
Royale Hospital London
Rania kembali ke rumah sakit dengan wajah manyun karena Chris dengan santainya mencuri ciuman dari bibirnya. Gadis itu pun berjalan menuju pos nya di IGD karena malam ini dia harus berjaga disana.
"Dokter Bianchi... Kopi?" tawar Suster Amy sambil memberikan gelas berisikan kopi.
"Thank you suster Amy..." Rania menyesap kopinya.
"Anda baik-baik saja Dok?" Suster Amy duduk di sebelah Rania.
"Antara baik dan tidak baik..." gumam Rania mengambang.
"Apakah karena ditinggal Mr Chris?" goda suster Amy.
Rania menoleh judes ke suster Amy. "Siapa juga yang galau ditinggal manusia minus akhlak itu !"
"Dok, kalau anda bersama dengan Mr Chris juga cocok kok. Sama-sama kacau..." gelak suster Amy. "Bayangkan kalian sama kompak menggoda super Intendant Alex Darling padahal kalian sering tidak akurnya."
"Kita lihat saja nanti Suster Amy. Oh, sus. Apakah mendengar cerita horor tentang suster ngesot?" Rania mengerlingkan mata coklatnya dengan jahil ke suster Amy.
"Anda jangan cerita soal horor dong dok..." rengek Suster Amy yang memang agak penakut.
"Jadi sus. Di suatu rumah sakit di Jakarta... "
"Dooookkkkk!"
***
Hari-hari pun berlalu, dan Alex Darling sudah kembali beraktivitas seperti biasa begitu juga dengan Rania dan Alisha.
Sore ini Rania baru saja menyelesaikan visite ke pasiennya yang usai menjalani operasi usus buntu, dan berencana hendak pulang ketika seorang wanita yang sepertinya seorang guru, datang ke IGD rumah sakit.
"Aku membutuhkan dokter ! Tetangga saya mengalami histeris !" teriak wanita itu sedangkan disebelahnya bocah itu berteriak seperti ketakutan.
"Aku dokter Bianchi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rania saat menghampiri wanita itu. "Pertama - Tama, nama anda? Nama anak ini?"
"Saya Angelie, wali bocah ini, Billy Gallagher. Entah apa yang terjadi tapi tadi saat pulang sekolah saya jemput, Billy berteriak histeris." Angelie memeluk Billy yang masih tampak ketakutan.
Rania pun berjongkok di hadapan Billy. "Hai, Billy. Aku dokter Rania Bianchi. Kita ke ruangan ku yuk. Ada banyak makanan disana..." bujuk Rania.
Mata biru Billy menatap ketakutan ke Rania.
"It's okay. Atau kamu mau es krim coklat? Atau pie? Atau mau aku pesankan pizza?"
"Es ... Krim."
Rania tersenyum. "Yuk, kita ke ruangan dokter Bianchi... Yaitu aku. Biar Billy bisa makan es krim dengan nyaman." Rania berbisik di depan Billy. "Takutnya ada yang iri sama kamu... "
Billy sedikit menaikkan bibirnya. Angelie merasa lega karena bocah itu sudah bisa tenang. Akhirnya keduanya mengikuti Rania dan suster Amy yang terpaksa mundur jam pulangnya.
***
Rania menatap Angelie, wanita paruh baya berdarah Pakistan itu dengan tatapan menyelidik.
"What's going on ( Apa yang terjadi )?" tanya Rania perhatian. "Karena yang saya lihat adalah tanda-tanda child abuse."
Angelie menghela nafas panjang. "Billy memang diabuse oleh neneknya dan saya hanya tetangganya yang dimintai tolong untuk menjaganya.."
"Kemana orang tuanya?"
"Sudah tidak ada. Billy tinggal bersama dengan neneknya."
"Kemana neneknya?" tanya Rania.
"Pergi berlibur ke Yunani."
"Nenek sihir !" jawab Angelie.
Rania harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan semua kutukan ala Harry Potter dan dukun santet.
"Baiklah Miss Angelie. Besok anda bawa Billy kemari agar bisa dikonseling oleh psikolog anak. Saya akan mengirimkan email ke rekan saya, dan jam sembilan pagi esok, tolong bawa Billy kemari. Saya akan buatkan jadwalnya." Rania mengambil ponselnya lalu mengirimkan email ke Alisha dan membuat janji jadwal konseling.
"Baik dokter Bianchi, terimakasih."
***
Dan pagi ini, Alisha mendengarkan cerita Billy dengan penuh perhatian. Bocah itu sudah yatim piatu dan tinggal bersama dengan neneknya dari pihak sang ibu. Nenek itu tidak menyukai cucunya tapi karena adanya bantuan dari pemerintah Inggris untuk biaya Billy, maka dia berusaha menutupi dari child service yang selalu mengontrol kondisi para anak-anak yang menerima bantuan. Aslinya, Billy sering disiksa secara psikis dan verbal oleh neneknya yang tidak berani melakukan pemukulan karena bisa langsung dicabut bantuannya dan Billy diambil oleh negara jika ketahuan melakukan tindakan pemukulan. Tentu saja pendapatan rutin setiap bulan bisa hilang jika dirinya ketahuan menyiksa Billy secara fisik.
"Kamu ingin keluar dari rumah nenek kamu?" tanya Alisha.
"Iya my lady. Aku sudah tidak tahan mendengar cacian grandma..."
"Apakah kamu ada bukti penyiksaan verbal nenek kamu?"
Billy menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya ponsel atau alat rekam, my lady."
"Kamu dibawa kemari karena di sekolah, tampak histeris?"
Billy mengangguk. "Miss Angelie yang mengantarkan aku ke rumah sakit karena aku tidak bisa berhenti berteriak. Dan oleh dokter cantik yang merawat aku disarankan untuk konseling..."
Alisha tahu pasti kakaknya Rania yang menyarankan karena semalam dia mendapatkan email untuk menkonseling bocah ini dengan memo ASAP ( As soon as possible ).
"Sekarang kamu tinggal bersama siapa?" tanya Alisha.
"Dengan Miss Angelie, tetangga kami. Grandma sedang berlibur ke Yunani..."
Alisha mengelus kepala Billy lembut. "Biar aku cari jalan bagaimana caranya kamu bisa lepas dari nenek kamu."
Tiba-tiba Billy memeluk Alisha. "Terimakasih my lady ..."
Alisha tersenyum dan membalas pelukan bocah itu.
***
"Rasanya aku ingin membakar menyan dan menyantet nenek lampir itu !" omel Rania kesal saat dirinya dan Alisha makan siang.
"Mbak, nenek lampir kamu santet ya nggak mempan. Kalah ilmu kau" jawab Alisha sambil tersenyum.
"Hiiihhhh rasanya pengen aku dedel duwel badannya terus aku kasih makan ikan piranha Opa !" geram Rania sambil menusuk-nusuk chicken katsu nya.
"Mbak, apa aku minta bantuan Opa Benji ya?" tanya Alisha.
"Bantu alat-alat spionase? Buat cari bukti kejahatan nenek lampir ? Minta saja Sha. Kamu harus mendapatkan barang bukti itu dan soal bukti legal dan lain sebagainya, biar itu menjadi urusan Alex Darling. Nanti aku bilang sama dia ! Oh, kalau ketemu neneknya macam apa, kasih tahu mbak!" ucap Rania judes.
"Mau kamu apain mbak?" tanya Alisha cemas.
"Suntik sianida !"
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️