The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Pria Ngeyel



Apartemen Rania di London


"Merinding? Setan lewat? Apaan Bia?" tanya Leonardo bingung.


"Serius, aku merinding... Jangan-jangan..." Biana menatap Leonardo dengan raut wajah bergidik.


"Jadi kamu menganggap aku setannya?!" protes Leonardo tidak terima. "Aku kamu panggil singa gurun masih tidak apa-apa, Bia. Tapi kalau aku dipanggil setan, aku tidak terima !"


"Tidak terimanya?" tanya Biana polos.


"Mana ada setan gantengnya macam aku begini?" senyum Leonardo dengan gaya narsis.


"Oh Tuhanku..." gumam Biana kesal.


"Biana... "


"No, Leonardo bukan Dicaprio... Aku tidak mau menjadi kekasihmu..." jawab Biana tegas.


"Baiklah... tapi kamu tetap calon istriku" eyel Leonardo sambil tersenyum.


Biana memutar matanya sebal. "Nak macam pula ini budak !"


"Hah?" Leonardo tidak paham ucapan Biana.


"Sudah, kamu nginap dimana?"


"Nginap sini... Boleh?" tanya Leonardo dengan percaya dirinya. "Aduuuuhhhh !" Pria itu menjerit kesakitan ketika Biana mencubit kedua pipinya.


"Tidak perlu Daddy ku yang tembak kamu ! Aku juga bisa ! " pendelik Biana galak.


"Ah?! Kamu mau tembak aku jadi pacar kamu?" Mata biru Leonardo tampak mengerjap-ngerjap senang.


"Tembak pakai Glock aku, cumiii !"


"Kamu bisa menembak?" tanya Leonardo tidak percaya.


"Memanah pun bisa ! Dengar, singa gurun. Tidak perlu menjadi seorang cowboy untuk bisa menembak dan aku adalah orang yang jago menembak jarak jauh ataupun jarak dekat !" ucap Biana dengan penuh percaya diri.


Leonardo merasa semakin jatuh cinta dengan gadis bar-bar dan urakan ini. Memang bukan cewek lemah... Leonardo semakin yakin untuk bisa membuat Biana jatuh cinta ke padanya karena dirinya tidak mau kehilangan gadis galak ini.


***


Royale Hospital London



Rania Bianchi


Rania memilih duduk di ruang tunggu saat gadis cilik bernama Matilda itu diperiksa oleh dokter anak. Awalnya Matilda memberontak tapi akhirnya Rania memberikan pengertian untuk tetap tenang karena dia harus berada di luar.


Matilda menatap Rania yang menunggu di depan kaca tempat nya dirawat. Dan tak lama. Matilda pun terlelap usai mendapatkan obat tidur yang sesuai dosisnya untuk membuatnya tenang.


Dan kini, dokter itu mengobrol dengan dokter anak yang juga seniornya tentang kondisi Matilda.


"Anak itu mengalami trauma berat, Rania. Dan dia hanya bisa bersama kamu sampai Scotland Yard bisa menemukan bibinya" ucap dokter anak itu.


"Kata polisi yang berada di TKP, Matilda berada di balik lemari berongga hingga melihat semua kejadiannya dok..." jawab Rania membuat dokter anak senior itu menghela nafas panjang.


"Bisakah kamu mendampinginya saat harus menemui konselor? Besok kita mulai sesi mengurangi sedikit demi sedikit rasa trauma nya..." dokter anak itu menatap Rania penuh harap.


"Insyaallah saya bisa dok, usai mengikuti jalannya operasi dengan dokter Hawk."


Dokter anak senior itu menggenggam tangan Rania. "Terimakasih Rania."


***


"Hai, sudah selesai urusannya?" tanya Biana sambil menata meja.


"Belum. Aku besok terpaksa pagi-pagi ke rumah sakit" jawab Rania sambil meletakkan tas dan jaketnya di sofa.


"Kan kamu memang ada acara operasi kan?" Biana melihat bagaimana wajah sepupunya tampak kusut.


"Yup tapi tidak hanya itu Bia..." sahut Rania sambil berjalan ke meja makan. "Lho kok tiga? Satu lagi siapa?" tanya putri Blaze Bianchi yang terkejut melihat ada tiga piring yang ditata di meja makan.


"Singa Gurun minta makan disini."


Rania melongo. "Apa? Bukannya kamu tidak suka dia?"


"Dia sudah ngereog, Rania dan aku besok harus kembali ke Oxford jadi sebelum dia pulang, aku kasih obat urus-urus dulu" jawab Biana kalem.


Rania terbahak. "Oh astagaaa, nggak sekalian sianida?"


"Tadinya kepikiran itu cuma kan ketahuan... Sayangnya kan aku tidak ada akses untuk succinylcholine dan kamu juga tidak mungkin mengambilnya terus dibawa pulang kan?"


"Bisa kalau kamu mau. Pertanyaannya apakah kamu tega berbuat itu ke Singa Gurun. Itu saja" senyum Rania. "Aku yakin, sebenci-bencinya kamu sama Leo, kamu juga salut sama sikapnya yang gentle datang kemari demi kamu."


"Dia juga ke kantor Daddy di Quantico dan bertemu langsung dengan Daddy."


Rania melongo. "Wow ! Dia benar - benar serius ! Tanggapan Oom Pedro gimana?"


"Nodong pakai Glock" gelak Biana.


"Astaghfirullah... " kekeh Rania. "Aku mandi dulu Bia. Badanku rasanya lengket semua dan yang jelas aku membutuhkan guyuran air dingin di kepalaku." Gadis itu pun masuk ke dalam kamarnya sambil membawa tas dan jaketnya.


Biana sedang menuangkan air putih ketika suara bel apartemen Rania berbunyi. Gadis itu pun bergegas menuju pintu dan melihat Leonardo berdiri disana lalu membukakan pintu apartemen.


"Rania sudah pulang?" tanya Leonardo.


"Sudah. Kenapa?"


"Aku tadi melihat berita di televisi hotel yang memperlihatkan Rania sedang berbicara dengan seorang pria yang memakai badge polisi."


"Apakah pria itu berambut coklat agak pirang? Wajahnya dingin?" tanya Biana sambil mempersilahkan Leonardo duduk.


"Yup" jawab Leonardo. "Apakah itu yang bernama Alex Darling?"


"Yes. Super Intendant Alex Darling."


"Tampaknya dia suka Rania."


Biana hanya tersenyum smirk. "Perasaan kamu saja. Rania tidak suka Alex dan begitu juga sebaliknya. Rania masih ingin bebas untuk segera menyelesaikan studinya dan tidak mau dipusingkan soal asmara" jawab Biana lugas.


"Macam kamu?"


"Macam aku !"


Leonardo mengangguk. "Kita lihat saja nanti Biana. Aku yakin kita berdua diciptakan memang sebagai pasangan."


Biana menatap datar ke arah Leonardo. "Tiba-tiba aku merinding lagi..." ucapnya cuek.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️