The Queen of Different World

The Queen of Different World
A War That Brings Feelings Of Anxiety



  ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ ꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷.🍁.꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷   ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟


Medan perang adalah pola yang menguji batasan manusia, dimana kita akan dituntut membuat strategi untuk tetap bertahan hidup dalam kondisi fleksibel. Sehingga ideologi akan melampaui batas kecermatan dalam memahami situasi bahaya.


────────────── · · · · · ✦


*15 menit sebelum penyerangan di Camp Lucifer.


Welliam serta pasukan inti telah bersiap di altar suci medan perang. Seperti dugaannya, bahwa Tahlia pun pasti akan datang lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.


Formasi pertahanan musuh juga cukup mengesankan. Bila di nilai dari pandangan Welliam, itu sangat mengutungkan bagi musuh. Pasalnya, dibagian depan ada Carlitos yang terbentuk berbagai macam ras, di garis belakang terdapat Troll raksasa yang begitu besar dan tinggi.


Para goblin pun turut hadir menjadi pion catur tambahan dengan jumlah yang tidak sedikit. Harus Welliam akui bahwa mereka kalah jumlah pasukan. Tapi itu cukup untuk membantai habis mereka!


Namun disudut pandang Tahlia, dia sedikit kecewa karena tidak melihat Kakaknya ada digaris depan. Apa mungkin dia tidak di izinkan turun oleh Matenya?


Cih! Sungguh pasangan yang menggelikan! Jika memang Aletha tidak ada, itu berarti dia ada di tempat teramannya. Meski Agra sepenuhnya milik Aletha, bukan berarti Tahlia tidak dapat merancang strategi akurat.


Dulu, dia sering diam-diam memasuki perpustakaan di kediaman Wisteria, tanpa sepengetahuan Aletha. Karena Aletha saat itu sering, bukan! Melainkan hampir setiap waktu dia menangani permohonan peperangan. Sehingga dia lebih jarang berada di kediaman sebagai Arthena.


"Rencana plan B, kita dilakukan secara bersamaan."


"Great Lady, anda ingin sebagian pasukan menyerang camp mereka?"


Tahlia melirik Katastrofi. "Kenapa? Kau takut bila kita kalah? Jangan khawatir, kita memiliki pasukan yang jauh lebih banyak dari mereka, dan juga masih ada beberapa pasukan yang belum kita tunjukan!"


"Tapi---"


"Ikuti saja perintahku! Beritahu, tangan kananmu itu, untuk segera menyerang mereka!"


"Baik, Great Lady."


Katastrofi memberi isyarat kepada Karlos yang sudah berada di pos siaga mereka. Burung gagak yang merupakan Soul Of Life miliknya, terbang menyampaikan pesan Tahlia untuk menyerang camp musuh.


Dalam jarak yang begitu jauh, kedua mata Welliam dan Tahlia saling bertatap. Mereka mengukir senyum kepuasan serta sakarstik.


"Tunggu apa lagi? HABISI MEREKA!" Welliam dan Tahlia, memerintah secara bersamaan.


"SERANG!!!!!"


Teriakan penuh ambisi datang secara bergelombang dan begitu nyaring, seakan suara mereka mampu merobek langit dan menggetarkan daratan. Pihak musuh ataupun sekutu berlari kegaris palibg depan, seraya mengangkat senjata ketangguhan mereka.


"Bersiap!" Kaum Elf yang berada di tengah, menarik busur sihir mereka.


"Bidik musuh!" Lalu melepaskan satu anak panah yang telah berubah menjadi jutaan anak panah, dilangit Agra. Sebuah perintah yang langsung terkomando dibawah kendali Styvn.


Panah-panah itu jatuh hingga mengukir luka serta menancap ditubuh para Carlitos, sehingga mereka tumbang layaknya pohon tak herakar.


Tapi tidak sedikit juga dari mereka yang mampu menghalau serangan, karena disana banyak kaum Elf pengkhianat yang tergabung dalam Carlitos.


"Aauuuuuu!!"


"Gerr!"


CRASH!!


CRASH!!


Alberd yang dalam wujud hift Wolf-nya. Telah berkali-kali mencabik hingga membunuh darah sekaumnya, yang telah berani menodai sumpah setia sebagai Wariorr Moon Light Pack terhadap kekaisaran Lucifer Kingdom.


Wujud Srigalanya yang jauh lebih besar dari bangsa Warewolf lainnya, telah memakan korban jiwa selama kehidupan abadinya sebagai Alpha. Namun, menolaknya dan memilih untuk setia kepada kekaisaran.


"HABISI MEREKA, DEMI KEJAYAAN GREAT LADY DAN TUAN KATASTROFI!!"


BOOM!


DUAARR!!


Berkali-kali dentuman terdengar serta kebulan asab dari desiran debu mengelilingi mereka. Pola-pola sihir terukir dengan bentuk dan warna bermacam-macam, mereka saling membunuh demi tujuan kemenangan yang berbeda.


Disaat yang lain tengah menggila, hanya Welliam dan Tahlia saja masih diam dengan tenang tanpa bergerak dari posisi awal mereka. Kedua mahluk yang baru saja terikat dalam permusuhan abadi, saling berdelik benci dalam tatapan yang sama.


Namun, itu tidak berlangsung lama, dirasa waktu yang tepat telah tiba. Tahlia menyerang mereka dengan jutaan kupu-kupu emas, yang menghancurkan hingga membunuh pasukan Lucifer Kingdom!


Kupu-kupu itu bergerak layaknya gelombang tsunami yang melahap habis semua yang ada dibawahnya. Tapi target Tahlia bukan pasukan musuh, melainkan kepala Welliam.


Benar, jika Aletha tidak ada, itu bisa jadi kesempatan besar untuknya. Welliam yang mengetahui siapa target sebebarnya masih berwajah tenang.


Malah dia sangat tersanjung atas serangan penghormatan dari musuh yang tidak lain adalah Adik Iparnya, bila melihat dari sil-silah keluarga Aletha.


"Aku bisa membantu anda untuk mengusir serangga itu, Lord."


"Benarkah? Kalau begitu tunjukan, Thana!"


Thana sang Fairys terkuat, wujud asli dari crystal Ekdikisi Thanato. Terbang mengelilingi Welliam lalu berdiri dipundak Welliam, dia mengeluarkan energi alamnya.


Dapat Welliam rasakan dibawah pijakannya banyak darah yang telah tergenang. Itu berarti dalam sekejap peperangan ini telah menjadi sengit.


Darah yang tergenang bersinar mengikuti aura gelap dari pedang Arcgreo Die. Pedang hitam Aletha yang kini telah menajdi milik Welliam sepenuhnya, seakan arti kematian telah mengikat kontrak dengan semua darah yang mengalir.


Daratan berguncang, langit menghitam. Menyisihkan cahaya merah dari darah-darah yang bersinar dibawah pijakan mereka. Kupu-kupu emas itu kian terbang menjadi sangat cepat kearah Welliam.


"Sekarang, Paduka Lord!"


Welliam mrnghentakan kakinya dalam sekali langkah, membuat genangan darah berubah menjadi crystal merah yang meruncing tajam serta panjang, hingga menghunus ribuan tubuh Carlitos dan goblin.


Welliam membara, matanya berkilat merah, gigi taringnya pun terlihat dari balik senyum kepuasanya. Dia menggerakan pedangnya dalam satu kali tebasan, membuat gelombang angin topan berwarna hitam pun tercipta.


"Habisi mereka!"


Dalam satu perintah, angin yang membawa sihir mematikan. Menghancurkan kupu-kupu emas itu dalam sekali serangan, bahkan serangan Welliam terlalu sempurna! Sehingga berhasil mengoyak habis sedikitnya 50 tubuh Troll raksasa yang sedang bertarung.


Mereka semua tumbang dalam satu kata, membuktikan sipa raja yang harus dihormati disini! Jatuhnya mereka, membuat Welliam bangga saat melihat wajah Tahlia serta Katastrofi menggeram kesal.


"Lemah!"


Tahlia mengepalkan tangannya, pedang itu telah menjadi sempurna! Bahkan, pedang itu dapat dikendalikan oleh Welliam dari pada Katastrofi dulu.


Apa yang telah kau lakukan Aletha?!


"Aku harus mengambil kembali pedang itu"


"Tunggu Katastrofi, pedang itu sudah tidak akan berpihak ke kita! Meski kau mendapatkannya lagi, kau tidak akan bisa menggunakannya!"


"Apa, bagaimana bisa?!"


"Aku juga ingin tahu, apa yang dilakukan sang Polemou, terhadap pedang Dewanya. Harusnya tidak ada seorangpun yang dapat menggunakan senjata agung jika bukan Dewanya sendiri!"


"Kepar*t!!"


"Sudah waktunya..." Guman Tahlia, saat dia melihat kebulan asap tebal dari ufuk utara tanah Agra.


Welliam yang tadi fokus pada peperangan, seketika diam saat menyadari sesuatu yang mengganjal. Dia menoleh kebelakang, melihat asap hitam dari wilayah cam Lucifer.


"Mereka berguna juga rupanya."


Welliam melirik Tahlia yang entah sejak kapan sudah ada dibelakangnya. "Apa yang kau lakukan?!"


"Menurutmu?"


Seakan tahu, Welliam menggeram kesal. Pasti dia mengincar Aletha! Welliam, hendak beranjak pergi namun Katastrofi menghadangnya.


"Aku akan menghabisi keturunan Vasilias dan Vasilissa! Kepalamu akan kujadikan hadiah untuk kedua orang tuamu."


"Benarkah? Kurasa bukan kepalaku, melainkan kepalamu yang akan kujadikan makanan untuk peliharaanku."


"Bocah breng**k!!"


DUARR!!


"Kali ini, apa yang dilakukannya?"


Tahlia berdelik serius, saat melihat dilangit Agra terlukis sihir yang mengukir bunga Wisteria sangat besar. semua menatap langit, iti seperti sebuah isyarat bagi pasukan Lucifer Kingdom! Namun, tandabitu tak bertahan lama. selang 2 menit, lambang bunga Wisteria itu menghilang.


' Perubahan rencana? Sepertinya camp telah diserang. Styvn kembali ke camp, pastikan Aletha baik-baik saja! '


' Baik, Paduka Lord '


Welliam memberikan isyarat perintah kepada Styvn lewat telepati pikiran. Lalu dia kembali fokus kepada musuhnya, sembari menyeringai seolah berkata ' kini giliranku yang berjaya! '


--.••o☘o••.--


*Lucifer Kingdom


~Castle Estylle


[ Kediaman Putri Lucy ]


Sudah hampir satu jam, Lucy terus berjalan mondar-mandir dengan perasaan gelisah. Pasalnya, dia masih kepikiran dengan kejadian saat dia bertemu Harlie di Lorddarks Zone.


Setelah Aletha mengirim Carina sebagai pesan untuk menolong Welliam. Disaat itu, Lucy tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang misterius berjubah hitam di gerbang masuk Lorddarks Zone. Mereka terlihat membahas sesuatu hal yang begitu penting.


~•°• .🍁. •°•~


*Hari dimana Lucy mendapat pesan dari Aletha.


Tap ...


Tap ...


Tap ...


Lucy berlari menyusuri koridor kerajaan, sedikit lagi dia akan sampai di gerbang Lorddarks Zone. Ini cukup mengagetkan saat seekor burung cantik menghampirinya dan menyampaikan pesan dari Kakak Iparnya.


Bahwa Aletha berniat untuk membunuh Welliam. Meski dia tahu ini hanya sandiwara, tapi bagaimana bisa mereka memakai rencana gila ini?!


"Pastikan, pasukan Carlitos berjaga di benteng sebelum Tuan kembali!"


"Baik King. Lalu, apa anda akan kembali?"


"Tidak, aku sudah menyerang Lord Fedrick secara beruntun untuk menghalanginya mengganggu Tuan. Jika dia menyadari keberadaanku, kita tidak akan bisa bermain simpatik lagi."


"Jadi anda akan kembali ke markas, King?"


"Akan lebih baik, jika aku kembali ke Kerajaan. Tetua dari Vampire itu akhir-akhir ini sering mengawasiku. Kau bisa pergi Karlos."


Meski terdenfar samar, tapi Lucy dapat mendengar dengan cukup baik. Jika dari pembicaraan dapat disimpulkan, mereka adalah musuh kekaisaran yang sering Lucy dengar. Tapi, apa yang dilakukan kelompok Carlitos di kerajaan ini?


Apa mungkin ini ada kaitannya dengan Aletha? Lucy yang bersembunyi dari balik pilar besar, berjarak cukup jauh dari gerbang. Dia mengintip kedua sosok itu yang terhalau jubah hitam dan hodie kepala yang menutupi kepala, sehingga sulit banginya untuk mengenali.


Rembulan yang bersembunyi dari balik awan, menunjukan sinar gemulainya. Angin bergembus kuat membuat salah satu dari tudung kepala mereka terbuka, menampilkan wajah rupawan seorang pemuda.


Dengan santainya pria itu kembali menutup kepalanya, lalu mereka pergi tanpa rasa beban. Sedangkan Lucy, tidak bisa mejunjukan ekspresinya atas apa yg dia lihat barusan.


Dia tidak terpesona melainkan gemetar takut pada apa yang ia pikirkan jika benar. Ini tidak mungkin, berulang kali dia mencoba menyangkal dan percaya bahwa penglihatannya salah.


"Apakah pria itu sungguh Harlie?"


~•°• .🍁. •°•~


Sejak malam itu, Lucy selalu kepikiran dengan apa yang dia lihat. Berulang kali dia mencari tahu mengenai data Carlitos secara diam-diam, tapi dia tidak menemukan nama Harlie. Sebenarnya Lucy juga selalu bingung kenapa Kakaknya begitu benci terhadap Harlie.


Apa yang tidak dia ketahui mengenai Mate nya ini?


Apa hanya karena kekhawatiran seorang kakak terhadap adik?


Atau ada masalah lain?


Akh! Ini memusingkan sekaligus memberatkan batinnya. Kedua pria misterius itu adalah bagian Carlitos, dan salah satunya adalah Harlie.


Tapi berulang kali dia terus menyangkal, meski begitu Lucy butuh bukti kuat. Hari ini terjadi perang besar terhadap Carlitos dan kekaisaran, jika Harlie bagian dari Carlitos ...


"Apa dia juga ada disana?"


Lucy melihat surat pertama yang dikirimkan oleh Harlie. Surat itu berisi makian serta ancaman kepadanya, dia sudah begitu bahgia akhirnya suratnya terbalaskan.


Tapi..., kenapa begitu menyakitkan?


••°°••🍁••°°••


Berhenti mengusik hidupku!


Apa kau sudah bosan hidup, Lucy?


Ini peringatan terakhirku, jika kau masih menggangguku akan kupastikan kau mati dihari itu juga! Jika kau mati dengan begitu dendamku akan terbalaskan.


••°°••🍁••°°••


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa hanya aku yang tidak tahu mengenai dendam ini? Aku ingin melihatnya sendiri! Jika Harlie memang tergabung dalam Carlitos aku ingin melihatnya dengan kedua mataku."


"Kenapa kau ingin repot-repot kesana? Dari surat itu saja sudah pasti Harlie akan bergabung dengan Carlitos, Putri."


"Molie, aku yakin dia pasti tida--"


"Putri, anda masih terlalu dini memahami sebuah perasaan. Dia bukan Ma---"


"Kita harus menemui Queen Olyfia, mungkin dia tahu caranya pergi ke medan perang."


"Apa? Putri dengarkan saya dulu. Disana terlalu berbahaya untuk anda."


"Kenapa kau begitu berisik sih? Sudah diam, biar aku pastikan sendiri."


Lucy melihat keluar kamar, memastikan tidak akan ada yang memasuki kamarnya. Kemudian dia menutupnya kembali.


"Molie kau juga ikut aku!"


Sohir teleportasi terbuka, Molie hanya bisa pasrah. Dia juga tidak mungkin membiarkan Tuan Putrinya ini dalam bahaya, ia harap takdir yang sesungguh akan hadir kedalam hidup Putri nya ini.


.


.


*Wilayah Pixifly


Mereka berhasil berpindah tempat dengan sangat cepat. Saat ini Lucy ada di Pixifly wilayah Fairy, dia mengangkat gaunnya sembari berlari menuju Olyfia disaat targetnya telah ditemukan.


"Queen Olyfia!"


Merasa namanya dipanggil, Olyfia menoleh kebelakang. "Putri?"


"Queen Olyfia aku butuh bantuanmu. Apa kau tahu bagaimana caranya pergi ke tanah Agra? Aku harus segera pergi kesana, ada yang ingin kupastikan! Kau pasti ikut rapat strategi bukan? Aku yakin kau juga pasti diberi tahu sihir yang membuka dimensi tanah Agra?"


"Pu-putri, bicaralah pelan-pelan. Coba jelaskan kenapa anda disini?"


"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya. Intinya, kau harus membawaku ke Agra sekarang."


"Apa? Ta--"


"Kau bisa atau tidak, ini keadaan yang sangat genting!"


"Saya bisa membawa Tuan Putri, tapi jika Padu---"


"Jangan banyak bicara, sejarang bawa aku kesana, Queen Olyfia!"


--.••o☘o••.--


*Camp Lucifer


Di posisi Ariel.


Peraturangan telah berlangsung cukup lama dan sengit. Ariel terus memojokan Karlos. Mau sekuat apapun dia, mau setinggi apapun pangkatnya, tetap tidak akan bisa mengalahkan prajurit terkuat bangsa Merrmaid, Ariel Adult Him.


Mereka bangsa Merrmeid yang terlahir dari keluar Duke yang memiliki peran penting dibagian balai tentara bagi Kerajaan Neptuna.


Kalau diingat lagi, Ariel saat ini telah menyandang sebagai Duchess sebagi pemimpin keluarga. Berhubung keluarga Him tidak memiliki anak laki-laki, maka dia menerima gelar Duke dari Ayahnya.


Meski begitu, dia masih tetap menjadi kepala pelayan istana di Lucifer Kingdom. Jadi sekuat inikah dia?


"Lemah! Seperti inikah Beta bangsa Merrmeid? Menyedihkan."


Ariel berhasil menawan leher Karlos, dia membekukan setengah dari tubuh musuhnya agar Karlos tidak bisa melepaskan diri.


"Apa King Harlie juga telah berkhianat?"


"Uhuk! King? Apa menurutmu aku tertarik dengan Raja bodoh itu? Aku yang menggerakan sendiri bangsa Merrmeid untuk berkhianat! Tanpa sepengetahuan dari King Harlie! Dia hanya mainan bonekaku, hahahahha!"


"Lalu, kenapa King Harlie tidak pernah hadir dalam rapat strategi?"


"Iti bukan urusanku, jika kau ingin tahu tanyakan sendiri kepada-uhuk...uhuk!"


Tidak bisa! Ariel tidak bisa membaca pikiran Karlos. Dia tidak bisa asal menuduh saja karena selama pengamatan, tidak ada data yang melaporkan bahwa Harlie kembali mengkhianati kekaisaran!


Atau mereka telah merencanakan ini? Dia perlu menawannya agar bisa menggali informasi lebih dalam lagi. Namun sayang, tiba-tiba saja Troll raksasa datang dan menyerang Ariel.


Tapi, gerakan Ariel sangat lincah, sehingga dia berhasil mengelak. Troll itu menghancurkan es yang ada ditubuhnya, lalu membawa pergi Karlos. Saat dia hendak mengenjar, dia teringat sesuatu hal yang sempat terlupakan.


"Aku harus mencari Auriel, Queen Althenia dalam bahaya!"


.


.


Di tengah kegaduhan yang memporak-poranda seluruh tenda Lucifer, terbuka portal dimensi. Dari dalam portal itu Lucy berjalan keluar bersama Olyfia yang terbang disebelahnya. Kemudia portal itu tertutup.


Hal pertama yang membuat mereka terkejut adalah saat melihat semua orang gaduh tengah berperang. Tunggu, bukankah Olyfia membuka dimensi tepat di cam Lucifer? Kenapa jadi ketengah peperangan?


"Tuan Putri awas!" Olyfia melindungi Lucy saat ada musuh yang ingin melukai Lucy.


Dalam sekali serangan sihir orang itu langsung terhempas cukup jauh. Olyfia juga tidak mengerti dengan keadaan sekarang. Dia sudah sangat yakin, bahwa dia membuka gerbangnya tepat di camp bukan di garis depan!


"Kau yakin, ini adalah Camp Lucifer?"


"Saya sangat yakin, Putri. Pasti telah terjadi penyerbuan terhadap camp fraksin kita."


Lucy terlihat mengamati semua yang sedang berperang, mencoba mencari sosok yang ingin dia ketahui. Tapi disini begitu gaduh dan sangat rusuh. sehingga dia tidak bisa fokus pada sekitarnya.


"Tuan Putri?"


Lucy serta Olyfia melihat Auriel yang sedang bersama Styvn. Mereka menghampir Lucy dan membawanya ketempat yang cukup aman dari arena pertempuran.


"Putri Lucy, apa yang anda lakukan disini? Disini terlalu berbahaya untukmu. Paduka Lord juga pasti tidak akan menyukai ini?" Ucap Auriel.


"Olyfia, kenapa kau membawa Putri Lucy? Dan juga, bukankah kau ditugaskan untuk mengurus wilayah pertahanan Darkness World?!"


Olyfia membalas tatapan Styvn. "Saya juga sedang bertugas, tapi tiba-tiba Putri menghampiri dan bilang ada hal mendesak."


"Putri ada hal mendesak apa, sehingga anda datang kesini?"


"Aku ..., aku ingi----"


"Auriel ini gawat! Queen Althenia pergi menuju garis depan!" Tiba-tiba saja Ariel datang menghampiri mereka dengan sangat buru-buru.


"Apa? Kenapa kau membiarkannya begitu saja? Bagaimana jika terjadi sesuatu terhadapnya? Kau ditugaskan untuk menjaganya."


"Aku sudah berusaha, tapi beliau pergi begitu saja saat mengetahui ada hal yang aneh dengan perang ini."


"Ariel, apa kau lupa jika saat ini beliau sedang hamil! Bukan hanya untuk bayinya saja, bahkan Queen juga bisa dalam bahaya! Kita harus segera pergi ke garis depa---"


"Tunggu, siapa yang sedang hamil?!"


Styvn, Lucy, dan juga Olyfia. Mereka bertanya secara bersamaan, mencoba meyakinkan kembali pada apa yang mereka dengar barusan.


Sedangkan Ariel dan Auriel merutuki ucapan mereka. Sangking gelisahnya mereka jadi tidak sadar dan mengatakan hal yang seharusnya menjadi rahasia.


"Em ..., itu kami han..hanya ber---"


"Katakan kepadaku!" Lucy menjadi serius seraya menunjukan tatapan dinginnya.


Ariel dan Auriel saling berpandangan. Tidak ada pilihan lain, mereka siap menanggung resiko hukumannya nanti. Dari pada harus terjadi sesuatu terhadap Ratu Darkness World!


"Sa..saat ini, Yang Mulia Queen Althenia sedang hamil, Putri!"


"Apa?!"


--.••o🍁o••.--