
⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ꕤ꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷ .🍁. ꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷ ͝͝ ꒷ ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ꕤ
Can I Have A Room In Your Heart.
Summarizing This Unrequited Love
──────────── · · · · · ✦
.
Aku berusaha sebisa mungkin mencarinya. ditengah kerumunan dimana hutan pada pesisir Agra ini ikut terseret dalam peperangan yang telah memakan ribuan nyawa.
Disela aku sedang mencari Kak Aletha, aku juga berusaha mengamati dan mencari dia. Aku hanya ingin memastikan bahwa apa yang kulihat waktu itu adalah sebuah kesalahan.
Harlie, selama ini, aku masih terus-terusan bersikap bodoh! menutup telinga dan mataku dengan semua perilakumu terhadapku selama ini.
Aku tahu ini bodoh dan---kenapa aku masih ingin bertahan? percayalah, ada sebagian orang yang menatapku sangat berpikiran dangkal. Tapi, kalian bukan seseorang yang berada di posisiku! sebuah perasaan cinta akan menimbulkan ribuan rantai yang akan mengekang pikiran.
Kau hanya punya satu harapan pada dia yang sangat kau sukai, berharap perasaan ini akan terbalas sesuai keinginan hati. Tapi sayang, lagi-lagi aku harus dikecewakan pada keadaan yang menggores pilu.
"Aauuuu....."
Dua serigala coklat dari pihak Carlitos tiba-tiba saja menghadang Lucy dan Molie. Meski dia berniat menghindar dari area peperangan, tapi sepertinya hutan ini juga tidak akan membiarkan Lucy selamat begitu saja.
Mau tidak mau, dia juga harus dengan berani menodai tangan gemulainya dengan darah. Meski ia tidak pernah di izinkan memyentuh darah kotor dari para musuh, tetap saja Lucy masih punya jiwa seorang petarung.
Dan sepertinya Carlitos membagi pasukannya dan bersembunyi di hutan. Lucy yang berada di atas Molie, mencoba tidak turun dan hanya menyerang mereka dari posisinya.
Siluet cahaya hijau mengelilingi dua Warewolf itu, memghadirkan tanaman belukar dari hutan sekitar untuk mencoba melilit mereka. Tepat disaat mereka tidak dapat bergerak, Molie langsung mencakar mereka hingga meninggalkan bekas luka fatal, sehingga kedua Warewolf itu mati menggantung.
"Tuan Michael!"
Lucy tertegun sejenak saat mendengar suara gema datang dari arah timur hutan Agra. Sepertinya di sana telah terjadi pertarungan cukup besar, karena teriakan ambisi terus terdengar. Namun, yang membuat Lucy tertarik adalah Nama Michael, yang sepertinya dia mengenali nama itu.
"Molie, kita kesana!"
Molie bergerak cepat seraya melompati pohon-pohon tumbang yang telah berlumut didasar tanah. Beberapa ranting menyapa pandangan Lucy, sehingga beberapa sayatan kecil terukir di telapak tangan kanan dan wajahnya.
Energi Manna ini ...
--••. ☘ .••--
BRUKH!
Seseorang telah terhempas hingga menghantam pohon besar, membuat darah kembali mengalir dari mulutnya. Sepertinya dia telah bertarung cukup lama sehingga pria itu mendapatkan luka cukup parah.
Beberapa pasukan Lucifer berhasil dibunuh dengan sangat ringan oleh pria gagah yang terlindungi sihir air. Dia adalah Parrcy lautan Neptuna, sang Raja bagi kaum Merrmaid.
Dan pria yang baru saja menghantam pohon besar adalah komandan pasukan inti Lucifer Kingdom, Michael Jarcobs. Ditengah misinya bersama kaum Vampire untuk bersembunyi dihutan. Tiba-tiba saja Carlitos menyerang apalagi pasukan musuh di pimpin oleh Harlie sendiri.
Bukankah dia telah menjadi sekutu? Lalu apa yang dia lakukannya bersama musuh? Terlebih, dia yang menghabisi mereka dalam waktu singkat. Meski Michael adalah komandan pasukan, tetapi tingkat kekuatannya begitu jauh dengan Harlie.
"Tuan Michael!"
Ajudan kepercayaan Michael mencoba membantunya untuk tetap bertahan. dia mengobati luka fisik pada tubuhnya, namun karena manna terkuras cukup banyak membuat luka itu sulit ber-regenasi.
Sebenarnya sekuat apa King Harlie ini hingga dapat memecahkan rangkaian sihir tingkat Master 8. Mungkinkah, dia memang memiliki kekuatan besar?
Secara terus-menerus, Ajuadan Rekyo berpendapat mengenai sosok asli dibalik wajah tenang Harlie.
"Aku harus segera menyingkirkan kalian, dan membantu Tuan ku untuk membunuh Lord sombong itu!"
Harlie menggerakkan jemari kokohnya, membuat sihir air yang melindunginya berubah menjadi senjata agung milik duplikat Dewa Poseidon. Sebuah anugrah, sebagai tanda kepimpinannya dalam menjadi Raja kaum Merrmaid.
Trisula itu terlihat begitu menyeramkan dimata Rekyo. ini bisa gawat bila sampai dia membunuh Michael, pasti dia juga telah kehilangan manna cukup banyak sehingga Michael tidak akan sempat mengelak!
Harlie tersenyum dia menghentakkan Trisula itu kedasar tanah, sehingga air menyembur dari gundukan tanah yang begitu dahsyat, membanjiri hutan tersebut.
Air itu perlahan menjalar hingga melilit Michael serta Ajudannya. Tak lama dari itu, airnya mulai membeku dan saat Harlie melirik Ajudan itu. Dia terlihat seakan ingin mendengar jeritan penderitaan disela kematian menjemputnya.
Dan benar saja. tepat disaat Harlie mengibaskan Trisula itu. Tubuh Ajudan itu langsung hancur saat air es itu berubah menjadi balok yang meruncing tajam, hingga dipenuh dengan lumuran darah.
"Kini giliran mu!"
Harlie tersenyum puas saat dia akan berhasil membunuh bidik catur kuda milik Lucifer Kingdom. dengan begitu, salah satu musuh merepotkan berhasil disingkirkan.
Tapi, kenapa Kelson masih belum kembali? dia bukan tipe yang lambat dalam bertugas.
Mungkin dia sedang bersenang-senang pikir Harlie tidak perduli. Harlie kembali menatap Michael, kali ini dia tidak akan membekukannya melainkan menusuknya menggunakan Trisula ini!
Ia angkat benda agung itu keatas, mencoba memilih posisi terbaik dalam bersiap membunuh komandan pasukan Lucifer Kingdom. Setelah dia merasa sudah cukup tepat, Harlie kian bersemangat!
Trisula itu bergerak cepat dari posisi tertingginya dan mencoba menggapai dada tak berpelindung zirah perang.
' Tamat sudah riwayatmu, Michael!! '
CRASHHH!!!!
Darah pekat berwarna merah menetes hingga menyatu dengan warna air yang begitu jernih, membuat Trisula itu jatuh dan kembli menjadi air. Tangan kanan Harlie terluka, ada tiga cakaran dalam yang terukir pada lukanya.
Kesal karena aksinya dihentikan, Harlie menoleh kebelakang mencoba menatap seseorang yang berani melukainya. Dan disaat dia melihat sosok itu, betapa terkejutnya dia melihat seorang Putri bangsa Demon tengah menatapnya dengan raut wajah--selalu dengan ekspresi memuakan itu!
"Putri Lucy?"
Lucy bernafas lega saat melihat Michael baik-baik saja, walau ada beberapa luka yang begitu parah. Untunglah dia datang tepat waktu, sehingga Molie yang melihat itu segera menyerang untuk menghentikan aksi Harlie.
Tunggu ...
Harlie ada disini dan mencoba membunuh Michael? Mungkinkah ...
"Lihat ini, apa sekarang kau sudah menjadi Putri yang tangguh, Lucy?"
"Harlie ..., apa kau bagian dari Carlitos?"
Harlie tertawa sinis, ia menatap Lucy seolah sedang melihat pecundang. "Ya, aku bagian dari mereka."
"Kenapa? bukankah kau salah satu Raja yang melindungi kekaisa---"
"Siapa yang melindungi kekaisaran? Aku? Ha! Untuk apa aku melindungi Keluarga Lord yang membunuh Tuan ku?! Kau benar-benar bodoh. Padahal, aku sudah pernah mengatakannya bahwa aku pasti akan membunuh kedua orangtuamu Lucy!"
"KING HARLIE!!! Beraninya anda, menghina Putri Lucy dan berniat membunuh matahari serta rembulan Darkness World! Anda sungguh pengkhianat bangsa, aku pasti akan membunuhmu!"
"Membunuhku? Ahahahaha ..., aku jauh lebih kuat dan berpengalaman dari pada dirimu! Tunggu, jika aku mengirimkan jasad mu sebagai hadiah untuk mereka, menurutmu reaksi apa yang akan ditunjukan Ibumu, Lucy?" Harlie menatap tajam kearah Lucy.
"Jangan coba-coba kau menyentuh Putri!" Michael seberusaha mungkin melindungi Lucy, dia berdiri tepat dihadapannya seraya memegang pedang ditangan kanannya.
"Menyingkirlah!"
"Aku tidak akan mem---Ugh!"
"Ha---"
Lucy menutup mulutnya saat melihat sebuah Trisula berhasil menembus tubuh Michael. darahnya menodai gaun yang dikenakan Lucy, membuat dirinya semakin tambah terkejut.
"Mi-Michael!" Tubuh Michael hancur menjadi abu tanpa tersisa.
Ini memgerikan! Harlie baru saja membunuh Michael dengan begitu tenangnya? Apa dia memang selalu seperti ini? Itu pasti tidak mungkin, benar, ini pasti karena pengaruh Carlitos. pati----
"Berisik sekali!"
Cukup! Aku sudah berusaha mungkin untuk meyakinkan diriku, bahwa Harlie bukan pria yang seperti dipikirkan Kakak.
"Harlie ..., kumohon jangan seperti ini."
"Lalu aku harus seperti apa Lucy? Apa kau tidak pernah belajar dari pengalamanmu selama ini? Apa kau sungguh benar-benar bodoh? Sudah kubilang berapa kali, aku tidak akan pernah menerimamu! Dan juga tidak bisakah kau di---"
"HARLIE!! Apa kau sudah sangat terobsesi dengan Tuan mu? Kita bisa menyelesaikan masalah ini baik-baik. Bukan aku yang bodoh tapi dirimu! Karena obsesi mu itu, kau menjadi gila padahal kau itu hanya umpan untuk rencananya! Tuan mu tidak akan menyesal meski kau mati sekalipun! Sadarlah, aku..., aku tidak ingin kau terlihat segila ini."
"Cih, jangan sok tahu Lucy. Harus kuakui kau menghabiskan hidupmu untuk melakukan hal yang tidak berguna! kau pikir, aku akan berterima kasih karena kau selalu membelaku di depan Lord dan Queen? Kau kira aku, akan luluh dengan semua rajutan saputangan mu? itu tidak akan membuatku mencintaimu, justru kau malah terlihat seperti wanita murahan!"
"Tidak kah kau memikirkan aku? Semua dedikasi ucapan mu itu selalu menyakitiku! Tingkah mu selalu menyiksaku, hanya karena dendam kau jadikan aku sebagai pelampiasannya? Harlie, tidak adakah sedikit ruang di hatimu untuk ku? Lalu aku harus apa, agar kau mengakui ku, menerimaku layaknya pasangan Mate!"
"Jika kau sungguh ingin aku menerimamu, kau hanya perlu membuktikan cintamu itu kepadaku dengan ..." Harlie mendekati Lucy.
"Membunuh kedua orangtuamu!"
DEG!
Aku tak dapat mempercayainya, saat dia mengajakku untuk membunuh kedua orangtuaku. Ini sudah diluar nalar dan kemampuan ku, Harlie sungguh telah buta.
Aku tidak mungkin melakukannya, membunuh mereka sama halnya membunuh setengah nyawaku juga. Kenapa dia tetap bersikukuh, adakah yang bisa menjelaskan hal apa yang terjadi kepada mereka?!
"Jika kau membunuh mereka, dengan sangat terbuka aku akan menyambutmu, Mateku tersayang."
Tidak bisa! Aku tidak bisa menyetujuinya. Aku hanya ingin masalah ini berakhir dengan baik-baik, kukira aku bisa membujuknya untuk berdamai dengan Ayah dan Ibu.
*Meski aku sendiri tidak terlalu paham, tapi setidaknya aku dapat menyelamatkannya. Apalagi jika mereka tahu bila Harlie berkhianat dia pasti akan dalam bahaya.
Sungguh aku ingin merubah waktu, menyelamatkannya dari dendam yang menyesatkan kehidupannya. Takdirku sungguh tidak adil* ...
"Kenapa diam? Apa kau tidak bisa?"
"Har-Harlie, kita bisa menyelesaikannya tanpa membu---"
"DIAM!!"
"Egh!"
Harlie mencekik leher Lucy dengan kuat membuat Lucy kesulitan bernapas. Dadanya menjadi sesak, kedua mata biru Lucy menatap lemah kearah Harlie yang sudah kelewat marah.
Apa Lucy pikir dengan berdamai Harlie akan mau? Kebencian yang tertanam kepada kedua orangtuanya membuatnya menjadi buta dan gila.
bahkan kepada Great Lady saja dia berani menentang, jika Tahlia berani membunuh Tuan nya Katastrofi. Inilah hal obsesi yang sulit dihilangkan dari dirinya. Tapi, Lucy hanya mau Harlie tidak terjerumus kedalam kegelapan lebih dalam lagi.
"Aku muak mendengarmu yang selalu berkata kedamaian akan menyelesaikan masalah, tapi nyatanya tidak! Kau harus menggunakan mata serta pikiranmu dengan lebih baik lagi, Lucy. Hidup ini hanya akan memaksamu untuk melakukan sesuatu pada peraturan alam, membunuh atau dibunuh. Hanya kata itu yang kutahu untuk menyelesaikan masalah ini!!"
"Egh, Harli--Uhuk!"
Aku sudah tidak terlalu jelas lagi mendengar ucapan Harlie, tangan kirinya yang mencengkram kuat leherku sudah sangat menyakitkan.
Pandanganku mulai mengkabur saat air mata sudah tidak dapat kuperintahkan lagi, dia jatuh begitu saja mewakili rasa sakit serta kekecewaan ku kepadanya.
Molie mencoba menerkam Harlie melepaskan ku darinya, namun Harlie cukup peka dengan lingkungan sehingga Trisula tadi membuat dinding sihir kuat, agar mencegah Molie menyerang Harlie kembali.
"Mungkin, jika kau mati ini bisa mengobati rasa sakitku kepada dendam orangtuamu."
Apa aku ditakdirkan untuk mati ditangan Mateku sendiri? Tidakkah, takdirku terlalu kejam? Tidak kah semua rasa sakit yang kulewati tak pernah berakhir bahagia? Apa hanya aku yang tidak boleh merasakan kebahagiaan karena dicintai?
Aku hanya ingin cinta dari Mateku, aku hanya ingin kehidupan bahagia seperti mereka, aku hanya ingin diakui bahwa aku ada layaknya pasangan mate yang lain.
"Matilah dengan tenang Lucy ...."
Kedua mataku tertutup tidak sanggup melihat kehidupan menyedihkan ku ini, membiarkan air mata yang mungkin menjadi tangisan terakhir di perpisahan kami ini, jatuh begitu saja.
Aku sungguh seperti perempuan bodoh, menyisihkan air mataku hanya untuk dia yang tidak pernah membalas senyumanku. bahkan hingga detik terakhirku, dia tidak pernah tersenyum kepadaku ....
Jika para Dewa sungguh ada, bisakah kau kabulkan harapan kecilku ini? Harapan sederhana, yang ingin dicintai Mate yang telah ditakdirkan untukku.
Kumohon ...
"Semua telah berak----"
CRASH!
Dalam sedetik bisa aku rasakan cairan kental hangat menodai sedikit wajahku. Aku hanya dapat diam tertegun saat melihat tangan kiri Harlie yang digunakan untuk mencekik ku tadi, kini sudah jatuh ketanah meninggalkan noda darah.
Aku tidak dapat mengerti apa yang sudah terjadi kepadanya, terlihat Harlie mundur beberapa langkah dariku seraya memegang tangan yang tertebas sesuatu hingga meraup setengah dari tangan kirinya.
"Harlie!"
Ditengah kepanikan ku melihatnya terluka, aku berusaha menghampirinya. Namun, sebuah tangan kekar mendekap ku, mencengkram lembut bahuku.
Perasaan hangat ini, seperti pernah kukenali sebelumnya. Aku menoleh melihat seseorang pria tertutup jubah putih berlapis mendali emas, menutupi wajahnya.
Dia melihat kearah ku, tapi tidak dapat kukenali siapa pria ini? Apalagi wajahnya tidak terlalu terlihat jelas, apa dia salah satu pengawal yang diutus Tetua Styvn atau Queen Olyfia?
Tangannya yang tadi merangkul ku kini berpindah ke wajahku, mencoba menghapus darah yang tersisa milik Harlie pada pipiku. Disaat jarak yang begitu dekat, aku menyadari sesuatu hal yang begitu familiar darinya.
Kedua mata merahnya yang menyerupai permata delima, begitu sangat bisa kukenali. Mata indah ini, mungkinkah dia tamu yang hadir di acara kakak? Tapi siapa?
Pria itu mengusap rambut hitamku lalu berhenti di telingaku seraya menutup indra pendengaran ku, menciptakan suasana sunyi yang begitu tenang.
Dia melirik tajam kearah Harlie sembari berkata sesuatu, dan saat aku melihat Harlie dia diam tertegun bahkan sampai ingin marah.
Sebenarnya, apa yang diakatakannya hingga membuat Harlie sekesal itu?
.
.
Melihat tatapan peringatan itu cukup membuat seorang Harlie merinding, terlebih energi kekuatannya begitu berbeda dengan kaum Demon, bahkan sangat kuat. Siapa pria asing ini?
Tapi yang membuat Harlie kesal bukan pada luka ditangannya tapi pada ucapan pria yang datang tiba-tiba saja. Entah mengapa itu membuatnya kesal, saat dia berkata ....
' JANGAN SENTUH MILIK KU! '
Sosok misterius itu mendekap erat tubuh Lucy, seakan memberikan pengakuan nyata terhadapnya.
" AKU YANG AKAN MENGABULKAN SEMUA HARAPAN KECILMU ITU, BINTANG FAJAR KU "
---.••° 🍁 °••.---
Hai Apa kabar?
Sudah lama sekali, Author tidak menyapa kalian. Maaf Cerita ini baru Up, karena Author baru ada waktu Istirahat untuk melanjutkannya.
Terimakasih banyak yang sudah menunggu, tanpa kalian cerita ini hanya rangkaian kata kosong tanpa punya makna tersirat untuk dicerna lewat kata sejuta khayalan tinggi.
tetap terus tunggu kelanjutannya ya
LOVE YOU ALL☺❤
Salam Manis
Author🌻