha. Menyadari bahwa sudah tidak ada siapa-siapa lagi, Aletha bangun dari tidur pura-puranya.


Kembali Aletha melihat buku itu dan semua telah kembali menjadi semula, huruf-huruf aneh itu telah hilang seolah tidak ada yang terjadi.


Jika dilarang hal itu malah semakin membuatnya penasaran, lagian tempat itu juga yang dimaksud buku ini. Lorddarks Zone sepertinya menyimpan jawaban yang ingin Aletha ketahui, siapa tahu juga hal itu ada kaitannya dengan masa lalunya.


Tapi jika dia pergi dengan kondisi seperti ini sudah pasti dia tidak akan bisa memasukinya, tidak ada cara lain selain menggunakan itu. Lagi pula saat ini Welliam sedang tidak ada, hanya sebentar saja ia melakukannya untuk memastikan sesuatu dari tempat itu.


Aletha mengambil pita merahnya yang ada di meja rias lalu menguncir satu rambutnya.


"Ashfier.."


Tubuh Aletha di selimuti oleh cahaya sihir biru, dan secara perlahan gaun tidur Aletha berubah dengan pakaian yang lebih mini, agar mempermudahnya dalam bergerak. Tidak lupa dengan jubah dan tudung hitam yang menutupi sosoknya.


Aletha membuka jendela kamar ia melihat pintu dan keadaan diluar, sepertinya aman. Dengan gerakan cepat, Aletha melompat kebawah lalu berpijak pada atap Kerajaan dan dalam sekali hentakan kuat, Aletha melompat dengan sangat tinggi kemudian berdiri dengan sangat menawan diatas menara yang ada di Lucifer Kingdom.


Jubahnya berkibar akibat ulah angin, ia menatap tajam pada kondisi Kerajaan ini. Sungguh sangat tenang dan penjagaannya juga cukup ketat. Untungnya Aletha melapisi diri dengan sihir tak terlihat.


Jika saat itu Welliam bertanya, apa Aletha bukan seorang Manusia? Maka ingin sekali Aletha menjawabnya dengan kata 'Iya'. Tapi itu tidak bisa, mengingat dia masih terikat perjanjian untuk tidak memberi tahu jati dirinya kepada siapa pun.


Malam hadir ditengah aksi Aletha, beberapa bintang berkelap-kelip dengan sangat indah, angin pun turut serta dalam tindakannya. Aletha melihat bulan yang tengah membulat dengan sangat sempurna di langit malam, cahayanya yang begitu terang membuat Aletha kian menatap tajam.


"Jika kau melihat aksiku hari ini, kuharap kau tidak mengatakannya kepada Beliau, Luna Azzerca."


Ucap Aletha kepada bulan yang masih bercahaya terang. Perlahan awan hitam bergerak menutupi sang bulan, seolah To Fos tou Fengariou menjadi saksi bisu dan mencoba menutup mata dengan apa yang ia lihat.


Ini aneh, saat dia bersama dengan Welliam seluruh kekuatannya seolah terkunci hingga membuatnya sedikit lemas, sedangkan saat dia jauh darinya kekuatan Aletha kembali seperti semula meski hanya 5%. Karena sisanya ia sendiri yang menyegel kekuatannya, agar pihak lawan tidak dapat menemukannya lewat indra pelacak Manna.


--.o☘o.--


Para penjaga berdiri dengan sangat sigap di depan gerbang Lorddark's Zone. Aletha yang mengawasi dari balik pilar di ujung lorong Kerajaan, mencoba mengawasi keadaan lalu saat semua keadaan sudah aman.


Aletha bergerak cepat kemudian melompat dengan sangat lincah, tangan kanannya memegang lima jarum sihir yang bersiap menyerang para penjaga disana.


Stup..stup..stup...


Draph!


Ke lima penjaga itu tumbang setelah mendapat serangan dari Aletha. Tenang hal itu tidak akan membunuh mereka, tapi hanya sedikit memberikan efek kejutan seperti sengatan listrik, yang mampu melumpuhkan sarap otot.


Aletha berjalan mendekati gerbang. Namun sayang, gerbang itu di penuhi sihir-sihir kuat. Aletha juga akan sedikit kesusahan untuk bisa membatalkan setiap rangkaian pola sihirnya, karena sepertinya sihir ini adalah sihir generasi turunan.


Ia menghela nafas "Sepertinya aku buang-buang waktu, mungkin saja ada sedikit kesalahan pada buku dongeng itu. Lebih baik aku kembali saja..."


Tcring!


Krieet....


Tap.


Aletha berhenti melangkah, saat mendengar suara aneh dari arah belakangnya. Ia berbalik dan tepat saat itu juga, Aletha melihat pintu gerbang itu sudah terbuka.


Apa? Apa sebenarnya tempat ini memang sudah menunggunya? Tanpa pikir panjang, ia berjalan memasuki daerah terlarang itu. Tidak ada hal yang membuat Aletha tertarik, semua yang ia lihat hanya hutan belantara yang sangat pengap dan gelap.


Tring...


Tring...


Tring...


Aletha diam membisu, tubuhnya membeku saat melihat sesuatu hal yang sudah lama tidak dia lihat lagi. Yah itu adalah seekor Rusa putih yang bercahaya terang di tengah gelapnya hutan.



"Bukankah, Rusa itu milik Sou---ah! Tunggu.."


Rusa itu berlari kedalam daerah lebih jauh lagi, tidak bisa Aletha harus mengikuti Rusa itu. Pergerakan Rusa itu cukup baik dalam berlari, meski sedikit susah tapi Aletha masih terus mengejar.


Hingga Rusa itu berhenti mendadak dan melihat Aletha, saat itu juga Aletha tidak sadar bahwa sudah tidak ada lagi pijakan yang bisa ia tapaki. Ia tidak tahu bahwa ada jurang dibawahnya, dan yang terjadi Aletha terjatuh kejurang begitu saja.


"He?"


Sring...


Brukh!!


"Akh!"


Aletha jatuh dengan sedikit keras. Sepertinya kakinya terkilir lagi, harusnya dia memperhatikan lingkungannya juga.


Ini aneh, bukankah seharusnya Aletha jatuh ke dasar jurang. Tapi kenapa sekarang dia ada di sebuah ruangan seperti aula? Gedung berbentuk lingkaran dengan dinding yang sudah sedikit berlumut, tempat ini juga sedikit lembab.


Hingga mata birunya menangkap sesuatu yang nampak tidak asing baginya. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah kotak persegi panjang, ada sebuah pedang hitam yang sudah patah dan diletakan dengan rapih dikotak itu. Lengkap dengan salah satu Crystal yang melindungi Dunia Darkness World, Crystal Ekdikisi Tanatho.


"Ini.., bagaimana bisa pedang ini ada di tempat ini? Bukan kah Pedang ini harusnya ada di Dun---"


"Siapa kau? Beraninya kau memasuki wilayah terlarangku!"


--.o🍁o.--