
Apartemen Rania Daerah Soho London
Rania yang baru keluar dari kamarnya, melihat pemandangan di hadapannya dengan tatapan bingung karena posisi Leonardo seperti merayu Biana tapi sepupunya hanya cuek saja.
"Seriously, Bia. Kalian itu pacaran saja deh..." kekeh Rania.
"Akhirnya ada yang mendukung aku" cengir Leonardo.
"Aku tidak cinta dia, Ran! Dia saja yang Bonek !" hardik Biana kesal.
"Bonek?" Leonardo menatap Biana dan Rania bergantian. "Apa itu?"
"Bondo Nekad. Orang Nekad" jawab Rania.
"Kalau aku tidak nekad, aku tidak mendapatkan perhatian kamu Bia. So, sekarang kamu perhatian padaku?" Leonardo memandang gadis galak itu dengan penuh perasaan.
"Nope." Biana pun berdiri meninggalkan Leonardo yang tersenyum. Hatinya merasa gemas dengan dosen cantik itu.
"Sudah, kita makan dulu. Bia yang masak ini" ajak Rania. Jujur dirinya merasa lelah karena kejadian tadi dan dia ingin segera makan lalu beristirahat karena besok pagi-pagi dia harus ke rumah sakit.
***
"Enak. Masakanmu enak, Bia. Memang pantas jadi istri idaman... Jago masak, jago nembak, bisa urus hewan... Addduuuhhh!" Leonardo mengaduh ketika kakinya kena tendang Biana.
"Nggak usah merayu gombal membuat aku tertarik sama kamu!" Biana menatap tajam ke arah Leonardo yang duduk di hadapannya sedangkan Rania duduk di sebelah Biana.
"Aku sebenarnya tidak suka keributan di meja makan tapi karena besok Bia harus kembali ke Oxford dan kamu kembali ke Texas, dan aku kembali sendirian, jadi aku nikmati saja kekacauan unfaedah ini" ucap Rania sambil memasukkan steak ayamnya.
"Rania, benarkah? Bia besok kembali ke Oxford?" Leonardo tampak terkejut. "Kok kamu nggak bilang?"
"Eh Bambang, besok itu hari Senin dan aku harus mengajar! Bagaimana sih kamu tuh!" gerutu Biana kesal.
"Oh aku lupa. Aku antar ya Bia. Biar aku tahu kampus kamu..."
"No Leonardo! Kamu kembali ke Texas dan aku pulang sendiri ke Oxford !"
"Kenapa kamu tidak mau aku antar ? Apakah kamu tidak pede berjalan dengan koboi tampan seperti aku?"
Uhuk ! Uhuk ! Rania terbatuk-batuk mendengar ucapan narsis pria bermata biru itu. "Astaghfirullah... " ucapnya dengan suara serak sambil minum air putih. "Yang benar saja..."
"Lho siapa tahu kan Rania. Bia merasa malu berjalan sama aku.. Atau... Kamu sudah punya pacar disana?" Leonardo menyipitkan matanya ke arah Biana yang cuek memakan ikan Trout nya.
"Dibilang ya singa gurun, aku tidak tertarik dengan hubungan romansa apapun karena aku masih ingin menikmati hidup lajang dengan bebas melakukan apa saja yang aku mau. Mengajar, kuliah lagi atau bahkan traveling kemanapun."
"Tapi semua orang harusnya ada pasangannya Bia dan kamu adalah pasangan aku" eyel Leonardo.
"Ya Allah Gusti... " Biana mengehela nafas panjang. "Glock kamu dimana Ran? Biar aku sendiri yang menarik pelatuk ke pria super ngeyel ini!"
Leonardo terbahak. "Kamu tidak akan berani melakukannya, Bia karena kamu adalah gadis baik dan mempunyai hati yang lembut seperti kapas..."
"Kapas nggak lembut kalau belum diproses !" balas Biana judes.
Rania menggelengkan kepalanya mendengar keributan antara Leo dan Biana. Memang benar kata Daddy, harus pria yang nekad dan berani untuk mendekati para gadis - gadis keturunan Pratomo.
"Bia, apa kamu tidak sadar kalau kita itu cocok satu sama lain? Kita berdebat seperti ini bagaikan suami istri yang sudah menikah lama lho..." goda Leonardo. "Aku sudah membayangkan kehidupannya kita seperti apa kedepannya..."
"Whaaaatttt?" Biana melotot tidak percaya. "Seriously! Arrghhh ! Daddy, tangkap orang ini !"
Leonardo tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Biana sedangkan Rania hanya bisa tertawa karena selama ini dirinya biasanya tinggal sendirian, mendapatkan hiburan tersendiri dengan melihat pasangan yang masih timpang sebelah.
***
Rania berpamitan ke Biana dan Leonardo untuk masuk ke dalam kamarnya karena dirinya hendak tidur cepat usai membereskan meja makan dan membersihkan dapur.
"Singa gurun, pulang ! Nggak ada menginap disini!" hardik Rania sebelum masuk ke dalam kamar.
"Beneran aku tidak boleh menginap disini?" rayu Leonardo.
"NO !" ucap Rania dan Biana bersamaan membuat pria itu terkejut lalu tertawa kecil.
"Iya deh. Aku lamar Biana lagi ke Mr Pascal..."
"Kamu tuh nggak kapok ya ?" pendelik Biana.
"Nggak lah. Kan aku cinta dan sayang kamu" jawab Leonardo lembut membuat Rania ingin muntah melihat kelebayan yang haqiqi.
"Sudah ah, aku pusing !" Rania pun masuk ke dalam kamarnya.
***
Kamar Rania
Rania meletakkan tubuhnya diatas kasurnya dan mulai memejamkan matanya tapi suara getar ponselnya membuat dirinya terjaga lagi. Segera gadis itu mengambil ponselnya dari atas nakas.
Jangan rumah sakit... Jangan rumah sakit.
Rania mengernyitkan dahinya ketika melihat siapa yang menelponnya.
"Halo Demit..." sapa Rania.
"Halo Rania. Sudah mau tidur?" balas Chris Armstrong.
"Hampir. Ada apa Armstrong?" tanya Rania sambil memejamkan matanya.
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja?"
Mata Rania terbuka lagi. "Apa maksudmu aku baik-baik saja?"
"Aku melihat kamu di berita sedang berbicara serius dengan anggota polisi. Ada apa Rania? Apakah kamu terkena kasus?" tanya Chris dengan nada penuh perhatian dan cemas.
"No, Armstrong. I'm not okay."
"Ceritakan padaku" pinta Chris.
"Kamu tidak latihan?" Rania melihat jam digitalnya dan biasanya Chris sedang latihan. Texas masih siang dibandingkan London yang sudah malam.
"No, aku di gym. Kemarin sempat sedikit terseleo tanganku jadi aku pemulihan dulu. Ceritakan. Kamu terlibat apa?" ucap Chris lagi.
"Kamu akan terganggu latihannya..."
"Rania sayang, kalau aku menelpon kamu berarti aku ada waktu untukmu."
Gadis itu mengacuhkan panggilan sayang Chris. "Ada anak kecil yang menjadi saksi pembunuhan ibunya dan dia mengalami trauma berat..."
"Ya Tuhan... Lalu...?"
Rania menceritakan apa yang dia tahu dan bagaimana rencana esok pagi di rumah sakit setelah mengikuti jadwal operasi, harus menemani Matilda menemui konselor anak dan memberikan kesaksian dengan diawasi polisi serta jaksa penuntut umum.
"Kasihan, anak sekecil itu harus melihat kejahatan di depan matanya..." komentar Chris usai Rania bercerita.
"Aku kasihan ke depannya, Armstrong. Aku tidak bisa membayangkan beban yang tetap dibawanya seumur hidup... "
"Rania, Matilda bisa melewati nya dan aku berharap keluarga bibinya bisa membantu nya melewati rasa trauma itu ..." ucap Chris.
"Berharap saja Chris..." gumam Rania.
"Sudah, sekarang kamu tidur sayang. Kamu butuh istirahat untuk menghadapi hari esok."
Rania tersenyum. "Thanks Chris."
"Good night sayang."
"Good night."
***
Ruang Tengah Apartemen Rania
"Kamu pulang deh ! Sudah jam sebelas malam" usir Biana yang dari tadi menunggu Leonardo asyik menonton televisi.
"Ngusir?"
"Iyalah !"
Leonardo tersenyum lalu berdiri. "Baiklah aku pulang. Tapi kabari aku kalau kamu sudah pulang ke Harvard."
"Singa gurun..." Biana ikut berdiri. "Aku baru balik ke Harvard lima bulan lagi. Kan aku menjadi dosen tamu satu semester disini."
Leonardo pun berjalan menuju pintu. "Apapun itu, kabari. Oke?" Pria itu membuka pintunya dan berbalik menatap Biana. "Love you Bia." Leonardo mencium pipi Biana dan segera menutup pintu apartemen dan pergi keluar membuat gadis itu melongo.
"Singa gurun brengseeekkk !!!" umpat Biana kesal.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️