The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Bukan Salahmu



Medical City Hospital Dallas Texas


"Opa ! Stop lah mendrama ria sama Demit ! Nggak ingat umur apa!" hardik Rania gemas dengan Joey yang semakin kemana mana hatinya senang.


"Lho Ran, justru yang seperti ini yang bikin awet muda, tahu !" balas Joey judes.


"Dokter Bianchi, anda menginap dimana?" tanya Chris yang baru ingat.


"Di apartemen Rania lah ... Ya Ran?" Joey menatap cucunya.


"Absolutely...daripada Opa dan Oma di hotel, mending di apartemen aku saja."


"Kalau nggak, apartment aku kan kosong, Rania... Pakai saja" timpal Chris.


"Nope, kami bersama Rania saja...Ohya, katanya kalian sudah membeli rumah?" tanya Georgina.


"Sudah Oma. Chris yang membelinya dekat danau dan aku sangat suka dengan suasananya..."


"Hati-hati... Di danau itu ada Loch Ness atau swamp thing nya ..." goda Joey.


"Yang jelas Opa, aku tidak akan mengijinkan L nginap di rumah kami ! Bahaya !" ucap Rania yang paling sebal kalau sepupunya yang punya sixth sense itu mulai SKSD ( sok kenal sok dekat ) dan SDSB ( sok dekat sok baik ) ke makhluk unseen dan tidak jelas.


"Susah memang ... Kelebihan Lachlan yang disuka Freya ... Jadilah mereka kompak lahir batin..." gumam Joey membuat Rania menatap opanya sebal.


"Ampun deh !"


***


Apartemen Rania dan Apartemen Chris


Seminggu Joey dan Georgina berada di Dallas hingga Chris diijinkan pulang meskipun harus memakai kruk. Akibatnya, pria itu meminta agar Rania tinggal bersamanya di apartemen guna membantu dirinya yang masih memakai gips.


Samuel dan Blaze akhirnya mengijinkan Rania tinggal bersama dengan tunangannya satu atap apalagi kondisi Chris memang membutuhkan bantuan dan pengawasan dokter. Siapa lagi dokter yang paling Chris percaya kalau bukan Rania, tunangannya sendiri.


Chris pun senang Rania tinggal satu apartemen dengannya dan baginya seperti latihan berumahtangga sebelum menikah resmi tapi tanpa berhubungan intim. Chris tahu jika melanggar, bakalan disleding oleh Blaze Bianchi. Lagian gimana mau enak dengan kaki di gips begini? Nggak bisa ganti gaya dong ! Masa gaya dada terus? Kapan gaya kodok, gaya kecebong, gaya Dugong bisa dilaksanakan?!


Pagi ini Rania sudah menyiapkan semua obat dan susu kalsium tinggi demi mempercepat regenerasi tulang kering Chris. Gadis itu juga sudah menyediakan sarapan untuk tunangannya karena dia ada jadwal operasi pagi ini.


"Kamu nggak sarapan?" tanya Chris yang keluar dari kamar menggunakan kruk.


"Aku bawa bekal Demit. Sudah aku siapkan obat dan susu kalsium kamu..." Rania membawa kantung kertas yang berisikan sandwich dan salad yang dibuatnya bersamaan dengan sarapan untuk Chris.


"Ya sudah... Hati-hati" senyum Chris yang duduk di kursi makan. Rania mencium bibir Chris lembut.


"Aku pergi dulu, sayang" pamit Rania.


"Sukses buat operasi nya nanti" ucap Chris tulus.


"Thanks honey."


***


Chris sedang asyik menonton televisi sambil meluruskan kakinya yang terbungkus gips diatas meja kopi ruang tengahnya ketika Rania pulang dari rumah sakit. Chris melihat wajah mendung Rania yang segera masuk ke dalam kamarnya.


Pasti ada kasus di rumah sakit.


Chris menunggu sampai gadis itu selesai membersihkan diri seperti kebiasaannya setiap pulang dari rumah sakit. Setengah jam kemudian, Rania keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.


"Sayang... Kamu mau ngapain?" tanya Chris sambil menengok ke belakang.


"Nggak usah masak. Kamu duduk saja disini bersamaku... Kita pesan saja. Kamu dalam kondisi tidak mood memasak... " Chris menatap Rania lembut.


Rania pun duduk di sebelah Chris dan meletakkan kepalanya di bahu tunangannya lalu memeluk lengan kekarnya.


"Ada apa, mbak Kunti?" goda Chris.


"Mbak Kunti dapat korban... " gumam Rania dengan nada sedih.


"Pasien mu meninggal?"


Rania mengangguk. "Aku tadi saat membuka dadanya dan ... Ya Allah ... Kankernya sudah menyebar..."


"Apa tidak terlihat saat kamu periksa awal?"


"Hanya terlihat di dadanya tapi ternyata sudah menyebar ke paru-paru..." Rania mengelus tangan Chris. "Awalnya aku hendak mengangkat dadanya tapi ternyata... Aku sudah berusaha Chris... "


"Aku tahu kamu sudah berusaha...tapi there's nothing you can do..." Chris mengecup kepala Rania. "Sudah takdirnya sayang..."


"Aku sebenarnya yakin bisa menyelamatkan nyawanya tapi ... Di tengah-tengah... Jantung nya tiba-tiba berhenti berdetak... " isak Rania.


Chris melingkarkan tangannya dan memeluk Rania. "Sayang, aku tahu kamu pasti sudah berusaha sekuat tenaga kamu, tapi apakah kamu lupa siapa pemilik nyawa ini sebenarnya? Jika Allah sudah berkehendak, kamu tidak bisa melawanNya. Dengar, kamu tidak salah. Kamu sudah berjuang keras. Rania, hari ini kamu tidak bisa menyelamatkan satu nyawa tapi kemampuan kamu dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa esok hari..."


Rania memeluk tubuh Chris. "Kenapa kamu bisa sebijak ini Demit?"


"Karena kita semakin tua, pola pikir semakin dewasa ..."


"Aku belum tua ! Baru mau 26 tahun!"


"I know tapi disaat usia kita semakin bertambah, kita kan secara tidak sadar membuat otak dan hati kita lebih dewasa dalam segala hal..."


Rania menatap Chris yang menunduk ke arahnya. "Demit, kadang aku merinding kalau kamu dalam kondisi lurus dan waras seperti ini..."


Chris mencium bibir Rania lembut. "Seriously Rania... Kenapa harus merinding... Harusnya bangga dong aku bisa mikir bener..."


Rania tertawa. "So, kamu mau makan malam apa?"


"Bagaimana kalau steak ?" tanya Chris.


"Dengan mashed potatoes yang banyak !"


***


Malam ini Rania dan Chris memesan steak dengan mashed potatoes yang banyak sesuai dengan permintaan gadis itu. Keduanya pun memilih untuk tidur di depan perapian diatas karpet tebal sambil mengobrol banyak hal termasuk saat mereka SMA. Rania dan Chris tertawa bersama saat mengingat bagaimana gadis itu membanting Jacqueline diatas meja kantin.


Rania dan Chris pun membicarakan acara pernikahan yang akan dilaksanakan dua Minggu lagi. Pria itu berharap sudah bisa berjalan dengan benar meskipun Rania meragukannya karena harus menunggu tiga bulan untuk mengetahui kondisi kakinya. Chris tetap meyakinkan Rania yang hanya dijawab senyuman manis dari dokter bedah itu.


Perlahan mata keduanya pun terpejam dan seperti saat di London, Chris dan Rania tidur sambil berpegangan tangan seolah tidak mau berpisah. Sementara hanya seperti ini yang bisa mereka lakukan saat tidur bersama tapi bagi keduanya, sudah cukup membuat perasaan tenang.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️