
Dulu pada abad pertengahan, Bumi mengalami kondisi yang sangat krisis. Dimana pada era itu hal kekuasaan seperti perebutan sebuah negara, menjadi dominan yang paling dipandang sebagai harta yang berharga bagi kaum Manusia.
Mereka menyebutnya sebagai abad, Perang Dunia.
Pada abad itu semua dari berbagai negara bersorak dengan gagah, sembari mengangkat senjata sebagai lambang pertempuran.
Membuat bumi pertiwi mengalami kerusakan yang sangat parah, mereka dengan sadis membunuh darah sekaumnya sendiri, tanpa memikirkan lagi bagaimana jadinya dunia dimasa depan.
Hingga suatu ketika.......
SYUTT.......
BOOM!!
Ditengah pertempuran yang liar, sebuah ledakan muncul dengan kecepatan seperti sambaran petir dari langit.
Semua Manusia yang tengah asik berperang terdiam, dengan kejadian yang tidak terduga barusan.
Lalu dikebulan asap hitam, secara kasar datang hembusan angin yang menghempas permukaan area pertempuran.
Membuat seluruh Manusia menatap kaku dan terkejut, dengan kemuncuan sosok yang berdiri diantara daratan dan langit.
Sosok itu melayang dengan menawan, apalagi yang membuat mereka terpaku adalah sepasang sayap besar yang tengah terbuka dengan merkah dipundak gagahnya.
“Aku, Thea tou Polemou, telah hadir.”
Mereka yang mendengar suaranya bagaikan kicauan kematian, diam dengan ketakutan yang sangat luar biasa.
Bagaimana tidak ketakutan, jika mendengar nama dari salah satu makhuk terkuat, yaitu Thea tou Polemou.
Seluruh Manusia yang menatap kehadiran sosoknya, mulai berkeringat gelisah. Mereka tidak menyangka peperangan ini bisa memicu kehadirannya, padahal mereka berfikir kisah dan sosoknya hanya menjadi alunan permohonan yang sangat abstrak.
Yang berarti, makhluk terkuat yang lebih tinggi dari kaum Manusia antara ada dan tiada.
Tapi mau dikatakan apa lagi, mereka telah bertindak, kekuasaan adalah ladang untuk negara yang makmur, maka tidak perduli selama mereka belum bisa puas untuk menguasai tanah daerah lawan.
Maka tidak ada cara lain, selain melanjutkan peperangan ini.
"Kehadiranmu untuk menghentikan kami! Atau ingin memihak diantara kami?"
Para petinggi. Raja, Jendral, Mentri, Kolonel dan hal yang menjadi pemimpin dari peperangan. Masih berpegang teguh pada pencapaiannya untuk meluaskan wilayah kekuasaannya.
Dibalik tudung putihnya, ia tersenyum sinis dengan dua iris matanya berwarna biru tengah berkilat tajam, kepada makhluk yang tidak pernah kenal puas pada pencapaian yang didapatnya(Manusia).
"Mari kita mulai pertempurannya."
"TUNGGU!"
Welliam bangun dari tidurnya yang berada disebelah Aletha, dia menatap dalam Aletha yang juga menatapnya.
"Aletha, apa kau paham maksudku?"
"Ya aku paham."
"Kau tidak paham."
"Apanya yang tidak paham?!"
"Aku menyuruhmu untuk bernyanyi bukan bercerita!"
"Tapi aku maunya bercerita bukan bernyanyi!"
"Kau fikir aku anak kecil ha! Lagian kisah dongeng apa yang kau baca? Benar-benar tidak menarik!"
"Memangnya aku tertarik! Aku hanya membaca dari buku ini."
Aletha menunjukan buku merah yang tadi ia bacakan untuk Welliam.
"Sepertinya aku tidak ingat, ada buku dongeng seperti itu di Castle ku. Sejak dulu aku sudah bosan mendengar cerita khayalan seperti itu, jangan bilang kau masih percaya dengan cerita begituan?"
"Aku memang tidak percaya dengan kisah dongeng, tapi setidaknya yang kupercaya adalah alasan dibalik penulis yang menulis cerita tersebut. Bisa saja dia ingin menyampaikan sebuah pesan dari karyanya, meski tidak ditunjukan secara langsung..."
Welliam nampak berfikir dengan ucapan Aletha, sebuah alasan pengarang yang menulis? Welliam duduk dipinggir ranjang sembari menatap cahaya rembulan yang hadir sebagai penerang kamar Aletha.
Ia tersenyum penuh arti lalu menatap Aletha yang terlihat bingung dengan sikap Welliam.
"Apa kau suka membaca kisah dongeng?"
"Hanya terkadang saat bosan, kenapa kau bertannya seperti itu?"
"Baguslah, kalau begitu coba kau baca buku ini."
Aletha diam dengan wajah bingung, melihat sebuah buku dihadapannya yang sedang melayang. Ia kembali melihat Welliam yang meliriknya juga.
"Kenapa aku harus membaca buku ini?"
"Entah lah, hanya saja firasatku berkata, kau akan membutuhkan kisah dibalik penulis yang menulis karya itu. Karena aku sendiri menemukan hal menarik dari buku itu, bacalah disaat kau sedang senggang."
Aletha mengambil buku itu setelah meletakan buku merah diatas meja, lalu dia membaca pada judul buku yang terlihat berbeda dari buku dongeng yang ada disini.
"Queen Of Rulers From Another World ?"
Welliam tersenyum, "Tidurlah, aku akan segera pergi setelah kau tertidur pulas."
"Katanya setelah aku bernyanyi kau akan pergi."
"Kau tidak bernyanyi tapi bercerita. Sudah diam dan tidurlah, atau kau ingin bermain yang lebih seru denganku ditempat tidur ini?" Ucap Welliam menggoda Aletha.
".....dasar hentai !"
Aletha menarik selimut hingga keatas kepalanya, setelah membuat Welliam kebingungan dengan ucapan bahasa Jepang yang tidak dimengerti olehnya.
Welliam berdiri, dan tidak sengaja menjatuhkan buku merah yang ada diatas meja.
Suara gemerisik dari gesekan kertas yang terbuka cepat saat hembusan angin membuka paksa buku merah itu.
Welliam mengerutkan keningnya pada isi buku itu yang hanya lembaran kertas kosong tanpa ada tulisan di dalamnya.
Tapi bukan kah Aletha baru saja bercerita mengenai kisah dongeng dunia Manusia pada buku ini?
"......alasan dibalik penulis yang menulis cerita tersebut. Bisa saja dia ingin menyampaikan sebuah pesan dari karyanya..."
Welliam mengambil buku itu lalu meletakan kembali diatas meja.
"Aku juga penasaran dengan alasanmu mengarang cerita tersebut..."
"Ha, kau bilang sesuatu?"
Aletha membuka selimut yang menutup seluruh wajahnya, Welliam bersandar pada dinding kamar sembari melihat Aletha.
"Tidak, tidurlah.."
"Tidak mau, bisa saja kau melakukan sesuatu padaku nanti." Ucap Aletha dengan tampang waspada.
"Tidak akan, cepatlah tidur!"
Aletha membalikan badannya dan mencoba menutup matanya. Welliam melihat kalung biru milik Aletha yang masih ada padanya, lalu memakainya dilehernya dan memasuki liontinnya dibalik kerah bajunya.
--.o☘o.--
"Aletha saat kau akan pergi, ingatlah ada satu syarat yang tidak boleh kau langgar. Yaitu, jangan beri tahu jati dirimu kepada siapa pun atau kau akan ........."
~~•🍁
Aletha membuka matanya dengan sempurna, sepertinya dia ketiduran saat sedang menikmati suasana di taman. Saat ini Aletha memang sedang beristirahat di bawah pohon persik.
Saat tadi pagi ia terbangun, Aletha memang sudah tidak melihat sosok Welliam. Sejak tadi juga Aletha melakukan kegiatannya sendiri, meski ditemani dengan beberapa pelayan yang khusus ditugaskan untuknya. Tapi tetap saja rasanya ada yang hilang di tempat ini.
Mungkin karena Welliam tidak ada, tunggu kenapa sekarang Aletha malah terlihat lesu? Apa kehadiran Welliam mulai berpengaruh bagi hidupnya.
Aletha menghela nafas lelah sembari melihat keatas, kedua matanya sedikit menyipit saat dirasa pantulan cahaya matahari dari balik celah-celah bunga persik yang bergerak akibat arus angin menyapa wajah porselinnya.
Belum lagi ia selalu memimpikan masa lalu yang teringat dengan sangat jelas setiap dia menutup matanya, walau sekedar untuk tertidur sesaat.
"Menyebalkan! Kenapa dia harus pergi dan membiarkan ku sendirian di Castle membosankan ini, harusnya dia tidak mengirim Fivian untuk bertugas."
Aletha bangun lalu berjalan dengan sangat pelan, meski diberi hak khusus untuk bersikap bebas di Castle nya. Tapi Aletha juga tidak tahu harus melakukan apa di tempat asing ini? Lebih baik dia kembali ke kamarnya saja.
"Lady, cepat menyingkir dari sana."
Merasa dirinya terpanggil, Aletha berbalik lalu...
Brukh!
Aletha terjatuh kebelakang, dengan tubuh yang tertimpah sesuatu sosok yang begitu berat.
"Molie, kau tidak boleh seperti itu. Cepat menyingkir darinya.."
Aletha kini bisa bernafas lega saat sosok yang menimpanya berhasil menyingkir darinya. Aletha diam terpana saat melihat sosok yang menimpanya adalah Rubah cantik berbulu putih dengan paduan warna merah diujung ekor panjangnya.
"Anda baik baik saja? Maaf, tidak biasanya Molie seperti itu.."
Aletha meraih tangan mulusnya, pemilik suara merdu ini bener-benar sangat cantik. Gadis manis berpakaian gaun bangsawan yang terlihat begitu berwibawa, rambut hitam panjang bergelombang dengan sorot matanya yang begitu lembut.
Siapa perempuan ini ?
Sepertinya Aletha tidak ingat ada sosok gadis cantik bagaikan seorang Putri, di Castle Violence. Tapi kalau dilihat dari wajahnya, sepertinya tidak asing.
"Lady anda baik-baik sa--sa..salam, Yang Mulia."
Pelayan yang baru saja mendatangi Aletha seketika langsung menunduk sembari memberi hormat, kepada perempuan disebelah Aletha.
"Ada apa dengan kalian?"
"Lady, anda harus memberi hormat kepada Yang Mulia Putri." Ujar pelayan itu mencoba membantu Aletha untuk memberi hormat.
"Putri?"
"Benar, beliau ada----"
"Izinkan saya memperkenalkan diri, Lady Aletha.."
Kini perempuan itu berdiri dihadapan Aletha, kedua tangannya mengangkat sedikit gaun hijaunya lalu sedikit merendahkan tubuhnya. Aletha menatap bingung dengan sikap perempuan ini.
"Namaku, Lucy Daiana Lorddark's. Saya seorang Putri dari bangsa Demon, sekaligus.. Adik Perempuan, Yang Mulia Welliam."
"Adik? Perempuan cantik ini, Adik dari Iblis itu! Sungguh?"
Aletha menatap tidak percaya, masalahnya yang membuatnya shock adalah sosoknya yang jauh lebih lembut dibandingkan dengan sifat dingin Welliam. Bagaimana bisa dia menjadi Adik Welliam yang kejam itu?!
"Senang bisa bertemu dan berkenalan dengan anda, Lady."
Ucap Perempuan bernama Lucy itu, sembari tersenyum dengan sangat ceria kepada Aletha.
--.o🍁o.--
Mohon maaf, Author telat Up. Tugas sekolah benar-benar tidak bisa di hiraukan, tapi janhan khawatir kisah ini akan jauh lebih menarik dan menambah gairah yang bikin ketagihan.
jadi tetap tunggu Up selanjutnya ya.
~Salam Manis
Author❤