The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Rania, Chris dan Darling



Markas Dallas Cowboys Texas


Chris menghajar samsak dengan membabi buta gara-gara Rania dengan cueknya memanggil pria lain 'Darling'.



"BRENGSEEEKKK ! Brengseeekkk! BRENGSEEEKKK!" umpatnya sambil terus memukul samsak itu.


"Kamu baik-baik saja ?" tanya salah seorang teman satu timnya.


"No Simba ! I'm not okay !" balas Chris galak.


"Jeez, pasti gadismu yang di London. Apalagi yang dia lakukan hingga membuatmu seperti ini?" kekeh pria berkulit hitam dan berbadan besar itu.


"Dia memanggil seseorang dengan sebutan Darling ! Dia tidak pernah memanggilku Darling !" sungut Chris manyun sambil terengah-engah dan memegang samsak.


"Wajar kalau gadismu memanggil orang lain Darling. Bukankah itu sudah biasa di Inggris?" ucap Simba.


"Tapi ini berbeda Simba. Dia sangat ... Tampak... Dia tampak sangat genit !" gerutu Chris membuat Simba terbahak.


"Genit bagaimana?" tanya Simba sambil memasang pelindung tangannya.


"Macam dia memainkan rambutnya diputar-putar begini..." Chris memperlihatkan gaya Rania saat menerima telepon dari Alex. Simba semakin terbahak melihat rekannya tampak sangat cemburu.


"Datangi lah ke London, Chris, agar kamu tenang. Apalagi pertandingan pertama kita melawan New York Giants... " Simba menatap Chris serius. "Ambil lah libur empat hari. Pergilah ke London. Mumpung kita belum mulai musim ... "


Chris tampak termenung. "Oke lah ! Aku akan ke London."


***


Royal Hospital London


Rania memegang kepalanya yang terasa sakit usai melakukan operasi yang sangat delicate. Gadis itu tampak menyandarkan kepalanya diatas kepala kursi sambil memejamkan matanya.


"Andaikata ada yang memberiku makanan enak ..." gumam gadis itu. Tak lama Rania menjerit kencang karena merasa sesuatu yang dingin mengenai pipinya.


"Astagaaaa ! Sampai segitunya kaget ?" kekeh Alex Darling yang menempelkan kaleng es kopi di pipi Rania.


"Dingin Bambaaaanngggg ! Bikin aku jantungan !" bentak Rania kesal.


Alex Darling tertawa lalu memberikan sebuah kotak makanan. "Kamu lapar kan ? Habis operasi rumit kata suster Amy."


"Tahu saja kalau aku lapar saban habis operasi..." senyum Rania sambil membuka bento yang berisikan beef teriyaki, nasi dan salad. "Duh enaknya ...Kamu nggak makan ?"


"Ini aku bawa juga..." Alex Darling pun membuka kotak bentonya.


"Ayo makan. Bismillahirrahmanirrahim." Rania pun mulai memakan Bento nya dan Alex pun mengikuti.


"Kamu ngapain kemari ?" tanya Rania.


"Ada korban pembunuhan tapi berkedok kecelakaan..." jawab Alex.


"Siapa ?"


"Ada suami istri. Awalnya mereka mereka baik-baik saja tapi mulai berantakan saat suaminya dipecat. Istrinya yang jadi tulang punggung keluarga dan gaji istrinya lumayan... Hanya saja, istrinya tidak suka kalau suaminya semakin mengekang nya hingga tidak bisa sosialisasi..."


"Dia takut sumber uangnya hilang" gumam Rania.


"Exactly. Dan si istri akhirnya menggugat cerai. Semua rumah, mobil dan aset akan menjadi milik istrinya kecuali tabungan dan mobil atas nama suaminya."


"Bagaimana dengan asuransi?" Rania menatap Alex serius.


"Asuransi istrinya bernilai £1 juta. Dan untungnya seminggu sebelum kejadian, istrinya sudah memindahkan penerimanya ke anak tunggal mereka."


Rania bersiul. "Yo sumbut arep mateni nek ngerti duite sakmono ( ya niat mau membunuh jika tahu uangnya segitu )."


"Terus bagaimana?" tanya Rania mengacuhkan pertanyaan Alex.


"Senin kemarin itu harusnya dia dan istrinya menemui pengadilan untuk penandatanganan surat cerai. Dan dia sudah merencanakan untuk membunuh istrinya sebelum tanda tangan surat cerai agar uang asuransi tetap menjadi miliknya karena mereka belum bercerai resmi" jawab Alex.


"Dengan cara apa ?"


"Menyabotase mobilnya dan memaksa istrinya ikut dengannya. Dirinya memperhitungkan bagaimana istrinya bisa tewas karena patah leher akibat kecelakaan..."


"Jadi dibuat macam kecelakaan gitu ?" Rania tampak takjub dengan kemampuan berpikir si suami. Demi uang. !


"Yup. Sebenarnya aku tidak dipanggil kemari kalau dokter yang mengautopsi tidak curiga dan polisi lalu lintas juga meragukan kecelakaan itu tidak disengaja..."


"Kamu kesini dalam rangka....?"


"Membantu anak korban untuk membawa pulang jenazah ibunya karena korban akhirnya ditetapkan sebagai korban pembunuhan berencana jadi kan agak ribet urusan birokrasi nya..." jawab Alex.


"Memangnya usia berapa anaknya ?"


"14 tahun dan sang nenek dari pihak ibu bersama dengan pihak asuransi sudah sepakat untuk menahan uangnya setelah dia berusia 18 tahun."


"Kasihan. Usia segitu kehilangan ayah dan ibunya..." ucap Rania.


"Ayahnya memang tidak memikirkan dampaknya ..." geram Alex Darling.


Keduanya pun menyelesaikan makannya dan ketika Rania dan Alex hendak memasukkan kotak itu ke dalam kantong, terdengar suara yang membuat keduanya menoleh.


"Jadi ini pria yang membuat kamu berpaling dariku, Rania ?"


Rania melongo. "Demit ?"


***


"Namaku memang Alex Darling, Chris Armstrong... " gelak Alex saat melihat wajah Chris berubah memerah. "Jadi terkadang banyak orang salah sangka ... "


"Aku dan Alex dulu satu kampus beda fakultas satu tim debat jadi sudah biasa bersama, Demit. Kamu itu bikin malu !" omel Rania.


Ketiganya sedang berada di taman rumah sakit karena Rania menyeret dua pria itu kesana supaya tidak gegeran di dalam rumah sakit.


"Tapi kamu tidak pernah memanggil aku Darling, Rania ! Sama dia, kamu memanggil nya dengan mesra !" eyel Chris membuat Rania rasanya ingin menjitak kepala pria bermata biru itu.


"Karena namanya memang Darling, kampreeett !!! Hiiishhhh, aku kudu gimana biar kamu paham sih !" bentak Rania gemas.


"Errr apa kalian berpacaran?" tanya Alex Darling yang geli melihat keduanya.


"Ya !" jawab Chris.


"Nggak !" jawab Rania.


Alex Darling menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. "Ya ampun..."


Rania dan Chris saling berpandangan judes.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️