
Pria itu meraih suari rambut hitam milik Lucy, lalu mengecup lama kening Lucy. Seakan ia ingin memberi pernyataan bisu kepadanya. Bahwasanya, Lucy masih memiliki kesempatan untuk memilih cinta yang ia harapkan.
"Sudah waktunya kisah kita dimulai, Maharani ku."
TRING!!
Belum sempat ia mencerna kata-katanya, Lucy kembali jatuh tenggelam kedalam lautan mimpi. Membiarkan kegelapan menyapanya, dan menjadikan pertemuan mereka adalah mimpi indah bagi dirinya.
Pria itu menatap langit, melihat sekumpulan ikan yang melayang bebas menjadi rasi bintang penunjuk arah pada dimensi mimpi ini.
"Kau sengaja menuntunnya untuk bertemu denganku. Jadi, apakah ini hadiah darimu, Selini ..."
"Aku sudah tidak bisa lagi membantu, tugasmu hanya perlu menyempurnakan seluruh dunia, termasuk kehidupan di Imorrtal. Maka dari itu, kuharap kau dapat menjaga cucu perempuanku, Kendric ..."
Pria itu melirik Rusa putih, mereka sempat berpandangan sebelum akhirnya Rusa itu pergi menghilang untuk selamanya. ia tidak akan bisa ikut campur dalam masalah yang akan datang, karena tugasnya saat ini telah selesai.
Pria yang menyandang nama Kendric, tersenyum tipis. "Semakin lama, cerita ini bertambah menarik. Baiklah, lagipula aku dan dia berada di posisi yang sama."
"Aa!! Sudah saya duga, baginda pasti ada disini."
Seorang Pria berstelan pakaian formal bangsawan, tiba-tiba saja hadir sembari berjalan mendekati Kendric.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Harusnya saya yang bertanya. Setelah sekian abad berlalu, anda selalu menolak menjadi penguasa. Tetapi, setelah Dewi Selini Thea tiada, tiba-tiba saja anda bersikeras menggantikan posisinya sebagai pemimpin Imorrtal. Dan sekarang, Tuan malah pergi dari acara pesta penobatan, sebagai Kaisar para Dewa!"
"Kau berisik sekali, Robert." Kendric melirik tajam.
"Ah, saya minta maaf Yang Mulia."
"Aku memang tidak tertarik dengan tahta, tapi aku juga tidak sudi bila duniaku di kendalikan oleh Octopus. Lagipula, ini memang sudah direncanakan...."
Meski begitu, aku masih tidak mengerti. Mengapa Selini Thea ingin dia yang memimpin Imorrtal lebih dulu, dan setelah dia tiada. Dia ingin aku yang mengambil kekuasaan.
Sebenarnya, apa yang kau rencanakan Selini ...
"Ah, kalau tidak salah, hari ini Darkness World sedang berpesta mengenai kemenangan mereka. Apa Yang Mulia tidak mau melihatnya? Saya dengar juga, Dewi Arthena Polemou saat ini sedang mengandung, dan itu menjadi salah satu alasan pesta itu dirayakan dengan sangat meriah."
"Jangan ganggu hari kebahagiaan mereka, lagipula tugasnya sebagai Dewi Polemou telah selesai. Sebaiknya kita kembali."
"Baik Yang Mulia."
Gerbang dimensi Imorrtal terbuka dihadapan pria tampan itu, namun sebelum ia memasukinya, Kendric berhenti.
"Teruslah awasi Octopus, semua masalah di Darkness World mungkin telah berakhir. Tapi, masih ada beberapa dalang dari masalah ini yang masih hidup, kita harus segera menyingkirkan mereka sebelum kembali berulah di semesta ini. Jangan lupa Siapa Kaisar Langit yang sebenarnya, kau mengerti ?!"
Robert bertekuk lutut, "Keinginan baginda adalah sebuah perintah bagiku. Anda adalah Kaisar Dewa yang berhak menguasai semesta ini, Paduka Maharaja. Yang Mulia Kendric Athananysus Helios!"
.
.
"Lucy, Lucy ...."
"Lucy !!"
TRING !!!
"HA--"
Lucy membuka matanya secara tiba-tiba, seperti orang yang dikejutkan saat sedang tidur. Ia terlihat linglung, lalu melihat Ayahnya ada disebelahnya.
"Kau baik-baik saja? Kenapa kau bisa ada disini?"
"Ah, Lucy sedikit bosan dengan pestanya. Jadi Lucy pergi ke taman. Maaf telah membuat Ayah khawatir ..."
"Tapi kau tidak sadarkan diri, apa ada yang memyerangmu?!"
Lucy terlihat berpikir, ia juga tidak tahu kenapa dia bisa pingsan, seakan dirinya sedang tertidur pulas.
"Entahlah, Lucy tidak ingat. Mungkin Lucy sudah sangat lelah, jadinya tertidur bahkan Lucy sempat bermimpi juga."
"Mimpi ?"
"Hm, kalau tidak salah. Lucy berada di atas permukaan air, ada beberapa kota yang tenggelam di bawah laut dan yang paling menakjubkan, Lucy melihat ada banyak ikan yang melayang di angkasa bahkan ada paus juga. Tapi, entah kenapa, mimpi itu terasa nyata? Hem, ini sedikit aneh ...."
Lucy berjalan pergi sembari mengingat kembali apa yang sudah terjadi kepadanya. Sedangkan Fedrick masih diam tertegun dengan ucapan putrinya ini.
Kenapa, mimpi Lucy mirip seperti mimpi Lezzy, saat aku bertemu dengannya?
"Ayah, kenapa hanya diam? Ayo kita kembali, Lucy sudah kedinginan."
"Licy, mengani mimpi---"
" Sudahlah Ayah, tidak ada yang terjadi. Lucy juga tidak sedang diserang, mungkin karena aku sedang kelelahan jadinya ketiduran di taman. Lagipula, aku tidak terlalu ingat .."
"Tapi---"
"Ayah, jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya Ayah segera kembali ke kediaman Ayah untuk beristirahat, Lucy juga akan kembali dan tidur."
Lucy berjalan mendekati Fedrick, lalu mencium singkat pipi sang Ayah sebagai salam perpisahan di waktu malam.
"Salam malam, Ayah."
Fedrick tersenyum, mencoba mengabaikan ucapan Lucy mengenai mimpinya. Benar, mungkin saja itu hanya mimpi biasa. Tidak mungkin, kan? Jika Putrinya ini pergi ke dimensi Apologish Dreamcather, Yang sudah sangat lama tidak bisa ia masuki lagi.
Semenjak dia membawa Lezzy kembali ke Darkness World!
"Selamat malam juga untukmu, Putriku."
Mereka kembali memasuki istana dengan senyuman hangat, tak lupa usapan sayang dari Fedrick yang begitu mencintai Putrinya.
---.o• 🍁 •o.---
*Castle Roseria
~Kediaman Sunny
Aletha duduk bersantai dibalkon kamar calon buah hatinya, menikmati malam sunyi yang begitu tenang, membiarkan dirinya bermandikan cahaya rembulan, sembari dihujani bunga Wisteria yang ada di balkon itu.
Dia sengaja menanam pohon Wisteria berukuran sedang yang ia letakan di dalam pot sebagai hiasan di kediaman Sunny ini.
Semakin kehamilannya bertambah tua, Welliam semakin posesif. Ia akan begitu sensitif jika Aletha sedikit saja merasa lelah, sehingga Welliam menyuruh Aletha untuk meninggalkan pesta lebih awal dan beriatirahat sembari menunggunya.
Saat ini kandungannya menginjak usia 6 bulan, dan satu bulan lagi Aletha akan segera melahirkan. Jika pada umumnya manusia memerlukab 9 bulan untuk mengandung.
Maka bagi keturunan bangsa Demon, mereka hanya akan melahirkan bila kandungan berusia 7 bulan. Aletha yang sudah tidak sabar melihat buah hatinya, terus mengelus sayang perut yang sudah membuncit.
"Ternyata kau ada disini."
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Welliam yang terlihat begitu sangat lelah. Sepertinya dia baru saja selesai mengurus pesta malam ini.
"Apa-apan dengan kamar ini? Aletha, apa kau yang mendekor kamar anak kita?"
Aletha tertawa, karena sibuk Welliam belum pernah memasuki kamar anaknya. Dan saat ia baru pertamakali melihatnya, malah dibuat bingung dengan dekorasi aneh di kamar ini.
Bagaimana tidak aneh, jika satu ruangan memiliki dua dekorasi berbeda. Disebelah kanan, ada ranjang bayi perempuan lengkap dengan dekorasi seorang Putri.
Sedangkan disebelah kiri, terdapat ranjang tidur bayi laki-laki lengkap juga dengan dekorasi seorang pangeran.
Jangan tanya, apakah cukup satu kamar dipenuhi dua dekorasi berbeda. jangan lupa juga bahwa Castle mereka sangat megah dan besar. Sehingga, kamar anak mereka berlipat-lipat lebih luas dari kamar kalian. Uwuw (ू•ᴗ•ू❁)
"Bukan aku, tapi kedua orangtuamu."
"Ayah dan ibu?"
"Karena kita masih belum tahu, apakah anak kita laki-laki atau perempuan. Jadinya mereka menyiapkan peralatan bayi sekaligus, meski sebenarnya Lord Fedrick lebih berharap, cucu pertamanya adalah perempuan." Ucap Aletha sedikit tertawa.
"Ha~meski mereka akan segera menjadi Kakek dan Nenek, tapi sikap mereka masih seperti pasangan muda. Sebenarnya, yang akan memiliki anak itu kita atau mereka."
"Haha.., mereka juga pasti sangat menantikan seorang cucu. Jangan, ganggu kebahagiaan mereka."
Welliam memakaikan Aletha selimut kecil, untuk menghangatkannya.
"Setiap hari dia semakim sehat dan sangat aktif, bahkan saat dia mulai menendang."
"Sungguh? Sekarang dia sudah mulai menendang?" Tanya Welliam begitu antusias.
Aletha tersenyum dan mengangguk. Melihat itu, Welliam duduk dilantai sembari memeluk pinggang Aletha, mencoba mendekatkan dirinya dengan sang buah hati yang masih di dalam kandungan.
Ia mengelus lembut perut Aletha, lalu menciumnya seakan Welliam begitu memantikan kehadiran tangisannya disaat ia lahir nanti. Tindakan Welliam, langsung direspon oleh buah hatinya yang menendang-nendang perut Aletha.
"Ah!"
"Kenapa? Apa sakit saat dia menendang?"
"Em,"
"Oh! Apa sekarang dia memasuki fase kenakalan?"
"Apa kau bodoh?! Dia sedang dalam masa aktif, dan juga dia menendang karena merespon perlakuan mu sebagai Ayahnya."
"Kalau begitu, dia tahu jika aku Ayahnya. Sungguh? Wah, pasti dia akan menjadi anak yang pintar. Cepatlah lahir, Ayah tidak sabar melihatmu ..."
Aletha tertawa kecil, mendengar ucapan Welliam yang terlihat polos begitu sangat lucu. Seakan dia tidak bisa menahan euphoria-nya yang kian melejit di hatinya, Aletha hanya dapat tertawa geli sekaligus bahagia mendengarnya.
Apa benar dia seorang Lord Demon yang kejam?
Dalam renungan kebahagiaanya melihat reaksi Welliam, Aletha jadi kepikiran mengenai anaknya. Selama ini, dia ingin tahu keinginan Welliam mengenai anak mereka.
"Welliam, kau ingin ..., anak kita laki-laki atau perempuan?"
Welliam terlihat sedang berpikir kemudian ia beralih menatap Aletha yang masih terlihat gelisah.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Laki-laki atau Perempuan, bukankah sama saja? Toh, mereka juga tetap anak-anak ku. Jika anak pertama perempuan kita tinggal nambah lagi, jika laki-laki kita tambah lebih banyak. Kau pikir aku hanya ingin punya satu anak, ha?"
"Wah, memangnya kau ingin punya berapa anak?"
"Sebanyaknya, bila perlu kita pamerkan kepada Ayah yang sudah tidak bisa memberikan kami adik lagi. Pasti seru !!"
"Kau pasti hanya mikir enaknya saja, kan?"
"Tapi kau menikmatinya juga, kan?"
"WELLIAM !!"
"Baiklah-baiklah, aku minta maaf. Jangan cemberut seperti itu, nanti anak kita suka marah-marah sepertimu."
"Kau bilang apa?!"
"Aku bilang, kau sangat cantik! Istriku ..."
Aletha tidak habis pikir dengan Demon satu ini, benar-benar kekanak-kanakan. Tidak bisakah dia membahasnya dengan serius?
"Tapi ..."
Aletha kembali melihat Welliam yang terlihat sedang malu bersamaan dengan senyum tipis menawannya.
"Aku, akan sangat bahagia jika anak pertama kita perempuan. Bukankah itu berarti, aku memiliki sepasang malaikat cantik yang begitu mirip sepertimu, Aletha. Jika itu terjadi, maka, aku akan menjadi seorang Ayah yang selalu melindungi setiap langkah kecilnya,"
Welliam mengalihkan wajahnya. Mecoba menutupi rasa malu kebahagiaannya di hadapan Aletha. Sedangkan Aletha diam tertegun dengan pengakuan Welliam, yang terasa dejavu.
Jika ada sebuah keajaiban dan aku diberikan kesempatan untuk memiliki kehidupan kedua ...
"Welliam ..."
"Ah, bu..bukan berarti aku tidak suka memiliki anak laki-laki. Hanya saja, aku be---"
"Jika memang, anak pertama kita perempuan, ka..kau ingin memberi namanya siapa?"
Aletha begitu sangat penasaran dengan hal ini, pasalnya Welliam belum mengungkit masalah nama anak pertama mereka.
Ia bisa mengerti, mungkin karena Suaminya ini selalu sibuk sebagai Lord, sehingga ia terus lupa dengan pemberian nama.
Welliam tersenyum, "Sofia ..., Sofia Artechyna Lorddark's."
Bolehkah Sofia memilih untuk terlahir kembali ..., sebagai Putrimu, Kak Aletha?
Aletha mencengkram kuat gaunnya, menahan semua perasaan kebahagiaannya yang terus menggebu-gebu. Beberapa kilasan ingatan buram mulai hadir dengan jelas, seakan ia mengingat sebuah janji manisnya dengan seorang anak kecil.
Keajaiban itu sungguh ada, keajaiban itu mungkin akan terjadi. Apakah aku masih bisa melihatnya kembali? Menghabiskan waktuku lebih banyak bersamanya, menuntun langkahnya sedari kecil hingga dewasa.
Apakah aku masih boleh bersamanya setelah apa yang telah kulakukan terhadapnya? Sofia ..., apakah kau sungguh akan terlahir sebagai putriku?
"Sebenarnya, aku selalu memikirkan nama ini dan ingin segera memberitahumu. Tapi, aku selalu lupa karena sibuk bekerja. Aku juga sudah sangat sulit menyempatkan waktuku untuk bersamamu. Entah mengapa, aku bisa mengerti perasaan ayah terhadap Lucy yang---"
"Kenapa, kenapa kau memberi namanya Sofia?"
Welliam diam sejenak, lalu mengusap wajah Aletha yang masih terlihat ragu.
"Karena, aku ingin memiliki seorang Putri seperti gadis kecil bernama Sofia yang bisa membuatmu tersenyum di masa lalumu. Kau bilang, dia gadis kecil yang tangguh dan sangat periang. Aku juga ingin Putri kita seperti dia, apa kau tahu arti nama Sofia dalam bahasa latin di kekaisaran Darkness World?"
Aletha menggeleng pelan, "Tidak ..."
Senyum Welliam kian terlukis sempurna saat mendengarnya. Sedangkan Aletha masih menunggu jawaban Welliam dengan penuh rasa penasaran.
"Sofia memiliki makna, yang berarti seorang Wanita Cantik Berjiwa Kepemimpinan. Mungkin saja, Putri kita bisa menjadi Kaisar wanita pertama di dunia ini. Dia bisa menjadi wanita tangguh dan kuat sepertimu, dan dia juga mampu berkuasa seperti diriku dalam memerintah Darkness World."
Aletha sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, perasaan bahagia yang meluap dengan sangat ruah. Membuatnya kian berucap syukur pada kehidupannya saat ini.
Semua kesalahannya dulu menghukumnya dengan memisahkannya dengan orang-orang yang dia sayangi, membuat dunia hancur hanya karena kesalahpahaman saja.
Aletha sadar, selama ini ia selalu berharap keinginannya akan segera terkabul. Tapi, tidak pernah terpikirkan bagaimana jadinya jika semua dosanya di balas dengan sangat cepat, secepat kita meminta kenikmatan dari dia sang maha kuasa.
Selama apa pun, hari yang paling bahagia bagi mahluk hidup pasti akan tiba waktunya. Kita hanya perlu bersabar dan menilai dari sisi pelajaran hidup yang terlewati di setiap detiknya.
Kini dia paham apa yang ingin Sofia katakan kepada pada akhir kalimat perpisahan mereka. Ah, kenapa ini bisa sangat begitu membahagiakannya.
Sangking senangnya, Aletha tak mampu menyangkal air matanya. Dan menangis ria dihadapan Welliam, sesekali dia mencoba menghapusnya dan seberusaha mungkin tidak menangis.
Tapi sepertinya sudah tidak bisa ...
"Kenapa akhir-akhir ini kau lebih sering menangis sih? Apa benar kau seorang Dewi Perang, hm?"
"Diamlah, aku hiks ..., aku sedang tidak ingin mendengar lelucon mu."
Welliam tertawa, "Kemari lah, aku akan menenangkan mu. Jadi, berhentilah menangis, Ratu ku."
Aletha memeluk hangat Welliam, berbagi kebahagiaannya dengan suami tercinta. Ia jadi ingat bagaimana perjuangan mereka melawan takdir dan bersikukuh bahwa mereka akan selalu bersama.
"Bertemu denganmu, membuat kebahagiaanku terus bertambah, terimakasih Welliam." Lirih Aletha dalam dekapan Welliam.
"Bukan. Harusnya aku yang berterimakasih, kehadiranmu dalam hidupku membuat semua hari-hatiku lebih bermakna. Kau berikan kebahagiaan yang sesungguhnya kepadaku, Aletha."
Mereka saling bertatapan, membiarkan mata secerah langit memenuhi penglihatan mata Demon ini.
"Terimakasih telah menjadi Mate ku, menemaniku memimpin dunia ini sebagi seorang Ratu. Dan, terimakasih, telah bersedia menjadi Ibu dari anak-anak ku. Aku mencintaimu, Aletha Wisteria."
"Aku akan selalu bersamamu. Jadi, mari nantikan kehadirannya di keluarga sederhana kita, Welliam."
"Hm."
Aletha kembali bersandar pada dada bidang sang suami, memandang rembulan yang bercahaya terang, seakan Selini Thea tengah tersenyum kepada mereka.
Aletha menutup mata, membuat benaknya terbayang sosok gadis kecil cantik tengah tersenyum riang kearahnya.
' Sampai bertemu kembali, Mama ... '
" Keajaiban itu, akan segera terwujud. "
---.o•° 🍁 °•o.---